
Satu persatu pukulan terus mendarat pada orang-orang yang telah menghalanginya untuk masuk. Davin membuat mereka langsung tersungkur dan pingsan begitu saja di lantai hingga tak tersisa.
Akhirnya Davin bisa masuk ke dalam kamar dimana Laura berada
“La… Laura..” satu kata awal yang terucap setelah orang yang dicarinya berada tepat dihadapannya dengan keadaan yang kurang baik. Segera berlari menghampirinya
“Davin” ucap Laura yang melihat orang itu kini berada tepat disampingnya
“Apa yang terjadi padamu? Apa kau baik-baik saja?” tanyanya melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala
“Aku tidak apa-apa, tolong bawa aku pergi dari sini” pinta dengan senyum yang dipaksakan. Entah darimana datangnya rasa senang di dalam hati itu hingga rasa sakit yang sedang dirasanya terlupakan begitu saja
“Pasti, ayo kita pergi” ajaknya membantu Laura bangun
“Maaf tuan, kita harus segera membawa nona pergi ke rumah sakit karena nona sempat terjatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan” ucap suster yang sejak tadi berada tak jauh dari mereka
Seperti tersembar petir mendengar ucapan suster itu Davin akhirnya melihat darah yang sedang keluar dari sela-sela kaki Laura. Hatinya terasa sakit begitu melihatnya
“Berjanjilah kalian harus baik-baik saja. Aku akan membawa kalian pergi dari sini” mendengar ucapan itu Laura langsung menganggukan kepalanya senang
Kini Laura berada dalam gendongan Davin tangannya kini merangkul leher Davin erat. Davin membawanya dari kamar yang selalu mengurungnya
“Apa aku berat?” tanya Laura di sela-sela jalan mereka menuruni tangga
“Tidak, tidak sama sekali” jawabnya tersenyum
“BERHENTI!” teriak seseorang terdengar memerintah. Suara itu menghentikan langkah Davin untuk berjalan, menghentikan kegiatan saling adu pukul disana, membuat semua mata mengarah padanya.
“Kau? Tuan Davin?” ucap Dion yang tadi berteriak menghentikan aktivitas disana dengan menodongkan pistol ke arah Davin dan Laura.
“Ya aku disini” menjawab dengan santai
“Lepaskan dia!” perintahnya
“Davin aku takut, jangan berikan aku padanya lagi” ucap Laura dengan suara pelan
“Tidak akan” jawabnya mengeratkan tangannya
“Dion! Jadi benar kau yang menculiknya!” teriak Rya geram hendak menghampirnya dan ingin segera menghajar namun Gery sigap mencegahnya
“Tenangkan dirimu sayang lihat dia membawa pistol” kata Gery
“Aku tidak peduli aku sungguh ingin menghabisinya dengan tanganku sendiri” kesalnya
“Jangan gegabah ry dia bisa menembak dengan pistolnya kapan saja dan kemana saja termasuk ke arah Laura” kata Nindy yang berada disebelahnya
“Nindy benar sayang” imbuh Gery
“Tuan Davin sekali lagi saya minta lepaskan dia, dia adalah milikku dia wanitaku” perintahnya
“Sungguh aku masih menghormati dan mengagumimu sebagai senior di dunia bisnis dan menjadi panutanku” ucap Dion masih dengan pistol di tangannya
“DIA BUKAN MILIKMU” teriak Nindy kesal
“Mengapa aku harus melepaskan istriku untukmu?” tanya Dion
“Istri? Mana mungkin dia istrimu dia adalah kekasihku tuan anda jangan bercanda” tawanya
“Aku tau anda sudah menikah meski aku belum melihat istri anda yang masih tersembunyi tapi bukan berarti anda langsung mengakui Laura adalah anda” masih tertawa tidak percaya
“Dia istriku dan sedang mengandung anakku apa kau tidak melihatnya? Jadi aku berhak membawanya kemana saja” baru beberapa melangkahkan kakinya hendak pergi
“Doorrrr…” suara tembakan yang terdengar. Kini Davin hampir saja terjatuh akibat peluru yang menghantam kakinya
“Davin” Laura ketakutan
“Jangan takut, tutuplah mata dan telingamu bayangkan hal indah yang kau inginkan” ucapnya agar menenangkannya Laura pun menurutinya
“Tuan anda terluka?” billy menghampirinya
“Tidak apa-apa”
“Sudah aku bilang bukan, lepaskan dia maka anda akan selamat”
“Hey brengsek, Apa yang kau lakukan??” teriak Nindy
“Lyra adalah istriku!” kalimat yang terucap dari mulut Davin membuat semua orang tercengang
“Lyra? Itu nama istrimu tuan? Berarti anda salah orang karena wanita yang sedang kau gendong itu adalah Laura bukan Lyra istrimu”
“Aku tidak pernah salah jika menyangkut tentang istriku, bukankah Laura mantan kekasihmu itu sudah meninggal setahun yang lalu?”
“Tidak! Itu tidak benar Laura masih hidup dia ada di tanganmu” tunjuknya
“Apa kau tidak bisa menerima kenyataan jika Laura sudah meninggal dan secara tidak langsung penyebab kematiannya adalah kau Dion! Kau yang membunuhnya!” kata-kata yang terucap dari mulut pedasnya membuat lawan bicaranya mulai goyah
“Tidak itu bukan salahku. Dia Laura milikku masih hidup kembalikan dia padaku” berjalan mendekat
“Sadarlah ini istriku Lyra saudari kembar mantan kekasihmu yang kau bunuh itu!”
Orang-orang yang mendengarnya merasa bingung dengan jalan pikirannya kenapa Davin berkata seperti itu jelas-jelas wanita yang didalam gendongannya adalah Laura. Terkecuali Dion yang pikirannya menjadi kacau mengingat kembali bagaimana Laura dimakamkan. Itulah tujuannya berkata demikian tentu membuat lawannya menjadi lemah dan tidak fokus.
“KAU PEMBOHONG!”
“DOOORRR…” Di tembaknya lagi pistol itu kini tepat mengenai punggung Davin
“Brruukkk” Davin terjatuh tanpa melepaskan pelukannya pada Laura
Disisi lain Dion kini sudah diringkus oleh salah satu orang kepercayaan Billy
“Ringkus dan bawa dia dan yang lainnya pergi” perintah Billy pada orang itu
“Baik bos” Dion langsung di bawa pergi
Semua kini menghampiri Davin yang terjatuh karena tembakan itu
“Tuan anda terluka?” ucap Billy
“Laura” panggil Nindy dan Rya bersamaan membuatnya membuka mata
“Davin kau terluka lagi?” tanya Laura
“Aku tidak apa-apa, mari pergi dari sini” ajaknya berusaha untuk berdiri
“Davin berikan Laura pada kami kau terluka parah”
“Aku masih bisa membawanya”
“Aaarrrgghhhh” tiba-tiba Laura berteriak memegang perutnya dan pingsan
“Laura”
“Laura…”
“Hey bangunlah”
“Laura sadarlah” Davin berusaha membangunkannya dalam pelukannya
Panik semua orang melihat Laura yang tiba-tiba pingsan
“Dokter Vian kita harus membawanya ke rumah sakit sebelum terlambat, nona Laura pendarahan karena terjatuh di kamar mandi” ucap suster
“APAA?” kaget semua orang
“Ayo cepat pergi” Ajak dokter Vian
Billy berusaha membantu tuannya untuk bangkit. Dengan kaki pincang menahan rasa sakitnya dikaki dan punggungnya Davin berjalan keluar hingga akhirnya kembali terjatuh dan pingsan akibat tembakan yang diterima
Sebelum mereka berdua terjatuh Billy dan Rey yang berada di sampingnya berhasil menahan mereka agar tidak terjatuh ke tanah
“Biar aku yang menggendongnya” ucap Rey yang langsung menggendong Laura dan berlari membawanya ke mobil dengan diikuti Nindy dan Rya dari belakang
Sedangkan Davin dibawa Billy dibantu Gery dan Dokter Vian masuk ke dalam mobil. Segera mereka menjalankan mobilnya menuju rumah sakit
“Ra bertahanlah”
“Ra kamu harus kuat demi si Kecil”
Kedua sahabatnya yang berada di sampingnya terus memberikan semangat meski mereka sedang berada di alam yang berbeda
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode