
Farhan jengah melihat Dimas yang hanya diam tidak menjawab perkataan darinya. Lagi pula Farhan juga tak habis pikir dengan Dimas, bisa-bisa mencintai dia wanita sekaligus dalam satu waktu. Bagi kek satu, jangan serakah batin Farhan.
"Intinya lo harus pilih salah satu dari mereka!" ujar Farhan.
Dimas menatap Farhan, "Gue gak bisa Han, lo tau pernikahan gue sama Gita itu gak di landasin sama cinta. Lagian anak yang Gita tanggung udah gak ada, jadi tanggung jawab gue udah selesai, bukan?"
Farhan kembali tersulut emosi mendengar perkataan Dimas yang kurang ajar menurutnya, "Cinta datang karena terbiasa, dan lo dengan gampang dan mudahnya bilang tanggung jawab lo udah selesai?" Farhan menggeleng tidak habis pikir.
"Iya apa lagi yang harus gu-"
Ucapan Dimas terpotong, "Lo bener-bener bajingan Dim, gak nyangka gue punya sahabat yang otaknya sedangkal ini!"
"Lo gila! Lo udah ngerusak masa depan dia dengan cara lo hamilin dia, trus dia hampir mati karena di tusuk sama mantan lo. Dan sekarang dengan seenaknya lo bilang tanggung jawab lo udah selesai?" bentak Farhan.
"Han, tapi gue gak ada niat buat cerain dia!"
Farhan tertawa sumbang, "Trus mau lo begini terus? Lo tetep deket sama Kiara tanpa sadar lo udah sakitin Gita! Brengsek lo!"
Dimas menunduk, tatapan Farhan sangat menakutkan saat ini dan ini pertama kalinya Dimas melihat itu. "Kalo lo gak bisa buat Gita bahagia setidaknya lo jangan nyakitin dia brengsek!" maki Farhan.
Melihat respon Dimas yang hanya diam sambil menunduk membuat Farhan semakin emosi, dari pada ia menghajar sahabatnya sendiri lebih baik ia pergi dari sini. Farhan rasa ini sudah cukup membuktikan semua yang menjanggal di pikirannya.
"Gue cabut!" ujar Farhan lalu berdiri dari duduknya.
Sebelum melangkah lebih jauh Farhan sempat mengucapkan, "kalo lo gak bisa bikin bahagia Gita, biar gue yang bikin dia bahagia!" ujar nya dengan nada serius.
Dimas yang mendengar perkataan Farhan tadi langsung mendongkakkan wajahnya untuk melihat sahabatnya itu, belum sempat protes dengan apa yang di bilang tadi Farhsn sudah berjalan keluar dari cafe itu.
"Gue gak bakal biarin lo rebut Gita dari gue brengsek!" gumam Dimas lalu bangkit dari sana.
*****
Jam makan malam sudah di mulai, dan saat ini Dimas dan Gita sudah berada di ruang makan bersama dengan Terry, Damian dan Ratih. Sekilas terlihat seperti keluarga yang harmonis tetapi kenyataannya tidak seindah itu.
Ya, Gita dan Dimas sedang berada di dalam perang dingin yang Dimas ciptakan tadi sepulang dari cafe. Keduanya bertengkar di dalam kamar mereka dengan Dimas lah yang memulai itu semua. Kalian tau karena apa? Karena Gita mau di ajak pergi ke rumah Kiara. Itu lah sumber utama yang membuat Dimas marah, loh bukankah sebelumnya Gita sudah meminta izin pada suaminya itu dan di beri izin. Lalu mengapa marah setelah Gita pulang dari sana. Gita hanya diam saja, sudah terlalu lelah kalau terus berdebat dengan Dimas, tidak akan menang.
Dimas tidak menceritakan tentang pertemuannya dengan Farhan tadi. Dimas terlalu takut dengan ucapan Farhan sebelum sahabatnya itu pergi. Takut hal itu benar-benar terjadi dan Dimas belum siap dengan semua itu.
"Gimana sekolah kamu tadi Git?" tanya Terry yang tengah menyendokkan nasi untuk Damian.
Gita yang tiba-tiba di beri pertanyaan kaget karena sejak tadi pikirannya entah kemana. Memiliki banyak pertanyaan untuk Dimas yang seharusnya muda untuk di tanyakan toh orangnya ada di sampingnya. Tetapi rasanya susah sekali.
"Hm, alhamdulillah baik mah. Lancar semuanya." jawab Gita dengan senyuman.
"Ada yang ganggu kamu gak?" kali ini Damian yang bertanya.
Gita menggeleng, "aman semua kok pah." jawab Gita mantap.
"Dengerin tuh." sahut Dimas sambil menoel pelan lengan Gita.
Ohgod, pintar sekali akting kamu kak batin Gita.
Gita mengangguk lalu tersenyum.
