My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 66



Bel istirahat sudah berbunyi, Gita dan Kiara berjalan menuju kantin sekolah. Keduanya berjalan sambil berbincang ringan membicarakan materi pelajaran yang tadi di bahas oleh guru.


"Kak Dimas kok dari pagi gak kelihatan ya?" ujar Kiara sambil celangak celinguk.


"Kak.." Gita menghentikan ucapannya, hampir saja keceplosan. Kalau ia memberitahu Kiara kalau Dimas tidak masuk hari ini karena sedang ke luar kota pasti Kiara akan curiga.


"Kak apaan Git? Lo tau kak Dimas dimana?" tanya Kiara curiga.


Gita menggeleng, "Maksud gue coba aja tanya kak Farhan atau kak Gilang pasti mereka tau, kan mereka sahabatan." elak Gita.


Kiara mengangguk, "Bener juga, yaudah yuk ke kelas mereka." ajak Kiara.


"Ngapain?" tanya Gita.


"Yah buat ketemu mereka lah, tadi ide lo kaya gitu gimana sih lo." dumel Kiara lalu menarik tangan Gita.


Mau tidak mau Gita ikut melangkah ke arah kelas Dimas. Sebenernya ia malas dan takut untuk ke kelas itu, selain bertemu dengan Gilang ia juga takut dengan kakak kelas yang lain yang selalu melihatnya dengan tatapan buas.


"Misi kak, kak Dimas nya ada gak ya?" tanya Kiara pada salah satu murid kelas Dimas yang sedang berdiri di depan pintu.


"Dimas lagi gak masuk dek, ada apa? Mau minta di temenin ke kantin? Ayo sama kakak aja." ujar kakak kelas itu.


Kiara menggeleng sambil tersenyum, "Kalau kak Gilang ada?" tanya Kiara lagi.


"Lang, di cariin nih sama adek manis." teriak cowok itu ke dalam kelas untuk memangil Gilang.


Tak lama Gilang keluar dari kelasnya dengan earphone yang terpasang di telinganya. Melihat siapa yang datang, membuat Gilang melepaskan earphone itu.


"Ngapain?" tanya Gilang pada Kiara.


"Enggak, gue cuma mau nanyain kak Dimas. Bener emang dia lagi gak masuk sekolah?" jawab Kiara.


Gilang mengangguk sambil matanya menatap Gita tajam, sedangkan yang di tatap hanya menunduk.


"Kemana? ada ngasih tau lo gak, dia sakit atau apa?" tanya Kiara lagi.


"Lo tanya sama temen lo, dia kan lagi deket sama Dimas." jawab Gilang sambil menunjuk Gita menggunakan dagu.


Kiara bingung dengan ucapan Gilang, lalu melirik ke arah Gita yang masih menunduk.


"Lo jangan asal ngomong gitu kak, ini aja Gita yang nyuruh suruh tanya ke lo atau kak Farhan. Karena dia juga gak tau kemana kak Dimas." ujar Kiara.


Gilang tertawa, "Kiara.. Kiara lo mau aja di bohongin sama muka polosnya tuh cewek."


"Yang lo anggap sahabat itu ternyata penghianat. Dia pergi sama Dimas semalem ke restoran mewah asal lo tau!" beritahu Gilang pada akhirnya.


Pertengkaran ketiganya menjadi bahan tontonan. Gita yang seperti biasa ingin menghilang saja dari sana apalagi saat ini tidak ada Dimas yang menolongnya.


"Ya Tuhan aku harus gimana?" doa Gita dalam hati.


Kiara menatap Gita lagi seakan mencari penjelasan dari kata-kata itu tetapi akhirnya dia malah tertawa, entah apa yang lucu.


"Kak Gilang.. kak Gilang kalau nuduh orang tuh cari bukti yang valid dulu." ujar Kiara membuat Gita merasa semakin bersalah.


"Lo beneran gak percaya apa yang barusan gue bilang?" tanya Gilang sedikit kesal karena Kiara tidak percaya begitu saja.


Kiara menggeleng, "Gue kemarin seharian sama Gita. Gue pergi ke mall sama Gita dan pacarnya Gita. Jadi gak mungkin dia pergi sama kak Dimas!" jelas Kiara membuat semua yang ada di sana melongo tak percaya.


Ternyata Gita memiliki kekasih, Gilang yang mendengar itu langsung semakin menatap tajam Gita. Gilang semakin merasa di sini Gita yang harus di salahkan. Dengar saja dari penjelasan Kiara tadi kalau Gita sudah memiliki kekasih lalu kenapa dia pergi makan malam bersama Dimas, dan pasti fakta ini Dimas tidak tau.


"Cewek murahan!" bentak Gilang sambil mencengkram bahu Gita keras membuat Gita meringis sakit.


Kiara yang melihat itu langsung membantu untuk melepaskan cengkraman itu tetapi sayang tenaga Gilang lebih kuat.


"Kak lepasin!" teriak Kiara.


"Kak sakit kak!" ujar Gita meringis.


Kiara masih terus meneriakin Gilang agar melepas cengkraman itu, tiba-tiba seseorang datang langsung menghantam wajah Gilang dengan sebuah pukulan dan itu berhasil membuat cengkraman itu lepas.


"Brengsek, beraninya sama perempuan!" marah Farhan pada sahabatnya.


"Gue tau, lo ngebela sepupu lo biar gak sakit hati, tapi gak gini caranya!" teriak Farhan lagi.


"Dia murahan anjir! Dia udah punya pacar tapi tetap deketin temen lo! Lo harusnya belain gue buat lenyapin nih cewek sampah!" teriak Gilang lagi membuat semua penonton semakin serius melihat drama di jam istirahat.


"Kak Dimas, tolong aku." ringis Gita dalam hati.


"Stop kak Gilang, gue gak suka lo ngatain Gita kaya gitu. Gue percaya sama Gita dia gak akan ngehianatin gue, kalau lo mau nuduh Gita jalan sama kak Dimas lo bisa kasih gue bukti yang valid baru gue akan percaya!" ujar Kiara emosi dan menarik tangan Gita pergi dari sana.


"Jangan lupa sama kata-kata gue semalem, lo buat Kiara nangis gue bikin sengsara hidup lo!" teriak Gilang membuat Gita merinding.


****


Kiara dan Gita kembali ke kelas, dengan wajah Gita yang sudah pucat pasi. Semuanya berjalan tidak seperti yang ada di pikirannya. Semakin merasa bersalah pada Kiara karena ia tidak mudah percaya begitu saja dengan ucapan Gilang yang jelas-jelas itu adalah fakta.


"Lo minum dulu deh mending." ujar Kiara sambil memberikan minuman Gita yang berada di kolong meja.


Gita mengangguk dan langsung menegak minuman itu sampai habis, Kiara mengelus punggung Gita pelan.


"Lo sama kak Gilang sepupuan?" tanya Gita pura-pura.


Kali ini Gita yang mengangguk, "Iya gak papa, gue kan pernah bilang gak semuanya harus lo ceritain."


"Git, tapi yang di bilang sama kak Gilang tadi itu semua bohong kan?" tanya Kiara membuat Gita kembali terdiam.


****


Hari terus berganti, sejak kejadian itu pula Gita tidak masuk sekolah karena Dimas pun belum pulang dari luar kota. Ia tidak sanggup kalau harus menjelaskan dan menghadapi ini semua sendiri.


Kiara terus menghubunginya tapi selalu saja Gita abaikan, bahkan Kiara sampai datang ke tempat waktu itu dia menjemputnya tetapi Gita tidak membalas pesan-pesan dari Kiara.


Tentang pertanyaan Kiara waktu Gita menjawab semuanya itu benar, tetapi Kiara pun tidak percaya karena tidak ada bukti yang valid. Gita hanya bisa diam, biarkan nanti saja Dimas yang menjelaskan pada Kiara.


Tepat hari ini adalah hari dimana Kiara mengadakan pesta, dan siang ini pula Dimas akan pulang. Keduanya bisa datang ke acara pesta Kiara. Gita sudah bercerita semuanya pada Dimas dan Dimas marah dengan Gilang karena sudah kasar pada istrinya.


Kiara is calling... 


Dengan malas akhirnya Gita mengangkat panggilan itu, kasian Kiara karena waktu itu Gita berjanji akan membantunya untuk mengadakan pesta ini.


"Iya Kiara?"


"...."


"Sorry, gue lagi demam makanya gue gak pegang hp."


"...."


"Hm, di usahakan dateng kok. Tapi maaf gue gak bisa bantuin lo di sana sekarang."


"...."


"Iya,see u."


Bip


Gita menghela napasnya lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur, rasanya terlalu malas untuk pergi ke acara Kiara. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan terlihat Dimas di sana dengan senyum merekah.


"Kangen." ujar Dimas langsung menindih Gita.


Gita cekikian dan memainkan rambut Dimas, "Masa? Kangen aku atau Kiara?" goda Dimas.


Dimas turun dari atas Gita dan merebahkan diri di samping istrinya, "Kangen kamu lah." rajuknya.


Hening hingga beberapa menit ke depan, keduanya hanya memandang langit-langit di kamarnya dengan pikiran mereka masing-masing.


"Git, gimana kalau kebohongan ini kita udahin aja?" ujar Dimas secara tiba-tiba.


Gita mengangguk sambil matanya masih terus menatap ke atas, "Aku rasa juga seharusnya begitu kak, dari pada semuanya semakin kacau."


Dimas bangkit dari tidurnya dan duduk tegap, hal itu pun di lakukan oleh Gita. Sekarang keduanya sama-sama terduduk saling berhadapan.


"Tapi kak, kita kayanya harus izin ini dulu deh sama papah dan mamah. Karena masalah ini pasti berdampak banget sama mereka juga." Dimas mengangguk setuju dengan Gita.


Damian dan Terry adalah orang terpandang, lalu apa kata publik nanti setelah mengetahui kalau anak semata wayangnya sudah menikah sejak masih sekolah karena kecelakan alias hamil di luar nikah.


"Kita ke bawah sekarang, minta saran sama mamah papah." ajak Dimas dan di anggukin oleh Gita.


Sambil saling menggenggam keduanya turun dari atas, dan ternyata Terry dan Damian sedang berada di ruang makan begitu juga dengan Ratih.


"Yaelah, gak usah pake gandengan segala kenapa sih. Gak lagi nyebrang juga." gerutu Terry.


Gita langsung melepaskan genggaman itu, tetapi di tarik lagi sama Dimas dan kembali di gengam.


"Udah ya jangan nyerocos dulu, ada yang mau aku sama Gita omongin. Ini penting banget soalnya." ujar Dimas tidak menanggapi celetukan ibunya tadi.


"Ada apa?" tanya Damian.


"Gini pah..." Dimas menceritakan semua yang sudah terjadi akhir-akhir ini dan membuat ketiga orang tua itu mendengarkan secara detail, hingga penjelasan itu selesai.


"Oke mamah setuju, kalau untuk urusan publik biar jadi urusan mamah sama papah. Kalian tinggal mikirin aja gimana caranya kasih tau ke mereka." sahut Terry.


"Bener kata mamah, kalian gak usah mikirin publik. Papah gak mau lihat Gita terancam kaya gitu dan rumah tangga kalian rusak karena kesalahpahaman." ujar Damian.


"Tapi, apa kamu udah siap juga sama konsekuensinya? khususnya kamu, Gita. Kamu bisa berhenti sekolah karena status kamu. Apa kamu siap?" tanya Ratih.


"Sekolah itu punya papah, bu." sahut Dimas.


Ratih mengangguk dan tau fakta itu, "Iya ibu tau, tapi balik lagi di sekolah bukannya tidak boleh kalau statusnya sudah menikah. Ibu tau ini masalah mudah karena pak Damian yang punya sekolah, tapi gimana orang sekitar kalian. Tidak semua menyukai fakta ini, dan itu bisa semakin membuat Gita terancam."


Damian dan Terry mengangguk setuju begitu pula dengan Gita. "Kalau memang Gita harus berhenti sekolah gak papa kok." ujar Gita pada akhirnya.


Terry menggeleng, "Kamu tetep sekolah di rumah. Kamu mau kan?"


Gita mengangguk semangat. Izin dari Damian, Terry serta Ratih sudah di dapatkan sekarang tinggal mereka pikir bagaimana caranya memberitahu semuanya tentang ini.


Bersambung..... 


Jangan lupa follow instagram aku : maulidyapu


Dan...