
“Nind aku bosan nih, cari makan yukk” ajak Laura yang baru saja datang dari kamarnya
“Mau makan apa?” jawab Nindy tanpa menoleh yang masih sibuk dengan laptopnya
“Emmm… mau seblak, udah lama nggak makan seblak nih jadi kangen”
“Hah, jangan makan yang terlalu pedes ahh” menatap sejenak Laura tapi lanjut dengan laptopnya
“Tapi aku maunya makan seblak”
“Nggak ra, kamu kalau udah makan pedes itu sampai kelewatan, yang ngeliatnya aja ngeri sampe merah kek darah gitu”
“Nggak lagi deh.. yayaya.. mau ya nind?” meminta dengan serius
“Yang lain aja ra” tidak menggubris
“Please terakhir nih, pedes dikit deh ya.. nindy cantik deh. Aku traktir nih” merayu dengan melebarkan senyumnya
“Ya udah iya deh kita beli” akhirnya luluh juga
“Yess... makasih nindy cantik” sambil memeluk erat
“Dasar.. baik kalau ada maunya aja” senyum kecut
“Ya udah sana siap-siap aku beresin ini dulu”
“Okke” langsung pergi meninggalkan
***
“Ayo kita berangkat” ajak Laura dengan girang
“Wow cantik sekali ibu hamil ini” baru saja melihat
“Iya dong harus tetap cantik dan seksi” memamerkan tubuhnya dengan berbagai pose
“Yayaya.. seksi dan cantik. Sudah ayo kita berangkat”
“Tentu”
Berjalan menuju pintu
“Kamu ngapain kamu kesini?” tanya Laura setelah melihat orang di balik pintu yang di bukannya. Nindy ikut melihatnya
“Hay ra, Nindy” sapanya
“Aku kesini mau ngasih kamu ini” menyerahkan bingkisan
“Apa itu?” tanya Nindy penasaran
“Ini cheese cake kesukaan Laura” jawabnya masih mengacungkan bingkisan
“Maaf aku sudah tidak suka cake itu lagi, kau bisa membawanya pulang” kata Laura tidak peduli
“Tapi ra…”
“Ayo nind, aku nggak mau kita terlambat” Laura berjalan meninggalkan menuju ke mobil
“Maa ya kami harus pergi” pamitnya ikut juga meninggalkan setelah menguci pintunya
“Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu ra” batin Rizal sedikit kesal karena di abaikan
Rizal hanya menatap mereka pergi hingga tak terlihat lagi
“Ya ampun ra kamu jahat banget sih jadi orang, kasihan tuh orang yang kamu cuekin” sambil tertawa
“Nggak peduli deh” ikut tertawa
“Ayo kita sudah sampai”
“Ingat jangan pesan terlalu pedas”
“Kau sudah mengatakannya lebih dari seribu kali nind”
“Dan aku tidak akan bosan untuk mengatakannya”
***
“Akhirnya aku bisa menikmati makanan ini lagi” katanya sambil meraba perutnya
“Sudah kenyang? Atau tambah lagi piring mangkuk ke 3?” ledeknya melihat Laura yang sampai kekenyangan
“Cukup untuk saat ini” jawabnya
“Laura?” panggil seseorang yang membuatnya menoleh
“Kak Feby?” kaget Nindy pun ikut terkaget
“Apa ini maksudnya?” menunjuk perut Laura
“Aku akan menjelaskannya kak duduklah” menunjuk kursi di sampingnya
“Apa kau menikah diam-diam tanpa memberitahu keluargamu?”
