
Nindy keluar dari mobil dan melangkah lebih dulu hingga tiba pada tempatnya dan berjongkok disana dengan di susul Surya dari belakang.
“Hey, aku datang mengunjungimu” ucap Nindy dengan senyum manisnya dan meletakkan bunga di atas makam Laura
“Ra, aku datang bersama kak Surya. Aku tau kamu pasti sudah bahagia disana. Maaf aku tidak bisa sering datang untuk menyapamu karena pekerjaanku dan terimakasih selalu hadir dalam mimpiku setiap saat. Tapi aku sungguh bingung kenapa ada orang yang sangat mirip denganmu? Mungkinkah itu bentuk protesmu karena aku jarang mengunjungimu? Apa mungkin kau juga mengenalnya tolong beri aku petunjuk” ucap Nindy
“Sudahlah aku bingung harus mengatakan apalagi” katanya dengan senyum yang dipaksakan dari bibirnya
“Maaf telah menganggu waktumu, doakanlah agar semua baik-baik saja dan kami bisa mengunjungimu kembali setiap saat” ucap Surya
“Kami pulang ya ra, bahagialah di tempatmu” ucap Nindy yang kemudian beranjak dari jongkoknya bersama Surya
***
“Harus kemana lagi aku pergi mencari jagung bakar. Udah semua tempat dicaripun tidak ada yang menjual / sudah habis padahal ini masih siang seharusnya mereka menyediakan lebih banyak stok."
"Jika bukan karena Lyra aku tidak akan melakukan ini. Kenapa permintaannya harus aneh-aneh seperti ini” gerutu kesal Davin yang masih terus berjalan
“Itu tempat terakhir, semoga disana masih ada. Tuhan tolong bantu aku untuk mengkabulkan permintaan istriku” ucapnya berdoa melihat satu warung kecil di ujung jalan
“Permisi” ucap Davin memasuk sebuah warung kecil yang memiliki beberapa pengunjung disana
“Silahkan den” ucap pemilik warung
“Permisi pak, apa ada jagung bakar disini?” tanya Davin
“Wah.. aden telat. Jangung bakarnya sudah habis. Tinggal ini aja sudah pesanan bapak itu” jawabnya dengan tangan yang terus menggerakan kipas
“Pak bolehkah saya membeli jagungnya? Berapa pun akan saya bayar”
“Wah gimana ya mending tanya langsung sama bapaknya yang beli kalau saya sih boleh-boleh saja” kata pemilik warung
“Pak, boleh saya membeli jagung bakarnya? ini permintaan istri saya dari tadi saya sudah berkeliling tapi tidak ada dan ini tempat satu-satunya yang saya harapkan” ucap Davin pada bapak-bapak yang membeli jagung bakar itu dan sudah mendengar sejak Davin datang
“Gimana ya? Saya juga lagi pengen nih” jawabnya
“Udah pak kasih saja, pasti istrinya lagi nyidam tuh kasih nanti jadi ngiler lho. Bapak kan bisa kesini lagi besuk-besuk” ucap istri pemilik warung yang tiba-tiba muncul dari dalam
“Berapa pun saya pasti bayar pak asal bapak mau memberikannya pada saya” mohon Davin
“Baiklah, silahkan ambil jagung bakarnya” ucap bapak itu yang berbaik hati
“Terimakasih pak, dan ini saya ganti uangnya pasti istri saya sangat senang karena bapak mau memberikan jagung bakarnya. Tolong di terima” memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan
“Lho, ini kebanyakan den. Harga jagungnya murah kok nggak sampe segini” kata bapak setelah menerima uang itu ingin mengembalikannya
“Tidak apa-apa pak, ini tidak seberapa kok. Anggap saja ini rezeki bapak yang di titipkan lewat saya”
“Ya sudah kalau gitu saya terima ya sekali lagi terimakasih, saya doakan semoga kalian sehat dan semua ngidam istrinya terkabulkan” ucap bapak itu mendoakan
“Amin”
“Pak tolong jagung bakarnya di buat extra pedas semua ya”
“Siap den”
“Aden ini dari kota ya?” tanya ibu lagi
“Iya bu” ucap Davin
“Oh yayaya… Oh pantesan baru lihat saya. Udah lama ya pak nggak kedatangan orang kota. Kalau nggak salah terakhir ada tiga cewek yang dari kota mampir ke warung kita ini”
“Iya bu, sudah lama banget itu. Ini den jagung bakarnya sudah jadi” memberikannya pada Davin
“Oh iya pak terimakasih, ini uangnya kembaliannya ambil saja” memberikan uang selembar seratus ribuan
“Iya terimakasih”
“Kalau begitu saya permisi”
“Iya den, hati-hati di jalan” Davin pun pergi meninggalkan warung itu
“Tadi kenapa aku mengiyakan kalau istriku sedang mengidam ya, semoga saja segera terwujud” batin Davin saat berjalan kembali ke vila
***
“Mas, kamu sudah pulang?” ucap Lyra yang saat itu sedang membuka pintu dan ternyata Davin sudah ada di depan
“Iya, aku membawa pesananmu” Lyra terlihat sangat senang melihat tentengan di tangan suaminya
“Ayo masuk, aku buatkan minuman hangat dan kita makan jangung bakar bersama” ajaknya
“Ini Coffe kesukaanmu mas” ucap Lyra yang membawa dua cangkir coffe
“Terimakasih”
“Ini kau bisa memakan semuanya” Lyra pun mengambilnya dan langsung memakannya dengan lahap seperti sudah sangat lama menginginkannya
“Pelan-pelan makannya tidak akan ada yang merebutnya darimu” ucap Davin yang heran melihat cara makan Lyra yang begitu sangat lahap
“Ini sangat enak, cobalah mas” tawarnya
“Tentu saja enak sayang, aku membelinya penuh dengan perjuangan berjalan mengelilingi tempat ini hingga di ujung sana”
“Benarkah?” tatap Lyra dengan serius terus memakannya
“Ya, bahkan jagung bakar itu sebenarnya sudah di beli oleh orang lain yang awalnya tidak mau memberikannya padaku, tapi ada istri pemilik warung itu yang menyakinkan jika kau sedang mengidam sehingga orang itu mau memberikannya padaku”
“Apa kau juga mengiyakan jika aku sedang mengidam?” tanyanya penasaran
“Ya, aku tidak sadar telah mengiyakannya tapi bagusnya aku bisa mendapatkannya bukan”
“Iya kau berhasil mendapatkannya” tawanya
“Semoga itu segera terjadi” ucapnya pelan
“Kau bilang apa mas?” tanya Lyra yang samar-samar mendengar
“Tidak, aku hanya ingin menikmati coffe yang enak ini” kilahnya. Davin ingat bahwa istrinya masih dalam masa program KB dimana dirinya masih menunda untuk memiliki momongan padahal Davin ingin segera memiliki anak darrinya.
“Cobalah” sambil menyodorkan jagung bakar ke mulut Davin lalu menggigitnya
“Hah, pedaass sekali” ucapnya kepedesan lalu mengambil cangkir coffenya dan meminumnya
“Kenapa jadi tambah pedas…. Hah” teriaknya pada rasa pedas tercampur coffe yang panas mengibaskan tangan di depan mulutnya.
Lyra yang melihat itu langsung berlari ke dapur mengambil segelas air putih dan memberikannya pada Davin
“Apa pedasnya sampai seperti itu?” tanya Lyra dengan mengerutkan dahinya. Davin memang tidak suka makanan yang terlalu pedas
“Apa kau tidak kepedasan sayang? Pedasnya membuat kepalaku hampir pecah” namun Lyra hanya menggelengkan kepala
“Sudah cukup jangan makan itu lagi, aku tidak mau perutmu sakit karena makanan pedas itu”
“Kenapa kosong?” tanya Davin saat ingin membuangnya
“Kau sudah memakan semuanya sayang?”
“Itu yang terakhir yang ingin ku berikan padamu tinggal beberapa gigitan tapi kau melemparnya” ucap Lyra dengan mengangguk
Davin menghela nafas dan duduk kembali dengan masih mulut yang terasa sedikit pedas mulai memudar
“Semoga perutmu tidak bermasalah” ucapnya dengan mengusap perut Lyra pelan di balik bajunya
Perutnya terasa nyaman saat tangan Davin berada disana untuk mengusap, seperti sesuatu yang menginginkan hal itu. Davin menyudahi kegiatannya itu lyra sedikit kecewa namun juga mengabaikannya.
***
“Nind apa kau baik-baik saja?” tanya Surya yang sedang menyetir
“Ya aku lebih baik sekarang”
“Kalau kamu mengantuk tidurlah, jika sudah sampai aku akan membangunkanmu”
“Tidak kak aku tidak mengantuk”
“Baiklah”
Triiinnggg… tttrriiingggg… hape Nindy berbunyi tanda telfon masuk di ambilnya hape di dalam tasnya
“Hallo”
“Kau dimana Nind? Kenapa rumah kosong?” tanya Rya di sebrang sana
“Aku sedang pergi, tapi sudah dalam perjalanan pulang”
“Kau bersama siapa?”
“Kak Surya” singkatnya
“Baiklah segera pulang jangan mampir kemana pun”
“Oke” mematikan telfon kesal
“Dasar bawel” gerutu Nindy namun masih terdengar Surya dan dia tersenyum
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode