
Dimas kembali ke rumah untuk bersih-bersih. Keadaan rumah saat ini sepi hanya ada pak Harto di rumah. Lalu kemana orang tuanya? Sejak tadi di rumah sakit tidak ada, Dimas kira mereka ada di rumah tetapi kenyataannya di rumah pun tidak ada, lalu kemanakah mereka?
Ah kasihan sekali Dimas, anaknya sendiri tetapi tidak di beritahu oleh orang tuanya kalau mereka sedang pergi mengurusi bisnis.
Dimas keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang terlilit dari pinggang sampai ke lutut saja, ia berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian. Saat sedang memilih ponselnya berdering kencang menandakan ada sebuah panggilan di sana. Dengan cepat ia mengambil baju dan celana lalu berjalan mengambil ponselnya. Ternyata nama Gilang lah yang terpampang jelas di sana.
"Apaan?" jawab Dimas dengan nada ketus.
"...."
"Ngapain?"
"...."
Dimas melirik jam yang ada di dinding kamarnya. Masih pukul 5 sore artinya masih ada waktu 2 jam untuk dinner bersama Kiara nanti.
"Yaudah ke rumah aja, gue di rumah."
Setelah mengatakan itu Dimas langsung memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban dari Gilang.
"Gue ajak Kiara makan dimana ya?" tanya Dimas pada dirinya sendiri.
Setelah rapi Dimas keluar dari kamarnya menuju lantai bawah, menunggu kedua sahabatnya tiba. Iya, keduanya ingin kesini katanya selama ada Kiara, mereka jadi jarang ngumpul, Dimas selalu sibuk dengan Kiara.
Tak lama pak Harto masuk dari pintu depan, memberitahu bahwa ada seorang laki-laki yang ingin bertemu dengan pemilik rumah ini. Lelaki tersebut mengaku sebagai ayahnya Gita.
"Den Dimas, di depan ada bapak-bapak katanya sih ayahnya non Gita." beritahu pak Harto.
Dimas mengerutkan keningnya, memang sih selama dia kenal dengan Gita ia tidak pernah dengar tentang ayahnya. Lalu buat apa ayahnya kesini? Seharusnya ayahnya ke rumah sakit kalau ingin bertemu dengan Gita.
Dengan langkah cepat Dimas menuju depan untuk menemui orang yang mengaku sebagai mertuanya itu dan di ikuti oleh pak Harto di belakang.
"Selamat sore, bapak cari siapa ya?" tanya Dimas pada bapak itu.
Gio yang sedang duduk sambil melihat sekitarnya dengan kagum langsung terbangun saat mendengar suara Dimas.
Gio menunduk sedikit, "Sore den, perkenalkan saya Gio ayahnya Gita. Saya ingin bertemu dengan Gita. Apakah Gita nya ada di dalam den?" ujar Gio. Ia ingin sekali masuk ke dalam agar bisa melihat kemewahan yang ada di sana siapa tau ada barang yang bisa ia curi dari sini dan di jual.
Dimas tampak bingung, memangnya Gita atau bu Ratih tidak memberi tahu ayahnya kalau ia sedang berada di rumah sakit.
"Loh memang bapak tidak di beritahu sama Gita atau ibu kalau sekarang Gita sedang di rumah sakit?" tanya Dimas.
Gio menggeleng, "Saya tidak bisa berkomunikasi dengan mereka den, ponsel saya baru di jual untuk datang ke sini karena sebelumnya saya kerja di luar kota."
"Terus bapak tau dari mana kalau Gita tinggal di sini?"
"Beberapa Minggu lalu sebelum saya putus komunikasi Gita memberitahu saya kalau dia sudah menikah, lalu saya di beri alamat rumah ini den. Kalau boleh tau, apakah aden ini suaminya Gita?"
Dimas mengangguk pelan, "Kalau bapak ingin bertemu Gita bisa langsung ke rumah sakit Bio Medika disana juga ada ibu Ratih kok." usul Dimas.
Gio terdiam sebentar, "Tetapi saya tidak punya ongkos untuk pergi kesana den."
"Jangan panggil saya aden, panggil saja Dimas." tolak Dimas saat dipanggil aden oleh Gio. Biar bagaimanapun Gio ini adalah ayah mertuanya.
Gio mengangguk.
"Biar saya yang anter saja den ke rumah sakit." tawar pak Harto yang sedang berdiri di sebelah Dimas.
Dimas mengangguk, "Oh ya boleh pak, tapi setelah itu langsung balik lagi ya soalnya aku mau keluar nanti malem."
"Lagian mamah papah mana sih pak? Kok gak ada, di rumah sakit juga tadi gak ada!" keluh Dimas.
"Loh emang aden gak di beritahu tuan sama nyonya kalau mereka harus ke luar kota karena ada kerjaan yang gak bisa mereka tinggal tapi besok atau lusa udah balik ke sini lagi kok." jelas pak Harto membuat hati Gio semakin senang. Ternyata benar, kalau besannya itu orang kaya raya.
"Ih kebiasaan banget orangtua itu, gak pernah ngasih tau anaknya!" kesal Dimas.
Pak Harto hanya menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, ia tidak tau salah atau benarkah memberitahu ini pada Dimas.
"Yasudah kalau begitu saya antarkan bapak ini dulu ya den ke rumah sakit, setelah itu saya langsung balik lagi ke rumah." ucap pak Harto.
Dimas mengangguk.
"Tapi, memang tidak merepotkan? Saya bisa jalan kaki kok Dimas, Pak." akting Gio. Padahal ia hanya berharap segera di kasih uang saja untuk "ongkos" setelah itu ia tidak akan ke rumah sakit melainkan pergi ke meja judi. Buat apa menemuin Ratih ataupun Gita. Keduanya tidak ada guna dan uangnya pikir Gio.
Dimas membisikan sesuatu ke pak Harto, dan pak Harto mengambil dompetnya di kantong celana belakang dan mengeluarkan uang seratus ribuan dua lembar. Semua itu di lihat oleh Gio, kalau supirnya saja memiliki uang yang banyak bagaimana majikannya pikir Gio.
"Kalau bapak mau pergi sendiri ke rumah sakit, ini ongkos untuk bapak naik taksi." ujar Dimas sambil memberikan uang tersebut. Dimas sengaja meminjam uang pada pak Harto karena ia tidak membawa dompet saat ini, lagi juga biar pak Harto tetap ada di rumah saja untuk menjaga rumah. Biarlah Gio pergi sendiri ke rumah sakit.
Hati Gio beteriak senang, karena apa yang ia harapkan terkabul. Baru pertama kali bertemu saja sudah di beri uang dua ratus ribu apalagi pertemuan selanjutnya. Apakah ia bisa mendapatkan mobil dari menantunya ini, ah semoga saja.
Gio mengambil uang itu dengan cepat lalu menunduk pada Dimas, "Terimakasih banyak nak, biarin bapak jalan sendiri ke rumah sakitnya. Biar bapak ini di rumah saja, saya tidak mau merepotkan. Makasih banyak sekali lagi Dimas."
Dimas mengangguk sedangkan pak Harto terus memperhatikan setiap gerak gerik Gio. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Gio pikir pak Harto.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya Dimas." pamit Gio pada Dimas.
Dimas segera mengambil tangan Gio untuk di ciumnya, kembali lagi dengan kata biar bagaimanapun Gio adalah ayah dari isterinya meskipun sebelumnya ia belum pernah bertemu dengan Gio.
Hi guys kembali dengan author..
Gimana ceritanya masih seru gak?
Ada pertanyaan kah buat mereka?