My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 32



Hari sudah malam namun Gita masih betah dengan tidurnya. Dan sampai saat ini pula Dimas belum di izinkan masuk oleh Terry. Tetapi Dimas tetap disana, seperti apa yang bi Asih bilang, siapa tau setelah Gita membuka matanya, Dimas lah yang paling pertama di cari dan Dimas akan langsung menghadap ke Gita untuk minta maaf.


"Kenapa Gita belum sadar juga ya pah?" tanya Terry pada Damian.


"Mungkin obat biusnya masih ada mah, kita tunggu aja. Atau mamah mau pulang dulu buat bersih-bersih?" tawar Damian dan di hadiahi celengan oleh Terry.


"Mamah mau nunggu sampai Gita sadar, pah." jawab Terry membuat Damian mengangguk pasrah.


Ratih masih di sana, duduk bersebelahan dengan bi Asih. Bukan tak mau duduk di sebelah besannya tetapi ia masih ragu dengan kenyataan ini. Kenyataan kalau dirinya adalah besan orang terpandang di negara ini. Tidak pernah terpikirkan olehnya jika seperti ini, tetapi ia sangat bersyukur Gita jatuh kepada keluarga yang tepat meskipun hatinya masih ragu dengan Dimas. Apalagi dengan kejadian seperti ini tetapi ia siapa kalau ingin marah pada anak besannya itu. Bukan tak sayang Gita, cara ini juga termasuk melindungi Gita. Kalau Ratih marah dengan Dimas, takut nantinya Dimas semakin memperlakukan Gita seenaknya.


Apa yang di lakukan Ratih itu sudah benar? Atau malah salah? Gimana menurut kalian?


"Nyonya, boleh gak bibi lihat non Gita di dalam?" tanya bi Asih yang memang dari tadi ingin sekali melihat kondisi Gita tetapi belum ada kesempatan karena menunggu semua reda dulu.


Terry memandang bi Asih sebentar lalu mengangguk. Apa salahnya jika bi Asih ingin melihat kondisi Gita. Inilah bukti Gita anak baik, karena seorang pembantu saja mencemaskan dirinya.


"Terimakasihh banyak nyonya, bibi permisi." ujar Bi Asih setelah dapat jawaban dari Terry dan langsung meluncur ke kamar rawat Gita. Dimas yang melihat itu geram, kenapa bi Asih boleh, kenapa dirinya tidak boleh. Ini bukan sepenuhnya salah dirinya.


"Mah, kenapa bi Asih boleh? Kenapa aku yang suaminya gak boleh lihat istri aku sendiri?" tanya Dimas pada Terry membuat Terry meliriknya sebentar lalu memasang wajah juteknya.


"Suami? Kamu bilang suami? Suami macam apa yang biarin istrinya sampai begini? Kemana aja kamu?" ujar Terry. Jujur


Damian mengelus bahu sang istri sedangkan Dimas hanya menghela nafasnya kasar. Sebegitu marah kah ibunya? Ibunya Gita saja tidak sampai semarah ini pikirnya.


Tak lama bi Asih keluar dari ruangan sambil tergesa-gesa, semua yang melihat itu langsung bangkit dan menghampiri bi Asih untuk bertanya ada apa. Yang pertama kali terdengar adalah suara dari Damian.


"Ada apa bi? Apa yang terjadi sama Gita?" tanya Damian membuat semuanya mengangguk.


"Itu tuan, non Gita sudah sadar." ujar bi Asih dengan nafas terengah-engah seperti habis berlari jauh padahal cuma keluar dari ruangan.


"Serius bi? Saya masuk ya." ujar Terry langsung di tahan oleh Damian.


"Kita panggil dokter dulu buat cek keadaan Gita mah," ujar Damian membuat Terry diam. Ada benar nya juga.


"Tapi tuan, non Gita nyariin den Dimas. Non Gita bilang dia mau ngomong sama dengan Dimas." beritahu bi Asih.


Dimas langsung melirik Terry dengan tatapan memohon, "paling juga minta cerai tuh Gita." ujar Terry dengan santainya, meskipun hatinya tidak terima kalau semua itu terjadi dan itu hanya sebuah gerentakan untuk Dimas.


"Mamah ngomong apasih?" ujar Dimas tak suka dengan omongan Terry tadi.


"Udah udah nanti lagi ributnya, sekarang pak Harto tolong panggilin dokter ya." Ujar Damian.


"Baik tuan." jawab pak Harto lalu melangkah menuju ruang dokter.


Tak lama dokter yang merawat Gita datang dan langsung masuk ke dalam untuk memeriksa. Tak ada satupun yang di perbolehkan masuk selama dokter memeriksa.


"Saya cek dulu ya." ujar Dokter selesai sampai di samping kasur Gita. Gita mengangguk lemas.


"Semuanya sudah membaik, hanya saja mungkin nyeri di perut kamu masih terasa. Membutuhkan waktu agar pulih kembali dan kalau bisa jangan angkat barang yang berat dulu ya saya takut jahitan di perut kamu terbuka lagi." terang dokter pada Gita.


"Lalu bagaimana dengan janin saya dok? Apakah baik-baik saja?" tanya Gita dengan suara yang sangat pelan.


"Nanti biar suami kamu yang jelaskan ya. Kalau begitu saya permisi dulu dan nanti saya akan beritahu keluarga kamu bagaimana kondisi kamu sekarang." ujar dokter itu lalu keluar bersama susternya tanpa menunggu jawaban dari Gita.


Pikiran Gita langsung negatif tentang perkataan dokter tadi, lalu ia memegang perutnya dan terasa sangat sakit.


"Kamu baik-baik aja kan nak?" ujar Gita pada dirinya sendiri.


Tak lama Dimas masuk ke dalam, itupun ada  sedikit debat lagi dengan Terry. Tetapi demi menantunya Terry mengalah membiarkan Dimas masuk ke dalam. Dokter sudah memberitahu apa yang tadi di beritahu juga pada Gita ke keluarganya dan semua menyanggupi.


"Kak Dimas." panggil Gita pelan.


Dimas berjalan mendekat ke arah Gita lalu mengusap kepala Gita pelan dan hal itu membuat Gita terhanyut sebentar.


"Gimana? Udah baikan?" tanya Dimas.


Gita menggeleng, "perut aku sakit banget kak." keluhnya.


Dimas mengusap perut Gita yang di tempel perban dengan pelan itupun masih membuat Gita meringis. "Aww." ringis Gita.


"Sebentar lagi gak sakit kok. Kamu tahan ya." ucap Dimas menggunakan kata kamu.


Apa aku harus sakit dulu kak biar sikap kamu manis gini ke aku batin Gita. 


"Kak, anak kita gimana?" tanya Gita sedikit ragu.


Dimas terdiam sebentar. Ah apa dokternya tadi tidak memberitahukan kepada Gita? Kenapa harus dari mulutnya yang menjelaskan ini.


"Kata pak dokter tadi, kakak yang bakal kasih tau Gita." lanjut Gita karena melihat Dimas hanya terdiam.


Dimas mendudukan bokongnya di kursi sebelah tempat tidur Gita lalu menggenggam tangan Gita dengan lembut. Dimas menghembuskan nafasnya pelan. Apa Gita sanggup mendengar berita ini?


"Kamu yang sabar ya, kamu harus ikhlas." ujar Dimas membuat Gita langsung menggeleng.


"Baby kita udah tenang di sana. Baby kita udah bahagia di atas mungkin dia lagi tersenyum karena lihat mami nya bisa selamat sampai sekarang." Lanjut Dimas dan membuat Gita terus menggelengkan kepalanya sambil menangis.


"Kenapa bisa? Kenapa bisa anak kita pergi kak? Ini semua salah aku. Aku gak bisa jagain dia. Aku gak bisa lindungi dia dari tusukan itu. Aku jadi ibu yang jahat, bahkan sebelum dia ngelihat dunia aku udah buat dia pergi kak. Kenapa gak aku aja yang pergi." rancau Gita sambil terus menangis.


Dimas mengelus punggung tangan Gita, "engga ini semua kecelakaan, bukan salah kamu. Kamu udah berusaha ngelindungin baby, tapi Tuhan lebih sayang dia. Kamu harus kuat, kamu harus ikhlas. Kalau kamu nangis terus kasihan baby pasti dia juga sedih di sana." ucap Dimas membuat Gita meredakan tangisnya.


Lo jahat banget kak, lo udah bunuh anak gue batin Gita.