
Esok telah tiba jam menunjukan 07.04 WIB ketika Dion keluar dari toilet melihat Laura yang baru saja bangun siuman karena kejadian kemarin.
Dion :”Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu apa yang kau rasakan?” Tanyanya yang mendekat ke ranjang pasien
Laura :”Aku baik-baik saja, sedikit pusing di kepala” sahutnya dengan suara lemah
Dion :”Sebentar aku panggilkan dokter” Dion keluar mencari dokter dan memeriksanya
Dokter :”Syukurlah keadaannya stabil dan mulai membaik, besuk sudah bisa pulang” kata dokter memberikan penjelasan
Laura :”Apa tidak bisa hari ini dok, saya sudah merasa lebih baik dok” pintanya karena tidak suka dengan rumah sakit
Dokter :”Tidak bisa nona, anda masih ada pemeriksaan lagi agar saya bisa memastikan kondisi anda apa benar-benar sudah sembuh atau belum karena ini menyangkut alergi anda”
Dion :”Sebaiknya kau mengikuti apa kata dokter”
Laura :”Baiklah, terimakasih dokter” Laura menghela nafas sedih
Kemudian dokter keluar dan mereka kedatangan Nindy dan Rya yang langsung membuat kehebohan yang membuat Dion dan Laura kaget.
Rya :”Laura, apa kau baik-baik saja? Gimana ceritanya bisa seperti ini hah”
Nindy :”Iya ra gimana keadaanmu?
Laura :”Tenanglah kalian datang malah buat keributan, gue nggak papa kok besuk gue pulang”
Nindy :’Syukurlah kalau gitu, apa yang sebenarnnya terjadi?”
Laura :”Mmm.. alergiku kambuh” ucapnya dengan lemah karena dia tau akan mendapat amukan dari kedua sahabatnya jika mengetahui hal itu terjadi karena dulu ini pernah terjadi dan akibatnya lebih parah dari ini.
Nindy :”APA?? Kok bisa kenapa loe memakannya ra apa kau lupa pantangan makananmu hah? Jawabnya marah dengan mata melotot, membuat seisi ruangan bergetar.
Dion :”Sudahlah jangan marah-marah ini juga salah saya yang memaksanya untuk makan, yang pentingkan dia sudah tidak apa-apa” ucapnya menenangkan Nindy
Rya :”Dia harus di ingatkan Pak kalau tidak kejadian dulu akan terulang lagi dan kami tidak mau itu terjadi karena itu lebih parah dari ini untung Pak Dion segera membawanya ke rumah sakit yang cepat dan tepat” menambahnya lesu
Dion :”Apa yang terjadi dulu?”
Laura :”Sudahlah tidak usah dibahas aku sudah lebih baik sekarang” semua diam memandangnya dan dia menunduk
Dion :”Baiklah kalau tidak ada yang mau cerita dan semua sudah aman saya pamit pulang dulu dan kalau kalian butuh bantuan apapun bisa hubungi saya, permisi” berjalan ke arah keluar
Laura :”Terimkasih sudah menolong” ucap Laura pelan karena malu dengan apa yang sudah dia perbuat sebelumnya
Dion :”Sama-sama” dengan senyumnya Dion pergi meninggalkan tau apa yang mereka butuhkan saat ini adalah waktu untuk bersama
Nindy :”Sekarang jelasin apa yang sebenarnya terjadi sampai alergimu kambuh karena tidak mungkin dengan sengaja loe memakannya” tegas Nindy pada sahabatnya
Laura :”Astaga Nindy gitu banget sih sama gue, tau kok kalian khawatir tapi jangan galak gitu dong” jawab Laura sedih
Rya :”Iya ra mendingan loe cepet cerita ke kita deh”
Laura :”Iya gue nggak sengaja kok makan itu jadi…” Laura langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi
Rya :”Ya ampun ra loe nekad banget sih sampe segitunya ngerjain Pak Dion, mendingan loe stop deh daripada loe kena karma kayak gini”
Laura :”Ini kan buat balasan dia juga apa lakuin ke gue”
Rya :”Iya gue tau, dan cukup kemaren yang terakhir ya udah impas kali ra gue takut loe kenapa-kenapa”
Nindy :”Bener ra apa kata Rya udah cukup kita ngerjain Kak Dion”
Laura :”Kok kalian jadi takut gini sih, ya udah itu yang terakhir”
Beberapa hari sudah berlalu Laura sudah keluar dari rumah sakit dan hubungannya dengan Dion membaik. Tiga bulan kemudian Dion selesai menjadi dosen pengganti kemudian kembali lagi ke Kota asalnya di Malang.