“Bukan begitu kak” jawabnya terdengar terbata-bata
“Lalu apa ini? Dimana suamimu jika kau tidak mau memberitahukan pada kakek atau yang lain setidaknya kau harus memberitahuku ra” agak sedikit kesal
“Aku belum menikah kak” jawabnya lesu
“Apa? Apa kau korban pemerkosaan?” kaget menatap Laura dan Nindy bergantian
“Tidak kak, itu sama sekali terjadi”
“Kakak sungguh tidak mengerti ra, siapa yang menghamilimu ra? nindy apa kau tau siapa yang menghamili sahabatmu ini?” bingung. Nindy hanya terdiam tak berani berkata
“Aku hamil dengan suami Lyra kak yang saat itu aku hilang ingatan sedangkan Davin mengira aku ini Lyra. Bahkan aku tau diriku hamil saat aku baru saja tiba disini” tertunduk
“Astaga, lalu dimana Davin sekarang? Apa dia tidak mau menikahimu” kaget
“Bukan dia tidak mau menikahiku, tapi aku belum memberitahunya jika aku hamil” ucapnya dengan lirih
“Kenapa?” tegas
“Aku masih belum siap kak, yang dia tahu hanya Lyra yang menghilang”
“Astaga ra, bukankah ini menambah masalah baru dengan orang lain. Kamu harus segera memberitahunya bagaimanapun dia ayahnya”
“Iya kak, suatu saat aku pasti akan memberitahunya”
“Ya sudah kalau gitu jaga kesehatanmu ya”
“Kak jangan beritahu siapapun ya, papa, mamah atau pun kakek”
“Iya pasti, tapi kakak tidak janji jika kakek tidak tau masalah ini. Kamu tau sendirikan kakek bagaimana dan berapa banyak anak buahnya yang di sebar untuk memantau keluarganya”
“Jika seperti itu seharusnya Laura sudah di panggil kakek untuk pulang kak jika tau Laura hamil dari anak buahnya” ucap Nindy yang sejak tadi menyimak
“Kamu benar nind, berarti kakek belum tau masalah ini?” jawab Feby
“Semoga kakek tidak mengetahuinya” ucap Laura cemas
“Ya sudah kamu jaga kesehatan ya kalau ada apa-apa cepat hubungi kakak, sekarang kakak harus pergi kakak sudah ada janji dengan orang”
“Iya kak”
“Jangan ada yang di tutupi lagi dari kakak oke?”
“Ya sudah kakak pergi ya” berdiri
“Nind kakak pergi ya”
“Oke kak” melambaikan tangan
“Ayo kita juga pulang” ajak Laura
***
Perjalanan pulang
“Ra apa kamu udah punya rencana buat ketemu Davin?” tanya Nindy dalam perjalanan pulangnya
“Ada sih, tapi aku juga belum yakin. Mungkin setelah anak ini lahir” sambil mengelus perutnya dengan senyum manis
“Jika kau tidak berniat untuk menemuinya atau bahkan memberitahunya pasti nantinya dia juga akan tau mungkin kesalahpahaman ini akan semakin rumit”
“Iya nind aku juga berfikir seperti itu”
“Aku selalu mendukungmu jangan pernah memikirkannya sendiri oke?”
“tentu saja aku bersyukur punya sahabat sepertimu” tawanya
***
Beberapa hari berlalu
“Ra, aku akan pergi ke kantor sekarang jaga dirimu jika ada apa-apa segera telfon” ucapnya dengan berjalan tanpa melihat lawan bicaranya
“Apa kau sedang terburu-buru?” tanyanya
“Ya, ada sedikit masalah disana, satu lagi bisakah aku minta tolong padamu?” mengehentikan aktivitasnya berhadapan langsung pada Laura
“Tentu, apa yang bisa ku bantu?”
“Tolong ambilkan cake yang sudah aku pesan, ini kartunya mungkin aku tidak sempar mengambilnya” memberikan selembar kertas
“Baiklah, kau memesan cake untuk siapa?”
“Itu untuk Aulia dia ulang tahun hari ini”
“Kenapa tidak memberitahuku juga, aku juga harus memberikannya sesuatu”
“Maaf, aku belum sempat memberitahunya padamu. Mereka akan kemari nanti malam. Baiklah aku harus pergi sekarang. Ingat berhati-hatilah jika keluar sampai jumpa” berjalan pergi. Laura hanya menatapnya
“Ayo sayang kita pergi mencari kado untuk kakak Aulia” bersemangat
***
“Cake yang cantik sudah di ambil dank ado juga sudah, waktunya pulang”
“Dimana taksinya?” bergumam
“Apa anda nyonya Laura yang memesan taksi?” tanya seorang laki-laki berseragam yang menghampirinya dengan sebuah taksi
“Ya saya yang memesannya”
“Silahkan masuknya”
“Terimakasih pak”
Taksi pun berjalan pergi meninggalkan mall
“Pak bisa minta tolong berhenti sebentar di supermarket saya ingin membeli minum”
“Apa anda sangat haus nona? Anda bisa meminum ini” tanya supir taksi menawarkan sebuah air mineral
“Tapi itu milik anda pak” ragu-ragu menerima
“Tidak apa-apa nona saya bisa membelinya nanti, sepertinya anda sangat haus. Tenang botol ini masih tersegel tidak ada racun didalamnya dan saya baru membelinya tadi” jelasnya
Laura pun menerimanya tanpa ragu-ragu lagi karena rasa hausnya mengalahkan rasa itu. Segera di teguknya air mineral itu hingga tersisa setengah dari botol.
“Terimakasih pak saya akan menggantinya nanti” supir taksi itu hanya tersenyum melihat Laura dari kaca mobil taksinya
***
Nindy baru saja pulang dari kantornya segera masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi dari luar.
“Aunty nindy sudah pulang?” sapa anak kecil yang manis itu berlari ke arahnya
“Hay sayang, kenapa sudah datang bukankah masih nanti malam?” menggendong
“Sayang kenapa malah minta gendong aunty kan capek baru pulang kerja sayang” kata Rya yang baru saja melihatnya
“Aku tidak memintanya mah tapi aunty yang langsung menggendongku, aunty aku mau turun” ucapnya dengan manis
“Baiklah” menurunkan
“Kenapa sudah datang?” tanya Nindy pada Rya
“Tidak apa-apa Aulia yang memintanya”
“Aulia kangen sama aunty Nindy dan aunty Rara jadi datang lebih cepat” duduk dengan manis
“Oh ya dimana Laura aku belum melihatnya sejak tadi? Bi Ima juga tidak tau dia pergi kemana” tanya Rya
“Apa dia belum kembali?” kembali bertanya
“Aku belum melihatnya, sudah satu jam lebih aku datang” wajah serius
“Tadi aku minta tolong padanya untuk mengambil cake dan dia mau mencari kado untuk Aulia"
“Tidak mungkin dia pergi selama itu untuk dua hal yang tidak terlalu penting” ucap Rya mulai panik
“Jam berapa dia pergi?”
“Kata bibi dia pergi setelah kau pergi ke kantor”
“Aku akan mencoba menelfonnya” kata Nindy mencari hape di dalam tasnya
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif silahkan….” Mematikan
“Hapenya tidak aktif” ucap Nindy bingung
“Kemana dia pergi?”
“Aku akan mencarinya” Nindy beranjak dari duduknya
“Tunggu aku ikut”
“Sayang, tunggu di rumah sama papah ya jangan lupa bilang pada papah kalau mamah pergi bersama aunty Nindy untuk mencari aunty Laura” berbicara pada anakya
“Iya mamah”
“Sekarang Aulia pergi cari papah di dalam ya” pinta Aulia mengangguk dan langsung mencari papahnya
“Ayo pergi” ajak Rya langsung berjalan keluar
Hay teman-teman semua kita berjumpa lagi,
Nggak terasa ya besuk sudah lebaran berpisah dengan bulan penuh berkah. Author mau mengucapkan “SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1441 H MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN”. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan bisa bertemu dengan bulan suci ramadhan berikutnya.