
Perkenalan Audry dengan Rayhan
Dan kau hadir merubah segalanya menjadi lebih indah...
Kau bawa cintaku setinggi angkasa...
Membuatku merasa sempurna...πΆπ€π΅
##Rayhan Vernando##
***Mengapa aku sangat mencintai dia tak bisakah aku melupakannya? Sudah sangat lama aku memendam rasa padanya. Saat pertama bertemu sampai saat ini aku masih menyayanginya. Wajahnya yang anggun, penyayang itu tak mampu aku lepaskan dari pikiranku. Berbagai cara aku lakukan untuk mendekatinya, namun tetap saja dia tidak pernah bisa peka dengan perasaan ini. Apa dengan meninggalkannya adalah jalan satu satunya untuk melupakannya?
Dear Audry Vernanda Putri***
****
Ketika jatuh cinta, perasaan yang lebih sering muncul pastinya adalah bahagia atau senang. Melihat dia tersenyum juga akan turut membuatku ikut tersenyum. Aku akan selalu mencari cara untuk bisa dekat denganmu, tidak hanya itu, tentunya aku akan memberikan perhatian untukmu tatkala orang tuamu tak pernah ada di rumah, kerja dan kerja adalah prioritasnya. Aku akan menjadi tangan dan kakimu yang akan membawamu merasakan keindahan dunia.
Namun aku tak tahu harus memulainya darimana, menyapamu saja rasanya aku tak berani, apa dayaku?
Bahkan anginpun membisu
Ketika aku mengadu tentang apa saja yang bertalian dengan dirimu. Di sebuah mall besar dengan ramainya orang, aku mampu menemukanmu Audry...kau terlihat kesusahan dalam menghadapi takdirmu..,
"Mari aku bantu" hanya itu kata kata yang mampu aku katakan kepadanya, hatiku tak sanggup melihatnya begitu kewalahan dengan tongkat korneanya.
"Ohh, gak usah.. Biar saya pakai sendiri" jawabnya dengan anggun dan sedikit senyuman yang ditunjukkan kepadaku. Ya..senyum itu yang selalu aku nanti nanti, senyum tulusnya yang mampu membuat aku tak bisa sedikit saja tuk tidak memikirkannya.
"Tidak masalah..mari aku bantu" kataku sambil memakaikan sepatu kaca yang sangat cocok dengan kaki putih bersihnya.
"makasi ya, maaf aku gak bisa lihat" balasnya sambil memberikan sedikit
senyuman lagi kepadaku. Bagaimana aku tak meleleh saat didekatnya, menatapnya sedekat ini, bagaikan mimpi di siang bolong yang begitu jarang aku alami.
"Kenalin namaku Audry " sambil menyodorkan tangannya kearah yang menyamping dariku. Dengan segera aku jabat tangan halusnya itu.
"Ohh..iya, kenalin aku.." akupun berpikir sejenak nama yang pas dan keren untukku. Seperti kalian tahu aku ini hanyalah manusia biasa yang tak pernah Audry lihat. Tak seperti Leona, hidup yang berkemewahan, namun tak seberuntung diriku yang masih memiliki watak baik terhadap gadis gadis itu.
"Leona,? Nice to meet you Yona"
"nice to meet you too Audry."balasku kepada Audry.
"Mungkin ini adalah awal untuk Audry mulai mengenalku" batinku dalam hati.
##AUTHOR POV##
Matahari menyapa dari ufuk timur yang berhasil menyinari wajah gadis berkulit putih, dengan kornea mata biru sebagai ciri khas gadis itu melalui jendela kamar yang bercat pink itu, yang berhasil membuat gadis itu merasakan kehangatan di pagi hari. Audry Vernanda Putri, Ia tampak bersemangat dan ceria hari ini, karena Ia telah menjadi siswi SMA Granusa di Jakarta. Audry adalah anak dari pasangan suami istri Marvin dan Alena. Ayahnya merupakan pemilik perusahaan industri terbesar di kota ini. Sedangkan ibunya merupakan konsultan pertanian di perusahaan ternama di kota ini.
Dengan langkah kaki yang bergerak secara perlahan menuruni anak tangga rumah yang terbuat dari kayu itu.
"Mah, pah..Audry berangkat ya" katanya sambil berpamitan kepada wanita yang disebut mama itu.
"Kamu gak sarapan dulu?" kata wanita cantik walau sudah berumur 40-an itu.
Audry hanya membalasnya dengan gelengan kepala " Enggak usahlah mah, nanti Audry sampe sekolah kesiangan"
Audry adalah tipe orang yang tidak mau mengulur waktunya untuk berangkat ke sekolah. Karena ini adalah hari pertamanya masuk ke sekolah barunya, dengan alasan Sang ayah pindah wilayah kerja.
"Kalau gitu mamah siapin bekal ajak ya? Tadi mamah buat nasi goreng tuh" kata mamahnya yang hanya dibalas dengan anggukan.
"Yaudah deh mah, Audry bawa bekal"
Setelah memasukkan kotak bekal yang berwarna orange itu, Ia langsung mencium punggung tangan Ibu dan Ayahnya. Audry pun diantar oleh pak Marchel yang sudah sedari tadi menyiapkan mobil untuknya.
****
Sesampainya di depan gerbang sekolah SMA Granusa, Audry pun melangkah menuju kelasnya dengan bantuan tongkat korneanya sebagai alat penuntunya. Ia pun merasakan keadaan sekolah saat ini masih dalam keadaan sepi. Ia pun melanjutkan langkahnya tulk melewati koridor.
Brruukkk...
"Aduhh..sakitt.." Audry meringis kesakitan lalu memegang lututnya yang terbentur itu.
"Kamu gak apa apa?" Suara laki laki itu yang mampu dia kenal, hal itu tentunya membuat Audry bertanya tanya apakah itu suara...??
##ayoo itu suaranya siapa tadi yang menabrak Audry? penasaran dengan kelanjutannya?? ayo baca di next episode ya,πβΊβΊβΊ