
Dimas menarik wanita itu keluar cafe dan menyuruhnya naik ke atas motor dan membawanya pergi dari sana. Dimas meninggalkan kedua sahabatnya begitu saja di cafe. Dimas menepikan motornya dipinggir jalan cukup sepi membuat cewek tadi merasa takut.
"kak kok berhenti?" tanya cewek itu.
Dimas menoleh kebelakang melirik cewek itu lalu mengangkat alisnya seakan bertanya "kenapa"
"kakak mau ngapain berhenti disini? rumah gue bukan disini" ujar cewek itu.
"siapa juga yang mau nganterin lo pulang kerumah?" tanya Dimas membuat cewek itu menelan saliva nya.
"maksud kakak apa suruh gue naik ke motor kakak trus kakak bawa pergi?" tanya cewek itu yang tak tau maksud Dimas apa.
"mau tau maksud gue?" ucap Dimas pelan membuat cewek itu merinding.
"gue turun disini aja,makasih udah nolongin gue,mana nomer rekening Lo biar gue transfer uang Lo tadi" cewek itu segera turun dari motor Dimas. sungguh aura Dimas saat ini dingin dan mencekam.
Dimas diam tak menjawab padahal perempuan tadi sudah turun dari motornya.
"naik" perintah Dimas
cewek itu menggeleng "enggak kak,gue sampe sini aja lagian kayanya cowok tadi udah gak ngejar gue" tolak cewek itu.
"naik gue anterin Lo pulang! gausah jual mahal gue gak napsu sama lo" sarkas Dimas membuat cewek tadi mengerucutkan bibirnya sambil mengerutu tak jelas.
Setelah cewek tadi naik Dimas mulai melajukan kembali motornya sambil meminta arah mana kerumah cewek itu. Cantik itulah kata yang tepat untuk cewek dibelakang Dimas.
*semua aja lo bilang cantik Dim*
Menghabiskan waktu 25menit dari tempat mereka tadi, akhirnya sampai didepan rumah besar yang katanya milik cewek itu. cewek itu segera turun dari motor Dimas.
"makasih kak,mana nomer rekening lo biar gue transfer uang lo tadi" ucap gadis itu sambil menyerahkan ponselnya.
Dimas meraih ponsel itu,cewek itu kira Dimas mencatat nomer rekeningnya tetapi Dimas malah mencatat nomer ponselnya lalu menghubunginya sekali.
dapat nomer ponsel gadis itu.
ponselnya dikembalikan pada pemiliknya tetapi pemiliknya membelalak apa yang barusan Dimas lakukan.
"lo nyuri nomer ponsel gue ???" teriak cewek tadi.
"nama lo" ucap Dimas santai.
"hah maksudnya?" cewek itu tak paham maksud dari pertanyaan Dimas.
"nama lo siapa cepat,gue harus balik" ujar Dimas sambil tangannya siap mengetik nama di ponselnya.
"Kii..ara" gugup cewek yang ternyata bernama Kiara itu.
Dimas mengetik namanya lalu menyimpan nomer ponsel gadis itu. Gadis itu hanya diam dan tidak protes lagi,siapa yang gak mau sama pesona Dimas. Badan tinggi tegap, rahang kokoh, bibirnya merah muda dan rambutnya acak-acakan membuat Dimas semakin terlihat seksi.
"gue balik" ucap Dimas lalu memakai kembali helmnya.
"tapi kak..nomer rekening lo belum lo kasih" ujar Kiara.
"gue gak perlu duit lo,jadi Lo gantinya pake lo sendiri" sahut Dimas ambigu.
"hah maksudnya?" bukan Kiara lemot cuma memang tidak paham maksud Dimas.
ambigu njirr
"iya kita jalan,nanti gue kabarin" ucap Dimas lalu pergi begitu saja tanpa mendengarkan teriakan dari Kiara.
arggh gue salah minta tolong orang batin Kiara.
Dimas melajukan motornya menuju rumahnya. Tak terasa waktu sangat cepat karena sekarang jam menunjukkan pukul setengah 7 malam,makanya Dimas langsung pulang padahal biasanya Dimas akan pulang dini hari.
Dimas memarkirkan motornya digarasi,lalu masuk kedalam rumah. Sebelum ke kamarnya Dimas mampir dulu ke dapur untuk minum karena ia rasa tenggorokannya kering. Sambil meminum air yang tadi ia ambil Dimas mengirim chat pada kedua sahabatnya mengatakan bahwa dirinya sedang ada urusan jadilah ia tidak bisa ikut berkumpul kembali. Dengan iseng Dimas mengirim pesan pada Kiara.
Dimas Aditya
Kiara
send
Dimas mengclose chat tersebut lalu berjalan menuju kamarnya,bisa dipastikan Gita belum bangun. Saat ingin menaiki tangga suara bi Asih terdengar.
"den mau dimasakin apa makan malamnya?" tanya bi Asih.
"apa aja bi yang penting sehat untuk Gita" jawab Dimas.
"oh oke den,bibi masakin dulu kalau gitu"
Dimas mengangguk lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya,dan benar Gita masih tertidur pulas dengan selimut menutupi perut hingga kebawah.
Dimas langsung melangkah kekamar mandi untuk membersihkan dirinya karena dirasa sudah lengket. Hampir menghabiskan waktu 10menit barulah Dimas keluar dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.
"ahhhhhh kak Dimas ngapain?" teriak Gita yang ternyata sudah terbangun.
Dimas jalan santai menuju lemari pakaiannya dan memilih baju yang akan ia pakai.
"ganti bajulah,kenapa?" jawab Dimas santai tanpa melihat ekspresi Gita.
"dikamar mandi sana,disini kan ada aku emang gak malu?" ujar Gita sedikit gugup. Bukan Dimas yang malu sebenarnya tapi Gita. Kejadian itu seakan berputar kembali di otaknya.
"ngapain malu,kan lo udah lihat juga pernah ngerasain lagi sampe jadi anak" ucap Dimas kelewat enteng membuat pipi Gita memerah.
"tau ah. " ucap Gita lalu meninggalkan Dimas yang terkekeh. Padahal kan emang benar.
seru juga ledekin istri sendiri batin Dimas.
Dimas selesai mengenakan baju lalu Dimas duduk ditepi ranjang menunggu Gita selesai dan akan makan malam dibawah bersama. Dimas memainkan ponselnya menunggu balesan dari Kiara. tetapi pesannya belum juga dibaca oleh Kiara.
Tak lama Gita keluar dari kamar mandi yang hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian dada hingga ke lutut. Dimas menelan ludahnya susah payah. Rasanya ingin sekali Dimas menerkam Gita langsung tapi ia ingat Gita sedang mengandung dan dia tidak akan menyakitin anaknya.
Gita kaget karena masih ada Dimas dikamar,Gita sengaja hanya menggunakan handuk ia kira Dimas sudah lebih dulu turun kebawah.
"kak Dimas kenapa masih disini?" tanya Gita pelan berusaha menutupi bagian yang tereskpos.
"ada yang salah emang gue ada dikamar gue sendiri?" tanya Dimas sambil mengangkat alisnya.
Gita menggeleng lalu dengan cepat ia mengambil baju gantinya dengan asal dan masuk lagi kedalam kamar mandi. Dimas terkekeh melihat Gita.
"udah selesai belom? kita turun kebawah kalo udah" ucap Dimas saat Gita sudah keluar dari kamar mandi.
Tanpa menjawab Gita lebih dulu keluar dari sana meninggalkan Dimas yang hanya tersenyum melihat Gita seperti itu.
Dimas merasa rasa sayangnya kepada Gita makin lama akan makin tumbuh jika mereka sering bersama.
Tapi bagaimana dengan cewek cantik yang ia temui tadi sore. Apakah ia akan berpaling atau malah memupuk cinta untuk Gita dan calon baby nya?