
“Akhirnya pekerjaanku selesai” ucap Nindy dengan melebarkan tangannya yang sudah pegal sejak tadi
“Kerjamu sangat bagus Nona. Client kita sangat puas dan menyukainya” terdengar suara laki-laki yang satu ruangan dengannya
“Ini juga berkat kerja kerasmu” jawab Nindy dengan wajah senyumnya
“Apa anda mau jalan-jalan nona sebelum anda kembali untuk menikmati Pulau Bali yang indah ini?” ucapnya lagi
“Dengan senang hati aku menerimanya Tuan Rifky” jawabnya dengan nada yang cukup di tekan
“Berhentilah memanggilku seperti itu, aku sungguh muak mendengarnya” ucapnya kesal
“Hahaha baiklah Nona aku tidak akan memanggilmu seperti itu lagi. Cukup Nindy” ledeknya
“Itu lebih enak di dengar. Tempat mana yang kau rekomendasikan untukku kali ini?” tanyanya
“Ada sebuah café yang bagus di sini kau pasti menyukainya, ada cake yang baru mereka keluarkan beberapa waktu lalu dan kau wajib mencobanya” jelasnya
“Baiklah aku akan mengikuti saranmu” jawabnya dengan senyum
“Ayo aku antar pulang ke hotelmu dan akan aku jemput jam 7 malam nanti bersiaplah” kata Rifky
“Oke”
LOUISE CAFÉ
Suasana café yang tenang, lampu yang redup-redup memancar dan kursi yanh terisi penuh dengan orang-orang disana. Sepasang manusia berjalan melewati hingga ujung tempat yang kosong.
“Ayo duduk” Rifky mempersilahkan Nindy duduk dengan menarik sedikit kursi untuk wanita yang sedang bersamanya
“Terimakasih” balasnya denagn senyum
“Selamat malam, apa anda ingin memesan sekarang?” ucap salah satu pelayan yang menghampiri mereka dan memberikan daftar menunya
“Tentu, Apa yang mau kau pesan Nind?”
“Emm.. apa saja yang menjadi pilihanmu atau favorite disini” jawabnya
“Baiklah” Rifky pun memesan pada pelayan.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?”
“Kau cantik malam ini” ucap Rifky yang menatapnya
“Terimakasih atas pujian anda aku tau itu, jangan bilang kau naksir padaku ya” jawabnya dengan senyum tertawa
“Kau menjadi besar kepala hah dan aku tidak akan naskir padamu gadis galak sepertimu” tawanya
“Lihat saja suatu hari nanti kau pasti akan mengejarku” balasnya
“Tidak akan” jawab Rifky
Mereka terus bercanda hingga beberapa saat menunggu pelayan itu kembali mengantar pesanan mereka
“Cobalah, ini sangat enak dan banyak yang menyukainya. Cake ini tidak terlalu manis kamu pastinya menyukainya” kata Rifky setelah cake itu berada di depan mereka
“Kau tau? Cake ini di buat sendiri oleh pemilik café ini dengan tangannya”
Nindy memandanginya dengan serius bentuk, ukuran dan warnanya sungguh menarik perhatiannya. Langsung di cobanya cake itu sejenak Nindy kaget dengan rasanya mengingatkan pada seseorang. Pikirannya kembali ke masa lalu ketika dirinya menikmati cake yang serupa dengan yang dimakannya sekarang dang mengingatkan siapa yang membuatnya
“Nindy…” panggil Rifky yang melihatnya melamun menatap cake itu
“Iya, ada Rifky?” tanya kaget yang membuyarkan lamunannya
“Apa seenak itu sampai kau terdiam seperti itu hah?”
