
“Mari dok, silahkan masuk” ucap Mang Ujang yang datang bersama seorang dokter
“Iya pak” sahut dokter
“Bu… bu… ini dokter Elsa sudah datang” teriaknya sambil memasuki vila
“Iya pak” datang menghampiri
Mereka pergi ke kamar untuk melihat keadaan Lyra. Namun ternyata kamar terlihat sangat sepi.
“Lho pak, dimana orang yang harus saya periksa?” tanya dokter
“Lho bu kok neng Lyra nggak ada?” tanya suaminya
“Tadi ada kok pak kan tadi lagi nggak sadar diri. Saya juga nggak tau pak, mungkin sudah siuman dan lagi di kamar mandi” berjalan menuju kamar mandi dan mengecek ke dalam
“Pak disini nggak orang” ucapnya membuat semua kebingungan
“Lho gimana sih bu kok nggak di tungguin” mulai resah
“Tadi perut saya mules pak jadi ke toilet dulu, baru selesai pas bapak datang teriak-teriak tadi”
Mata mereka menyusuri segala sudut di kamar itu
“Bu itu kok lacinya kebuka” tunjuknya pada salah satu laci kecil yang terbuka di samping tempat tidur
“Iya pak kok kebuka ya” jalan menuju laci dan melihat
“Bu, kosong?”
“Jangan-jangan dia sebenarnya maling bu. Ini kunci mobilnya nggak ada” ucapnya dengan mengangkat sebuah kotak berwarna merah yang terlihat kosong
“Kayaknya bukan pak, ibu aja kayak nggak asing sama mukanya tapi ibu lupa. Apalagi dia tadi sampai teriak-teriak kayak kesakitan dan mukanya pucet gitu” bela istrinya
“Ibu ini malah membela maling yang jelas-jelas sudah mencuri mobil majikan kita
“Sudah daripada kalian berdebat mending telfon polisi aja” ucap sang dokter
“Bener pak kata Bu dokter Elsa. Cepet lapor polisi terus telfon neng Nindy atau Den Gery lapor dan minta maaf”
“Iya-iya bu. Sebentar tapi mending telfon mereka dulu baru polisi”
“Terserah bapak mau yang mana dulu. Cepetan pak”
“Iya.. iya bu…”
Hingga sesaat kemudian
“Nggak di angkat bu sama neng Nindy”
“Coba sama den Gery pak” desaknya
“Nggak di angkat juga bu”
“Coba terus dong pak sampai di angkat” kesal istrinya
“Hallo mang ujang, ada apa?” terdengar suara dari sebrang sana
“Hallo den Gery selamat malam maaf mengganggu.. anu.. ituu den…” ucapnya ragu-ragu
“Ada apa mang? Apa ada yang terjadi” ucap Gery
“Iya den, sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya den” ketakutan
“Minta maaf buat apa mang? Apa sudah tidak betah disana?”
“Bukan, bukan itu den saya betah kok kerja disini”
“Lalu?”
“Itu den, mobilnya hilang di bawa kabur orang”
“Lho kok bisa? Gimana ceritanya mang” kaget. Mang ujang pun menceritakan secara detail
“Saya minta maaf den karena sudah sangat teledor sehingga mobilnya hilang di ambil orang” ucapnya sedih
“Ya udah, mang Ujang nggak usah takut / panik yang penting mang ujang harus lapor polisi dan ceritakan kejadiannya secara detail. Saya nggak akan minta ganti rugi kok sama mang ujang atau istri mang ujang”
“Yang bener den? Terimakasih den dan sekali lagi saya minta maaf semoga mobilnya segera ketemu ya den”
“Iya pak”
“Kalau gitu saya matikan telfonnya ya den langsung telfon polisi. selamat malam” mematikan telfon
***
“Ada apa sayang, siapa yang telfon malam-malam gini”
“Oh itu mang ujang yang telfon katanya mobil yang ada di vila hilang di curi orang” ucapnya pada sang istri
“Lha kok bisa yang?”