"Bu, maaf banget ya saya ingin tanya, klau ayahnya Gita kemana ya? Sejak Gita dan Dimas menikah tidak pernah terlihat sampai sekarang?" tanya Terry dengan nada hati-hati.
Waktu Dimas dan Gita menikah memang pak penghulu yang menjadi wali hakim keduanya. Sebenarnya umur keduanya belum mencukupi tetapi balik lagi kalau punya uang bukankah semua menjadi mudah.
Ratih yang di tanya seperti itu secara mendadak membuat dirinya terpaku lalu memandang anaknya, Gita. Haruskah Ratih memberitahu hal yang sebenarnya tentang Gio kedepan Terry dan Damian? Ratih hanya takut akan berdampak pada Gita nantinya lebih tepatnya berdampak pada pernikahannya. Bukan karena Ratih sudah betah tinggal di sini dan menjadi orang yang ada, tetapi takut anaknya sedih.
"Hm, ayahnya Gita sedang kerja bu di luar kota. Kami sudah hampir satu tahun tidak berkomunikasi karena ponsel ayahnya tidak aktif." jelas Ratih dengan nada bergetar.
"Loh, waktu Gita di rawat ayahnya ada datang kesini bu. Dimas juga bingung dari mana dia tau alamat rumah ini. Dia bilang ponselnya hilang waktu kerja jadi gak bisa komunikasi sama ibu ataupun Gita." penjelasan Dimas membuat Gita dan Ratih pucat mendadak.
Jadi Gio pernah bertemu dengan Dimas dan lebih parahnya di sini, di rumah Dimas. Ratih dan Gita khawatir kalau Gio akan datang lagi ke sini dan membuat kekacauan nantinya. Kalian tau kan bagaimana sifat dan kelakukan Gio?
"Memangnya ayah gak ke rumah sakit nemuin ibu? Dia bilang mau ke rumah sakit, Dimas tawarin di antar pak Harto dia gak mau, jadi Dimas kasih dia ongkos untuk pergi sendiri ke sana." jelas Dimas lagi.
Lagi... lagi penjelasan itu membuat kedua ibu dan anak itu terpaku, membisu. Tidak bisa menjawab lagi sepertinya, kalau Gio sudah tau keberadaan mereka otomatis tidak lama lagi pasti ada kekacauan di rumah ini. Lalu bagaimana?
Ratih menantapkan hatinya, sepertinya ia harus jujur sekarang tentang bagaimana Gio terhadapnya dan juga Gita. Agar Damian dan Terry tidak kaget nantinya dan siapa tau bisa melindunginya dari Gio.
Ratih berdehem sebelum berbicara hal ini, "Ayahnya Gita tidak sampai ke rumah sakit. Sebenarnya saya dan ayahnya Gita sudah bercerai, kami bercerai karena kelakuan dia sangatlah tidak cocok untuk di pertahankan. Ayahnya Gita itu penggila judi dan suka mabuk-mabukan" jelas Ratih dengan nada suara yang bergetar.
Menahan tangis itu sangatlah menyakitkan.
Gita mengusap lengan ibunya untuk menguatkan padahal dia sendiri juga sakit hati mengingat perlakukan Gio terhadapnya hingga sampailah di titik sekarang. Semua karena Gio, menurutnya.
"Iya bener apa yang di bilang ibu, ayah jarang pulang sekalinya pulang selalu meminta uang pada ibu kalau ibu tidak kasih ayah akan memukuli ibu." ujar Gita.
Keluarga Aaron yang mendengar itu terdiam seribu bahasa, seakan merasakan juga sakitnya menjadi mereka selama ini. Terutama Terry, wajah Terry sudah di banjiri dengan air mata. Serumit itu kah hidup Gita selama ini.
"Jadi kami minta tolong sama ibu, sama bapak dan Dimas kalau ada dia kesini jangan pernah memberinya izin masuk. Kami takut dia akan membuat masalah pada keluarga ini." ujar Ratih.
Terry bangkit dan ikut mengusap lengan Ratih, "YaAllah maaf ya bu kalau saya membuat ibu sedih." ujar Terry dengan nada bersalah.
Ratih menggenggam tangan Terry yang masih bertengker di lengannya, "Gapapa bu, maaf juga ya kalau kenyataan ini menyakitkan buat di dengar oleh ibu dan bapak dan juga Dimas."
"Kalau begitu papah akan memperketat penjagaan buat kalian, terutama Gita. Papah takut sasaran utamanya adalah kamu Git." suara Damian membuat semuanya menoleh.
"Iya pah, makasih banyak. Makasih juga buat mamah dan papah karena tetap mau menerima Gita dan ibu di sini." ujar Gita.
"Biar bagaimana pun kamu itu istrinya Dimas, anak kami satu-satunya yang bandelnya gak ketulungan. Mamah harap kalian selalu bersama karena mamah sayang banget sama kamu Git." ujar Terry membuat Gita melirik ke arah Dimas, sedangkan yang di lirik hanya diam saja.