“Iya cake ini sungguh enak, bahkan snagat mirip” jawabnya
“Mirip? Apa maksudmu?” tanya Rifky bingung
“Cake ini sangat mirip dengan yang di buat sahabatku dan membuatku merindukannya” jawabnya dengan suara sedkit pelan
“Ohh, aku kira apa jika kau merindukannya kau bisa langsung menghampirinya bukan setelah kau pulang dari sini” jawabnya yang tidak tau apa-apa
“Seandainya itu bisa ku lakukan untuk mengobati rinduku padanya, tapi itu tidak mungkin karena kita sudah tinggal di alam yang berbeda” jawabnya tertunduk dengan air mata yang di tahannya untuk keluar
“Maafkan aku Nindy aku tidak tau jika sahabatmu sudah tiada” balasnya
“Tidak apa-apa, aku mengertinya. Apa benar cake ini di buat oleh pemilik café ini sendiri?” tanyanya untuk mengembalikan suasana
“Ya aku dengar seperti itu, ini di buat oleh istri pemilik café”
“Seorang istri?” tanya Nindy dengan memasukan cake ke dalam mulutnya
“Aku jadi penasaran ingin bertemu dengannya” gumamnya pelan
“Mungkin bisa, coba tanyakan pada pelayan katanya dia sangat baik dan ramah”
“Permisi, saya ingin bertanya apakah saya bisa bertemu dengan pemilik café ini, mmm maksudku yang membuat cake yang sungguh enak ini” tanya Rifky pada pelayan yang akan melewatinya
“Maaf sepertinya anda terlambat, saya lihat baru saja beliau keluar sepertinya akan pulang” jawab pelayan itu
“Benarkah?” tanya Nindy
“Iya nona mungkin masih di parkiran jika anda mengejarnya sekarang…” kata pelayan itu terdengar belum selesai
Dengan cepat Nindy bangun dari duduknya dan berlari keluar menuju parkiran. Dilihatnya sekeliling namun tak ada orang di sana.
“Mungkin aku terlalu berharap jika itu kamu masih hidup ra” batin Nindy. Sesaat membalikkan tubuhnya ada mobil yang berjalan tepat di hadapannya dan hampir menabraknya. Rifky yang melihatnya segera menariknya untuk menghindar.
Nindy terlihat sangat kaget, bukan karena hampir tertabrak mobil tapi kaget karena melihat orang yang di lihatnya dalam mobil tadi.
“Laura?’ ucapnya reflek
“Nindy, apa kamu tidak apa-apa? Apa yang ada yang terluka?” tanya Rifky
“Apa aku tidak salah melihatnya, benarkah itu Laura?” ucap batinnya kaget dan bingung
“Aku tidak apa-apa, bisakah kau mencubitku?” pertanyaan yang membuat Rifky tambah kebingungan dan mencoba mencubit pipi Nindy cukup keras agar dia bisa merasakan sakitnya
“Auuww… sakit.. berarti ini bukan mimpi?” ucapnya lagi merasakan sakitnya
“Tentu saja bukan, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apa kau gila karena hampir tertabrak mobil tadi?”
“Jaga ucapanmu, aku masih waras” jawabnya
“Ayo masuk ke dalam, untung saja aku mengikutimu jika tidak kau pasti celaka” ajaknya
“Biarkan aku berharap untuk terakhir kalinya” batin Nindy
“Jam berapa pesawatku akan terbang besuk?’
“Jam 2 siang, ada apa ? aku akan mengantarmu ke Bandara”
“Tidak ada, aku hanya bertanya”
“Baiklah”
“Aku harus kembali kesini besuk untuk memastikannya sendiri” batin Nindy
Keesokan harinya
Sudah 3 jam Nindy berada di Louise Café, melihat ke arah pintu melihat semua orang yang keluar masuk dari sana dan berharap sesosok orang yang ditunggunya datang. Nindy resah menunggunya membolak balikkan tangannya melihat ke arah jam yang ada di tangannya/
“Kenapa kau tidak datang? Aku sudah menunggumu lama disini. Jika itu benar dirimu datanglah sekali” batin Nindy
“Maaf, saya mau bertanya apa pemilik café ini sudah datang?” tanya Nindy pada pelayan
“Belum nona” jawab pelayan itu
“Jam berapa dia akan datang?” tanyanya lagi
“Saya tidak tau, biasanya jika pagi hari tuan dan nyonya tidak datang maka mereka sedang dalam perjalanan bisnis” jelasnya
“Baiklah terimakasih”
“Permisi nona” pamit pelayan itu pergi
Krrriiinnggg….
“Hallo Rifky?”
“Nindy, kamu dimana hah? Kamarmu kosong tapi kopermu ada disini. Sudah waktunya kita berangkat ke bandara” omel Rifky disebrang sana
“Kau benar, sepertinya aku akan langsung ke Bandara dari sini, bisakah kau membawakan koperku tidak akan cukup waktunya untukku pulang ke hotel”
“Kau dimana sih? Baiklah, aku akan membawanya. Berhati-hatilah di jalan”
“Iya. Terimakasih” ucap Nindy sebelum mematikan telfonnya
“Mungkin kemarin hanya halusinasiku saja” batin Nindy yang kemudian beranjak pergi dari tempat duduknya untuk pergi ke bandara.
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode