LAURA

LAURA
Episode 49



“Tuan istri anda sudah sadar sepenuhnya dan keadaannya terus membaik ini sungguh keajaiban dari Tuhan” ucap dokter yang baru selesai memeriksa


“Syukurlah kalau begitu, terimakasih sudah melakukan yang terbaik untuk istri saya” ucap Davin


“Istri? Siapa kalian dimana aku?” ucap nyonya Davin yang mulai duduk bersandar di ranjangnya


“Sayang apa kau tak ingat aku? Pernikahan kita?” ucap Davin yang kaget mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut istrinya pertama kali setelah sadar dan dia hanya menggelengkan kepala


“Siapa kalian? Aku dimana?” ucapnya lagi


“Sungguh tidak ingat? Dokter bagaimana ini kenapa dia tidak mengingatku?” ucap Davin pada dokter dan sangat kebingungan


“Sepertinya istri anda mengalami Amnesia karena luka akibat benturan yang sangat keras di kepalanya. Lebih baik kita memeriksanya lebih lanjut setelah ini” ucap dokter


“Anda juga bisa membantunya untuk mengembalikan ingatnya kembali tuan seperti melakukan kegiatan yang sering kalian lakukan bersama” imbuhnya


“Baiklah, buatkan jadwalnya bersama Billy”


“Baik tuan, kalau gitu kami permisi” pamit dokter. Semua orang pun pergi kini hanya Davin dan istrinya yang berada di kamar


“Jika kau tidak mengingat namaku apa kau mengingat siapa nama dan dirimu sayang?” tanya davin yang duduk di samping ranjang


“Tidak” ucapnya singkat dan menggeleng


“Baiklah aku akan memberitahumu semua yang ingin kau tahu” balasnya


“Namamu adalah Lyra dan aku Davin kita adalah suami istri dan kita menikah setahun yang lalu” jelasnya Lyra masih tetap diam memandang Davin


“Tunggu aku akan ambilkan sesuatu” Davin terlihat membawa sesuatu di tangannya


“Ini buku nikah kita, dan ini album foto-foto kita semua kenangan ada disini kamu bisa melihatnya dan mencoba mengingatnya” ucap Davin sambil memperlihatkan satu persatu isi dari buku album foto tersebut. Lyra hanya melihatnya dengan diam


“Apa kau mengingat sesuatu sayang?” tanyanya


“Maaf aku tidak mengingatnya sama sekali” ucapnya tanpa ekspresi sedangkan Davin mendengarnya dengan ekspresi yang begitu sedih


“Baiklah tidak apa-apa, kita akan mencobanya pelan-pelan sampai kamu mengingat semuanya, aku akan meletakkannya di sini jika kamu ingin melihatnya lagi sayang” ucap Davin menutup Album foto itu dan meletakkannya di meja samping ranjang mereka


“Aku akan mengajakmu berkeliling di rumah ini, ayo sayang” ajaknya Lyra hanya diam menurut saja


“Bolehkah aku bertanya satu hal?” ucapnya ketika mereka berjalan dan Dain menggandeng tanganya


“Tentu apapun itu aku akan menjawab”


“Dimana kita? Maksudku kita ada di daerah mana?”


“Kita ada di Bali sayang, rumah kita dekat dengan pantai sesuai keinginanmu sebelum kita menikah. Ayo duduk di sini” jelasnya


Davin mengajak Lyra duduk di tepi kolam renang


“Kamu tau design rumah ini juga sesuai keinginanmu, aku akan menuruti dan mengabulkan semua keinginanmu jika aku mampu memberikannya” ucapnya senyum menoleh Lyra yang pandangannya lurus kedepan


“Kenapa aku tidak merasakan apapun dan semua yang dikatakannya begitu asing bagiku” batinnya


“Kamu pasti lapar ayo kita makan sayang” ucap Davin


“Baiklah”


***


“Kak Surya kapan dateng?” toleh Nindy yang melihat Surya duduk di sampingnya


“Barusan kok ini baru mau duduk, bolehkan?” balas tanyanya


“Ya terserah” jawabnya tanpa menoleh fokus pada handphone dan cemilannya


“Enak tuh, bagi dong” tangan surya yang menjulur menuju cemilan yang ada di pangkuan Nindy. Nindy pun langsung menoleh dengan tatapan tajam dan mengatakan


“NGGAK” sambil menjauhkan cemilan itu dari Surya


“Beli aja sendiri sana” balasnya ketus


Mereka yang saling berebut cemilan malah membuat Nindy yang hampir jatuh dari sofa dan Surya berusaha menggapainya namun justru pandangan wajah mereka semakin dekat yang hanya berjarak beberapa cm saja. Seperti waktu berhenti mereka saling bertatap mata.


“Kamu cantik sekali Nind, seperti magnet yang membuatku terus mendekatimu” batin Surya


“Kok muka kak Surya kayak semakin deket aja sih, apa dia mau menciumku? OMG GILA ih” batin Nindy dengan menutup matanya


“Kalian sedang apa?” ucap Rya yang tiba-tiba padahal dia sudah agak lama berdiri memperhatikan mereka seolah-olah baru saja datang


Reflek mereka berdua kaget tersadar dan Surya segera menarik Nindy agar tidak terjatuh


“Kapan kak Surya dateng?” tanya Rya lagi agar mencairkan suasana yang terlihat canggung bagi mereka seperti kepergok melakukan sesuatu


“Ba.. baru saja kok” ucapnya yang sedikit terbata


“Oh, kak Surya mau ngapain? Nyari suami apa mau ngapelin cewek judes” ucapnya dengan meilirik Nindy


“Ngapain tuh mata ngelirik kesini” balas Nindy dan Rya hanya tertawa


“Iya mau ngapelin cewek judes” ucapnya dengan senyum


“Yuk jalan kita dinner, mau nggak?” ajaknyaa pada Nindy


“Kak Surya ngajak aku?” tanyanya


“Iya dong siapa lagi kan nggak mungkin ngajak istri orang” jawabnya


“Ogah, males” jawabnya singkat


“Ayo dong, kamu bebas pilih tempatnya gimana?” bujuk Surya


“Susah amat sih di ajak dinner doang, kalau nggak mau biar aku yang berangkat”


“Okke, aku yang pilih tempat tapi jangan sampe nyesel apalagi marah-marah” jawabnya dengan senyumnya yang terlihat kejam


“Ya, emang kamu mau kemana?” tanyanya


“RAHASIA! Udah mau siap-siap dulu jangan banyak nanya” ucapan terakhirnya sebelum pergi menuju kamarnya


***


Malam itu terlihat begitu indah. Bulan dan bintang bersama-sama menjadi penerang malam. Menyinari Davin dan Lyra yang sedang duduk bersama di balkon kamarnya


“Malam ini sangat indah terlihat coba lihat bulan yang hadir untuk menemani bintang-bintang di langit untuk memancarkan cahayanya ke bumi. Seperti kamu yang membuatku begitu bahagia karena sekarang kamu menemaniku disini” ucap Davin dengan senyum yang menatap langit Lyra hanya diam mendengar


“Kau tau sayang kita selalu menikmati malam-malam seperti ini, bahkan kau selalu tertidur jika aku terlalu banyak bicara” ucap Davin menoleh kea rah Lyra.


“Maaf jika aku tidak mengingat apapun” ucapnya


“Jangan terus meminta maaf padaku ini bukan kesalahanmu tapi ini takdir yang sedang menguji kita” ucapnya dengan tangan yang mencoba merangkul istrinya namun Lyra seperti menolaknya dan Davin mengerti dan menghentikannya


“Apa kau sudah mengantuk sayang?” tanyanya


“Sedikit” jawabnya singkat


“Tidurlah, aku akan menemanimu dan setelah kau tertidur aku akan kembali ke ruang kerjaku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan” jelasnya


“Baiklah, tapi tidak apa-apa jika kamu ingin melanjutkan pekerjaanmu sekarang tidak perlu menemaniku hingga tertidur” ucap Lyra dan mereka beranjak


“Baiklah selamat tidur, tidurlah dengan nyenyak” ucap Davin sebelum pergi dan dia mencium kening Lyra


“Kenapa aku tidak menghindar? Tapi kenapa aku harus menghindar dia kan suamiku tapi aku tidak bisa mengingatnya” gerutu Lyra dalam hati memikirkannya


“Aku tau pasti kamu tidak yakin aku suamimu tapi inilah kenyataanya Lyra dan aku akan berusaha untuk membuat ingatanmu kembali. Aku janji” batinn Davin yang pergi menutup pintu kamarnya


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episodetambah