
“Nind apa kau yakin kau ingin makan disini?” tanya Surya setelah turun dari mobil dan melihat sekelilingnya
“Tentu, kenapa tidak? Nggak mau? Pulang aja sana gue mau makan laper” jawabnya
“Rasanya di jamin enak nggak kalah sama yang mahal” imbuhnya menuju sudut untuk duduk menunggu pesanannya datang
“Baiklah terserah katamu aku sudah janji dan harus aku tepati” ucapnya kemudian mengikuti Nindy duduk di bawah sana
Bagaimana tidak kaget jika Nindy mengajaknya makan di pinggir jalan banyak orang yang duduk lesehan hanya beralaskan tikar dan penerangan dari lampu jalan saja karena Surya tak pernah melakukannya menatap ragu.
“Ini neng pesenannya udah jadi spesial” ucap bapak-bapak berkumis mengantarkan dua piring nasi goreng dengan senyumnya yang ramah
“Terimakasih pak” balasnya dengan senyuman pula
“Nih di makan, kalau nggak di makan kasihan nasinya nanti bisa hilang lho” ucapnya dengan memberikan nasi goreng yang berada di tangannya
“Iya hilang kamu makan semua” ledeknya dengan tangan yang mengulur menerima piring yang dengan penuh nasi goreng
“Biarin” daripada nggak bisa makan balasnya
Hawa dingin mulai menerpa. Suasana bertambah nikmat dengan lantunan lagu yang di dengar dari para pengamen yang datang dengan suara-suara mereka yang indah.
“Gimana? Enak kan?” tanya Nindy
“Iya ini enak juga nggak kalah sama yang di restauran pedes lagi. Aku suka” jawabnya dengan memasukan sesuap nasi kedalam mulutnya
“Apa aku bilang tadi, pedes nggak?” ucapnya bertanya
“Pedes sih tapi kayaknya masih bisa lebih pedes” jawabnya
“Hah? Kurang pedes Kak Surya bilang” ucapnya cemberut
“Kenapa kok gitu?” ucapnya memperhatikan muka Nindy dan meletakkan piringnya yang sudah kosong tak tersisa
“Gagal lah aku mau ngerjain ternyata malah suka pedes parah” ucapnya kesal
“Hahaha kamu pikir aku nggak suka makanan pedas” ledeknya tertawa
“Udah nggak usah ketawa” bantahnya kesal
“Kenapa diam? Udah dong ngambeknya pesen lagi aja deh boleh kok yang banyak” Nindy tetap diam
“Kenapa sih? Mau pulang atau mau kemana lagi? Ayokk” ucapnya namun Nindy menggeleng dan hanya menujuk pada sesosok pengamen yang sedang bernyanyi dengan suara yang indah
“Ada apa dengan pengamen itu?”
“Ku hanya diam menggenggam menahan segala kerinduan, memanggil namamu di setiap malam, ingin engkau datang dan hadir dimimpiku. Rindu…” terdengar suaranya yang sedang bernyanyi
“Nggak papa kok cuma inget Laura aja” jawabnya
“Dia udah bahagia di sana dan tugas kita mendoakan dan meneruskan hidup kita disini” ucapnya dengan tangan yang meraih pundak Nindy
“Pulang yuk kak udah malem” ajaknya dengan tubuhnya yang beranjak berdiri
“Ayok” balasnya
***
“Sayang aku berangkat dulu ya, baik-baik di rumah jika kamu butuh sesuatu katakan pada Meira dia adalah asistenmu atau bisa telfon aku. Dia akan selalu menemanimu” ucap Davin berpamitan dengan mencium kening istrinya
“Aku bukan anak kecil dan tidak perlu di jaga 24 jam” jawabnya kesal
“Ini demi kebaikanmu aku tidak mau terjadi hal buruk padamu lagi. Ku mohon menurutlah sekali ini, setidaknya biarkan Meira menemanimu jika tidak ingin penjaga menemanimu”
“Ini di rumah bukan hutan” protesnya. Davin menghela nafas
“Aku pergi atau aku akan terlambat karena berdebat denganmu” ucap Davin
Lyra hanya membalasnya dengan memberikan senyumannya yang manis. Meski sudah beberapa hari sudah terlewati namun Lyra belum menngingat apapun.
“Mungkin butuh waktu yang lama untuk terbiasa” ucapnya dalam hati
Setelah Davin pergi Lyra hanya menonton acara tv yang membosankan, duduk di tepi kolam dan berjalan mengelilingi rumahnya yang masih asing baginya tentu dengan di temani Meira yang kini bisa di bilang menjadi asistennya.
“Huh, aku bosan sekali disini. Apa aku tidak boleh melakukan apa yang ku mau? Tentu saja aku bisa melakukannya” gerutunya dengan beranjak dari duduknya.
“Anda mau kemana nyonya?” tanya Meira yang melihat majikannya ini berdiri
“Tidak, aku hanya bosan” ucapnya berjalan kea rah dapur
“Apa anda mau memakaan sesuatu? Biar saya siapkan” ucap Meira yang terus membuntutinya dari belakang
“Aku tidak lapar, tapi sepertinya aku ingin membuat sesuatu agar tidak bosan” ucapnya yang mulai membuka lemari di dapur dan mengeluarkan bahan-bahan makanan
“Sebaiknya biarkan pelayan yang menyiapkannya nyonya” bujuk Meira tapi Lyra tetap menolak
“Tidak, aku ingin melakukannya sendiri” jawabnya singkat mulai jengah dengan aturan
Karena ia merasa risih di perhatikan oleh Meira dan para pelayannya tentu semua itu atas perintah suaminya. Semua pelayan pun pergi dari dapur kecuali Meira yang terus menemaninya tanpa Lyra bisa membantah karena permintaan sang suami.
“Apa aku selalu di awasi olehmu seperti ini Meira / orang lain?” tanya Lyra yang tangannya tak berhenti bergerak
“Ya nyonya saya selalu menemani anda kemana pun dan itu permintaan anda” jawabnya
“Tapi kenapa sekarang aku tidak menginginkannya” ucapnya pelan
“Ada apa nyonya?” tanya Meira yang sedikit mendengar ucapannya
“Tidak, coba lah ini aku harap rasanya enak” Lyra memberikan sepotong cake dan beberapa cemilan buatannya pada Meira untuk mencobanya namun tatapannya terlihat aneh
“Ada apa? Apa kau tidak menyukainya?” tanya Lyra
“Tidak nyonya, saya tidak berani” jawabnya dengan menunduk
“Kenapa? Apa kamu takut ini beracun karena aku tidak ingin di temani olehmu” jawabnya yang semakin membuat Meira takut dan gugup karena majikannya tidak pernah seperti ini
“Tidak, Baiklah saya akan mencobanya” ucapnya yang kemudian mencoba semua yang di berikan Lyra padanya
“Bagaimana rasanya? Katakana dengan jujur jika ada yang tidak enak” ucap Lyra terus menatap Meira
Meira tersenyum dan menjawab “Ini sungguh enak nyonya” katanya
“Benarkah? Kau tidak berbohong” jawabnya dengan sumringah
“Sungguh enak, sejak kapan anda belajar membuat semua ini? Anda sungguh hebat” tanya Meira merasa heran
“Apa ini pertama kali kau melihatmu memasak Meira?” tanya Lyra yang membuat Meira terdiam sejenak sebelum menjawabnya
“Emmm… iya nyonya ini pertama kalinya” ucapnya pelan dan membuat wajah Lyra sedikit murung
.
“Anda mau kemana nyonya?” tanya Meira namun tak di gubrisnya. Di lihatnya Lyra berjalan ke atas kamarmnya
“Apa aku salah mengucapkannya? Habislah riwayatku jika nyonya Lyra marah” gerutunya
Lyra pergi meninggalkan Meira begitu saja dan memasuki kamarnya dan menutup rapat pintunya
***
“Lagi ngerjain apa sih serius banget, nih cemilan” ucap Rya yang menghampiri Nindy
“Gue lagi bikin design buat rumah gue. Lihat nih baguskan?” sahutnya sambil memperlihatkannya pada Rya
“Hmmm… bagus kok. Emang loe mau bangun rumah? Kenapa nggak beli aja langsung tinggal minta kak Surya kan beres?” ucapnya dengan meledek
“Buat rumah masa depan gue dong. Enak aja minta gue bakal bangun rumah gue sendiri dengan uang hasil gue sendiri bukan minta sama orang lain” sahutnya membalas
“Adduhh kok kebelet lagi sih” ucap Rya sambil beranjak
“Kebanyakan minum sih loe” ledeknya
Baru beberapa Rya melangkah untuk pergi ke kamar mandi jalannya terhenti karena perutnya yang terasa sangat sakit.
“Ini bukan kebelet pipis lagi tapi lebih sakit dari biasanya..aaddduhhh..” teriaknya Nindy langsung menghampirinya
“Ada apa? Apa yang sakit Ry” tanya Nindy panik yang melihat Rya kesakitan memegang perutnya
“Sepertinya dia mau keluar.. aarrgghh.. sakit nind… sepertinya aku mau melahirkan” ucapnya terduduk lemas di lantai
“Wadduhhh… tunggu sebentar aku panggil kak Gery”
“Cepatt.. Nind… air ketubannya sudah pecah…” ucap Rya dengan menahan sakit pada perutnya
“Iya.. KAK GEERY… KAK GERYYY.. CEPAT TURUN” teriak Nindy membuat kegaduhan di rumah membuat para pelayannya kaget
“Ada apa Nind kenapa teriak-teriak?” ucap Gery yang berjalan menghampiri mereka
“Sayang kamu kenapa?” tanya Gery yang melihat istrinya menjadi panik
“Kak istri mu ini mau melahirkan cepat bawa ke rumah sakit” jawabnya
“Aaarrrggghhh… sakiitt…” teriak Rya kesakitan
“Sayang kamu mau melahirkan? Nind siapin mobil hitam semua persiapan sudah ada disana. Aku akan menggendongnya” ucap Gery
“Oke, biar aku yang menyetirnya kakak temani Rya di belakang”
Sesuai ucapan Nindy yang menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi dan Gery duduk di kursi belakang untuk menemani istrinya menuju rumah sakit.
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode