
Dion berjalan semakin mendekat kea rah Laura semakin menggeserkan duduknya hingga terpojok.
Dion :’Gue yang ganti baju loe kenapa?”
Laura :”Hah, gila loe ya”
Dion :’Apa salahnya? Kan nggak mungkin loe pakai baju loe yang minim itu buat tidur sama aja kan”
Laura :”Dasar Mesum”
Dion :”Masih Pagi nggak usah ngomel, cepet turun sarapan, itu udah ada baju ganti buat loe” sambil menujuk
Laura :”Iya keluar sana”
Dion :”Enak aja ini kan rumah gue, mau di gantiin lagi” tawanya mengejek
Laura :”Awas loe ya macem-macem lagi” Dion pergi meninggalkan Laura di kamar sendiri. Setelah selesai membereskan tubuhnya segera ia turun untuk sarapan
Bibi :”Non udah bangun?” tanya seorang wanita paruh baya yang ia temui di tangga
Laura :”Eh iya bu, saya sudah bangun”
Bibi :”Panggil saja Bibi Wati non, Bibi Art disin” jawabnya dengan diangguki Laura
Laura :”Oh iya bi, saya mau tanya semalam yang menggantikan baju saya siapa ya?” tanyanya yang masih penasaran
Bibi :”Ya bibi Non yang ganti kan nggak mungkin Den Dion ysng ganti, emang ada apa non?” serunya dengan sedikit tertawa”
Laura :”Eh gpp kok bi” tersipu malu dan menundukkan wajah
Bibi :”Udah di tunggu sama Den Dion non di ruang makan sebelah sana” sambil tangannya menunjuk kesebuah arah
Laura :”Iya bi, makasih”
Bibi :”Sama-sama Non, bibi lanjut kerja dulu” sambil berlalu meninggalkan. Laura pun duduk di hadapan Dion yang sedang memakan nasi goreng di hadapannya
Dion :’Makan tinggal ambil aja” sahutnya yang hanya mendapat pandangan ragu pada nasi goreng di atas piring
Dion :”Kenapa? Nggak mau makan”
Laura :”Bukan gitu, kamu yakin nyuruh aku makan nasi goreng lagi?”
Dion :”Lagi?” Dion berusaha memikirkan ucapannya dan dia baru ingat yang pernah terjadi tentang nasi goreng seafood. Itu menjadi makanan kesukaannya sehingga setiap pagi akan ada di meja makan.
Dion :”Sory,, lupa. Mau roti? Mengambilkan dan memberikannya pada Laura
Laura :”Aku nggak bisa makan ini, ada yang lain?” memberikan kembali selai kacang yang di berikan Dion
Dion :”Kau alergi ini?” tanyanya dengan Laura yang menganggukan kepalanya
Dion :”Tunggu sebentar, aku carikan ini ada coklat apa kau bisa memakannya?
Laura :’Ya aku bisa” kemudian mereka sarapan bersama
Dion :”Berapa banyak makanan yang membuatmu alergi selain ini?” sambil matanya yang mengarah pada nasi gorengnya
Laura :”Entahlah, aku juga tidak tau. Aku juga tidak bisa minum susu putih tapi aku tidak alergi” sahutnya
Dion :”Tidak bisa minum? Kenapa?”
Laura :”Entahlah, aku juga tidak tau tapi jika aku mencoba sedikit meminumnya aku akan langsung muntah mengeluarkan semua isi perutku”
Dion :”Hmmm banyak juga pantanganmu/ ada satu lagi pantanganmu aku tau”
Laura :”Apa?”
Dion :”Kamu jangan galak-galak nanti jodohmu kabur” tawa Dion dengan menejeknya
Laura :”Apa-apaan tuh, aku galak kan buat ngelindungin diri dari orang yang menyebalkan” kesalnya
Dion :”Haha mana ada sperti itu, emang kucing kamu galakin terus lari”
Laura :”Bukan kucing tapi Buaya” sahutnya pergi meninggalkan Dion berjalan ke arah ruang keluarga”
Dion :”Ngambek nih, jalan yuk”
Laura :”Ogah, sory ya nggak bisa di sogok”
Dion :”Oh, gue mau beli ice cream ikut yuk” sambil jalan keluar
Laura :”Hah, eh tungguin gue” berdiri dan berlari mengejar Dion yang keluar
Dion :”Loe mau naik motor gue atau mobil loe, tapi jalanan macet panas”
Laura :”Emmm motor deh, lama nggak naik motor” sahutnya sambil tersenyum
Laura :”Bisa dong”
Mereka pergi dengan mengendarai motor melewati cuaca yang cukup panas dan jalan yang macet
Dion :”Ra pegangan ya gue mau ngebut, panas nih” ucap nya samar-samar terdengar
Laura :”Hah, apa kak ngga denger?” serunya sambil mendekatkan tubuhnya
Dion :”Pegangan” kemudian Dion melaju dengan kencang karena Laura kaget belum siap dan tidak mendengar maka tubuhnya terhentak ke depan kemudian reflek memeluk tubuh Dion. Laura pun membiarkan hal itu terjadi hingga sampai ke tempat tujuan dan Dion tersenyum senang. Setelah sampai di mall.
Laura :”Loe apa-apaan sih tiba-tiba ngebut nggak bilang dulu” ucapnya sedikit kesal
Dion :”Gue tadi udah bilang suruh pegangan elonya aja yang nggak denger” sambil berjalan masuk
Laura :”Hallah alasan, bilang aja loe mau moduskan mau dipeluk-peluk sama gue ihh”
Dion :”Astaga, nggak ada ya dalam pikiran gue kayak gitu, gue juga ogah di peluk sama elo dasar anak kecil” mereka tetap berdebat di sepanjang jalan hingga semua orang menatap mereka, namun mereka tak menghiraukan
Laura :”Elo kan om-om mesum yang suka ambil kesempatan ke gue”
Dion :”Udah stop, kamu mau ice cream apa” setelah mereka sampai di kedai ice cream
Mbak :”Selamat siang, ada yang bisa di bantu mau pesan apa?” tanya pelayan ramah
Laura :”Emm gue mau coklat, strawberry, vanilla sama moca mbak topingnya yang lengkap ya” dengan senyumnya yang lebar
Dion :”Gila banyak amat nggak takut sakit perut kamu”
Laura :”Nggak kok, kamu nggak ikhlas beliin aku ice cream ya udah aku bayar sendiri”
Dion :”Yee bukan gitu Cuma takutnya perut kamu sakit nanti”
Laura :”Nggak akan, udah kamu mau pesen apa kasian tuh mbaknya nungguin antrian banyak”
Dion :”Dasar, udah itu aja mbak”
Mbak :”Baik, saya ulangi pesanannya ya, 1 cup ice cream ukuran medium rasa coklat strawberry, vanilla dan moca dengan toping lengkap. Ini nomor antriannya silahkan di tunggu di sebelah ya kak. Terimakasih” setalah mengambil ice creamnya segera mereka duduk.
Laura :”Kok kamu nggak pesan”
Dion :”Nggak, aku nggak terlalu suka”
Laura :”Ohh, padahal enak” Laura segera menyantap ice cream yang sudah ada dihadapannya.
Dion :”Ya ampun ra pelan-pelan makannya nggak ada yang mau minta” tatapnya heran pada Laura yang makan ice cream seperti anak kecil yang tidak mau di curangi temannya.
Laura :”Hmmm” sahutnya tanpa menoleh
Dion :”Ra bukannya loe nggak bisa minum susu ya”
Laura :”Iya nggak bisa, ini kan bukan susu tapi ice cream”
Dion :”Ya tau, tapi kan itu vanilla dari susu”
Laura :”Iya emang gue nggak bisa minum susu tapi bukan berarti gue nggak bisa makan ice cream vanilla dong” jawabnya menatap Dion
Dion :”Ya ampun ra kok makannya cemongan gitu sih” tawanya
Laura :”Hah mana?” tangannya mengusap mencari
Dion :”Bukan disitu, sini gue bantuin” tangan Dion mengusap ice cream yang menempel pada ujung bibir Laura dan tangan Laura memegang tangan Dion mereka pun saling bertatap muka (kalian tau kan adegan ini haha)
Laura :”Apaan sih gue bisa sendiri sini tissunya” setelah sadar dari tatapan
Dion :”Kamu sih makan ice cream aja cemongan kayak anak kecil”
Laura :”Biarin” melanjutkan memakan ice cream
Dion :”Hebat, habis dong ice cream sebanyak itu” pujinya
Laura :”Iya dong” senyumnya penuh bahagia
Dion :”Mau kemana lagi atau mau pulang?” tanyanya
Laura :”Gima kalau kita time zone aja”
Dion :”Boleh, ayok”
Triiingggg, triiinggg, triiinngggg… bunyi ponsel Laura
Terimakasih readers sudah menunggu dan membaca novel ini. Jangan lupa like, coment dan favorite kalian untuk support novel ini. Thank you tunggu next episode