LAURA

LAURA
Episode 71



Dion kembali ke kamar Laura dengan pakaian yang sudah digantinya karena kotor terkena tumpahan makanan tadi dan membawa makanan baru.


“Ayo makan ra, aku sudah membawanya yang baru” Laura tetap diam


“Ini sudah malam ra, kasihan bayimu kau belum makan sejak kemarin malam” rayunya lagi


“Ayo buka mulutmu”


Akhirnya Laura pun luluh dan membuka mulutnya untuk makan karena tak bisa menahan laparnya lagi. Dion menyuapinya perlahan hingga makanan itu habis tak tersisa di piring


“Ini minummu” menyerahkan segelas air


“Akhirnya kau menghabiskan makananmu” tersenyum bahagia


“Sayang…”


“Jangan menyentuhnya” Laura menampik tangan Dion yang hendak menyentuh perutnya


“Kenapa? Aku ingin dekat dengan sebelum dia lahir”


“Dia bukan anakmu, jangan sok peduli” jawabnya dengan ketus


“Baiklah, mungkin lain hari” beranjak dari duduknya


“Tidak akan hari ini besuk, lusa atau sampai kapanpun aku tidak akan membairkanmu menyentuhnya”


“Tidurlah selamat malam” menutup pintu


***


“Bagaiaman caranya agar aku bisa keluar dari sini?” pikir Laura memutar otaknya


“Tempat ini tinggi sekali” sambil melihat sekeliling dari atas balkon kamarnya


Laura mendengar langkah kaki terus mendekati kamarnya. Dengan cepat kembali ke dalam kamar dan duduk di atas ranjang dengan berdiam diri


“Hari ini aku tidak sibuk jadi aku bisa menemanimu” ucap laki-laki yang selama ini terus mengurungnya di kamar


“Ayo kita jalan-jalan kau pasti bosan di kamar terus setiap hari” ajaknya


“Mungkin ini kesampatanku untuk kabur dari tempat terkutuk ini” batin Laura tersenyum dalam hatinya


“Ayo bangun…” di gandengnya tangan Laura


Sepanjang jalan Laura hanya terdiam memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa keluar dari sini. Tidak menanggapi orang yang berbicara di sampingnya.


“Maaf aku hanya bisa mengajakmu berkeliling di rumah ini karena aku tidak mau mengambil risiko kehilangan dirimu lagi”


“Kau jadi pendiam sekarang ra dan jangan berfikir untuk kabur dari tempat ini” ucapnya tiba-tiba tetap tak mendapatkan respon apapun


“Duduklah” pintanya untuk duduk disebuah kursi taman miliknya


“Kau harus tau aku sudah memberikan penjagaan yang ketat untuk rumah ini, karena aku juga membuatnya untuk dirimu”


“Yaa.. aku membangun rumah ini setelah mendapatkan kabar bahwa kau telah meninggal. Aku mencoba bangkit dari hancurnya hidupku karena ulah kakekmu yang telah menghancurkan karir dan bisnis keluarga. Yaa itu wajar dilakukannya karena aku telah menyakiti cucunya dulu. Aku terus berusaha dengan keras sampai aku mendapatkan kepercayaan orang lain lagi dan membangun bisnis baru hingga sekarang ini”


“Aku juga tidak menyalahkan kakekmu, aku lebih menyalahkan diriku yang dulu menyakitimu dan tak bisa jujur padamu. Maaf aku akan merubah semuanya dan memulai semuanya dari awal denganmu” Dion menceritakan kisahnya sepanjang Laura tak ada


“Apa benar kakek menghancurkannya?” tanya Laura dalam batinnya


“Kau pasti tidak kaget mendengarnya bukan? Sangat terlihat dari ekspresimu” ucapnya dengan sedikit senyum kecutnya


“Silahkan tuan nyonya minumnya” ucap pelayan yang datang membawa dua menuman yang terlihat sangat segar


Prrraaannkkk.. gelas itu terjatuh karena Laura sengaja menyenggolnya agar terjatuh meski tidak terlihat seperti itu.


“Maaf tuan nyonya saya tidak sengaja” ucap pelayan bermaksud ingin mengambil membersihkan pecahan gelas namun Laura langsung mengambilnya dengan cepat dan menggenggam pecahan gelas itu dengan kuat hingga tangannya mengalir banyak darah


“Ra apa yang kamu lakukan huh?” teriak Dion kaget melihat tindakan sembrononya. Dion berjalan mendekatinya bermaksud mengambil pecahan gelas itu tapi Laura terus berjalan mundur menghindarinya sengaja melakukannya


“Sayang maafkan mommy, kamu harus bantu mommy menahan rasa sakitnya agar mommy bisa mencari jalan keluarnya” batin Laura menahan rasa sakit dan perih di tangannya yang terluka


“Ra lepaskan” rebut Dion yang berhasil menangkap tubuhnya agar tidak lari lagi


“Berikan itu padaku! Ayo berikan” rebutnya dengan paksa dan berhasil melakukannya


“HENDRRIIII…” teriaknya memanggil sang asisten


“Ya tuan” datang dengan cepat karena teriakan tuannya


“Cepat siapkan mobil dan pergi ke rumah sakit sekarang!” perintahnya


“Siap tuan” berlari meninggalkan secepat mungkin


“Ayo kita ke rumah sakit” ajaknya. Namun baru beberapa langkah Laura berjalan dirinya langsung pingsan karena kehilangan banyak darahnya


***


RUMAH SAKIT


Dion menunggunya tepat di ruang IGD bersama asistennya


“Tuan biarkan saya mengobati tangan anda juga terluka”


“Oh ya” memberikan tangannya


Hendri pun mengobati tangan tuannya yang juga terluka namun tidak parah


“Dion?” terdengar seseorang memanggilnya


“Rey?” Dion kaget melihatnya ada disini


“Sedang apa kau disini? Ada apa dengan tanganmu” tanya Rey memperhatikan tangannya yang banyak tertempel hansaplast


“Aaa… aaku sedang menunggu temanku yang sakit” terbata-bata


“Ahh ini tadi aku tidak sengaja menjatuhkan gelas dan malah terkena pecahannya saat ingin mengambilnya. Apa kabarmu lama tak jumpa?” jawabnya gugup


“Ohh begitu, aku baik-baik saja bagaimana denganmu?” tanya Rey


“Aku juga baik-baik saja sama sepertimu” senyum yang dipaksakan


“Aku harap dia segera pergi dan tidak mengetahuinya. Maaf Rey aku menyembunyikannya dari kalian semua” batin Dion


”Syukurlah, aku dengar kau sudah sukses sekarang setelah kejadian itu” kejadiannya saat dengan Laura


“Yaa… aku berusaha memperbaiki semuanya dan memulai lagi dari awal meski sulit. Rey apa yang kau lakukan disini?” dengan wajah sedih


“Ohh ya Dion kan tidak tau jika Laura masih hidup. Pasti dia juga senang mendengarnya tapi ebaiknya aku tidak memberitahunya ini akan lebih baik untuk Laura dan calon anaknya nanti” batinnya


“Aku sedang menemani istriku berobat. Kapan-kapan datanglah ke café ku lagi”


“Pasti Rey”


“Kalau gitu aku pergi dulu istriku pasti sudah menunggu, dan cepatlah mencari istri” pergi berjalan


“Dia terlihat aneh, apa hanya perasaanku saja ya” batin Rey


“Aku sudah menemukannya Rey” terdengar samar-samar oleh Rey


Setelah tak terlihat lagi punggung Rey dokter pun keluar dari ruang IGD


“Dokter bagaimana keadaan istri saya?” menghampiri


“Kabar buruk Tuan istri anda sedang tak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah, sedangkan persedian darah A negative di rumah sakit sedang kosong karena golongan darahnya sangat langka. Jadi saya mohon bantuannya itu membantu kami mencari golongan yang tepat untuknya. Kami juga akan mencarinya dari rumah sakit terdekat” kata dokter


“Baik dok saya akan membantu mencarinya” jawabnya dengan panik


“Tolong lakukan secepatnya ya tuan” Dion mengangguk dan dokter pergi meninggalkannya


“Hendri cepat cari golongan darah A negative jika perlu bayar barapapun mereka yang mau mendonorkannya” titah Dion pada asistennya yang sejak tadi menemaninya


“Baik tuan saya akan segera mencarinya. permisi” Hendri pun langsung pergi untuk mencari sang pendonor darah untuk wanita yang di cintai tuannya itu


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode