LAURA

LAURA
Episode 68



“Permisi” datang tergesa-gesa


“Selamat sore, selamat datang ada yang bisa saya bantu nona?” tanya seorang pelayan dalam meja pemesanan dengan ramah


“Saya mau tanya apa cake atas naman Nindy Kayla Pratama sudah di ambil? Tadi saya meminta orang lain untuk mengambilnya” jelas Nindy


“Tunggu sebentar nona saya akan memeriksanya untuk anda” memeriksa pada layar komputer


“Nona cake pesanan atas nama Nindy Kayla Patama sudah di ambil, sekitar jam 11 siang tadi” ucapnya setelah memeriksa


“Apa orang ini yang mengambilnya?” tanya Rya menunjukkan sebuah foto seorang perempuan yang terpampang jelas pada layar hapenya


“Maaf saya tidak tau nona, saya bekerja untuk sift kedua dimulai dari jam 1 siang, sedangkan cake tersebut diambil pada pegawai sift pertama jadi saya tidak tau siapa yang mengambilnya dengan jelas. Tapi kita tidak akan pernah memberikan pada orang lain kecuali mereka memiliki kartu pesanan yang berkode khusus”


“SIAL” kesal Nindy mulai panik


“Apa yang harus sekarang kita lakukan nind?” tanya Rya yang mulai ikut panik


“Maaf nona apa ada sesuatu yang terjadi, mungkin saya bisa membantu sedikit?” tanya pelayan yang bingung melihat tingkah mereka sejak tadi


“Teman kami menghilang maksudku dia belum kembali sejak tadi mengembil cake disini dan nomornya tidak bisa di hubungi” jelas Rya


“Mungkin kami bisa membantu untuk mengecek cctv semua akan terlihat bila ada yang mengganjal mungkin tidak terlalu membantu tapi tidak ada salahnya jika mencoba” tawar pelayan itu


“Baiklah terimakasih sudah mau membantu kami” Jawab Nindy berharap


“Mari ikut saya nona”


Sesaat setelah melihat rekaman cctv


“Sepertinya rekaman ini kurang membantu kalian nona” kata pelayan


“Anda benar, kita tidak tau kemana tujuan tempat selanjutnya” jawab Rya sedih


“Sampai saat ini tidak ada yang mencurigakan” imbuhnya


“Kita harus tetap mencarinya, aku yakin setelah mengambil cake disini dia langsung pergi mencari kado untuk Aulia, ada beberapa toko disekitar sini. Kita bisa mencobanya” ucap Nindy


“Tunggu apalagi, ayo kita pergi” ajak Rya


Mereka pun pergi mengelilingi hampir semua toko disana. Tak ada satu pun yang memberikan hasil yang bagus.


***


Di suatu tempat


“UUhhh… kepalaku” baru sadar membuka mata


“Dimana aku? Ini bukan kamarku?” memegang kepala melihat sekeliling


“Bagaimana perasaanmu? Apa yang kau rasakan” tanya seseorang yang tak terlihat jelas wajahnya karena cahaya yang redup. Laura menoleh pada sumber suara.


“Siapa kau?” tanyanya masih memperhatikan


“Apa kau lupa padaku?” menyalakan lampu yang terang. Mata Laura langsung terbelalak seperti ingin keluar


“Aku kekasihmu sayang” berjalan mendekat ke ranjang


“Apa yang kau lakukan padaku?” panik takut


“Aku tidak melakukan apapun, hanya membawamu ke rumah. Yaa dengan sedikit paksaan dan membiusmu. maaf” mengucap dengan senyum


Laura teringat setelah meminum air yang diberikan supir taxi tadi langsung tak sadarkan diri


“Dasar gila, lepaskan aku Dion kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi” marahnya


“Aku tidak akan melepaskanmu sayang” katanya serius dengan menatap


“Aku sudah menikah! Apa kau tidak bisa melihat aku sedak hamil” gertaknya


“Aku tidak peduli, oh ada yang ingin aku tanyakan padamu. Kenapa kau berbohong dengan berpura-pura mati dan malah menikah dengan orang lain bahkan sampai punya anak bersamanya padahal kau masih mencintaikukan?” berjalan menghampiri


“AKU TIDAK MENCINTAIMU AKU MEMBENCIMU” marah


“Jangan pernah katakan itu padaku” mencengkram tangan Laura. Kesal dengan katanya


“Lepaskan, lepaskan aku Dion. Aku tidak ingin melihatmu lagi” meronta


“Sudah aku bilang tidak akan melepaskanmu” mengeratkan genggaman


“Lepaskan.. aku ingin hidup tenang bersama keluargaku dan tidak ingin berurusan dengan orang gila sepertimu lagi”


“Aku gila karenamu sayang. Aku akan menikahimu dan merawat anak ini dan anak kita yang lain nantinya. Tenang saja jangan khawatir meski dia bukan anakku aku akan menyayanginya seperti anakku sendiri nantinya dan kita akan hidup bahagia. Aku berjanji” senyum menakutkan


“Nggak, aku nggak mau…. Aaaggghhh…” masih meronta


“Apa yang kau rasakan? Apa yang sakit?” Dion panik


“Aaaa,,, perut sakit…” mengeluarkan darah


“HENNDDRRYY…” teriak Dion memanggil asistennya


“Iya tuan” datang dengan cepat


“Cepat panggil dokter sekarang!” nada memerintah”


“Baik tuan saya akan memanggilnya, permisi”


“Tenanglah aku sudah memanggil dokter” tidak tega melihat Laura kesakitan


***


“Mamah sudah pulang?” tanya Aulia yang sedang bermain melihat mamahnya pulang


“Kalian darimana? Lalu dimana Laura aku tidak melihatnya?” tanya Gery melihatnya


Nindy dan Rya sama-sama mendudukkan tubuhnya pada sofa dengan wajah sedih dan pasrah


“Kami tidak bisa menemukannya kak” jawab lemah Nindy


“Kalian sudah megeceknya ke toko kue tadi?”


“Tentu. dia sudah mengembilnya dan pergi entah kemana”


“Mama apa kita tidak jadi merayakan ulang tahunku?” tanya polos gadis kecil itu


“Maaf sayang kita tidak bisa merayakannya sekarang, karena tante Laura menghilang dan belum kembali” Gery menjawab memberi pengertian pada putri kecilnya


“Apa aunty Rara di culik penjahat pah?”


“DICULIK” suara nindy mengkagetkan membuat orang lain memperhatikannya


“Kenapa aku tidak kepikiran” imbuhnya


“Apa yang kau katakan siapa juga yang mau menculik wanita hamil huh?” tanya Rya


“Ini bisa saja terjadi dan orang itu mungkin saja dia yang melakukannya. Oh Tuhan ini salahku seandainya aku tidak meminta Laura untuk pergi sendiri ini pasti tidak akan pernah terjadi” ucap Nindy lemas


“Dia siapa maksudmu nind?” tanya Gery penasaran


“Jangan menyalahkan dirimu” ucap Rya


“Rizal kak” semua menatapnya


“Rizal? Untuk apa dia menculik Laura?” tanyanya lagi


“Kakak tidak tau? Akhir-akhir ini Rizal terus-terusan mengejar Laura,, dia ingin menikahi Laura” terangnya


“Menikah? Bukankah dia sudah punya anak dan istri?” bingung


“Mereka sudah bercerai sayang, jadi Rizal mengejarnya setelah tau Laura belum meninggal” ucap istrinya


“Aku juga berfikir bisa saja dia yang menculiknya” ucap Lagi Rya.


“Kita harus cepat menghampirinya dan aku tidak memberinya ampun padanya bila itu benar-benar terjadi” geram Nindy


***


“Bagaimana dokter keadaannya?” tanya Dion setelah dokter keluar selesai memeriksanya


“Nyonya sudah mulai membaik tuan sekarang sedang tertidur karena obat yang saya berikan untung anda segera memanggil saya sedikit saja terlambat ini akan fatal bisa saja nyonya kehilangan bayinya. Anda harus menjaganya jangan sampai membuatnya banyak pikiran atau sesuatu yang membuatnya tertekan ketakutan itu bisa membahayakan calon bayinya bisa saja sampai keguguran”


“Saya akan memberikan beberapa vitamin untuk nyonya, kalau begitu saya permisi” pergi berlalu


“Terimakasih dokter, saya akan mengingatnya”


“Mari dok, saya antar keluar” ucap asistennya


Dion masuk ke dalam kamar Laura menatapnya sedih melihat Laura tertidur dengan wajah pucatnya.


“Kenapa kau takut padaku? Padahal aku sangat menyayangi dan mencintaimu” mengusap lembut kepala Laura yang tertidur


“Aku senang jika melihat anak itu pergi, tapi aku tidak tega melihatmu kesakitan seperti tadi. Itu pasti sangat menyakitkan bagimu dan lebih sakit jika kau kehilangan anakmu”


“Baiklah ayo kita merawat dan membesarkannya bersama” mengecup kening dan pergi


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode