My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 46



Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak 20 menit lalu. Dan saat ini Kiara dan Gita sedang menuju rumah Kiara yang di antar oleh supir Kiara. Sebelumnya Kiara sudah mengajak Dimas untuk ikut bersamanya tetapi cowok itu menolak dengan alasan ada urusan keluarga. Karena tadi pagi Kiara berangkat bareng Dimas alhasil tidak membawa kendaraan makanya Kiara meminta jemput oleh supirnya.


"Kita berdua doang Ra?" tanya Gita.


Kiara mengangguk dengan wajah yang sedikit sedih sepertinya, "Iya, kak Dimas gak mau ikut katanya ada urusan keluarga. Kak Gilang sama kak Farhan mau latihan futsal katanya." ujar Kiara.


Gita yang mendengar alasan Dimas mengerutkan dahinya. Alasan keluarga apa yang di maksud Dimas? Atau itu hanya sebuah alibi karena sekarang Kiara sedang bersama Gita? Dimas takut Gita tau bagaimana kedekatan keduanya. Mungkin bisa jadi....


"Kayanya lo sedih gitu deh Ra." pancing Gita. Sedikit banyak ia ingin tau bagaimana hubungan Dimas dengan perempuan cantik ini. Kalau ia bertanya pada Dimas tidak akan ada kejujuran di sana.


"Hm sedikit sih, gue ngerasa nyaman deket sama mereka bertiga. Terutama sama kak Dimas, gue ngerasa di jadi ratu kalau udah sama dia." jelas Kiara dan sekarang yang terlihat sedih adalah Gita.


Coba kalian bayangin gimana sakitnya jadi Gita sekarang! Mendengar hal itu seperti jantungnya sedang di tusuk ribuan jarum. Sakit!


Di jadikan ratu oleh suami orang? Ah terdengar lucu sekali. Yang paling menyakitkan itu, istrinya sendiri aja tidak di perlakukan seperti itu. Ah Gita, kamu harus ingat kalau pernikahan kalian itu bukan atas dasar cinta.


"Lo punya hubungan lebih sama kak Dimas?" tanya Gita sambil menahan napasnya. Jujur, butuh keberanian ekstra untuk bisa bertanya tentang ini.


Kiara menatap Gita sebentar lalu tersenyum, "Belum, tapi kak Dimas pernah bilang kalau dia sayang sama gue." jujur Kiara.


Memang benar, waktu mau pulang dari rumah Kiara saat makan malam itu Dimas mengatakan kalau dia sayang pada Kiara. Lalu setelah itu membuat keduanya menjadi dekat saat di sekolah. Dimas belum mengungkapkan apapun lagi pada Kiara.


"Terus, kalian belum pacaran?" tanya Gita masih penasaran.


Ayo deh Gita kebiasaan, nanti sakit hati sendiri mendengar jawabannya... Ishhh


Kiara menggeleng lemah, "Setelah itu kak Dimas gak pernah bahas lagi Git,"


"Menurut lo gue harus gimana? Nungguin dia aja atau gue tanya dia maunya gimana?" tanya Kiara kepada Gita.


Eh kalian semua, tolong beri tau Kiara kalau Gita itu istrinya Dimas. Lucu sekali, minta pendapat sama istri calon pacarnya. Terdengar aneh atau lucu?


Belum sempat menjawab, ternyata mobilnya sudah berhenti yang artinya mereka sudah sampai di tujuan. Dengan cepat keduanya turun untuk masuk ke dalam rumah megah itu. Gita memandang takjub, rumah Kiara hampir sama lebarnya dengan rumah Dimas. Hanya saja di rumah Kiara lebih banyak tanaman hias dan bunga di sekitar halaman. Indah, satu kata itu yang terlukis di sini.


"Assalamu'alaikum." teriak Kiara saat sudah masuk ke dalam rumah.


Tak lama ada seorang wanita yang keluar dari balik tembok. Wanita yang sangat mirip dengan Kiara dan bisa di pastikan itu adalah ibunya, karena terlihat dari wajahnya yang sudah tidak muda lagi karena terlihat sedikit kerutan di wajahnya. Tetapi masih sangat cantik.


"Waalaikumsalam." sahut Bunga sambil berjalan menghampiri sang anak perempuannya itu.


"Bunda, kenalin ini yang namanya Gita. Yang waktu itu aku ceritain." seru Kiara memperkenalkan Gita pada sang bunda.


Gita yang mendengar namanya di sebut langsung melangkah menuju Bunga dan mencium punggung tangan sang ibunda temannya itu. Bunga menerima itu sambil mengelus kepala Kiara pelan.


"Kata Kiara, kemarin kamu di rawat di rumah sakit ya? Sakit apa sayang?" tanya Bunga.


Ah sekarang Gita tau dari mana sifat Kiara yang mudah bergaul dengan orang baru. Ternyata dari orang tuanya, lihat saja Bunga memanggil Gita dengan sebutan sayang.


"Iya tante, kata dokter sih cuma gejala tipes aja." jawab Gita pelan.


"Oh gitu, tapi sekarang sudah sehat?" Gita mengangguk sebagai jawaban itu.


"Bunda masak apa hari ini? kita makan yuk Git. Cobain masakan bunda gue, enaknya pol. Sampe kak Gilang nambah terus waktu itu." jelas Kiara. Kenapa harus terus membicarakan ketiga cowok itu terus sih batin Gita.


"Iya ayo sayang, bunda udah masakin makanan kesukaan kamu sama abang." sahut Bunga.


Gita hanya mengekor Kiara menuju ruang makan, mau di tolak tapi tidak enak. Masa rezeki di tolak, iya kan?


*****


Pikiran Dimas sedang kacau makanya ia memutuskan untuk tidak ikut latihan kali ini dengan alasan yang sama yang ia berikan pada Kiara. Ada urusan keluarga.


Dimas memikirkan bagaimana caranya menjelaskan pada Gita nanti kalau dirinya masih dekat dengan Kiara seperti tadi. Dan apalagi sekarang Kiara dan Gita sedang bersama. Dimas takut Kiara menceritakan apapun yang pernah ia lakukan untuk Kiara kepada Gita. Habis sudah riwayatnya.


Jujur, dalam hati paling bawah Dimas tidak rela kalau sampai melepaskan Gita nantinya. Ada yang menolak dalam hatinya, entah karena apa Dimas belum bisa mengetahui itu. Kalau di bilang sayang sama Gita, ya Dimas sayang. Tapi Dimas juga sayang sama Kiara. Lalu apa yang membedakan dari sayang itu? Memangnya bisa sayang dengan dua orang sekaligus.


"Gimana kalau gak lama lagi Gita beneran pergi dari gue? Gue beneran belum siap buat hal itu." ujar Dimas pada dirinya sendiri.


Sedang asik memikirkan sesuatu yang akan terjadi di rumah, Dimas di kagetkan dengan deringan dari ponselnya. Sekilas melihat nama Farhan di sana, dengan malas ia menjawab panggilan itu.


"Apaan?"


"...."


"Ngomong apaan?"


".... "


"Cafe biasa."


Panggilan itu mati sepihak dan membuat Dimas mengumpat kesal. Tapi setelah itu kembali menjadi pertanyaan di kepalanya. Suara Farhan di telepon tadi sangat pelan seperti sedang berbisik. Lalu saat terdengar ada suara Gilang, dengan cepat panggilannya langsung mati. Sebenarnya apa yang mau di bicarakan Farhan padanya dan sepertinya Farhan tidak ingin Gilang tau hal ini.


Semakin pusing di buatnya, Dimas memutuskan untuk mengirim pesan kepada kedua perempuan yang ia sayangi itu. Eitss, tetapi dengan pesan yang berbeda ya.


Kiara


Lagi apa Kia?


Send


Cewek Aneh


Masih di rumah Kiara? Nanti malam kita dinner ya, jangan pulang terlalu sore. 


Send


Setelah mengirim pesan itu Dimas membuka aplikasi game kesukaannya dan mulai memainkan game itu sambil menunggu Farhan datang.


****


Kalau sudah seperti ini seharusnya yang di lakukan mereka itu apa sih....


Kasih saran coba untuk mereka...


Gita?


Dimas?


Kiara?


Farhan?


Gilang?


Sok coba sebutkan saran kalian untuk siapa di sini...