LAURA

LAURA
Episode 53



Setelah semua pekerjaan Davin selesai dia segera mencari dimana istrinya. Dilihatnya seluruh sudut kursi dan meja tidak di temukannya sesosok yang di carinya. “Kemana dia?” pikirnya


“Billy, dimana Lyra?” tanya Davin pada asistennya


Billy segera memutar seluruh pandangannya karena dia juga tidak tau kemana keberadaan istri tuannya yang sejak tadi bersamanya di ruang kerja. Mata Billy langsung melotot melihat apa yang di carinya ketemu.


“Tu.. tuan… itu nyonya ada di sana?” ucapnya dengan jari yang menunjuk ke sebuah arah pada seorang perempuan


“Dimana?” Davin langsung mengarahkan matanya pada arah tujuan tangan Billy


“Apa yang dia lakukan disana??” ucap Davin yang melihat istrinya berada di salah satu kasir dengan pelanggannya. Davin sungguh heran


“Benarkan itu nyonya Lyra sedang melayani pelanggan” ucap spontan Billy yang juga tak kalah herannya


Lyra yang melihat Davin langsung menyelesaikan pekerjaanya pada pelanggan terakhirnya. Segera Lyra membuat dua minuman untuknya dan Davin dan menghampirinya dengan senyum manis


“Apa pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Lyra yang kini sudah berada di depannya


“Sudah, apa yang kamu lakukan?” tanyanya


“Aku membuatkanmu minum, apa kau mau mas?” menyerahkan coffe vanilla latte yang ada di tangannya


Davin menerimanya dan menarik tangannya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya


“Ada apa sih mas? Kenapa menarikku?” Davin melepaskan tangannya setelah mereka ada di dalam


“Apa yang kamu lakukan? Sudah berapa lama?” tanyanya lagi


“Melakukan apa?” jawabnya


“Lihatlah” menunjuk tubuh Lyra yang masih mengenakan apron milik karyawannya


“Oh iya aku membantu mereka melayani pelanggan kita yang begitu ramai karena dua orang sedang tidak ada di tempat karena sakit dan mengantarnya ke rumah sakit dan belum kembali. Apa sudah jelas?” Davin kaget mendengarnya


“Kenapa mau melakukan ini?”


“Apa aku salah membantu mereka?” jawabnya


“Tidak, lupakan saja” Davin memalingkan wajahnya


“Kenapa wipping cream ini sangat enak” ucapnya pada diri sendiri yang sedang menikmati minumnya penuh dengan wipping cream, spontan Davin menoleh dan melihatnya


“Kau menyukainya sayang?”


“Ya aku suka sekali, Aku jadi ingin membuat cake yang penuh dengan wipping cream ini” ucapnya tanpa memperhatikan Davin di sebelahnya.


Davin di buatnya semakin tak percaya dengan tingkahnya “Kenapa semakin jelas mereka terasa berbeda” batinnya. Semenjak saat itu Lyra suka pergi ke café dan membantu untuk melayani para pelanggannya. Davin pun tak bisa melarangnya


***


Sore hari duduk di sebuah kursi taman yang indah dengan udara yang sejuk. Sedikit terlihat orang yang lewat. Waktu yang cocok untuk di nikmati seperti yang dilakukan Nindy saat ini.


“Nindy” terdengar suara lembut memanggilnya, suara perempuan. Nindy pun menoleh ke segala arah namun tak ada orang disana


“Nindy..” Panggilnya lagi


“Siapa itu?” Teriaknya dengan kepala yang masih mencari sumber suara


“Nindy….” Panggilnya lagi


“Hey siapa kau yang memanggilku” teriaknya lagi. Nindy berjalan mencari sumber suara


“Nindy….” Suara itu terus memanggilnya. Semakin Nindy berjalan suara itu semakin terdengar jelas hingga ia melihat seseorang yang berdiri membelakanginya dengan gaun putih dan rambut panjang tergerai


“Siapa kamu? Apa kau yang memanggilku? Bagaimana kau tau namaku?” serentet pertanyaan langsung di lontarkan


“Nindy” panggilnya lagi. Terlihat perempuan itu memutar badannya mengarah padanya


“LAURA?? Apa itu kamu?” ucap Nindy kaget.


Namun perempuan itu hanya tersenyum dalam diamnya


“Ra itu kamu kan?” ucapnya masih berdiri pada tempatnya


“Maaf sudah membuat kalian sedih. Aku sayang kalian” ucapnya tersenyum tipis dan membalikkan badannya kembali dan mulai berjalan menjauh


“Ra kamu mau kemana? Ra jangan pergi raa..” ucap Nindy berjalan menghampirinya


“Sampai jumpa lagi” terakhir kata yang Nindy dengar dari senyum manisnya


“Astaga, ternyata hanya mimpi tapi kenapa terlihat nyata sekali” ucap Nindy bingung


“Sudahlah itu kan hanya mimpi mungkin aku terlalu merindukannya. Dan akhirnya aku pindah juga ke rumah ini, rumah yang penuh banyak kenangan indah. Seandainya kau masih hidup ra” ucap Nindy yang sudah duduk bersandar pada ujung ranjang


“Udah Nin itu cuma mimpi, mending sekarang mandi dan lanjut beresin barang-barang” ucapnya pada diri sendiri


Beberapa bulan berlalu


“Nind kamu mau kemana? Kok baju-baju dimasukin ke koper gitu” tanya seseorang yang baru saja masuk dalam kamarnya


“Oh Ry aku mau ke Bali” jawabnya tanpa menoleh yang masih fokus pada tangannya yang memasukan seluruh baju-bajunya


“Ngapain ke Bali? Nggak ngajak nih?” tanyanya lagi


“Ada pekerjaan yang sudah menungguku disana bukan liburan” jelasnya


“Baiklah, kau harus membawakan oleh-oleh yang sangat banyak untukku” ucapnya dengan senyum


“Semoga aku tidak lupa membawanya kakak ipar” ucapnya dengan tertawa


“Awas jika kau sampai melupakannya” ancamnya


“Tidak akan” balasnya dengan bibir senyum lebarnya


“Kapan kau akan berangkat dan berapa lama?”


“Besuk jam 10 dan mungkin kurang lebih sebulan aku di sana. Jangan terlalu rindu padaku” ledeknya


“Ceehh… tidak akan” cemberutnya


“Apa kau tidak bersama dengan keponakan cantikku kakak ipar?”


“Dia di bawah bersama papahnya dan Kak Surya” jawabnya


“Apa kak Surya datang kemari?” tanyanya. Belum sempat Rya menjawabnya Nindy sudah keluar berlari dari kamarnya


“Dasar! Kapan kalian akan bersama aku lelah melihat kalian seperti ini” gerutunya. Kemudian Rya ikut turun menghampiri mereka


“Hey pelan-pelan jangan berlari” ucap Surya yang melihat Nindy menuruni anak tangga namun dia hanya tersenyum mendengar katanya


“Hey cantik keponakan aunty. Apa kabarmu?” ucap Nindy yang langsung menghampiri keponakannya dan menggendongnya dan bayi itu hanya senyum tertawa melihatnya


“Kau sangat menggemaskan”


“Jangan ulangi itu lagi Nindy” ucap Surya


“Apa?” jawabnya tak fokus karena dia sangat memperhatikan keponakannya


“Biarkan dia berlari sesukanya dan terjatuh, Dia langsung berlari setelah mendengar namamu tadi” imbuh Rya yang baru saja ikut bergabung


“Benarkah?” tanya Surya dengan melirik ke arah Nindy


“Itu tidak benar” jawabnya cepat


“Hampir saja aku terbang” ucap Surya


“Asal kak Surya tau dia akan pergi ke Bali besuk selama sebulan dan dia tidak akan memberitahukan kita jika kita tidak kesini” jelas Rya


“Apa itu benar Nindy?” tanya Gery


“Iya kak, aku ada pekerjaan di sana”


“Aulia apa kau mau ikut aunty ke Bali untuk liburan’ ucapnya pada keponakannya yang sejak tadi tertawa bersamanya seolah-olah dia mengerti apa yang di bicarakan


“Kalau begitu biarkan Surya mengantarmu ke Bandara besuk pagi” perintah Gery


“Aku bisa naik taksi kak, pasti Kak Surya juga sibuk dengan pekerjaannya”


“Aku bisa mengantarmu dan dengan senang hati melakukannya” seketika Nindy menatapnya kesal


“Aku tidak mau” singkatnya


“Ini demi kebaikanmu Nindy, ini untuk di patuhi bukan untuk di tawar menawar” jawab Gery


“Terserah” balasnya


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode