
“Selamat datang tuan” ucap semua pelayan yang melihat tuannya baru saja datang memasuki rumah mewah itu
“Apa yang dilakukannya hari ini?” tanya Dion pada salah satu pelayannya
“Nyonya sejak tadi hanya melamun berdiam diri di kamar tuan” jawabnya dengan tetap menundukkan kepalanya
“Tapi…” terpotong
“Tapi apa ?” berhasil menarik perhatian Dion
“Tapi nyonya belum makan sejak pagi hingga sekarang tuan” berbicara ketakutan
“APA?” berteriak
PLLAAAKKK.. Dion menampar pelayan itu hingga membuatnya terjatuh. Rasa sakit pada pipinya langsung muncul
“Maaf tuan, saya sudah mengantar sarapan nyonya tadi pagi tapi nyonya malah membuang dan memecahkannya lalu saya segera menggantinya dengan yang baru hingga siang ini saya mengantar makan siang dan saya melihat sarapannya tidak tersentuh sedikit pun dari tempatnya tuan. Saya tidak berani memaksanya tuan. Maafkan saya” jelasnya dengan suara ketakutan
“Kau seharusnya memaksanya untuk makan apa kau buta hah tidak melihat jika dia sedang hamil besar?” marahnya
Dion terus berlalu pergi menuju kamar yang kini memiliki penghuni baru orang yang baru saja di bicarakannya dengan pelayannya
Cekleekkk… pintu terbuka membuat Laura hanya sekilas melirik memastikan siapa yang datang karena terdengar sedikir suara samar-samar orang yang sedang marah dan pastilah dia yang datang pikir Laura
“Kenapa kau tidak makan? Apa kau tidak lapar” tanya Dion yang langsung saja duduk di sebelah Laura di atas ranjang. Laura diam tidak menjawab
“Apa kau tidak kasihan pada anakmu? Dia butuh makan dari ibunya” ucapnya lagi masih tidak memiliki jawaban
“Ayo sekarang makan, buka mulutmu” paksa Dion kini tangannya sudah memegang sendok yang berisi mengarah pada mulut wanita yang sejak tadi diam membisu
“Ra.. makanlah ini setidaknya demi anakmu” rayunya namun malah mendapat respon yang tak terduga dari lawan bicaranya
Prrraaannkkk… lagi lagi Laura menyenggolnya dengan segaja sehingga semua makanan tersebar di lantai bahkan mengenai bajunya. Membuat pria di hadapannya naik darah dengan tatapan tajam dan tangan yang akan melayang ke arahnya
“Kau mau memukulku? Ayo pukul aku, bunuh aku sekalian” tantang Laura
Bahkan Laura berusaha mengarahkan tangan Dion yang siap memukulnya mengarah padanya tapi Dion menahannya agar tidak melukainya. Laura kembali menangis
“Ayo pukul aku, kenapa diam saja huh”
Dion pergi keluar kamar meninggalkannya sendirian
“Kalian bersihkan makanannya dan ganti yang baru, letakkan di atas meja” ucap Dion dingin pada pelayannya dan kembali ke kamarnya
***
“Sayang maafkan mommy ya”
“Mommy belum bisa membawamu pergi dari sini, tapi mommy janji kita akan segera keluar dari sini kamu harus bersabar ya sayang” ucap Lyra dalam hatinnya dengan mengusap lembut perutnya berusaha menghentikan tangisnya
***
Hari-hari pun terus berlalu semenjak hilangnya Laura. Semua orang terus berupaya melakukan yang terbaik untuk bisa menemukannya.
