
Dimas bolos dari sekolah membuat Gilang dan Reno bingung. Sejak kapan Dimas peduli pada orang lain selain keluarga atau mereka berdua. Reno dan Gilang berusaha mengejar sambil memanggil namanya,tapi tak satupun di gubris oleh Dimas. Dimas terus saja melangkah keluar sekolah. Bodoamat masalah hukuman besok yang penting hari ini dia ketemu dengan Gita. Dimas tak ingin terjadi apa-apa pada calon anaknya itu.
what?
calon anak? menjijikan sekali sepertinya.
Sekarang Dimas dan orang suruhan papahnya menuju rumah Gita. yah mobil Dimas ada didalam sekolah tak mungkin ia keluar membawa mobilnya. Selama perjalanan Dimas terus menghubungi Gita namun tetap sama tak ada jawaban.
Dimas sampai didepan gang biasa lalu turun dan diikuti oleh anak buah papahnya. Dimas berjalan menuju rumah Gita yang sudah anak buah papahnya cari tau.
"apa gak sebaiknya mas Dimas tunggu saja dimobil?" tanya Devan orang kepercayaan papahnya.
"gausah om,saya ingin mengetahuinya langsung" jawab Dimas pada Devan yang dipanggil dengan sebutan 'om'
Keduanya berjalan menuju rumah sederhana dan diikuti beberapa anak buah dibelakang mereka. Saat sampai didepan warung nasi yang sedang lumayan ramai membuat mereka yang ada disana berbisik.
*siapa tuh penagih hutang lagi?
aduh itu yang muda ganteng banget cocok kali ya sama anak saya*
"ekhmm,permisi apa disini rumahnya ibu Ratih?" tanya Devan.
Ratih menunduk takut,ia takut itu adalah orang penagih hutang seperti sebelumnya. Ratih malu sungguh. Mau tidak mau Ratih mengangkat kepalanya dan melihat orang yang menanya itu.
"iii..yaaa benar pak, ada perlu apa ya?" jawab Ratih gugup. Disini posisinya lumayan rame apalagi kebanyakan ibu-ibu yang suka nyinyir.
"boleh bicara sebentar didalam? ada sesuatu yang penting yang harus ibu tau" ucap Devan sedangkan Dimas hanya menutupi mukanya karena panas yang menyorot langsung ke wajahnya.
Ratih mengangguk lalu menyuruh orang itu masuk kedalam rumahnya,semua itu dilihat oleh para tetangganya dan membuat mereka mencibir. Awalnya pintu tidak ditutup tetapi langsung ditutup oleh anak buahnya dan hanya Devan dan Dimas yang berada didalam. sedangkan yang lain menjaga diluar rumah.
"ibu benar ibunya Gita?" tanya Devan to the point.
Ratih mengangguk lalu menundukkan kepalanya seakan ia sedih mengingat anaknya itu. kemana dia sekarang?
"sekarang Gita dimana?" Dimas bersuara.
Ratih menggeleng.
"saya tidak tahu" jawab Ratih sedih.
"kenapa ibu bisa tidak tahu anak ibu sendiri pergi kemana?" tanya Dimas ketus.
Devan menggeleng pada Dimas. bermaksud untuk tidak bicara keras pada orangtua didepannya.
"apakah ibu tau anak ibu sedang ada masalah sekarang?" tanya Devan sopan.
Ratih diam cukup lama hingga ia kembali emosi saat mengetahui anaknya tengah mengandung sekarang.
"iya! dia hamil,dia hamil. dia sudah bikin saya kecewa,dia sudah bikin saya malu! saya gak sudi punya anak seperti dia,saya banting tulang cari uang untuk dia tapi balesan dia ke saya seperti ini!" emosi Ratih sambil menangis.
Ratih kembali diam. Benar apa yang dikatakan Dimas,ia cari uang untuk siapa? hingga ia tak mampu membayar SPP anaknya.
"sekarang Gita kemana Bu?" tanya Devan menenangkan.
"dia sudah saya usir tadi pagi,saya tidak tahu sekarang dia dimana. saya nyesal seharusnya saya support dia sekarang bukan malah bikin dia pergi kaya gini" penyesalan Ratih.
"kalian siapa?" tanya Ratih baru ingat kalau ia tidak kenal dengan kedua orang didepannya.
"saya Devan,saya ingin memberikan informasi tentang Gita, Gita sebentar lagi akan menikah oleh majikan saya yang ini. maka dari itu kami kesini berniat bertemu Gita namun hasilnya nihil" jelas Devan membuat Ratih menoleh ke arah Dimas yang duduk di sebelahnya.
"ka...kamuu yang hamilin anak saya?" tanya Ratih pelan.
Dimas mengangguk tanpa takut. Ratih maju lalu menampar pipi Dimas. Dimas kaget dengan kelakuan calon mertuanya. begitu juga Devan.
"kurang ajar kamu!!! anak saya salah apa sama kamu sampai kamu tega hancurin masa depannya? Gita itu anak yang polos,kalo gak dipaksa pasti dia gak akan kaya gini!!!" marah Ratih,Dimas hanya diam.
Ratih terus saja mengoceh tak ada ujung,hingga suara Devan menghentikan Ratih.
"cukup Bu! saya atas nama Dimas minta maaf,maka dari itu Dimas bersedia bertanggung jawab pada anak ibu. kalau begitu kita permisi karena kita ingin mencari kemana Gita, terimakasih" ucap Devan lalu bangkit dan diikuti oleh Dimas.
Ratih masih terus menangis,harapan satu-satunya selama ini hanya Gita,tapi secepat ini Gita meninggalkan dia.
Dimas sudah keluar dari rumah Gita dan berniat mencari Gita bersama dengan Devan. tak bisa dipungkiri perasaannya tidak enak. ia khawatir pada Gita dan calon bayi nya.
****
Disini Gita berada. Dirumah sakit bersama Ando. Niatnya Gita memang ingin pergi dari apartemen Ando tetapi Ando mencegahnya. mau tidak mau Gita menuruti kemauan lelaki itu untuk kerumah sakit lebih dan mengecek semuanya. Gita tidak mau Ando semakin sakit karenanya. Saat ini memang cuma Ando yang ada dipihaknya.
Gita egois untuk saat ini tak apalah ya. Gita tidak bisa berpikir jernih kali ini. kalau Gita pergi dia harus kemana. Mau jadi gembel pun Gita masih mikirin anak didalam perutnya ini.
"gimana dok keadaan bayi nya?" tanya Ando pada dokter yang tadi memeriksa Gita.
"hm janinnya cukup kuat,cuma mengingat nona Gita masih sangat muda jadi sedikit rentan untuk kandungannya" jelas dokter.
"dok apa ada obat untuk mengugurkan kandungan saya?" cicit Gita pelan. Sungguh. ia tak berniat berkata seperti itu. tapi harus demi masa depannya dan membahagiakan ibunya.
"maksud lo?" tanya Ando bingung.
"gue mau gugurin kandungan gue kak! gue gak mau hamil! gue harus sekolah yang tinggi biar bisa bahagiain ibu!" tangis Gita pecah. dokterpun hanya diam. karena dokter sudah tau kejadian demi kejadian yang dialami Gita. miris mendengarnya. gadis cantik dan polos seperti Gita mengalami hal seberat ini.
"gue bilang gue yang bakal tanggung jawab! jadi gak ada alesan lagi buat lo gugurin dia! dia gak salah jangan lo hancurin dia" tegas Ando membuat Gita menciut tak bersuara.
setelah dokter memberi resep untuk Gita keduanya keluar ruangan lalu menebus obatnya di apotik rumah sakit. sambil menunggu Ando yang sedang mengantri Gita menyalahkan ponselnya yang sedari tadi pagi ia tidak lihat. Gita kaget berapa puluh kali panggilan dari Dimas serta spam chat yang dilakukan cowok itu.
Airmatanya kembali turun mengingat kejadian itu kembali. sekarang Gita merasa ada dititik paling rendah didalam hidupnya. Gita tak sanggup menjalani ini sendiri. Andai saja ibu nya yang setia menemaninya dimasa sulit seperti ini. tapi Gita juga tidak tega melihat ibunya di cibir oleh tetangga karena ia hamil.