
Dimas dan Kiara sudah berada di parkiran rumah sakit. Selama pwrjalan keduanya diam alias tidak ada percakapan sama sekali di antara mereka. Entah yang Dimas malas berbicara karena moodnya hancur atau karena otak Kiara yang di penuhi berbagai pertanyaan tentang hubungan Dimas dan Gita.
"Kak gue boleh nanya gak sama lo? Tapi lo jawab jujur." ujar Kiara sebelum mereka menaiki motor.
Dimas menoleh ke arah Kiara yang sedang susah mengaitkan helmnya dan tangannya langsung membantu Kiara. Jantung Kiara berdetak dengan cepat, ia gugup di tatap sambil dibantu begini dengan Dimas.
"Apa?" jawab Dimas setelah selesai mengaitkan helm Kiara.
Kiara mengusap lengannya sendiri karena gugup, "hm sebenernya lo sama Gita itu seberapa deket sih? Kok kayanya keluarga kalian dekat banget." tanya Kiara membuat Dimas kalang kabut mencari jawaban yang pas.
Gara-gara lo nih gue jadi di tanyain gini sama Kiara, trus gue harus jawab apa kalau ke tangkap basah gini batin Dimas memaki Gita.
"Iya kaya yang tadi di bilang, nyokap gue sama dia itu temenan. Tapi yang seperti lo lihat juga gue sama Gita gak deket sama sekali." jelas Dimas.
"Tapi gue denger gosip katanya lo sama Gita pernah pacaran kak?"
Dimas menghela nafasnya berat, ternyata Kiara ini sangat bawel ya pikir Dimas.
"Trus lo percaya sama gosip itu? Ada bukti gak kalo gue pernah pacaran sama Gita?"
Kiara menggeleng, memang ia tidak memiliki bukti apapun tapi seperti ada sesuatu yang Dimas atau Gita sembunyiin darinya.
"Yaudah kalau gak ada bukti, udah ayo kita balik udah mau sore ntr lo di cariin sama abang lo."
Kiara menepuk wajahnya lagi, "ah ya gue lupa ada janji, ayo buruan kak."
Dimas segera menyalakan motornya dan bergegas meninggalkan rumah sakit. "Punya janji sama siapa sampai panik gitu?" tanya Dimas di tengah perjalanan.
Kiara hanya diam, ia tidak mendengar suara Dimas karena suara angin yang kencang. Dimas hanya bisa memandang wajah Kiara sekali-kali lewat kaca spion.
Setelah hampir 30 menit keduanya telah sampai di depan gerbang rumah Kiara. Kiara langsung bergegas turun dan membuka helmnya untuk di kembalikan pada Dimas. Karena gerakan yang terlalu terburu-buru membuat Kiara susah membuka kaitan helmnya seperti tadi. Dimas membantu kembali dan membuat jantung Kiara berhenti berdetak eh mati dong..
"Makanya jangan buru-buru, kayanya janjian sama orang special ya sampe panik gini." ucap Dimas sambil tangannya mengangkat helm dari kepala Kiara.
Kiara mengangguk antusias, "sangat special kak, btw makasih ya udah mau nganterin gue ke rumah sakit trus makasih juga udah bantuin pasang sama lepas helm ini tau kenapa sih dia nyangkut terus sebel."
"Artinya helm gak mau lo cepet-cepet pergi Kia." Memang hanya Dimas yang memanggil Kiara dengan sebutan Kia, eh engga deh abang dan orang tuanya pun memanggilnya Kia.
Kiara yang bingung dengan omongan Dimas mengerutkan dahinya, Dimas yang melihat itu tangannya terulur untuk mengacak rambut Kiara gemas. Meskipun dalam hatinya bertanta-tanya siapa sih orang special yang akan bertemu Kiara setelah ini.
"Maksud helmnya, biar kamu jalan terus sama aku gitu." jelas Dimas dengan suara lembut membuat Kiara semakin gugup dan salah tingkah. Kalian dengar kan, eh bacakan Dimas memanggilnya dengan sebutan kamu.. Yaampun rasanya Kiara ingin terbang saja saat ini ah ya lebay sekali... Hehehe
Kiara tersenyum. Siapa sih yang tidak salah tingkah di perlakukan seperti itu sama cowok ganteng macam Dimas hehe...
"Yaudah gue masuk dulu ya kak." ujar Kiara masih sedikit gugup.
Kiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil mengulum senyum dan mengangguk, "Oke deh gapapa, sebagai gantinya nanti malem kita dinner gimana?"
Kiara nampak berfikir sebentar dan akhirnya mengangguk setuju.
Ayo guys tolong sadarkan Dimas kalau dia itu sudah punya istri, masa iya istrinya lagi di rumah sakit dia ngajakin perempuan lain dinner!!! Siapa yang kesel sama Dimas?? Coba komen yaaa...
*****
Ratih dan bi Asih masih berada di rumah sakit. Keduanya nampak bingung bagaimana bertanya ke Gita tanpa menyakiti Gita. Iya, menanyakan perempuan tadi siapanya Dimas? Keduanya tau kalau pernikahan Gita dan Dimas memang tidak ada yang tau, tapi setidaknya Dimas tidak bisa melakukan itu di depan Gita. Apalagi Gita sedang sakit begini, dimana pikiran Dimas.
"Sayang, maaf banget kalau pertanyaan ibu nyakitin kamu. Tapi dari tadi ibu penasaran." tanya Ratih dengan keberanian ekstra. Setidaknya ia harus tau bagaimana hubungan Dimas dan Kiara agar ia bisa berhati-hati dalam berucap pada Kiara nantinya.
"Iya gapapa bu, Gita udah tau kok apa yang ibu mau tanyain." jawab Gita lirih.
"Memangnya itu siapanya den Dimas non?" timpal bi Asih.
Gita menarik nafasnya perlahan, "Kiara itu anak baru di sekolah aku, dia satu kelas sama aku. Aku gak tau gimana mereka bisa saling kenal soalnya pas pertama kali Kiara masuk sekolah ia kaya kaget gitu ngelihat Dimas sekolah di sana juga." jelas Gita.
"Mereka ada hubungan nak?"
Gita menggeleng, benar ia tidak tau pasti apakah keduanya ada hubungan special atau hanya sekedar teman saja. Entahlah..
"Apa bibi harus bilangin ke nyonya non tentang masalah ini?" tawar bi Asih.
Gita menggeleng lagi, "Jangan bi, aku mohon. Biarin aja kak Dimas ngelakuin apa yang dia suka. Kan bibi tau pernikahan aku sama dia itu karena sebuah kecelakaan aja. Aku gak berharap banyak sama kak Dimas dari awal, malahan aku sangat bersyukur di terima dengan baik sama papah Damian dan mama Terry."
"Tapi kalau begini terus, kasian non Gita! Pasti non Gita sakit hati kan lihat den Dimas bawa perempuan lain ke sini?"
Gita mengangguk lemah, "Kalau di bilang sakit pasti sakit bi, biar bagaimana pun ka Dimas itu suami aku. Tapi aku gak mau jadi boomerang sendiri nantinya buat aku kalau sampai masalah ini papah sama mamah tau."
"Tapi mau sampai kapan sayang? Jujur, walaupun bu Terry sama pak Damian itu baik banget sama kita tapi ibu gak rela atau gak ikhlas lihat kamu sakit hati terus ngelihat kelakuan Dimas kaya gini."
"Sampai mamah dan papah lihat sendiri bu, biarin mereka tau sendiri tanpa kita yang bicara. Kalau kita aduin ini semua ke papah atau mamah yang ada kak Dimas makin gak suka atau malah benci sama Gita, dan nanti malah berdampak sama pernikahan Gita." jelas Gita dengan nada sedih.
"Emangnya ibu mau ngelihat Gita jadi janda di usia Gita yang masih muda begini?" canda Gita pada ibunya.
Ini yang Gita takutin, ibunya akan kepikiran bagaimana Gita hidup bersama Dimas. Meskipun cintanya Gita belum tumbuh terlalu banyak pada Dimas tetapi kalau jadi janda di usia segini gak lucu juga menurutnya. Mau di sebut janda kembang? Hehehe
Selamat membaca guyssss....
Jngan lupa comment dan vote yaaaa.. Semoga ceritanya masih bisa buat kalian penasaran:))