“Nind berhentilah mondar mandir seperti setrika aku pusing melihatmu setiap hari seperti itu” masih tidak menghiraukan suara lain
Sudah cukup lama Rya memperhatikan sahabatnya yang mondar mandir di hadapannya
“Ayo duduk nind, kakak bawakan kopi kesukaanmu nih” ucap Gery yang baru saja datang membawa beberapa kopi di tangannya. Nindy pun duduk dan mengambil kopinya
“Sayang kok kopinya lebih satu? Kamu dapat bonus?” tanya istrinya
“Nggak kok, itu punya Surya dia ada di depan sedang terima telfon” jawabnya. Membuat Nindy menghentikan aktivitas minumnya
“Hallo Selamat malam semua” sapa Surya yang baru saja masuk
“Hay kak, lama nggak kesini” tanya Rya
“Iya nih lagi banyak kerjaan, tadi juga nggak sengaja ketemu Gery di luar terus sekalian mampir kesini” jelasnya dengan mata yang melirik lirik ke arah wanita yang tak bersuara karena sedang menikmati kopinya
“Lhooo nind kok malah ke kamar sih, kan Surya baru datang temenin dulu dong”
“Kakak aja yang temenin” ucapnya dengan terus berjalan tanpa menoleh
“Tidak apa-apa biarkan saja mungkin dia lelah dan pasti banyak pikiran karena Laura menghilang” kata Surya memaklumi
“Iya Kak Surya benar, dari tadi dia mondar mandir nggak jelas”
Gery, Rya dan Surya pun berbincang-bincang di ruang tengah membicarakan hal yang tidak serius hingga yang serius. Lalu tiba-tiba Nindy datang dengan berteriak-teriak membuat semuanya kaget.
“KAK GERYYY…” panggilnya dengan berlari
“Ada apa nind? Jangan berlari seperti itu” ucapnya dengan memperhatikan langkah kaki adiknya yang cukup sembrono
“KAK Ger…” ucapnya dengan nafas yang menggebu karena lari datang menghampiri kakaknya dan duduk disebelahnya
“Ada apa sih nind?” tanya Rya penasaran tapi malah di abaikan
“Kak tolong pesenin aku tiket ke Bali sekarang juga, cari penerbang yang lebih awal besuk”
“Apa?” kenapa tiba-tiba mau ke Bali?” Gery masih heran dengan keinginan adiknya ini
“Loe mau liburan nind?” tanya Rya lagi
“Nggak lah, kak tolong ya pesenin tiketnya sekarang”
“Iya kakak akan pesen tiket buat kamu tapi untuk apa kamu pergi kesana nind? Kamu ada kerjaan lagi disana atau mau liburan kesana?” Gery menatap serius adiknya
“Nggak keduanya aku kesana mau mencari seseorang” jawabnya
“Siapa?” tanya Surya membuka suara karena sejak tadi hanya diam memperhatikan
“Kak aku mau mencari DAVIN KYO GUNAWAN”
“Davin siapa nind?” gery masih belum mengerti
“Davin yang selama ini di ceritakan Laura kak yang mengira Laura adalah istrinya. Bukankah Laura pergi dari Davin tanpa memberitahunya dan menghilang begitu saja. Bisa jadi Davin menemukan Laura dan membawanya kembali kesana kan?” jelasnya kini membuat semuanya mengerti
“Ahh, kau benar itu bisa terjadi kenapa tidak terpikirkan kemarin-kemarin ya” ucap Rya
“Apa kau tau dimana tempat tinggalnya?”
“Tidak tapi aku tau salah satu café miliknya dan bisa mencari informasi dari sana”
“Lalu kau akan pergi dengan siapa?”
“Aku akan pergi sendiri” jawabnya cepat
“Tidak” tolak Gery kemudian pandangannya mengarah pada Surya. Nindy tau pasti kakaknya akan meminta tolong padanya untuk menemaninya pergi. Seketika membuat raut wajahnya berubah
“Maaf aku tidak bisa menemanimu juga nind aku ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan” jawab Surya yang mendapat pandangan semua orang
“Baguslah” sahut Nindy pelan tapi masih bisa di dengar
“Aku akan menemaninya sayang jangan khawatir” Rya mengusulkan dirinya
“Hah apalagi kamu, kalian berdua itu tidak bisa di andalkan. Tapi daripada Nindy pergi sendiri kesana lebih baik kamu temani dia” jawab suaminya pasrah karena permintaan dua wanita yang tak bisa di tolaknya
“Terimkasih sayang” ucapnya gembira
“Tenang kak, aku juga punya patner disana kok. Aku bakal minta tolong sama dia juga”
“Baiklah kakak akan segera memesankan tiket untuk kalian. Tapi ingat jangan lakukan hal-hal macam-macam jika ada sesuatu yang mencurigakan cepat telfon kakak atau polisi disana” titahnya
“SIAP BOS” jawab mereka berdua bersamaan
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode