LAURA

LAURA
Episode 48



HAI SEMUA.. LAURA BELUM TAMAT KOK WKWK


CUMA MASIH BERSAMBUNG AJA. PERJALANANNYA MASIH CUKUP PANJANG. MUNGKIN SIH ?


MAKANYA JANGAN LUPA LIKE TIAP EPISODENYA BIAR NGGAK CEPET TAMAT YA KALAU NGGAK LIKE AKU BIKIN TAMAT NIH HAHA. YA UDAH SILAHKAN LANJUT BACA EPISODE BERIKUTNYA YANG BISA DI BILANG SEASON 2 KAN LAURA UDAH NGGAK ADA HUHU


“Hey, kamu sedang bengong apa yang kau pikirkan?” kata Nindy yang menghampiri Rya yang sedang duduk dipinggir kolam dengan tangan yang di atas perutnya ang terlihat buncit


“Tidak, hanya mengingat kembali kenangan kita yang sudah lewat” jawabnya dengan sedikit senyum yang dipaksakan


“Aku juga masih sering memikirkannya, tapi jangan berlarut kasihn calon ponakanku punya mamah yang selalu sedih” ucap Nindy mencoba menghibur


“Ya aku tau, aku akan selalu berusaha tapi aku tidak akan melupakannya sedetikpun” kata Rya yang menatap wajah Nindy


“Tentu Laura sudah menjadi bagian dari hidup kita. Aku akan selalu merindukannya” ucapnya dengan merunduk menahan air mata yang akan segera membanjir


“Apa kau mau menangis? Padahal baru saja kau mengejekku hah” ledeknya


“Ya aku ingin menangis lagi. Aku sungguh merindukannya” ucapnya dengan air mata yang tak bisa dibendung lagi


“Kemarilah” ucap Rya yang sudah melebarkan kedua tangannya siap untuk memeluknya


“Bagaimana kalau kita membeli cemilan sekarang, aku lapar” ajak Rya yang masih memeluk Nindy yang menangis


“Kau masih bisa lapar saat aku menangis hah?” kata Nindy dengan mendongakkan kepala dan tubuh yang masih memeluk


“Bukan aku, tapi calon keponakanmu” ucapnya


“Baiklah, ayo sayang kita beli cemilan yang banyak” ucap Nindy dengan mengelus perut Rya gemas


***


“Nind itu bukannya….???” Kata Rya yang jarinya menunjuk pada seseorang yang membelakangi mereka dan tertutup sebagian mobil


“Siapa sih? Yang mana?” Ucap Nindy yang merasa tak melihat orang yang di kenalnya


“Itu yang pakai sweater abu, udah ahh mending samperin langsung aja mau kasih pelajaran” Ucap Rya dengan berjalan cepat ke arah yang di tunjukknya tadi


“Hey mau kemana sih?” Nindy pun mengikuti dari belakang


“KAK DION!” teriak Rya dengan menarik bahunya sehingga membuatnya berbalik ke arahnya


“Rya,?” ucap Dion kaget


“Kak Dion?” Nindy ikut bersuara membuat Dion menolehnya


“Benerkan yang aku lihat ini kak Dion?”


“Ada apa?” tanyanya bingung


“Ada apa kamu bilang?”


PLAAAKKK Rya langsung menampar keras pipi Dion


“Apa yang kamu lakukan hah?” Dion kaget di tampar dan memegang pipinya yang di tampar


“Ini nggak seberapa dengan apa yang kakak lakuin pada Laura sampai dia meninggal!” katanya


“Oh dilihat dari muka kakak yang nggak kaget ternyata kakak sudah tau kalau sahabat kita sudah nggak ada dan sekarang masih bisa hidup dengan tenang ya” kata Rya dengan tangan yang menyilang. Nindy hanya diam melihat


“Ya aku sudah tau dan aku juga merasa sangat kehilangan bukan kalian saja” bantahnya


“Hah bukannya merasa senang? Tidak ada yang menghalangi kakak dengan perempuan murahan itu lagi? Aku akan membuat perhitungan denganmu dan akan merasakan kesedihan yang luar biasa”


“Terserah kalian mau berkata seperti apa yang jelas aku juga merasa sangat kehilangan Laura karena aku sangat MENCINTAINYA” jelas Dion dengan masuk ke mobil dan menjalankannya


“Udah lah Ry dia udah pergi” ucap Nindy


“Adduuhh peruut ku sakit Nind” rintihnya dengan memegang perutnya


“Kenapa perutmu? Sakit ? ayo kita ke rumah sakit aku akan menelfon kak Gery”


***


“Bil cepat panggil dokter Nita untuk memeriksa istriku, aku takut terjadi sesuatu yang parah pada istriku” ucapnya kepada asisten pribadinya yang sering di panggil Billy.


“Baik tuan” ucap asisten pribadinya. Segera Billy menelfon dokter untuk memintanya datang ke kediaman bosnya


Billy sudah lama bekerja dengan bosnya yang bernama Davin Kyo Gunawan jauh sebelum dia menikah. Davin adalah orang yang suka sekali dengan bisnis. Terutama di bidang kuliner. Saat ini Davin sudah memiliki banyak restaurant berkelas yang tersebar di Indonesia.


“Selamat siang tuan Davin, apa kabar? apa ada yang bisa saya bantu?” ucap dokter yang baru saja datang dan menyapanya


“Siang, baik dok tolong priksa kondisi istri saya” jawabnya


“Baik tuan, saya akan memeriksa nyonya sekarang juga” kata dokter Nita


“Bil antarkan dokter ke kamar untuk memeriksa istriku”


“Baik tuan, mari dok saya antar ke kamar nyonya” ucap Billy yang langsung mengantar dokter untuk memeriksa nyonya. Dokter pun memeriksa sang istri tuan Davin


“Maaf tuan saya harus memberikan kabar yang kurang baik dari istri anda” ucap sang dokter yang baru saja keluar dari kamar padanya yang menunggunya di depan pintu kamar


“Ada apa dok, apa yang terjadi pada istriku?” ucapnya dengan raut muka yang terlihat sangat panik


“Tidak ada luka tubuh yang cukup parah dan terlihat namun istri anda koma dan cukup kritis” jelas sang dokter


“Tolong lakukan yang terbaik agar istriku lekas pulih dok. Berapapun biayanya tidak jadi masalah bagi saya” pintanya


“Tentu tuan, tanpa anda minta pun saya pasti akan melakukan yang terbaik pada pasien saya. Saya akan segera mempersiapkan seluruh peralatan yang dibutukan nyonya untuk di kirim kemari. Pasti anda ingin merawatnya di rumah dan saya akan mengutus seorang suster untuk ikut membantu anda merawatnya menggantikan saya selama tidak ada di sini” kata sang dokter


“Terimakasih atas bantuannya dokter, tolong pilih orang yang tepat untuk merawat istri saya”


“Sama-sama. Tentu tuan” jawab dokter


***


“Sayang apa yang sebenarnya terjadi padamu?” ucap Davin dengan membelai rambut istrinya yang terbaring tak bergerak


“Bangunlah aku tak ingin melihatmu seperti ini. Apa kau tega melihatku sedih seperti ini setiap hari” ucapnya yang duduk di tepi ranjang


Setiap hari Davin merawat istrinya tanpa meninggalkan nya sedetik pun. Hingga semua urusan bisnis banyak yang tertunda dan Billy harus menggantikannya karena Davin tak ingin meninggalkan istrinya


“Sayang, kamu sadar?” ucap Davin tiba-tiba bahagia dengan senyum lebar melihat jari-jarinya mulai bergerak dan mulai membuka matanya


“Terimakasih Tuhan engkau mengabulkan doaku” ucapnya syukur


“SUSTER… SUSTER… SUSTER…” teriak Davin yang memanggil suster


“Iya tuan, ada apa?” tanya suster yang datang dengan terburu-buru mendatanginya dan Billy ikut menghampirinya karena mendengar tuannya berteriak


“Sust istri saya sudah sadar, cepat periksa sust” perintahnya pada suster dengan raut muka yang begitu bahagia


“Bil kamu panggil dokter Nita sekarang” pintanya pada Billy


“Baik tuan” jawab Billy dan suster bersamaan dan mereka menjalankan tugas masing-masing


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode