My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 30



Saat ini Dimas sudah mondar-mandir tidak jelas didepan UGD dimana ada Gita didalamnya. sejak tadi belum ada tanda-tanda bahwa pemeriksaan Gita telah usai. Dimas datang ketempat ini karena bi asih serta orangtuanya menghubunginya.


*flashback


Dimas dan Kiara berada disalah satu mall terkenal di Jakarta. Keduanya sedang berkeliling mall mencari hoodie yang akan Dimas beli. Tadi dimas berbohong pada Kiara kalau mereka memang memiliki janji padahal tidak. itu semata-mata ingin melindungi Gita saja. Entah melindungi Gita atau memang modus ingin jalan sama Kiara.


"disitu ada deh kayanya,coba ke situ yuk" ajak Kiara menuju salah satu toko.


Dimas sibuk memilih yang mana yang cocok,begitu juga Kiara. dan kadang mereka sama-sama saling menilai. Setelah sudah didapat apa yang mereka cocok, keduanya keluar dari toko tersebut lalu menuju restoran cepat saji disana.


"makan dulu ya...." ajak Dimas.


"oke" jawab Kiara.


Dimas memang sengaja pasang mode* *slient pada ponselnya. saat mereka sudah duduk direstoran itu Dimas mengeluarkan ponselnya. dan betapa terkejutnya banyak panggilan tak terjawab dari kedua orangtuanya serta bibi nya. ada yang gak beres nih batin Dimas.


saat Dimas akan menghubungi mereka kembali,tiba-tiba ponselnya nyala dan menampilkan nama mamahnya disana. Kiara dari tadi memperhatikan Dimas yang tiba-tiba wajahnya berubah.


"halo mah"


"...."


"di mall sama temen,ada apa?"


"...."


"apa?!!"


"...."


"ngomelnya nanti dulu mah, sekarang dirumah sakit mana Dimas otw kesana"


"...."


bip


Dimas melirik ke arah Kiara yang dari tadi memang memperhatikannya. bahkan pesanan mereka pun belum datang.


"gue harus pergi,lo balik sendiri gapapa kan?" ucap Dimas.


"siapa yang sakit? kok kakak panik banget?" tanya Kiara.


"keluarga gue ada yang sakit,tadi nyokap gue telepon gue harus kesana sekarang,Lo gapapa kan gue tinggal?" tanya Dimas lagi.


"gue gak ikut aja kerumah sakit?" tawar Kiara.


"gausah nanti repot disana takut malah gak ada waktu sama lo" tolak Dimas tegas. Kalau Kiara ikut semuanya akan terbongkar dan Dimas belum siap.


"gue pergi ya.. ini buat bayar makanannya kalo gak habis lo bungkus aja ya..Lo hati-hati kabarin gue kalo udah sampe" lanjut Dimas lalu berjalan keluar restoran dengan cepat.


Kiara hanya memandang tubuh Dimas hingga tak terlihat. perasaan Kiara sudah mulai tumbuh pada laki-laki itu tetapi ia tidak bisa langsung menunjukkan hal itu karena ia belum tau apa-apa tentang kehidupan Dimas*.


flashback off


"Aden mau bibi beliin apa dikantin?" tanya bi asih.


Dimas menggeleng.


"Aden udah makan belum?"


Dimas menggeleng lagi.


akhirnya Dimas mengangguk dan membiarkan bi asih pergi. dan saat ini hanya ada Dimas dan pak Harto disana. Saat ingin bertanya pada pak Harto sebenarnya apa yang terjadi pintu ruangan itu terbuka dan seorang bersetelan dokter keluar.


"keluarga pasien?" tanya dokter yang bernama Gadis.


"saya suaminya dok" ucap Dimas lantang. bodoamat dengan semuanya.


Gadis memandang Dimas seolah mencari kebohongan ternyata tidak ada. Gadis kira Gita seperti itu karena seseorang yang menghamilinya ternyata ia salah. Awalnya Gadis kira ia salah dengan hasil pemeriksaannya yang menyatakan Gita hamil padahal Gita masih menggunakan seragam sekolah dan ternyata memang benar.


"bisa ikut saya keruangan sebentar?"


Dimas mengangguk lalu mengikuti Gadis menuju ruangannya dan jangan lupa ia ditemanin oleh pak Harto. ketiganya sudah duduk didalam ruangan ber AC dengan tembok berwarna putih.


"begini pak.. usia kandungan istri bapak masih sangat muda. dan pada bulan-bulan tersebut memanglah sangat rentan" jelas dokter Gadis.


"kami sudah sangat maksimal untuk menyelamatkan nyawa anak bapak namun sayang Tuhan berkehendak lain. karena kandungannya yang masih muda, dia tidak bisa bertahan disana,karena bukan hanya sebuah benturan keras saja ditambah tusukan pas mengenai cabang bayinya. kami minta maaf namun kami sudah melakukan itu sebisa kami. kami harap bapak bisa ikhlas menghadapi ini" jelas dokter gadis membuat Dimas terdiam seribu bahasa.


"tusukan?" beo Dimas.


Dokter gadis menoleh ke arah pak Harto dan dibalas gelengan oleh pak Harto. karena pak Harto tau maksud dari tatapan dokter itu.


"Aden yang sabar ya.. yang ikhlas" ucap pak Harto sambil mengusap bahu majikannya.


"kami permisi" ucap Dimas langsung keluar begitu saja dari ruangan Gadis.


Saat keluar dari sana ternyata kedua orangtuanya sudah sampai dan mereka sedang duduk diruang tunggu depan UGD bersama dengan bi Asih. Dapat dilihat dari jauh, bahu Terry bergetar artinya dia sedang menangis.


Dengan keberanian yang sudah terkumpul Dimas mendekat ke arah ibunya itu. Terry memandang Dimas tajam membuat Dimas takut. Baru kali ini Dimas melihat wajah yang sangat menyeramkan yang di tampilkn Terry.


"kamu dari mana aja!! kenapa kejadian kaya gini bisa terjadi??!!!" bentak Terry yang tidak sadar ini adalah rumah sakit.


"sabar mah ini rumah sakit" Damian menenangkan istrinya.


"gimana bisa sabar! ini anak kamu gak ada tanggung jawabnya banget! kalo sampe kenapa-napa sama cucu kita gimana pah?" ucap Terry sambil menangis.


"cucu mamah udah gak ada" lirih Dimas membuat Terry kembali menatapnya tajam. begitu juga Damian dan bi asih.


"maksud kamu apa bilang cucu saya udah gak ada!!" teriak Terry lagi bahkan Terry menggunakan bahasa formal.


"cucu nyonya tidak bisa diselamatkan karena tusukan itu tepat mengenai janin" jelas pak Harto karena ia tau Dimas tidak akan kuat menjelaskan itu semua.


"gak gak mungkin! cucu saya pasti bertahan. Gita itu perempuan yang kuat! gak mungkin ini terjadi" tangis Terry pecah Damian dengan sigap menggiring istrinya kedalam dekapannya.


"tenang mah tenang"


Dimas menangis sambil bersujud pada kaki Terry. Ia menyesali semuanya. ini karena nya. semua karena dirinya. kalau saja dirinya tidak pergi bersama dengan Kiara tadi. Lalu Dimas berpikir siapa yang melakukan ini pada Gita?


"permisi,bapak ibu saya ingin memberi tahu bahwa pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat. bapak atau ibu bisa mengurus administrasinya dulu biar pasien bisa langsung dipindahkan" ucap suster.


"baik kami akan urus,siapkan kamar VVIP untuk pasien" ucap Damian tegas lalu suster mengangguk dan pamit meninggalkan mereka.


Damian menyuruh Harto untuk mengurus semuanya. Sedangkan orang yang sejak tadi berada disana kaget bukan main dengan fakta yang baru dia ketahui.


cucu?


VVIP?


mereka udah menikah?? gumam orang itu.


dan terbitlah senyum jahat yang menghias diwajah cantik Yura. entah apa yang akan dia lakukan lagi pada Gita atau pun Dimas.