LAURA

LAURA
Episode 7



Dion :”Kenapa kalian menyebut nama saya? Sepertinya asyik sekali” Sahut Dion yang mengkagetkan ketiga gadis dihadapannya dan menatap Laura tanpa berkedip menatap curiga kepada mereka


Nindy :”Eh Pak Dion, sejak kapan ada disini? Kita nggak lagi ngomongin bapak kok salah denger kali” ucapnya yang ketakutan karena takut Dion mendengar pembicaraan mereka dari awal


Rya :”Iya kita nggak lagi ngomongin kok, Pak Dion sejak kapan disini” jawabnya terbata-bata


Laura :”Emangnya kenapa kalau kita ngomongin orang yang bernama DION? Emang loe pikir nama Dion Cuma loe yang punya, segudang kali” menyahut dengan berdiri dan nada kesalnya


Dion :”Kamu kalau ngomong yang sopan saya ini dosen kamu dan ini masih di area kampus dimana kamu masih menjadi mahasiswa saya” kesal karena tingkah Laura padanya


Laura :”Oh gitu ya jadi saya harus berbicara dan bersikap sopan terhadap dosen saya yang setiap hari kerjanya menjadi penguntit mahasiswanya”


Dion :”Jaga ucapan kamu, saya bukan penguntit seperti apa yang kamu tuduhkan”


Laura :”TERSERAH’ pergi meninggalkan Dion yang kemudian diikuti para sahabatnya


Nindy :“Permisi Pak, maafin temen saya ya emang gitu kelakuannya” ucap Nindy sebelum ikut meninggalkan


Dion :”Dasar bocah kurang ajar sabar Dion” gumamnya ketika mereka pergi. Dion pun pergi saat di perjalanan pulang merasakan ada yang aneh dengan mobilnya kemudian berhenti di tepi jalan untuk mengecek mobilnya. Betapa terkejutnya saat melihat banyak paku yang menancap pada kudua ban mobil belakangnya


“SIAL kok bisa sih’ gumamnya kesal menendang ban mobil kemudian menelfon orang bengkel untuk menjemputnya. Saat di bengkel


Aldo ;”Ban mobil loe kenapa bang kok ancur gini?” aldo montir yang selalu menangani mobil Dion jika bermasalah atau saat perawatan


Dion :”Nggak tau nih, sial banget hari ini tiba-tiba pas udah jalan udah kayak gitu” jawabnya geram


Aldo :”Ini mah sengaja dipasangin paku, kalau kena di jalan nggak mungkin kena banyak 2 ban lagi, musuh lu kali bang?


Dion :”Gue nggak ada musuh kok” diam dan berfikir kemudian wajah Laura terlintas dalam pikirannya apa mungkin dia ya


Aldo :”Ya udah gue benerin dulu ya bang”


Dion :”Iya ya” sahutnya tanpa menoleh masih memikirkan siapa yang berani melakukan ini padanya


Hari-hari berikutnya terus berjalan Laura dan teman-temannya masih melakukan aksinya untuk mengerjai Dion seperti melakban seluruh pintu mobil, menempelkan tulisan mobil ini di jual, menguncinya di ruang kelas dan masih ada yang lain hingga Dion sangat marah yang kemudian menangkap basah Laura saat akan melakukan kajailannya lagi padanya.


Ketika sore hari Laura berjalan sendiri melewati ruang dosen dia melihat Dion sendiri di dalam akan memakan bekalnya, tak sengaja Dion melirik melihat kalau Laura mengintipnya kemudian Dion pura-pura pergi ke toilet untuk mengkelabuhinya dan melihat apa yang akan dia lakukan. Melihat Dion pergi ke toilet Laura masuk kemudian memberikan bubuk cabai yang sangat banyak pada nasi goreng Dion. Laura tidak tau kalau ini adalah jebakan kemudian Dion keluar.


Dion :”Apa yang sedang kamu lakukan Laura?” Tanya Dion yang membuat Laura kaget menjadi salah tingkah


Laura :”Eh Pak Dion, ng….nggak kok saya nggak ngapa-ngapain” berbalik badan dan ketakutan jika dirinya ketahuan


Dion :”Saya melihatnya kok, kamu menaruh sesuatu pada nasi goreng saya” tanyanya menyelidik


Laura :”Nggak pak, sa sayaa nggak menaruh apa-apa, tadi cuma mau menutup saja karena bekalnya terbuka” masih berfikir keras bagaimana agar bisa segera pergi dari sana


Dion :”Kalau gitu coba makan dong, nih” sambil menyodorkan sendok pada Laura sambil tersenyum


Laura :”Saya udah makan kak, udah kenyang” mulai mengelak gawat kalau sampai gue makan bisa kepedesan gue batinnya dalam hati


Dion :”Ayolah hanya 1 atau 2 sendok saja membuktikan kalau kamu tidak berbuat apa-apa pada makanan saya, ini saya masak sendiri lho” kemudian Laura terpaksa memakan sesendok nasi goring itu menahan pedas yang mulai terasa di tenggorokannya dan memberikan senyuman palsu


Dion :”Enak ya? Tambah lagi dong, ayo” pinta Dion dengan senyum penuh kemenangan. Laura mengambil sendok keduanya dia sudah tidak tahan lagi dengan pedasnya, karena melihat Laura kepedasan Dion memberikan botolnya minumnya. Tidak berhenti disitu Laura merasakan panas dan gatal pada tubuhnya merasakan pusing wajahnya pucat. Melihat itu Dion mulai panik.


Dion. :"Minum ra" ucapnya memberi minum yang kemudian di terima dan langsung di teguk habis


Dion :”Apa yang terjadi kenapa kamu terus menggaruk tubuhmu dan wajahmu pucat?” tanyanya panik


Laura :”Apa itu?” sambil menggaruk dan salah satu tangannya menunjuk ke arah nasi goreng


Dion :”Itu nasi goreng… nasi goreng seafood ada apa?”


Laura :”Apa?? Seafood kau bilang?” wajahnya semakin pucat


Dion :”Ada apa? Katakana?” semakin panik


Laura :”Aa.. aaku aalergi” jawabnya kemudian pingsan karena kepalanya semakin pusing


Dion :”Astaga serius kamu alergi ini?” Dion yang langsung menangkapnya panik kemudian menggendong ke mobil membawanya ke rumah sakit untung tidak ada terlalu banyak mahasiswa yang melihatnya. Setalah sampai di rumah sakit dan dokter keluar dari ICU.


Dion :”Dok gimana keadaannya?” Tanya Dion masih terus khawatir


Dokter :”Tenang pak istri anda baik-baik saja, saja sudah memberikan obat untuk alerginya tapi tolong di jaga makan istrinya jangan sampai hal ini terulang lagi ya, anda boleh menjenguknya setelah dipindahkan ke kamar rawat inap kalau gitu saya permisi pak” berjalan meninggalkan


“Bagaimana mungkin dokter bisa mengira kalau dia istriku batinnya dalam hati” Setelah dipindahkan


Suster :”Silahkan masuk pak, kemungkinan istri anda sadar besuk pagi saya permisi dulu kalau ada apa-apa silahkan panggil saya” suster pergi meninggalkannya


Dion :”Terimakasih sus” kenapa semua orang mengira dia istri saya sih menyebalkan batinnya. Kemudian Dion masuk ke dalam menunggu Laura hingga siuman hingga tidur terlelap di sofa. Di tengah malam terdengar bunyi ponsel milik laura yang terus bergetar membangunkan Dion yang tertidur tertulis nama Nindy di layar.


Dion :”Hallo”


Nindy :”Siapa nih, dimana Laura kok hpnya bisa ada di loe?” serentet pertanyaan terucap


Dion :”Nanyanya satu-satu dong”


Nindy :”Udah jawab aja” Jawabnya tak sabar


Dion :”Ini saya Dion dosen kamu, temen kamu ada di rumah sakit dia tadi pingsan”


Nindy :”Kok bisa? Rumah sakit mana?” tambah khawatir


Dion :”Di rumah sakit Kent Saras mending kamu kesini besuk saja ini udah tengah malam jam besuk udah lewat percuma kamu datang, saya juga jagain kok disini”


Nindy :”Oh gitu syukurlah kalau gitu, oke saya kesana besuk aja kak terimakasih dan tolong jagain Laura teman saya, kalau ada apa-apa tolong kabarin saya” leganya


Dion :”Iya” jawabnya singkat dan telepon diakhiri


Nindy :”Laura di rumah sakit Kent Saras katanya dia pingsan tadi di kampus”


Rya :”Ya udah kita berangkat sekarang” Rya bergegas berdiri menarik tangan Nindy


Nindy :”Tunggu dong ini udah jam berapa jam besuk udah lewat, besok aja Ry” jawabnya cepat melepas genggaman Rya


Rya :”Nggak masalah kita mau ke rumah sakit jam berapa toh itu rumah sakit keluarga gue, ayok nin gue mau lihat keadaan Laura”


Nindy :”Saya tau nona Rya ‘Kent Riyana’ kita bisa kesana kapanpun kita mau tapi sudah ada Pak Dion disana yang menunggunya, loe mau ganggu waktu istrahat mereka”


Rya :”Ya nggak dong, tapi kok bisa ada Pak Dion disana Nin? ya udah kita kesana besuk pagi aja tapi bener-bener pagi ya Nin” perasaannya mulai lega karena ada yang menjaga sahabatnya


Nindy :”Gue nggak tau juga kenapa dia bisa bareng Laura udah kita tanya orangnya langsung besuk, kayak bisa bangun pagi aja” gumamnya yang hanya mendapat pelototan mata Rya


Flashback On


Di basemant kampus


Laura :”Girls kalian duluan aja gue mau ke toilet dulu nih udah kebelet banget”


Nindy :”Kita temenin deh atau tunggu disini aja” Tanya Nindy


Laura :”Nggak usah kalian duluan aja, bentar doang kok ntar juga yang sampe rumah loe gue duluan kan kalian suka mampir hahaha” sambil mata yang mengarah ke Rya


Rya :’Ya udah kita duluan, loe langsung ke rumah gue inget hari ini nginep di rumah gue ya” menjelaskan dengan tegas


Laura :”Iya bawel gue duluan ya” berlari meninggalkan


Nindy :”Ke supermarket bentar yuk beli cemilan” hehe tawanya


Rya :”Ini nih yang bikin kalah balapan sama Laura” timpalnya yang kemudian mereka pulang meninggalkan Laura tapi disisi lain Laura tergiur untuk mengerjai Dion yang melihat dia sendirian di ruang dosen setelah dari toilet. Setelah Nindy dan Rya sampai di rumah dan hari sudah mulai malam mereka khawatir dengan Laura karena tak kunjung datang.


Rya :”Nind Laura kemana ya kok dari tadi nggak sampe sih di telfon juga nggak di angkat tuh”


Nindy ;”Iya nggak tau tuh kemana perginya, apa dia lupa terus balik ke rumahnya atau terjadi sesuatu sama dia” mereka mulai gelisah


Rya :”Husss kelau ngomong dijaga dong, coba deh elo telfon bi Ima siapa tau dia pulang ke rumah”


Nindy :”Iya bentar” Nindy segera menelfon bi Ima


Nindy :”Kata bi Ima Laura belum pulanng dari siang gimana dong Ry gue takut dia kenapa-kenapa, coba gue telfon lagi deh hp nya siapa tau diangkat angguk Rya


**Flashback Off


Terimakasih sudah menunggu dan setia membaca novel ini. Jangan lupa like & favorite nya untuk support author. silahkan coment juga di bawah. thank you**