LAURA

LAURA
Episode 79



“KELUAR” teriaknya hingga membuat pengemudi itu keluar dari mobilnya


“HAH?”


“Nindy?”


“Vian?”


Mereka berdua saling terkejut satu sama lain hanya diam tak berkata


“Kau berulah lagi huh? Tak bisa kah kau menyetir tanpa mengebut membahayakan orang lain hah?” omel Nindy pada pemilik mobil yang di hampirinya


“Kau itu dokter harusnya memberi contoh yang baik, tugasmu saja menyelamatkan nyawa orang lain bukan sebaliknya mengambil nyawa orang dengan seenaknya” ketusnya


“Jika sampai aku mati karenamu orang pertama yang akan ku hantui adalah kau dokter Vian! Ingat itu!” bentaknya, lalu melangkahkan kaki untuk meninggalkannya. Namun belum setelah berbalik dokter Vian justru menarik tangannya.


“Ayo ikut aku sekarang” dengan nada memerintah tak ingin ada penolakan


“Hey, apa yang kau lakukan huh?” omelnya lagi berusaha melepaskan tangannya


“Jangan banyak bicara lagi, ikut aku sekarang juga ini penting!” Dokter Vian pun menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Dokter Vian cepat membuka pintu mobil dan segera memaksanya masuk.


“Kau tidak merasa bersalah, malah sekarang ingin membawaku pergi?” mengomel ketika dokter Vian sudah duduk di sebelahnya hendak menjalankan mobilnya


“Sudahlah jangan banyak bicara lagi aku pusing mendengar suaramu yang seperti kereta tanpa stasiun itu, duduklah dengan tenang nona” Nindy memelototkan matanya bulat-bulat mendengar ucapan laki-laki di sampingnya


“VIAN TUNGGU” teriaknya memegang tangan Vian yang ada di stir mobil


“Apalagi?” jawabnya


“Kau berani memanggilku seperti itu padahal aku lebih tua darimu huh?” imbuh dokter Vian


“Bu.. bukan begitu maksudku koperku masih di dalam taksi dan aku belum membayarnya” dengan suara melemah


“Tunggu disini aku akan mengambilnya” Dokter Vian pun langsung pergi mengambilkan koper Nindy yang sejak tadi masih berada di dalam taksi


“Dasar tukang perintah” gerutu Nindy


Vian pun mengambil koper Nindy dan memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya dan segera menjalankan mobilnya


DI SEBUAH CAFE


“Kenapa membawaku kemari huh? Aku tidak sedang lapar”


“Apa kau sedang mencariku? Merindukan aku huh?” celoteh Nindy tak henti karena sepanjang perjalanan Vian tidak mau menjawab pertanyannya


“Ya sudah lama aku mencari dan menunggumu pulang”


“Kenapa mencariku?”


“Berhentilah berbicara dan segerelah memesan kita tidak ada waktu lagi” menghela nafas


Nindy pun menurut segera memesan, selagi menunggu pesanan Vian pun mulai membuka pembicaraan


“Kenapa wajahmu terlihat begitu serius? Aku hanya bercanda” ucap Nindy Nampak heran


“Bisakah kita bicara serius sekarang nona?” tanya Vian menyatukan kedua tangannya di atas meja


“Baiklah katakan” menatap serius


“Hah darimana aku harus memulainya..” bingung menggaruk kepalanya yang tidak gatal


“Baiklah, secepatnya kita harus pergi menyelamatkan…” terpotong


“Siapa?” Nindy memotong


“Tak bisakah biarkan aku berbicara dulu hingga selesai nind” kesalnya. Nindy hanya tersenyum dan menggerakkan tangannya yang mengisyaratkan sedang mengunci mulutnya rapat-rapat


“Kita harus pergi menjemput Laura secepatnya


“Laura? Kau bertemu dengannya dimana dia sekarang?” tersenyum bahagia


“Dia ada di suatu tempat, dan aku tidak bisa membawanya pergi dari sana”


“Dia ada di sebuah paviliun seseorang yang bernama Dion, Laura bilang dia yang mengurungnya dan memerlukan bantuanmu”


“BRENGSEK, DASAR LAKI-LAKI BI*DAB” teriak Nindy sambil tangannya menggebrak meja membuat orang di sekelilingnya kaget melihat ke arahnya


“Tenangkan dirimu nind” tak sadar menggenggam tangannya


“Bagaimana mungkin aku bisa tenang jika Laura bersama laki-laki kurang ajar itu, seandainya aku tau aku sudah mematahkan tulangnya kemarin saat aku bertemu dengannya” kesalnya mengingat kejadian di supermarket


“Ternyata susu itu untuk Laura” batin Nindy


“Lalu bagaimana keadaannya, apa dia baik-baik saja?” berharap kabar baik


“Kau bertemu dengannya? Yaa dia baik-baik saja bersama bayinya”


“Syukurlah, ayo antar aku ke rumah laki-laki brengsek itu akan aku patahkan tulang-tulangnya dank u berikan pada buaya dikebun binatang” kesal


“Sudah ku bilang tenangkan dirimu, jangan gegabah. Kita tidak bisa sembarangan pergi kesana dan langsung membawa Laura pergi begitu saja karena penjagaan disana yang ketat. Kita perlu bantuan”


“Tentu saja dia akan berbuat seperti itu, ayo kita pergi antar aku sekarang juga”


“Mau kemana?”


“Tentu saja membuat rencana untuk menyelamatkan sahabatku dari laki-laki br*ngs*k itu”


Vian tersenyum kemudian mengikuti kemana langkah kaki Nindy pergi. Nindy pun menghubungi sahabatnya, kakaknya dan yang lainnya untuk berkumpul bahkan Davin tak tertinggal.


Mereka semua sepakat bertemu dan berkumpul bersama di rumah Laura. Karena itu satu-satunya tempat yang strategis bagi mereka untuk berkumpul. Disana ada Nindy, dokter Vian, Rya, Gery, Rey, Davin dan asistennya Billy.


RUMAH LAURA


“Nind kenapa kau mengumpulkan kita semua disini huh?” Rya yang bingung masih tidak mengerti ucapannya mendapat anggukan semua orang tentu saja tidak dengan Davin dan Billy


“Benar Nind, kenapa kau mengumpulkan kami semua? Apa kau punya kabar tentang Laura?” timpal Gery yang duduk di samping istrinya


“Aku sudah tidak sabar sayang” jawabnya pada sang suami


“Jika kau terus berbicara kapan kita bisa menceritakannya, tenanglah ry” ucap Nindy


“Baiklah” pasrah Rya


“Jadi beberapa hari yang lalu Vian datang ke..” terpotong


“Mulai lah bercerita Vian” mempersilahkan


“Jadi beberapa hari yang lain….” Dokter Vian pun menceritakan bagaimana dirinya bisa bertemu dengan Laura tanpa sengaja di sebuah pavilion mewah milik Dion


Semua orang langsung kaget dibuatnya mendengar pemilik pavilion itu adalah milik Dion. Karena setau mereka Dion menghilang tanpa ada kabar sejak mendengar kematian Laura.


“Aku sampai tidak percaya jika ini perbuatannya” ucap Rey tak percaya


“Percaya atau tidak, orang yang memang patut di curigai memang dirinya” jawab Nindy


Mereka pun saling beradu mulut satu sama lain mengucapkan apa yang sedang mereka pikirkan untuk membawa Laura pulang bersama mereka


“Kenapa anda diam saja sejak tadi Tuan Davin? Anda harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya” tanya Rya pada lelaki yang sejak tadi kedatangannya hanya diam dan menyimak setiap suara yang di dengarnya


“Kami juga sudah tau keberadaan nyonya Laura nona” jawab Billy yang sejak tadi ikut menyimak bersama tuannya


“Apa itu benar? Kenapa tidak memberitahu kami apa kau akan membawanya pergi diam-diam dari kami” ucap Nindy mengintrogasi


“Tidak mungkin nona jika tuan ingin melakukannya tidak mungkin Tuan Davin sedang duduk disini bersama kalian semua”


“Lalu kenapa tidak mengatakannya?” tanya Rya


“Bagaimana bisa aku mengatakannya jika kalian saja sedang berebut untuk berbicara, dan aku juga baru saja mendapatkan informasi dimana keberadaan Laura tadi pagi” jawab Davin dengan wajah datarnya


“Aku sudah menyiapkan semuanya kita hanya menunggu sebentar dan langsung pergi menjemputnya hari ini juga”


“Kerja bagus tuan, aku akan menjadi orang pertama yang merestuimu jika kalian menikah” ucap Nindy dengan tersenyum membuat semua orang menoleh ke arahnya


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode