
Suster telah mempersiapkan segala peralatan yang di butuhkan. Nafas Rya mulai tersenggal tak beraturan satu tangannya yang meremas bagian ranjang dan tangan yang lain berpegang pada tangan suaminya dengan sangat kencang.
“Saaakkiittt…” teriaknya
“Sust apa masih lama? Istri saya sudah kesakitan” kata Gery yang bertanya pada suster
“Tunggu sebentar ya tuan nyonya sampai bukaannya terbuka dengan sempurna, tadi sudah diperiksa sebentar lagi” jawabnya dengan senyum ramah
“Tapii ini sudah sakit sekali sust…” protes Rya
“Kamu yang sabar ya sayang, tunggu sebentar”
“Ini udah sakit banget yangg, malah di suruh sabar lagi” omelnya pada suami
Gery menjadi bingung tidak tau harus berbuat apa-apa hanya bisa pasrah melihat keadaan istrinya yang berjuang untuk melahirkan buah hati mereka
“Dok bukaannya sudah lengkap” kata seorang suster yang menhampiri dokter yang baru saja datang
“Mari nyonya, ikuti aba-aba saya ya” kata sang dokter yang sudah berdiri di hadapannya
“Ayo semangat sayang” kata Gery yang memberikan semangat pada istrinya
“Yak atur nafas lalu mengejan sekuat tenaga ya nyonya” ucap dokter yang memberi aba-aba
“AAaaaaakkkkhhhh” teriak Rya sekuat tenaga
“Yaa… sedikit lagi nyonya… Dorongg” ucap dokter
“HNGGGHHHH!!!”
“Oeeeekkkk…. Oooeeekkkkk… OOooeeekkkk..”
Setelah penantian yang cukup lama akhirnya pagi itu putri kecil mereka lahir ke dunia tanpa kekurangan sesuatu apapun. Sungguh rasa syukur mereka ucapkan
“Dimana putri kita yang? Aku belum memegangnya” ucap Rya
“Sabar ya sayang Putri kita harus segera masuk incubator” kata Gery
“Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi sayang?” ucap panik Rya
“Kamu tenang sayang jangan khawatir, anak kita baik-baik saja, besuk kalau kamu sudah baikan kita tengok ya” jelas suaminya
“Benarkah?”
“Iya, ini karena satu dan lain hal, lahir lebih cepat dan timbangannya belum cukup jadi harus menginap di incubator dulu” jelasnya lagi
“Yang terpenting sekarang kamu sudah berjuang sayang, aku bangga padamu sayang. Cepat pulih ya sayang” kata Gery yang kemudian mengecup kening istrinya
“Iya sayang” jawabnya
***
Selamat datang ke dunia AULIA GITA PRATAMA putri pertama dari Gery Firman Pratama dan Lusy Kent Ryana. Rasa bahagia kini menyelimuti keluarga kecil mereka setiap hari fokus pada si kecil Gita.
“Lucunya keponakan aunty ini yang cantik, duh gemesnya” ucap Nindy pada keponakannya dan gemas menguyel-uyel pipinya
“Jangan di gituin dong aunty kan pipinya sakit” protes Rya yang baru menghampiri
“Mamah kamu pelit sayang, kalau udah gede jangan kayak mamah ya” katanya pada bayi yang tersenyum padanya
“Kalau nggak kayak mamahnya kayak siapa lagi kan anak mamahnya” jawabnya
“Kayak aunty yang cantik ini dong, baik hati dan tidak sombong. Iya kan Gita sayang” lagi-lagi Gita hanya tersenyum mendengar celoteh auntynya
“Udah cuci tangan belum tuh main pegang-pegang aja” sergap Rya pada sahabatnya yang sudah menjadi sodara iparnya
“Udah dong, biar keponakan aunty terhindar dari kuman jahat kan sayang” Nindy terus menjawab dengan wajah yang mengarah pada keponakannya yang gemas
“Kok baru keliatan kemarin-kemarin kemana?” tanya
“Lagi sibuk nih sama-sama tugas kuliah. Oh kayaknya gue bakal pindah deh cari apartement yang deket sama kampus. Kalau dari sini kejauhan banget”
“Alasan deh, terus mau tinggal dimana? Udah punya tempat baru?” tanyanya beruntum
“Nanya tuh satu-satu dong” jawabnya
“Gue mau tinggal di rumah yang dulu kita tinggalin bareng-bareng bertiga sama Laura” imbuh ucapnya dengan memaksakan senyumnya yang terlihat
“Yakin mau tinggal disana?” tanyanya lagi
“Iya sekalian biar aku bisa menjaga rumah itu dan merawatnya. Aku nggak mau kenangan kita hilang begitu saja dan terlupakan” jelasnya
“Baiklah, apapun keputusanmu aku pasti mendukungmu dan jika kamu memerlukan bantuan jangan lupa tetap hubungi aku. Ingat aku ini kakak iparmu” ucap Rya memeluk sahabatnya
“Itu pasti. Terimakasih kakak ipar” jawabnya dengan senyum yang mengembang
***
“Cekleeekkk…” suara pintu kamar terbuka
“Sayang…” panggil Davin pada istrinya
“Mas Davin udah pulang?” jawab Lyra pada suaminya yang berjalan menghampirinya
“Maaf mas aku… aku..” jawabnya terbata-bata
“Tidak perlu minta maaf, jika ini yang membuatmu merasa lebih nyaman panggillah sesuka hatimu sayang” ucap Davin
“Makasih ya mas” ucap senang Lyra yang reflek memeluk tubuh suaminya
“Sama-sama sayang” ucap lembut Davin
“Aku mau mandi dulu sayang” ucap davin yang melepas pelukannya
“Baiklah,” jawabnya dengan senyum
“Kenapa kamu cantik sekali sih sayang hmm” ucap yang kembali memeluk istrinya yang sudah berdiri dan akan keluar dari kamar
“Memang kemaren aku nggak cantik ya?” sahutnya mendongakkan kepalanya melihat ke arah suaminya
“Kemarin cantik, tapi sekarang lebih cantik lagi” ucapnya dengan mencium kening Lyra
“Mandilah mas ini sudah malam lho aku siapkan airnya ya” ucapnya
“Baiklah” cup sekali lagi Davin mencium kening istrinya dan melepaskan pelukannya
Setelah menyiapkan airnya Davin langsung merendamkan tubuhnya ke dalam air hangat.
“Mas jangan terlalu lama berendam, aku punya sesuatu untukmu” teriak Lyra dari luar pintu kamar mandinya
“Iya sayang” jawab Davin dari dalam
“Tambah cantik dan sepertinya akan ada kejutan untukku” gumam Davin di sela berendam
“Sayang.. kamu dimana?” pangiilnya yang menuruni tangga setelah selesai mandi
“Mas kemarilah ayo ikut aku” ajak Lyra yang menggandeng suaminya yang setelah habis menuruni anak tangga. Davin hanya bisa menuruti kemauan istrinya
“Kenapa kita ke dapur? Apa kamu belum makan sayang?” tanyanya tanpa mendapat jawaban dari istrinya
“Duduklah” pintanya. Kemudian Davin duduk di salah satu kursi di meja makan namun dirinya bingung tidak ada satu makanan pun yang tersedia di atas meja.
Di lihatnya Lyra yang mengeluarkan sebuah kotak dari kulkasnya yang begitu mewah berwarna silver.
“Mas mau kan makan atau mencicipinya juga boleh” ucapnya dengan memberikan sebuah kotak dan membuka tutupnya yang berisikan brownies lumer
“Apa ini sayang? Kau membelinya?” tanya Davin bingung
“Tidak, aku tidak membelinya tapi aku membuatnya” jawabnya
“Membuat?” masih bertanya dan memandang sekotak browniesnya
“Iya aku membuatnya sendiri dengan tanganku mas” jawabnya dengan tatapan heran kenapa dia tak mempercayainya
“Baiklah aku akan mencobanya” setelah mengucapkan kata itu Davin langsung menyuapkan sesendok brownies itu ke dalam mulutnya
“Bagaimana? Apa enak?” tanyanya. Dengan raut wajah yang tanpa ekspresi Davin merasakannya membuat Lyra penasaran
“INI ENAK” jawabnya dengan senyum sumringah
“Yes” jawabnya senang tersenyum lebar
“Apa pelayan yang mengajarimu sayang?” tanyanya yang masih menyuap ke mulutnya
“Tidak aku membuatnya sendiri tanpa bantuan siapapun. Hanya Meira yang menemaniku di dapur dan dia hanya menonton” jawabnya
Mendengar jawaban istrinya Davin langsung kaget dan tersedak
“Uhuukkk… uuhhuukk”
“Ada apa ? minumlah” Lyra memberikan segelas air
“Tidak apa-apa” jawabnya
“Kamu kaget seperti Meira mas. Apa ada yang salah denganku jika aku memasak di dapur” ucapnya dengan suara yang pelan
“Tidak sayang, tidak ada yang salah. Hanya ini menjadi kejutan pertama kalinya kamu membuat ini untuk” jawabnya
“Apa aku dulu tidak pernah memasak untukmu mas?” tanyanya dan Davin hanya menggelengkan kepalanya.
Lyra menjadi merasa bersalah saat mengetahui bahwa dirinya tidak pernah memasak untuk suaminya
“Tidak apa-apa. Kan ada pelayan yang menyiapkannya
“Seburuk itu kah aku menjadi istrimu mas?” tanyanya memberanikan diri menatap suaminya
“Tidak ada yang buruk dari dirimu sayang. Kita menikah karena kita saling mencintai dan berjanji untuk selalu bersama baik suka maupun duka bukan untuk menjadikanmu sebagai pembantuku” jelas Davin dengan tangan yang mengusap pipi Lyra yang terdiam
“Terimakasih mas sudah menjadi suami yang baik, maukah kamu menceritakan aku yang dulu seperti apa sebelum kecelakaan itu terjadi dan maaf aku sudah melupakanmu”
“Tentu. Aku akan menceritakannya" ucap Davin
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode