My Husband Badboy

My Husband Badboy
Bag 8



Sekarang jam menunjukkan pukul 5 sore,Gita sudah berada dirumah sejak pukul 3. Sekarang Gita dan ibu nya sedang membereskan meja bekas ibu nya dagang. Gita membantu sambil bersenandung. Tiba-tiba datang dua orang laki-laki berbahan besar menghampiri mereka. Gita yang takut langsung bersembunyi di belakang tubuh Ratih.


"mana suami anda?" ucap si A dengan suara besar.


"suami saya sudah 3hari tidak pulang" cicit Ratih.


"jangan bohong kamu!" sahut si B.


"bener pak saya gak bohong"


"kalo begitu cepat bayarkan hutang suami kamu sebelum bunganya semakin besar"


"hu...hutang??" Ratih tak percaya.


"iya suami kamu punya hutang pada bos kamu sebesar 50juta" jelas si A.


"li...lima puluh juta?" beo Ratih dan Gita.


"udah cepat bayar! gausah kaget begitu"


"tapi saya gak ada uang sebanyak itu pak"


"saya gak mau tau,saya kasih waktu 1minggu kalo kalian tidak bayar rumah ini akan kami sita" ucap si B lalu pergi sambil menendang bangku hingga jatuh.


Ratih menangis begitu juga Gita. Cobaan apalagi yang sedang mereka hadapi. Sebegini susahnya hidup Gita.


"maafin ibu ya nak,ibu gak pernah bisa bikin kamu bahagia" ucap Ratih sambil menangis.


Gita menggeleng " aku yang gak pernah buat ibu bahagia,ibu yang sabar ya. aku yakin kita bisa lewatin ini berdua"


Ratih tersenyum lalu memeluk tubuh Gita. Ratih bersyukur karena Tuhan memberikan Gita untuknya. Gita tidak seperti kebanyakan anak yang lain. Ia selalu terima apa yang di alaminya tanpa rasa malu. Gita dan Ratih kembali melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda.



Sekarang waktunya makan malam. Dimas yang berada dirumahnya pun tengah melakukan makan malam. Walaupun hanya sendiri. Tapi Dimas harus bersyukur karena kedua orangtuanya tetap peduli dengannya. walau mereka memberikan tahunya dari jauh.



Setelah selesai makan,Dimas menghubungi kedua temannya. Siapa lagi kalau bukan Gilang dan Reno. Dimas mengajak mereka untuk ke Club biasa.



Sekarang pukul 10malam Dimas dan kedua sahabatnya sudah berada di Club biasa mereka kunjungi,dan mereka sudah mulai sedikit mabuk walau masih keadaan sadar.



Dimas rasa saat ini ia ingin bersenang-senang meskipun tak ada masalah yang serius dihidupnya. Dimas ingin menghubungi seseorang tetapi ponselnya lebih dulu berdering.



'halo'



'....'



'lo kesini sekarang kalo lo mau uang tambahan'



'....'



'gue share loc'



bip



sambungan mati sepihak. Dimas segera memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya sambil menunggu orang itu datang. Ketiganya sudah menghabiskan berapa banyak tenggakan tak terhitung. Tak lama ponsel Dimas kembali bergetar lalu ia mengangkat panggilan itu.




Dimas yang sudah sedikit kehilangan kesadarannya hanya merancau tak jelas. Lalu menepuk sofa disebelahnya yang kosong memberi instruksi pada Gita untuk duduk disampingnya. Gita hanya menurut.



Dengan kesadaran yang hampir abis,Dimas mulai meraba paha Gita. Gita yang risih langsung menepis tangan itu.



"udah lo diem aja,nanti gue bayar gaji lo tiga kali lipat" rancau Dimas diluar kesadarannya.



Gita menggeleng. ini salah ia bukan \*\*\*\*\*\*,ia tak ingin mendapatkan uang dengan cara seperti ini.



Reno dan Gilang hanya diam tak bersuara. Keduanya sudah sama seperti Dimas,jadi keduanya hanya merancau tak jelas.



Tangan Dimas kembali meraba paha milik Gita yang ditutupin dengan celana jeans hitam yang ia pakai. Gita terus menepis pergerakan laki-laki itu. namun sayang tenaga Gita tak sebesar tenaga Dimas.



Dimas mulai berani melakukan lebih,sedangkan Gita sudah menangis sambil meronta. namun sayang ini semua sia-sia,Dimas yang melihat Gita menangis seperti semakin tertantang. Dimas melakukan 'itu' pada Gita. Hingga Gita tak sadarkan diri. Begitupun ketiganya. Kalau untuk ketiganya sudah biasa seperti ini.



Sekarang pukul 3pagi. Gita meringis saat merasakan ngilu diarea sensitifnya. Gila menoleh kebawah ternyata bagian itu tidak terbungkus sehelai benang pun. Ternyata ini nyata,ini bukan mimpi. Gita kembali menangis. Gita gagal menjaga kehormatannya untuk suaminya kelak. Hidupnya sudah hancur ditambah lagi dengan rusak sekarang. Gita tak bisa membayangkan bagaimana dengan ibunya saat tahu Gita sudah melakukan hal yang tak pantas.


gue menjijikan ucap Gita dalam hati.


Gita melihat tubuh Dimas bergerak dan perlahan membuka matanya. Pakaian Dimas masih lengkap,tetapi seingat Gita beberapa jam lalu itu Dimas bukan Gilang ataupun Reno. yah Gita yakin tidak mungkin salah.


Dimas mendudukan dirinya sambil memegang kepalanya yang amat sangat pusing lalu mendekatkan tubuhnya kembali pada Gita. Gita takut yang tadi terulang kembali,segera bergeser duduknya.


"mau kemana?" ucap Dimas dengan suara yang serak.


"jangan dekatin aku"


"pake dulu celana lo tuh,keburu mereka bangun. mau Lo diserang juga sama mereka?" perintah Dimas.


Benar juga,mengapa Gita tak berpikir seperti itu. Dengan cepat Gita memakai celananya tadi tanpa memakai CD karena CD nya entah kemana.


"ayo" ajak Dimas lalu berdiri meskipun kepalanya masih sakit.


"kemana?" cicit Gita pelan.


"pulang lah, emang lo mau ngapain lagi disini" jelas Dimas.


Gita bangkit dari duduknya.


"awsss" ringis Gita saat merasakan ngilu yang hebat.


Tanpa pikir panjang Dimas mengangkat tubuh Gita ala bridal style menuju mobil. Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang di waktu yang hampir pagi. Gita sadar ini bukan arah rumahnya.


"kita mau kemana kak? ini bukan arah rumah aku" tanya Gita takut.


"yang bilang mau pulang kerumah lo siapa? yakali gue nganterin lo gini hari. Lo mau lihat gue di pukul karena bawa kabur Lo?"


Gita hanya menggeleng sambil membenarkan apa yang Dimas katakan. Ia tak mungkin pulang di jam segini. bisa-bisa ibunya bertanya.


Dimas menghentikan mobilnya diparkiran rumahnya. Satpamnya sudah biasa membukakan gerbang disaat tahu majikan muda nya belum pulang. Dan tidak kaget saat majikan muda nya membawa perempuan kerumah. Kasus Yura pun sama. Dimas membawanya kerumah untuk menuntaskan apa yang tadi sedikit tertunda lebih tepatnya melanjutkan yang tadi.


Gita yang dibopong oleh Dimas hanya bisa diam. Bukan karena Gita pasrah hanya saja ia tak kuat menahan sakit yang ada dibagian bawah itu. Dimas menurunkan Gita dikasur king size dikamar tamu.


"kakak aku mau pulang aja" cicit Gita.


"mau pulang? lo yakin gak mau gaji lo? sia-sia loh yang tadi" goda Dimas membuat Gita diam. tanpa aba-aba pun Dimas menyerang Gita kembali. Keduanya melakukan 'itu' untuk yang kedua kali ralat hanya Gita karena Dimas sudah sering.