
“Kau dengar itu ry, kita akan segera berperang” ucapnya tersenyum semangat pada sahabatnya
“Tentu saja aku mendengarnya dengan jelas, lebih baik kita bersiap-siap” ajaknya pergi ke kamar untuk mengganti bajunya
“Sayang, sebaiknya kalian di rumah saja biarkan ini menjadi urusan kami para lelaki” ucap Gery hendak menahannya untuk ikut pergi
“Sudahlah sayang kita akan baik-baik saja” jawab Rya yang terhenti langkahnya
“Iya, apa yang di katakannya benar ini berbahaya untuk perempuan. Kalian dengar tadi Dion yang sekarang berbeda dengan yang dulu” imbuh dokter Vian
“Apa kau sedang meremehkanku?” jawab Nindy dengan wajah yang menantang dan kedua tangan yang melipat di kedua dadanya
“Sudahlah kalian tenang saja kami akan baik-baik saja. Kak Gery kau tau kan siapa dan bagaimana adik sepupumu yang cantik ini?” jawabnya tersenyum dan segera meninggalkan orang-orang
“Kita tidak akan bisa mencegahnya” gerutu Gery pasrah
Gery hanya bisa menghela nafas. Gery tau bagaimana adik sepupunya sejak kecil yang suka berkelahi dengan anak-anak lain bahkan dengan anak laki-laki sepantaran atau lebih besar darinya. Banyak alasan yang digunakannya setelah usai berkelahi untuk tidak mendapatkan hukumannya jika dirinya terbukti bersalah. Meski begitu Gery sangat menyayanginya dengan tulus.
“Billy, berapa lama lagi kita bisa pergi?” tanya Davin pada asistennya
“30 menit lagi tuan, orang-orang kita siap untuk menyerbu pavilion itu” jawab Billy
“Kerja bagus bill” puji tuannya, Billy hanya tersenyum
30 menit kemudian Nindy dan Rya turun dari kamarnya
“Ayo kita berangkat” ajak dua gadis itu yang baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan pakaian yang terlihat seperti FBI agen khusus tentu tanpa pistol, hanya pisau yang tersembunyi di antara bajunya.
“Darimana kalian mendapatkan pakaian ini?” tanya Gery yang heran melihat baju yang dikenakan istri dan adik sepupunya.
“Kalian seperti agen khusus?” imbuhnya
“Tentu saja kita agen khusus untuk penyelamatan sahabat kami” jawab Rya
“Tentang baju ini itu rahasia kak” jawab nindy tersenyum
“Apa ada pistol tersembunyi di baju kalian seperti di film-film?” tanya Vian membuat Gery membulatkan matanya setelah mendengarnya
“Apa itu benar?” tanya gery. Rya dan Nindy hanya tersenyum
“Sudah lah ayo kita berangkat, jika kau ingin baju seperti itu aku akan memberitahumu tempat dimana kau bisa mendapatkannya” ucap Davin yang sudah beranjak dari tempat duduknya
“Ayo, Jangan kau katakan padanya” ucap Rya melarang
Semua berangkat menuju pavilion yang sudah menjadi target utama mereka sekaligus menjadi tempat dimana keberadaan Laura. Mereka terbagi menjadi 3 kelompok yaitu mobil pertama ada pada Davin dan Billy, Gery dan Rya dalam satu mobil kedua, dan Nindy, Vian dan Rey berada dalam satu mobil ketiga serta di ikuti beberapa mobil penuh dengan anak buah Davin yang sudah siap untuk menyerbu.
***
Keadaan Laura semakin membaik setiap harinya setelah kejadian alergi pada dirinya beberapa hari yang lalu. Kini dirinya tak sudah kembali ke kamarnya semula namun masih tetap dalam pengawasan suster dan beberapa penjaga di depan pintu kamarnya
“Suster..” panggil Laura
“Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu?” datang menghampiri
“Tolong bantu aku, aku ingin keluar dari kamar ini, aku sangat bosan sust”
“Baiklah nyonya” datang mengampiri membantu Laura untuk bangun
“Anda ingin kemana nyonya?” tanya pengawal
“Aku ingin ke taman, apa tidak boleh?” kembali bertanya
“Bukan begitu nyonya, tapi tuan meminta anda untuk beistirahat di kamar”
“Aku bosan, aku sudah terkurung di rumah ini, aku juga tidak mau di kurung di kamar ini”
“Kau boleh mengikutiku sesukamu” ketusnya pergi berjalan menjauh bersama suster yang membantunya.
Laura duduk di taman belakang rumah dengan menikmati udara yang cukup segar karena banyak pepohonan yang tumbuh disana.
“Auuww” Laura tiba-tiba berteriak kesakitan memegangi perutnya membuat semua pengawal khawatir dan takut bila terjadi apa-apa padanya
“Suster, tolong perutku sakit sekali” katanya dengan meringis kesakitan
“Baiklah mari kita kembali ke kamar saya akan memeriksanya” jawab suster
“Kalian tolong, bantu nyonya untuk kembali kemar” perintah suster kepada para pengawal untuk membantunya membawa Laura kembali ke kamar
“Saya akan menghubungi tuan, apa perlu saya menelfon dokter?” tanya pengawal yang bertugas sebagai ketua itu
“Yaa segera hubungi” ucap suster asal menjawab dan langsung masuk ke dalam kamar untuk memeriksa keadaan Laura
Dan pengawal tadi pergi untuk menelfon tuannya yaitu Dion agar segera kembali ke rumah.
Dalam kamar
“Sakit sust…”
“Nyonya, apa yang anda rasakan, katakan saja?” tanya suster sambil memeriksa perutnya
“Punggung dan kakiku sangat sakit sust” keluhnya
“Kaki anda membekak nyonya, ini cukup wajar di alami oleh ibu hamil” jelasnya
“Auuww.. perutku…” kesakitan
“Nyonya tenangkan diri anda jangan berfikir terlalu berat karena bayi anda pasti juga merasakannya dan mencoba berkomunikasi dengan anda dengan menendang”
“Benarkah?” tanya Laura
“Permisi nyonya saya akan memasangkan infus vitamin anda lagi, anda terlihat sangat pucat dan cobalah berkomunikasi dengan calon bayi anda” saran suster
“Baiklah” jawabnya yang masih kesakitan
“Hay, anak mommy ada apa sayang? Kenapa kamu menendang begitu kencang sampai mommy kesakitan” berbicara dengan mengelus perutnya yang terlihat semakin besar
“Apa yang kamu inginkan sayang, mommy akan berusaha mengabulkannya, ahh pasti anak mommy ingin segera keluar dari sini kan. Sabar ya sayang auntymu pasti akan segera menjemput kita” masih berbicara kini perutnya sudah lebih membaik tidak merasakan sakit lagi
“Suster benar, ini sudah tidak terlalu sakit lagi”
“Syukurlah nyonya” tersenyum senang
“Bersabarlah sedikit lagi sayang kita pasti akan segera keluar dari tempat ini dan ingat mommy akan menepati janji” ucapnya lagi kini baby menendangnya dengan lembut. Laura mengelus perutnya dengan senyum lembutnya
“Ahh, pasti kau senang akan bertemu daddymu ya, mommy akan mulai menyiapkan diri untukmu” batinnya
***.
Rya, Nindy dan yang lainnya kini sudah sampai di lokasi dekat pavilion, masih dengan mengintai dari kejauhan
“Kenapa kita berhenti disini? Kenapa tidak langsung masuk dan menghajar mereka?” tanya Nindy yang sudah tak sabaran dengan alat pendengar yang sudah terpasang di telinga mereka menambah kelengkapan mereka
“Tunggu, kita harus memastikan kondisi pavilion itu” jawab Davin agar yang lainnya mengikuti rencananya
“Lalu apa rencanamu?” tanya rey
“Aku sudah menyuruh salah satu anak buahku untuk menyamar, Kita tunggu sebentar lagi”
“Tanganku sudah gatal ingin menghajar mereka” keluh rya di dalam mobil
“Sabarlah sayang” bujuk Gery pada istrinya
Dari kejauhan tampak seorang seperti kurir yang datang menghampiri mobil Davin ternyata itu adalah orang yang diperintahkannya.
“AYO KITA MASUK SEKARANG” perintahnya pada yang lain
“HAJAR” jawab nindy dan rya tersenyum senang
Mereka pun segera berjalan menerobos masuk pagar yang berdiri dengan kokohnya. Menghajar setiap penjaga yang menghalangi jalan mereka untuk masuk.
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode