LAURA

LAURA
Episode 65



“Hentikan sikapmu yang seperti anak kecil itu ra, apa kau tidak malu pada Aulia yang tidak pernah merengek sepertimu” kata Nindy dengan kesal


“Apa kau mau menyalahkanku? Bahkan ini bukan keinginanku” jawabnya dengan muka lesu melemah membuat sahabatnya menjadi serba salah


“Bukan itu maksudku. Kau bisa meminta semuanya yang kau mau tanpa merengek seperti itu kita pasti akan memberikannya padamu”


“Maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi”


“Dia terlihat lebih manja daripada aku dulu saat hamil, bahkan lebih parah” kata Rya


“Ini donat gula yang kau minta ra” kata Rey yang baru saja datang membawa sepiring besar dengan tumpukan donat gula putih


“Dan ini ice crean untuk Aulia” menyerahkan ice cream


“Terimkasih uncle” kata gadis kecil itu gembira mendapat semangkuk ice cream


“Aku juga mau itu Rey” tunjuknya pada ice cream yang di berikan pada Aulia yang sambil menarik piring donat putih mengarah padanya sendiri membuat orang di sekelilingnya heran


“Baiklah aku akan mengambilkannya untukmu tunggu sebentar” pergi dengan menggelengkan kepala


“Untung kau sudah ku anggap seperti adikku sendiri” batinnya


Rey datang kembali dengan semangkuh ice cream di tangannya lalu duduk bersama mereka


“Oh ya apa yang kalian mau? Aku sampai lupa menawarkannya pada kalian” setelah menyadari tak ada apapun di meja hadapan Nindy dan Rya karena sibuk dengan keinginan satu orang hamil


“Aku akan memesanya nanti pada pelayanmu Rey” kata Rya


“Baiklah”


“Aku jadi kenyang hanya melihatnya makan seperti itu” ucap Rya yang masih menatap Laura


“Sepertinya aku juga” imbuh Nindy


Setelah akhirnya Laura menghentikan aktivitas makannya karena perutnya sudah terisi dengan 8 potong donat dan hanya tersisa 2 potong di piring itu dan tidak luput juga semangku ice cream di hadapannya habis tak tersisa kecuali sendok dan mangkoknya


“Aku kenyang sekali” katanya dengan santai seperti tak terjadi apapun


“Perutku..” meraba perutnya pelan-pelan


“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” merasa heran dengan dua sahabatnya dna Rey yang melihat ke arahnya


“Sekarang kau sudah kenyang bukan? Apa kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku ra?”


“Ahh itu.. Baiklah aku akan menjelaskan padamu jangan marah seperti itu padaku” membenarkan duduknya agar lebih nyaman


“Astaga apa aku terlihat seperti sedang memarahi anak kecil” batinnya


“Kau harus bersabar dengannya Rey” bisik Nindy


“Berapa usia kandunganmu ra? dan kenapa tidak langsung memberitahuku saat kau sudah kembali”


“Emmm sudah jalan empat bulan. Maaf aku lupa” jawabnya enteng


“Lupa?” tegasnya


“Laura?” panggilnya terdengar dari suara dua laki-laki yang di kenalnya


“Apa maksudnya ini Rey??” kata Rizal yang baru saja datang


“Benarkan dia Laura?” tanya Arga


“Duduklah dia baru saja akan menjelaskannya” jawab Rey


Laura menjelaskan


“Jadi selama ini kau menghilang dan amnesia?” tanya Rizal


Laura hanya menjawabnya dengan mengangguk seperti enggan berbicara dengan Rizal


“Ra lebih baik kau memberitahunya dan merawatnya bersama bukankan itu lebih baik daripada merawatnya sendirian” kata Rey memberi nasihat


“Kata itu tidak akan mempan padanya yang keras kepala, kami sampai kami capek menasihatinya” kata Nindy


“Capek? Kau benar badanku terasa sangat lelah ayo kita pulang sekarang” ajaknya


“Lihatkan Rey dia sungguh seperti anak kecil” kesal Nindy


“Ya sudah lebih baik kalian segera pulang sebelum terlalu malam, kita lanjutkan besuk kasihan juga Aulia sudah capek sampe tertidur seperti itu” melihat ke arah aulia yang tertidur di samping ibunya


“Tidak ada yang perlu di bahas lagi Rey” protes Laura


“Tidak, kali ini tidak akan aku biarkan itu terjadi bagaimana pun aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri”


“Terserah” membuang muka


“Ya sudah kami pulang dulu Rey” pamit Rya


“Baiklah aku akan menyuruh orang untuk mengantarnya besuk pagi” Laura membalasnya dengan senyum lalu berjalan pergi


“Apa kalian akan pulang sendiri apa perlu aku mengantar kalian?” Rizal menawarkan diri


“Terimakasih atas tawaranmu. Kami bisa pulang sendiri” kata Nindy sambil berdiri


“Kami pulang dulu” pamitnya


“Hati-hati di jalan” ucap Rey sebelum mereka menghilang dari pandangannya


“Aku benar-benar tidak menyangka jika Laura masih hidup dan yang bikin kaget dia justru kembali dengan keadaan hamil” kata Arga


“Sama ga semua orang juga akan berfikir seperti itu” kata Rey


***


Esok harinya


“Ahh Nindy sudah berangkat kerja, aku jadi sendirian di rumah. Aku ingin melakukan sesuatu” gumam Laura


Ting tong… suara bel di rumah berbunyi


“Siapa yang bertamu sepagi ini” gumam Laura berjalan ke arah pintu


Ting tong… suara belnya terdengar kembali


“Yaa.. tunggu sebentar” teriaknya di balik pintu


“Rizal” tampak orang ini berdiri di balik pintu


“Hay selamat pagi” ucapnya menyapa


“Ada apa pagi-pagi datang kemari? Darimana kau tau rumahku” tanyanya malas


“Ini aku mengantar donat yang kau mau kemarin itu yang membuatku mengetahui rumahmu” menyerahkan sekantong paperbag yang berisi donat gula


“Aku tiba-tiba jadi tidak ingin memakannya lagi” batinnya tapi tetap menerima bungkusan itu


“Kenapa kau yang mengatarnya bukan Rey atau pegawainya?”


“Mereka sedang sibuk jadi aku yang mengantarnya tadi kebetulan aku mampir kesana dan melihat mereka sedang sibuk lalu aku menawarkan diri untuk mengantarkannya”


“Baiklah terimakasih sudah mengantarnya” ingin menutup pintu tapi Rizal menahannya


“Tunggu ra, ada yang ingin aku bicarakan padamu” Laura terlihat kesal


“Ada apa?” membuka setengah pintunya


“Apa aku boleh masuk sebentar?”


“Menyebalkan sekali padahal aku tidak ingin melihatnya” batin Laura


“Masuklah” mempersilahkan


“Terimkasih”


“Dimana Nindy?” duduk


“Dia sudah pergi kerja. Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” duduk di dapannya


“Kau tidak sabaran?” senyum


“Jangan terlalu lama basa-basinya aku tidak punya banyak waktu


“Baiklah. Apa kau baik-baik saja?”


“Aneh, tentu saja aku baik-baik saja kau bisa melihatnya sendiri bukan” jawabnya dengan senyum kecut


“Apa kau tidak apa-apa membesarkan anakmu sendirian nanti?” dengan wajah yang serius


“Apa maksudmu? Kau meremehkan aku” ketusnya tidak suka


“bukan maksudku untuk meremehkanmu atau tidak percaya tapi jika kau tidak ingin memberitahu ayahnya maka aku siap menjadi ayahnya untuk merawat dan membesarkannya bersamamu”


Laura tak bersuara hanya menatapnya tajam tak percaya dengan apa yang di dengarnya baru saja.


“Aku ingin menjadi ayah dari anakmu ra, aku ingin menikah denganmu aku masih mencintaimu. Mari kita membesarkannya bersama jika kau tidak ingin memberitahu laki-laki itu”


“APA?” kaget dengan mata yang terbelalak ingin keluar


“Apa aku tidak salah dengar? Atau aku sedang bermimpi” kata Laura dengan wajah kesalnya


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode