
Dimas pamit pulang pada kedua orang tua Kiara, begitu pula dengan kedua sahabatnya. Sebelum pulang tadi memang banyak perbincangan yang membuat mereka semua kaget. Terutama untuk Dimas.
"Kami pulang dulu ya om, tante. Makasih banyak untuk makan malamnya. Masakan tante enak banget." ucap Farhan.
"Kapan-kapan boleh kali main lagi ke sini." sahut Gilang dan langsung di pukul pundaknya oleh Dimas dan juga Farhan. Memang Gilang itu kadang orangnya tidak tahu malu.
Frans dan Bunga hanya tertawa saja melihat tingkah mereka bertiga. Orangtuanya yakin kalau mereka bertiga bisa menjaga Kiara di sekolah.
"Boleh dong Gilang, kalau mau main ke sini bilang-bilang ya biar nanti tante masakin." ujar Bunga dan membuat Gilang senang. Karena ia pikir sekarang ada dua rumah yang ia bisa datangin hanya untuk sekedar meminta makan.
Ah dasar Gilang, padahal masakan emak adalah masakan paling enak sedunia menurut author... Ada yang setuju???
****
Di rumah sakit.
Gita yang masih terbangun melirik ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidurnya. Ada pesan dari Kiara dan segera ia membuka pesan itu. Dan di lihatlah sebuah foto yang menampilkan Dimas, Gilang dan Farhan di sana, berfoto bersama Kiara. Dalam pesan itu Kiara bilang "Coba ada lo juga pasti lebih seru." seperti itulah pesannya. Tanpa membalas pesan itu Gita mengembalikan lagi ponselnya ke tempat semula.
Terlalu perih melihatnya. Ternyata Dimas tidak ke rumah sakit karena sedang berada di rumah Kiara. Banyak pertanyaan di kepala Gita yang di mulai dengan kata apakah.
Apakah Dimas lupa dengannya?
Apakah Dimas lupa dengan statusnya?
Apakah Dimas tidak peduli dengannya?
Kira-kira begitulah pertanyaan di kepala Gita. Rasanya amat sangat sakit. Lalu sampai kapan rasa sakit ini? Apa yang harus Gita lakukan? Meninggalkan Dimas? Atau tetap dengan rasa sakit ini sampai Dimas tersadar? Lalu kalau sampai kapanpun Dimas tidak sadar atas kesalahannya bagaimana?
Menurut kalian Gita harusnya bagaimana?
Gita melirik ke arah sofa dan di sana ada ibunya yang sudah tertidur pulas. Mungkin karena kecapean menjaga Gita dari pagi hingga besok lagi. Gita merasa bersalah pada ibunya karena harus tidur di sofa seperti sekarang untuk menemaninya.
"Pasti badan ibu badan sakit." ujar Gita pada dirinya sendiri.
Saat ingin beranjak dari tempat tidur, pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok laki-laki yang tadi ia lihat di foto. Yah suaminya, Dimas. Dengan wajah tanpa dosanya berjalan mendekati ranjang.
"Mau ngapain?" tanya Dimas.
Gita melihat pakaian yang Dimas pakai, masih sama seperti di foto tadi artinya Dimas tidak pula dulu ke rumah dan langsung ke sini. Ada sedikit rasa senang di hatinya, ternyata Dimas masih peduli sedikit dengannya. Buktinya dia sempatkan datang ke sini.
"Mau ngapain?" ulang Dimas karena tidak mendengar jawaban dari Gita.
"Mau ke toilet." jawab Gita cuek.
Dimas yang mendengar jawaban ketus dari Gita mengerutkan dahinya bingung. Sejak kapan Gita bisa ketus padanya? Apa dirinya ada salah pada Gita?
"Yaudah gue anterin, bisa gak turunnya."
"Gausah aku bisa sendiri!"
Dimas hanya diam melihat Gita mencopot botol infusan dari tiangnya dan ingin menuruni ranjang. Karena ranjangnya ketinggian atau Gita yang kependekan jadi agak susah. Biasanya kalau Gita mau turun dari ranjang, tangga kecil selalu di sediakan ibunya. Tetapi sekarang tangga itu ada di dekat sofa entah siapa yang pindahin ke sana.
"Awww" ringis Gita karena berusaha untuk turun dari ranjang dengan posisi perut yang habis di jahit itu.
"Makanya, di tawarin buat di tolongin gak mau. Jangan ngeyel deh, orang lo itu pendek mana nyampe turun sendiri." ejek Dimas dengan nada bercanda sambil tangannya mengelus kepala Gita pelan.
Gita yang di ejek seperti itu memanyukan bibirnya sambil melangkah ke kamar mandi, "Jahat banget sih ngatain istri sendiri pendek. Lagian udah tau gak bisa ngapain pake basa basi mau di anterin. Yah kalau peka anterin langsung gausah ngomong." gerutu Gita sambil terus berjalan ke kamar mandi.
Ucapan Gita terdengar semua orang Dimas karena lelaki ini terus mengikutinya. Sebelum Gita menutup pintunya Dimas menahan dengan sikunya agar pintunya tidak tertutup.
"Ih ngapain ngikutin? Aku cuma mau pipis gak akan kabur kaya kamu entah kemana." ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Gita. Mungkin karena terlalu kesal dengan Dimas, makanya ia berani berkata seperti itu.
"Yaudah gue ikut ke dalem nemenin lo, nanti kalo kaya tadi gimana? Gue pegangin botol infusnya."
"Ogah. Udah deh kakak tunggu di luar aja." Usir Gita dengan terus berusaha mendorong pintu kamar mandi. Tetapi hal itu tidak merubah apapun, posisi pintu tetap sama.
"Udah jangan ngeyel anak kecil,"
Dengan pasrah Gita membiarkan Dimas masuk untuk menemaninya. Pikirnya, Dimas sudah melihat semua isi tubuhnya dan tidak dosa juga karena sudah sah menjadi suami istri.
Setelah selesai, Dimas membantu lagi mengangkat Gita agar bisa menaiki ranjangnya. Dengan mudahnya Dimas mengangkat tubuh Gita, seperti tidak ada beban.
"Kenapa jam segini belum tidur?" tanya Dimas yang sudah duduk di samping ranjang Gita.
"Gak bisa tidur." jawab Gita ketus.
"Kenapa? Laper?"
Gita menggeleng.
"Kenapa gak bisa tidur Gita?" tanya Dimas lagi.
"Kenapa baru ke sini kak Dimas?" tanya Gita.
Gita ingin melihat seberapa jujur Dimas pada dirinya.
"Iya maaf, tadi pergi sama Gilang dan Farhan. Mami nya Farhan ulang tahun jadi kumpul bareng keluarganya Farhan." dusta Dimas.
Gita yang mendengar jawaban itu langsung kecewa dan sakit hati secara bersamaan. Apa Dimas lupa kalau Kiara itu temannya Gita?
"Kenapa harus bohong kak?" batin Gita.
"Kak aku mau tanya, tapi kakak jawab jujur bisa?" tanya Gita pada Dimas.
Dimas yang mendengar pertanyaan itu mengangkat alisnya, seakan bertanya 'apa'
"Apa kakak sama Kiara ada hubungan?" tanya Gita dengan nafas yang sedikit berat. Gita takut jawaban Dimas semakin membuatnya sakit, tetapi ia penasaran dengan hubungannya keduanya.
"Lah nanya apaan sih? Aneh banget. Gue sama Kiara itu cuma temenan, lo gak usah ngaco Gita." jawab Dimas dengan sedikit ada nada gemetar di sana. Entah apa yang membuatnya menjadi gemetar.
"Tapi kaka suka sama Kiara?" tanya Gita lagi. Jawaban Dimas tidak membuatnya puas, entah jawaban seperti apa yang Gita tunggu.
Memang ya perempuan itu suka nyari penyakit hati sendiri. Udah di jawab begitu tapi tidak percaya. Dan nanti kalau di bilang suka, yang sakit hati kan si perempuan itu sendiri. Jadi harus gimana dong kalau seperti itu.....