Laura :”Sepi banget di rumah sendiri, anak-anak juga nggak bisa kesini mau pulang ke Bandung lagi males banget, huh” celotehnya sendiri di kamar dengan memandang ponsel. Triiingg..pesan masuk
Rizal :”Sibuk apanih?” pesan masuk yang langsung membuat Laura senyum-senyum sendiri
Laura :”Nggak ada nih, lagi suntuk” balasnya
Rizal :”Kesini dong ke cafe Rey, anak-anak nanti malam mau mabar nih, ikutan yuk”
Laura :”Hmm.. boleh nanti malem gue kesana” balasnya
Rizal :”Oke di tunggu” balas dengan emoji senyum yang membuat Laura seperti angin berhembus sejuk
Sejak pulang dari cafe Rey terkadang mereka mengobrol bareng melalui pesan pribadi yang terkadang hanya sekedar bertegur sapa, main game bareng kalau yang lain sibuk meski hanya seperti itu Laura kerap sekali memikirkannya jika Dia menjadi Milikku. Sampai saat ini tidak ada tanda jika Rizal sudah memiliki kekasih atau pasangan itu membuat Laura berusaha untuk bisa memilikinya. Malam tiba Laura segera meluncur ke café Rey dan disana semua sudah berkumpul.
Rey :”Heeyyy.. guys lihat siapa yang dateng tuh? tamu dari jauh nih?” Rey yang melihat Laura masuk café langsung menyambutnya dan membuat semua menoleh kearahnya dan membuatnya tersipu malu apalagi Rizal juga menatapnya.
Laura :”Kenapa sih Rey, biasa aja kali” senyumnya kemudian duduk disebelah Rey tepat di depan Rizal
Rey :”Kok kesini nggak ngabarin dulu” tanyanya
Laura :”Emang kalau gue kesini harus laporan dulu sama loe gitu, emang loe bokap gue”
Rey :’Ya nggak gitu juga kali kan biar enak ada kabarnya gitu chat gue kan bisa atau di grup gitu”
Laura :’Udah bawel banget sih, gue udah kasih kabar kok udah ahh main yuk ngomel mulu” sambil sesekali menatap ke arah Rizal dia pun tersenyum
Bram :”Iya Rey cerewet banget loe kayak emak-emak haha” sahutnya membuat semua tertawa
Rizal :’Minum dulu ra, ada cemilan juga tinggal makan gratis kok haha” jawabku dengan menganggukkan kepala dan hanya tersenyum
Laura :”Iya makasih” sambil mengambil minum
Rey :”Wah ada yang perhatian nih, inget zall tobat haha”
Arga :’Iya zall jangan macem-macem kamu” semua tertawa beda dengan Laura hanya tersenyum dan bingung apa yang maksud oleh teman-temannya
Rizal :”Apasih gue nggak ngapa-ngapain kok”
Arga :”Inget zall anak orang”
Asyiknya mereka mengobrol sesorang datang ikut nimbrung
Candra :”Hey broo.. udah pada ngumpul semua nih” datang menghampiri membuat semua menoleh
Arga :”Hey ndra baru datang loe, kebiasaan banget jam segini baru dateng dateng”
Candra :’Sory, gue kan bisa juga kalau malem doang juga jam segini banyak lemburan”
Bram :”Ngepet dimana aja loe banyak duit dong” sontak semua tertawa mendengarnya Laura hanya tersenyum kecil tanpa melihatnya yang sibuk dengan ponsel main game
Candra :”Enak aja mulut loe kalau mgomong, Eh siapa nih kok gue baru lihat” mata yang mengarah ke Laura
Rey :”Anak orang, jangan di ganggu” dengan nada bercanda
Candra :”Ya tau anak orang, tapi kok cantik banget kenalin dong Rey”
Rey :”Ganjen banget, kenalin ini Laura temen smp gue udah lebih dulu disini daripada loe kan loe pendatang haha Ra kenalin dia Candra temen baru suka main game juga” mereka pun saling menyapa dan berjabat tangan kemudian mereka melanjutkan main game bareng. Hari semakin larut membuat suasana menjadi lebih seru cafe Rey pun semakin ramai waktu sudah menunjukkan hampir jam 11 malam.
“Ayyaahh” suara anak kecil sekitar umur 5 tahun datang menghampiri kursi tempat mereka duduk mengumpul. Membuat mereka semua menoleh kearahnya termasuk Laura yang membuat otaknya berfikir “anak siapa ini, kenapa sudah malam seperti ini masih di luar, inikah anak Rey diakan sudah menikah” semua pikiran itu datang menghampiri hingga seseorang menjawab sapaan anak itu.
Terimakasih readers sudah menunggu dan membaca novel ini. Jangan lupa like, coment, dan favoritenya untuk support novel ini. Thank you tunggu next episode.