
Gita turun dari mobil Farhan di depan gang rumah lama miliknya. Sengaja Gita memberikan alamat ini agar Farhan tidak curiga, begitu pula Farhan yang tampak percaya saat Gita mengatakan tinggal di sini. Padahal ia tau kalau Gita sekarang tinggal di rumah Dimas bersama dengan ibunya. Tetapi balik lagi, Farhan tidak mau Gita curiga dulu kalau dirinya sudah tau mengenai status pernikahan Dimas dan Gita.
Di sepanjang perjalanan keduanya banyak berbicara lebih tepatnya bercanda sih. Ternyata Farhan dan Gita memilik selera yang sama. Farhan juga baru mengetahui sifat Gita yang membuatnya menjadi semakin kagum. Ternyata Gita orangnya sangat asik di ajak ngobrol dan bercanda.
"Lo beneran gak mau pergi makan dulu sama gue?" tanya Farhan pada Gita.
Gita menggeleng, "Lain kali aja gimana kak? Gue takut ibu udah masak." ujar Gita.
Yaps, Gita menggunakan kata lo-gue di depan Farhan karena permintaan cowok itu. Kata Farhan kalau pakai aku-kamu kesannya terlalu aneh karena Farhan menanggapinya dengan lo-gue kaya gak nyambung aja, gitu.
"Gimana kalau gue ikut makan di rumah lo?" canda Farhan dan membuat Gita panik.
"Eh.. Eh gimana ya kak aduh." ujar Gita gugup.
Farhan tertawa melihat ekspresi Gita saat ini, "Engga, gue cuma bercanda kok. Yaudah kalau gue balik dulu yaa."
Gita mengangguk.
"Eh lupa, minta nomer lo sini biar besok gue jemput lo buat ke sekolah." ujar Farhan sambil memberikan ponselnya pada Gita.
Gita mengambil ponselnya tersebut dan mengetik nomor teleponnya, setelah selesai ia kembalikan lagi ke Farhan. "Besok gak usah di jemput kak, gue mau pergi bareng ojol aja." ujar Gita sambil terkekeh.
Farhan mengangguk.
"Yaudah lo hati-hati kak, makasih ya udah nganterin gue." ujar Gita tulus.
Farhan mengusap kepala Gita pelan, "lo kalau ada apa-apa bisa cerita aja ke gue Git, gue siap jadi temen curhat lo sekarang." ujar Farhan serius dan membuat Gita terpaku sejenak.
Masih bingung dengan perubahan sikap Farhan yang tiba-tiba tetapi Gita tidak ingin ambil pusing karena sepertinya Farhan tulus dengan perubahan ini.
Gita mengangguk, "Makasih banyak kak sekali lagi."
Farhan mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam mobilnya, dan pergi menjauh dari sana.
Gita mengeluarkan ponselnya berniat untuk memesan ojek online. Tetapi matanya melihat seseorang yang sangat ia kenali di ujung jalan sana. Melangkah dengan cepat Gita menghampiri orang itu.
"Kak Ando?" panggil Gita pada cowok tampan yang sedang duduk di depan minimarket sambil bermain ponsel.
Namanya di sebut membuatnya menoleh ke arah suara cewek itu dan berapa terkejutnya karena di depannya cewek yang selama ini ia cari. Cewek yang selama ini masih selalu menyita perhatiannya dan hatinya.
"Gita." ujar Ando lalu bangkit dari duduknya.
Tanpa permisi Ando memeluk Gita dengan erat, Gita tidak menolak karena menurutnya ia bersalah karena meninggalkan Ando begitu saja waktu di apartemen itu. Tidak memberinya kabar sama sekali karena ponselnya di ambil ayahnya dan otomasis kontak Ando hilang. Pasti Ando panik waktu itu.
"Kak, maafin Gita ya waktu itu Gita hilang gitu aja tanpa kabar sama sekali ke kakak." jelas Gita merasa bersalah.
Ando menggeleng, "Gapapa Git, aku cuma khawatir kamu kenapa-napa waktu itu. Aku datang ke rumah kamu, tapi gak ketemu sama siapa-siapa. Trus sekarang gimana keadaan kamu?"
Gita menarik napasnya dalam, "Aku baik-baik aja kak, sekarang aku tinggal di rumah suami aku."
Ando terdiam mendengar kata suami, "Kamu udah nikah sama dia?"
Terdengar napas kecewa dari Ando, tenyata Gita sudah menikah dan mungkin Ando tidak akan bisa memiliki Gita selamanya. Perasaan ini harus ia kubur sedalam-dalamnya di hati. Biarkan Gita bahagia bukankah itu hal yang utama?
"Kok kamu di sini?" tanya Ando.
Gita kebingungan harus menjawab apa, "hm, ini aku abis dari rumah bu Yuyun nganterin kue titipin dari ibu." bohong Gita.
"Kakak sendiri kok tumben ada di sini?" tanya Gita pasalnya sejak di tolak Gita waktu itu Ando tidak pernah lagi main ke daerah sini.
"Kebenaran aja lewat sini tadi jadinya mampir dulu di sini." ujar Ando.
Gita melirik ke arah meja, di sana terdapat sebungkus rokok berserta korek api. Matanya memicing melihat ke arah Ando, "Kamu sekarang ngerokok kak?" tanya Gita.
Ando mengangguk, "Baru beberapa minggu lalu," ujarnya.
Gita menggeleng, "Kenapa bisa sampai merokok kak? Kan kamu tau aku gak suka lihat kamu merokok!"
"Git cukup, aku gak ngerti sama jalan pikiran kamu. Aku selalu ikutin mau kamu sejak dulu ini dan itu tapi tetap aja kamu gak bisa nerima aku di hati kamu."
"Ini masalah rokok kak, bukan masalah kita!"
"Kenapa? Kamu mau membenci aku karena sekarang aku merokok? Silahkan Git, aku udah gak peduli. Kamu gak tau rasanya jadi aku selama ini. Memendam perasaan selama bertahun-tahun sekalinya dapat kabar kamu udah nikah. Apa yang aku rasain kamu gak bakal tau!" penjelasn Ando membuat Gita terdiam.
Secara tidak langsung Gita membuat hidup Ando rusak. Lalu apa yang harus Gita lakukan untuk Ando?
Gita menarik napasnya, "Maaf kak kalau ini semua buat kamu kecewa, tapi memang ini kenyataannya aku gak bisa nutupin semua ini sama kamu karena aku gak mau kamu terus berharap sama aku."
Ando terdiam.
"Aku yakin kamu akan mendapatkan perempuan yang lebih baik dari pada aku kak, aku gak akan benci sama kamu sampai kapanpun. Cuma aku mau pesan sama kamu, jangan terlalu banyak merokok aku gak mau kamu kecanduan dan nanti jadi sakit karena rokok itu." ujar Gita lirih.
"Yaudah aku pamit kak, semoga kakak selalu sehat." ujarnya lalu melangkah menjauhi Ando dan kembali mengeluarkan ponselnya.
Lagi.. lagi belum sempat memesan ojek online, suara Ando membuatnya menghentikan gerakan jarinya. "Aku anter kamu pulang," ujar Ando saat sudah berada di belakang Gita.
Gita berbalik badan lalu menggeleng, "Gak perlu kak, aku gak mau suami aku salah paham dengan ini. Aku harap kakak ngerti bagaimana posisi aku sekarang." ujar Gita pelan.
Terdengar napas kecewa dari Ando, "Git, kalau nanti suami kamu nyakitin kamu mau fisik atau hati kamu hubungin aku ya, aku orang pertama yang akan melindungi kamu dan membawa pergi kamu dari dia." ujar Ando dan membuat dada Gita sesak.
Gita menggeleng, "suami aku sangat baik kak, aku yakin dia bisa bikin aku bahagia. Kakak do'ain aku juga ya." ujar Gita dengan nada bergetar.
Ando tau kalau Gita sedang berbohong, mengenal Gita bukan satu atau dua hari tetapi sudah lama jadi sedikit banyak Ando tau kalau Gita sedang bahagia atau sedang tidak baik-baik saja seperti sekarang.
Ando mengangguk lalu tersenyum tulus jangan lupakan elusan di kepala Gita dengan lembut. Hari ini sudah dua cowok yang mengelusnya seperti itu.
"Salam untuk ibu ya, bilang dari mantan calon mantunya gitu." ujar Ando sambil terkekeh dan Gita pun ikut terkekeh mendengar ujaran Ando tadi.
Bersambung....