“Katanya sih ada cewek yang lagi numpang teduh gitu di vila terus singkatnya dia pingsan dan mang ujang cari dokter buat periksa tapi pas udah dateng kosong dan mobil juga ngga ada”
“Huss… jangan main hakim sendiri biarin itu jadi urusan polisi sayang”
“Kok kamu ngebela maling sih sayang. Oh pasti karena dia cewek ya” cemburunya
“Ya nggak dong sayang, nanti kalau kamu sampai menghajarnya dan dia kenapa-kenapa nanti kamu juga yang dapat masalah”
“Hmmm… ya udah”
“Cemburu kok sama maling sih yang” ledeknya
“Biarin, kamu mau kemana?”
“Mau cari Nindy, aku suruh buat ke vila besuk buat ngurus masalah ini soalnya besuk aku ada meeting yang di kantor” berjalan keluar
“Nindy… kamu belum tidur” di lihatnya Nindy sedang berada di ruang santai dengan tv yang menyala namun dirinya malah berkuta dengan laptop di hadapannya
“Belum kak, ini masih ada kerjaan yang harus cepet di selesaikan. Ada apa?”
“Oh, besuk kamu sibuk nggak?”
“Hmmm kayaknya nggak, ada apa?” tanpa menoleh
“Kakak minta tolong buat kamu pergi ke villa kita di puncak bisa?”
“Buat apa?” tolehnya menatap kakaknya serius
“Ada masalah disana nggak terlalu besar kok, Cuma mobil kita hilang di ambil orang”
“Kok bisa?”
“Panjang lah ceritanya” menceritakan
“Ya udah besuk pagi aku pergi ke villa”
“Okke, kakak Telfon Surya biar bisa menemanimu”
“Ih kak Gery apaan sih, aku mau berangkat sendiri ya kak” kesalnya
“Nggak bisa Nind, harus ada yang jaga kamu kakak nggak mau terjadi apapun denganmu”
“Kakak nyebelin” kesalnya lalu meninggalkan pergi masuk ke dalam kamarnya
***
Keesokan harinya
“Apa kakak jadi menghubunginya untuk menemaniku?” tanya Nindy yang sedang sarapan bersama Gery, Rya dan keponakan cantiknya Aulia
“Siapa? Surya maksudmu?”
“Tentu saja, siapa lagi selain dia. Kakak terlalu percaya padanya” ketus
“Ya, kakak sudah menelfonnya tadi malam dan Surya akan menemanimu”
“Lebih baik aku segera pergi agar tidak bertemu dengannya” batin Nindy
“Kenapa sih Nind makin kesini kok kamu kayak nggak suka gitu sama Kak Surya? Apa dia membuat kesalahan yang fatal sampai kamu nggak suka gitu” tanya Rya
“Nggak kok, Cuma lagi pengen sendirian aja”
“Daripada kamu sendirian mending cari pacar sana”
“Kau jadi bawa-bawa pacar sih” kesalnya
***
“Mobil siapa ini kenapa parkir sembarangan” ucap Surya yang baru saja datang untuk menjemput Nindy
“Siapa tamu yang datang pagi-pagi seperti ini. Bukankah Nindy harusnya pergi denganku” tebak-tebaknya tak menentu
Surya segera masuk ke area rumah sedang berjalan menuju pintu utama terlihat sesosok yang tergeletak di depan pintu membuatnya kaget dan langsung di hampirinya melihat sesosok wanita yang sedang tergeletak tak sadarkan diri itu.
“NINDY… GERYYYY…. NINDY… GERRYYY… KELUAR KALIAN CEPAT”
“Surya?” heran Gery
“Panjang umur sekali Kak Surya” cetus Rya
“Lihat tuh kelakuan temen kakak, nggak sopan banget. Pagi-pagi udah teriak-teriak di rumah orang bikin keributan aja” kesal Nindy yang mendegar suara Surya yang berteriak
“Ada apa ya dia berteriak seperti itu?” Gery penasaran
“Udah yang kita samperin aja keluar yukk” ajak Rya
“NINDY… GERYYYY…. NINDY… GERRYYY… KELUAR KALIAN CEPAT” terdengar lagi suaranya
“Barbar banget sih nih orang teriak teriak ngrusak mood orang aja”
Merekapun segera keluar untuk melihat apa yang terjadi
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode