My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 55



Sementara di mall yang sedang Dimas dan Kiara kunjungi tampak ramai saat ini. Keduanya tampak serasi seperti sepasang kekasih, mungkin bagi yang tidak tau hubungan mereka akan menyangka seperti itu.


DImas hanya mengekor Kiara kemanapun cewek itu pergi, hingga keduanya masuk di salah satu toko yang menjual berbagai macam barang couple. 


Kiara melihat sebuah sepatu yang lucu di sana, tanpa basa basi Kiara langsung mencobanya dan cocok di kaki putihnya. Kiara tersenyum lalu melirik Dimas.


"Kak, mau beli ini gak?" ujar Kiara pada Dimas yang sedang menatap Kiara.


Dimas mengambil alih sepatu itu dan di lihatnya dengan teliti, bagus juga batinnya.


"Gue yang bayar deh." ujar Kiara lagi karena Dimas tidak menjawab pertanyaan Kiara tadi.


Dimas memanggil pegawai toko, dan meminta size yang dia pakai. Kiara tersenyum, karena melihat Dimas yang tampak mau dengan tawarannya. Tak lama pegawai itu kembali dan membawa size pesanan Dimas. Sama seperti Kiara tadi, Dimas mencoba sepatu itu dan cocok juga di kakinya.


Sebelum Kiara mengeluarkan dompetnya, Dimas yang lebih dulu memberi kartu kreditnya kepada pegawai untuk membayar dua sepatu couple tadi.


"Eh kak, pake uang gue aja." tolak Kiara saat Dimas sudah memberi kartu tersebut pada pegawai toko.


Dimas menaruh telunjuk di bibirnya dan Kiara langsung paham, "Makasih kak, udah di beliin sepatu gemes." ujar Kiara sambil tersenyum.


Bohong kalau Dimas tidak suka melihat senyum Kiara, pasti cowok-cowok di sini juga suka melihat senyum dari wanita cantik di depannya ini. Sudah cantik, gemesin lagi batin Dimas.


Tak lama pegawai itu kembali dan memberikan kedua sepatu tersebut, "ini kak sepatunya, semoga hubungannya langgeng terus ya sampai menikah." ujar pegawai toko sambil tersenyum ramah.


Dimas yang di doakan seperti itu hanya bisa bengong sedangkan Kiara tersenyum sambil mengucap amin dan terima kasih pada pegawai itu.


"Tau aja tuh mba-mba kalau gue ngarep nikah sama kak Dimas." batin Kiara.


"Langgeng darimana woi, punya hubungan aja engga!" gerutu Dimas dalam hati.


Lalu keduanya keluar dari toko tersebut dan memutuskan untuk makan lebih dulu baru pulang ke rumah. Sudah ada 5 paper bag yang di bawa Dimas sekarang, dan itu barang belanjaan Kiara semua.


Mereka masuk ke dalam salah satu restoran ternama di mall itu dan mengambil tempat duduk di ujung dekat kaca. Lalu sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang, keduanya mengobrol santai tanpa membuka ponsel mereka.


"Kak, kenapa kayanya kakak gak suka kalau kak Farhan deketin Gita?" tanya Kiara yang sudah penasaran sejak di sekolah.


Dimas yang di tanya seperti itu bingung harus menjawab apa, karena Dimas tau Kiara itu anaknya kepoan banget.


"Padahal menurut gue, mereka itu cocok loh." ujar Kiara lagi karena seperti tadi tidak mendapatkan jawaban dari Dimas.


Dimas melihat kesana kemari menghindari tatapan dari Kiara, takut Kiara tau kalau Dimas sedang gugup saat ini.


"Bukan gak suka sih, cuma kasian aja Gita kalau sampe deket sama Farhan yang gue tau gimana aslinya tuh anak." jelas Dimas sedikit gugup.


Kiara mengerutkan dahinya seakan tidak percaya omongan Dimas tentang Farhan tadi, "Loh, gue rasa kak Farhan itu cowok yang baik deh kak. Karena selama ini yang gue lihat kak Farhan gak pernah macem-macem sama cewek dan gak pernah juga gue lihat dia jalan atau deketin cewek." ujar Kiara.


Dimas semakin bingung, "Lo kan baru kenal sama dia, belum tau sifat asli dia kaya gimana. Kalau lo gak percaya coba aja tanya Gilang, pasti yang di bilang Gilang sama kaya apa yang gue bilang tadi."


"Tapi kak, gue perhatiin lo kalau natap Gita itu beda banget kaya ada sesuatu antara lo sama dia. Apa jangan-jangan lo-" ucapan Kiara terpotong karena Dimas.


"Jangan ngaco deh Kia, udah ah gausah bahas mereka gak penting juga." ucap Dimas cepat.


Kiara hanya mengangguk pasrah, takut mood Dimas rusak karena terus berbicara tentang Gita dan Farhan. Tak lama pesanan keduanya datang, lalu keduanya makan dalam diam walau sekali-kali bersuara karena mengomentari makanan yang mereka makanan saat ini.


Setelah selesai, Dimas yang membayar tagihan itu dan lagi-lagi di tolak oleh Kiara. Dengan gerakan yang sama tadi seperti di toko sepatu akhirnya Kiara hanya nurut saja. Toh rezeki tidak boleh di tolak bukan?


"Langsung pulang?" tanya Dimas saat mereka sudah berada di luar restoran tadi.


Kiara mengangguk, "Iya, aku ada janji sama bunda mau ke rumah tante." ujar Kiara dan di anggukin oleh Dimas.


Dimas mulai melakukan mobilnya menuju rumah Kiara. Di sepanjang perjalanan hanya ada suara radio, karena pikiran Dimas sedang melayang ke arah Gita sedangkan Kiara tampak sibuk dengan ponselnya.


"Eh iya kak, Minggu depan gue ulang tahun dan kayanya gue akan bikin pesta di rumah deh. Menurut kakak gimana?" tanya Kiara dan Dimas langsung menoleh sebentar ke arah cewek itu.


"Yang ke 21 tahun ya?" goda Dimas sambil terkekeh.


Kiara yang di goda merajuk sambil memukul lengan Dimas, "Enak aja, kamu tuh tua." rajuk Kiara membuat Dimas semakin terkekeh.


"Terus yang ke berapa dong?" tanya Dimas.


Kiara tersenyum, "sweet seventeen." ujarnya senang.


Dimas kembali terkekeh, "Ah masa sih? Gak percaya gue."


Lagi-lagi Kiara memukul lengan Dimas sambil ikut terkekeh, "Ish bener kak, gimana menurut lo?"


Dimas mengangguk, "Boleh juga, trus lo mau ngundang siapa aja? Jangan bilang cuma ngundang gue?"


Kiara menggeleng, "Gue bakal ngundang satu sekolah kayanya eh kecuali anak kelas 10 deh. Jadi cuma kelas 11 dan 12 aja yang gue undang."


"Emang rumah lo muat segitu banyak?"


Kiara nampak berpikir, iya juga ya memang muat kalau ngadain di rumah dengan tamu sebanyak itu batin Kiara.


"Yaudah, gue minta ayah aja sewain hotel buat acara ulang tahun gue. Lo bisa kan bantuin gue buat ngurusin ini?" tanya Kiara pada Dimas.


Dimas mengangguk, "Apa sih yang gak bisa buat lo." ujarnya membuat Kiara salah tingkah.


"Lo mah gombal ish, gue juga bakal minta bantuan ke Gita sama kak Farhan dan kak Gilang." ujarnya membuat Dimas terdiam.


"Siapa tau dengan mereka bantu gue, Gita sama kak Farhan semakin dekat terus nanti mereka jadian pas di acara ulangtahun gue, ah sweet banget." ujar Kiara sambil berkhayal.


Kiara tidak tau apa yang Dimas rasakan saat ini, seperti ada sakit-sakit gitu mendengar ucapan Kiara yang berharap Farhan dan Gita segera berpacaran. Woi itu istri gue, asal lo tau gerutu Dimas dalam hati.


Tanpa sadar Dimas melajukan mobilnya dengan cepat agar ia bisa segera pulang ke rumah dan melihat istrinya. Entah mengapa perasaan kali ini tidak tenang, takut omongan Kiara tadi benar adanya. Tanpa menunggu seminggu ke depan Gita dan Farhan ternyata sudah punya hubungan lebih. Ah Dimas tidak bisa membayangkan itu. Rasanya sakit sekali, itu hanya bayangan bagaimana jika Gita benar-benar pergi darinya.


Bersambung...


Halo.


Terima kasih saran dan kritik yang kalian kasih ke aku tentang jangan mengulang kata yang sama. Maaf banget tapi mungkin itu ciri khas nulis aku, soalnya di beberapa naskah aku pun sama kaya gitu suka nulis kata yang sama secara berulang.


Maaf banget kalau kalian gak nyaman waktu bacanya, tapi maaf juga aku gak bisa ubah gaya tulisan aku itu. Maaf yaa bukan gak terima kritik dan sarannya itu.


Dan.


Maaf juga untuk yang minta ceritanya harusnya kaya gini lah kaya gitu lah, maaf sekali lagi aku gak bisa ubah alur yang udah aku buat sebelum sampai di bab ini, karena aku takut nanti jadi berantakan alurnya..


Lalu.


Ada yang minta tampilin visual untuk tokoh di cerita ini, jujur aku belum punya gambaran untuk mereka. Buat kalian yang ada saran siapa yang cocok memerankan tokoh cerita ini bisa komen yaa sarannya atau DM aku via IG maulidyapu


terimakasih banyak semuanya...


Happy reading❤