
Di Rumah Sakit
Laura langsung mendapat penanganan dari Dokter Vian sedangkan Davin juga mendapatkan penangan dari dokter dan melakukan operasi di ruang ICU untuk mengambil peluru yang ada di kaki dan punggungnya.
Beberapa saat kemudian dokter yang menangani Davin telah keluar setelah 2 jam melakukan operasi.
“Dokter bagaimana keadaan tuan Davin?” tanya Billy yang langsung menghampirinya karena cemas dengan keadaan bosnya itu
“Operasinya berjalan dengan baik dan beliau telah melewati masa kritisnya”
“Syukurlah, terimakasih dokter sudah melakukan yang terbaik”
“Sama-sama tuan, sebantar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat dan anda bisa menjenguknya”
“Baik dokter sekali lagi terimkasih”
“Saya permisi dulu tuan”
Ruang Rawat Davin
Beberapa saat setelah menjalani operasi Davin segera siuman. Perlahan-lahan membuka matanya.
“Tuan anda sudah sadar? Bagaimana perasaan anda? Saya akan panggilkan dokter sebentar” tanya asistennya yang sejak awal duduk menunggu disampingnya
“Bagaimana keadaan Laura dan bayinya? Apa mereka baik-baik saja?” pertanyaan yang langsung terucap dari mulutnya ketika sudah sadar dan menanyakan orang lain
“Maaf tuan saya terlalu fokus pada anda jadi saya belum tau tentang keadaan nyonya Laura” jawabnya menunduk
“Astaga Billy seharusnya kau lebih memperhatikan keselamatan mereka” omelnya kesal
“Maaf tuan, lain kali saya akan melakukannya”
“Saya akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan anda lagi tuan”
“Aku sudah tidak apa-apa bil, antar kan aku pada mereka” perintahnya
Davin berusaha bangun dari tempat tidurnya namun karena kondisinya masih belum stabil hingga masih merasakan sakit pada kaki dan punggungnya
“Ahh, sial kakiku” pekiknya menahan sakit dikakinya
“Hati-hati tuan, anda masih terluka” membantu kembali ke ranjang pasien
“Bagaimana dengan orang yang melakukan ini padaku?” tanyanya lagi
“Orang kita sudah membawanya ke rumah tahanan tuan”
“Bagus, pastikan dia mendapatkan balasannya dan dia harus baik-baik saja disana. Aku akan membuat perhitungan dengannya nanti jika terjadi sesuatu yang buruk nanti. Bahkan akan ku buat dia sendiri yang ingin mengakhir hidupnya” kata Davin geram mengingat kejadian itu
“Baik tuan”
Billy yang mendengar ucapan itu merinding dibuatnya. Karena selama ini tuannya itu tidak akan pernah turun tangan untuk membereskan para musuh-musunya di dunia bisnis
“Apa dia sudah menyukainya dan membuka hati lagi?” batin Billy
***
Setelah menunggu lama akhirnya Dokter Vian keluar juga dari ruang ICU dengan muka letihnya
“Dokter.. bagaimana keadaan Laura dan bayinya?” Rya langsung menghampirinya setelah melihatnya keluar begitu juga diikuti dengan yang lainnya
“Anda harus bisa menyelamatkan mereka semua Dokter Vian!” kata Nindy dengan penuh penekanan akibat melihat ekspresi dokter yang kurang mengenakan
“Tenanglah kalian berdua”
“Aku sebagai dokter sudah berusaha melakukan yang terbaik dan semampuku untuk monolong pasienku tapi jika Tuhan berkata lain aku juga tidak bisa berbuat apa-apa” kata dokter melepas sarung tangannya
“Apa maskud dokter? Apa terjadi hal yang buruk pada mereka?” tanya Rey tak sabaran
Percakapan itu sungguh membuat ekspresi semua orang menjadi sama, sama-sama terlihat murung dan sedih.
“Aku akan membunuhmu jika kau tidak bisa menyelamatkan mereka!” ancam Nindy yang ingin memukul dokter Vian tapi langsung dicegah oleh Gery dan Rya. Hingga mereka meneteskan air mata
“Itu tidak akan pernah terjadi nona, mereka baik-baik saja. Kalian bisa menemuinya setelah mereka dipindahkan ke ruang rawat” jelas dokter dengan tersenyum
“Sialan! Kau mempermainkanku huh” kesal nindy menangis dengan memukul-mukul dada dokter Vian dan akhirnya justru mendapatkan pelukan darinya
“Sedikit” tawanya
“Awas! Aku akan membalasmu!”
“Aku akan menunggunya” masih berpelukan
“Eheemmm” suara Gery memecahkan suasana mereka pun mengakhiri pelukan mereka
“Apa kalian sudah berpacaran?” tanya Gery to the point
“Lalu kenapa kalian berpelukan mesara sekali?” introgasinya lagi
“Bahkan aku sudah curiga jika mereka memiliki hubungan” imbuh Rya tersenyum
“Tidak, kami hanya teman saja” jawab Dokter Vian dengan mendapat anggukan dari Nindy
“Baguslah, karena aku tidak akan mengijinkannya untuk pacaran lagi tapi aku akan setuju jika kalian langsung bertunangan atau menikah sekalian” tegas Gery serius
“Kakak!” teriak Nindy malu-malu
“Kakak serius nind” dengan wajah seriusnya
“Terserah” cueknya pergi menjauh
“Hey kau mau kemana?” tanya Rya namun tidak mendapat jawaban
Nindy berjalan di sepanjang lorong rumah sakit hingga tidak menyadari seseorang mengikutinya dari belakang
“Kok kayak ada yang ngikutin aku ya” batinnya mulai menyadari
“Siapa sih? Kakak? Rya atau dokter itu??” masih bertanya-tanya berjalan dengan perlahan
“NGAPAIN SIH NGIKUT…” memutar balikan tubuhnya untuk melihat siapa yang mengikutinya. Matanya terbelalak membulat sempurna
“Kak Surya? Ngapain disini?” tanyanya langsung
“Harusnya aku yang tanya ngapain kamu disini jalan cepet gitu kayak di kejar setan aja”
“Salah kakak kenapa berjalan dibelakangku tidak memanggilku” protesnya
“Aku sudah memanggilmu berkali-kali tapi tidak ada jawaban darimu”
“Ahh maaf aku tidak mendengarnya” menunduk
“Cukup lama kita tidak bertemu, kemana Nindy yang ku kenal galak dan bar-bar itu” ledeknya
“Jangan memancingku kak” kesalnya menatap tajam
“Wow, ternyata dia sedang tertidur” tawanya lagi
“Berhenti tertawa” pukulnya pelan pada lengan laki-laki yang ada dihadapannya
“Baiklah-baiklah, lalu kenapa kau ada di rumah sakit siapa yang sakit?” tanyanya dengan wajah serius
Mereka kini duduk di sebuah kursi taman rumah sakit Nindy pun menceritakan semuanya pada Surya tanpa terlewatkan. Disisi lain ada seseorang yang mengawasi mereka dari kejauhan.
“Siapa laki-laki itu? Kenapa terlihat begitu dekat dengannya apa mereka memiliki hubungan yang special? Dia terlihat sangat menyayangi dan menyukai gadis itu” batin Dokter Vian
“Sudahlah, pekerjaanku masih banyak” pergi meninggalkan tempatnya berdiri
“Aku tidak menyangka jika Dion nekad melakukan hal seperti itu, lalu dimana dia sekarang?”
“Aku tidak tau, Anak buah Davin yang membawanya pergi”
“Kenapa tidak melaporkannya pada polisi?”
“Aku rasa itu akan menambah masalah lainnya nanti dan aku juga tidak akan bisa membalasnya jika dia sudah masuk penjara”
“Dasar, kau memang gadis nakal” ucapnya mengusap rambut Nindy dengan tersenyum
“Hey jangan merusak rambutku”
“Lalu Kenapa kak Surya ada disini? Siapa yang sakit?”
“Aku hanya menjenguk temanku” jawabnya singkat
“Ohh”
“Ayo antarkan aku untuk menjenguk Laura dan menemui yang lainnya dan kakakmu”
“Baiklah, ayo” Nindy pun berjalan masuk kembali ke dalam rumah sakit untuk mengantar Surya menemui sahabatnya.
“Kak apa kakak sangat sibuk disana?”
“Kenapa? Apa kau kangen padaku” tersenyum melihatnya
“Jangan ge-er dong aku cuma bertanya” terus berjalan
“Ya aku cukup sibuk dengan pekerjaanku, maaf lain kali aku akan memberi kabar padamu” memberikan senyum manis
“Ciihh, kenapa seperti sedang memberi penjelasan pada pacarmu” perasaan tidak suka
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode