
Tengah malam Lyra terbangun dari tidurnya entah kenapa rasanya sesak pada tubuhnya. Di baringnya tubuh ke kanan ke kiri bahkan hingga menghadap ke atas tetap terasa tidaknya hingga Davin ikut terbangun.
“Ada apa sayang? Apa kau mimpi buruk?” tanya Davin
“Tidak, maaf mengganggu tidurmu mas”
“Kau yakin?” tampak gelisah di wajahnya
“Iya, tidurlah kembali mas” ucapnya membenarkan selimut dan membelakangi tubuh Davin
Tetap saja matanya tidak bisa terpejam entah apa yang membuatnya tidak bisa tidur. Tidak ada pikiran tertentu yang membebaninya. Davin yang tau bahwa istrinya belum tidur akhirnya menarik tubuhnyanya dalam pelukannya.
“Kemarilah” dengan tangan yang menarik tubuh Lyra sehingga tubuh mereka saling menempel
“Mas”
“SSssstt… Sudah tidak apa-apa tutup matamu dan tidurlah, aku akan menunggumu hingga tertidur” sambil tangannya mengusap perut Lyra dari luar bajunya
Dan benar Lyra langsung tertidur dengan pulas dan tampak tenang terlihat dari wajahnya “CUP” Davin mengecup ujung dahi Lyra dan kembali mengusap pelan perut istrinya hingga ia ikut tertidur.
***
“Oounty… angun…” tepuk aulia dengan tangan mungilnya di pundak Nindy masih tak bergerak. Di dekatnya tubuh Aulia tepat di telinga Nindy dan berteriak.
“OOoounty… angun…” membuat telinga Nindy terasa sakit mendengar suara teriakan dan Nindy pun bangun terduduk di atas ranjangnya
“Aulia kenapa teriak-teriak sih? Sini kamu” di pangkunya Aulia
“Onty angun, udah jam duaa elas..” jawabnya
“Sayang ini masih pagi dan baru jam 8 sayang” ucapnya dengan melirik jam weker di atas meja
“Pokonya onty aangunn.. mamah suruh Lia biiar onty angun buat salapan” ucapnya dengan wajah gemas
“Baiklah, aunty bangun dan sarapan dengan kalian. Tunggu disini” Aulia mengangguk
“Ayo kita turun kebawah” ajaknya setelah keluar dari kamar mandi. Aulia pun menghampirinya
“Good Morning” ucap Rya yang masih menyiapkan sarapan
“Morning. Apa ini?” Nindy pun duduk di sebalah Aulia
“Itu bubur daging sapi” jawabnya ikut duduk di hadapan Nindy
“Apa tidak ada daging gajah?” celotehnya
“Apa daging gajah boleh di makan mah?” tanya Aulia ikut-ikut karena mendengarnya dengan suara yang masih belum jelas pengucapannya
“Kau buat saja sendiri” jawabnya pada Nindy
“Tentu saja tidak sayang, jika kita makan daging gajah maka gajah tidak aka nada lagi di kebun binatang karena habis di makan manusia” terangnya pada buah hati kecilnya
“Tapi.. Ounty Nind mau memakannya”
“Tidak sayang, aunty hanya bercanda” jawab Nindy tersenyum jahil
“Aulia lanjutkan makanmu sayang” perintah mamahnya
“Iya mah”
“Kau tidak bertanya pergi kemana aku kemarin?”
“Tidak perlu” jawab Rya singkat
“Kenpa?”
“Karena aku sudah mengetahuinya”
“Pasti Kak Surya yang memberitahumu” Rya hanya memberikan senyumannya
“Apa Kak Gery tidak kemari?”
“Dia hanya mengantar harus ke kantor karena ada meeting pagi”
“Oh, yaa. Sepertinya hari ini aku akan pergi ke Butik”
“Apa Lia boleh ikut onty?” tanya gadis kecil yang baru saja menyelesaikan sarapannya
“Tentu cantik, tunggu sebentar ya aunty siap-siap dulu setelah ini”
“Oke aunty”
***
“Selamat pagi” ucap Laura yang baru saja melihat suaminya terbangun dari tidurnya
“Selamat pagi sayang, apa tidurmu nyenyak semalam”
“Tentu berkatmu, kemarilah aku sudah menyiapkan sarapan” ucapnya dengan senyum manis. Davin pun duduk di kursi meja makan
“Mas sejak tadi aku tidak melihat Billy, panggilan untuk sarapan bersama”
“Billy sudah pulang ke Bali”
“Kenapa?”
“Ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikannya untuk menggantiku. Apa kau mau aku yang pergi?”
“Pergilah kalau kau mau” ucap Lyra dengan senyum menantang
“Apa kau memilih Billy daripada aku?” kesalnya
“Apa kau cemburu mas?” tawanya
“Tentu saja, kau memilih Billy daripada aku suamimu”
“Mana mungkin aku berpaling dari suamiku yang tampan dan cemburuan ini” membuat Davin malu
“Akhirnya kau mengakui kalau suamimu ini sangat tampan sayang”
“Ya sedikit”
“Kenapa hanya sedikit?”
“Yang ku mau hanya sedikit” ledeknya
“Ayo kita jalan-jalan mas, besuk kita harus kembali kan” ajaknya
“Ya.. anggap saja seperti itu” ucapnya dengan senyum yang di paksakan
Sesaat saat berjalan-jalan di kebun teh
“Segaaarrrnya… udara pegunungan memang beda” ucapnya menikamti udara sejuk di sekitaran kebun teh
“Yaaa… ini bagus untuk relaksasi dari pekerjaan yang selalu menumpuk”
“Sayang, apa kau mau berfoto disini”
“Boleh mas”
Beberapa kali Davin mengambil foto Lyra dengan berbagai gaya
“Sini berikan cameranya padaku, aku akan berganti mengambil fotomu” ucap Lyra menghampirinya
“Tidak perlu, sebaiknya kita foto bersama”
“Baiklah”
“Lebih baik jika Billy ada disini sekarang untuk mengambil foto kita berdua” kesal Davin
Merekapun mengambil beberpa foto bersama di kebun teh
“Kenapa telingaku terasa gatal dan panas” batin Billy yang mengusap telinganya hingga memerah
“Ayo pulang, ini sudah semakin siang” di genggamnya tangan istrinya
***
“Mas makan siang udah siap, apa kau mau makan sekarang?” tanya Lyra yang menghampiri suaminya yang sedang duduk di atas sofa dengan menatap pada televise
“Baiklah, ayo kita makan sekarang. Apa yang kau masak kali ini” berjalan ke meja makan
“Hmmm.. aku hanya memasak bahan-bahan sisa yang ada di dapur seperti kentang balado, oseng kangkung dan cumi crispy”
“Semua masakan rumahan?”
“Ya tapi rasanya tidak kalah dengan milik restoran bintang lima”
“Kau memang istriku yang terbaik sayang”
“Tentu ayo habiskan” menyerah piring
“Benar katamu ini sungguh enak. Siapa yang mengajarimu sayang?”
“Tidak ada, aku bisa memasaknya begitu saja seperti sudah terbiasa”
“Hmmm.. padahal dulu kau tidak pernah memasak sekali pun sayang”
“Benarkah? Kalau begitu mulai sekarang aku akan memasak apa kamu inginkan mas”
“Hoooaammm… kenyang ini membuatku mengantuk”
“Pergilah tidur, aku akan membereskan ini dulu”
“Tidak, aku akan membantumu mencucinya kamu sudah capek memasaknya”
“Tidak perlu mas, aku bisa sendiri”
“Jangan membantahnya sayang”
“Okelah, aku tidak akan menolak”
***
“Tiiiinnnnnnn……” suara klakson mobil yang terdengar sangat kencang
“Hah, apa orang itu mau cari mati?” gerutu Nindy kesal
“Apa kalian tidak apa-apa?” tanyanya pada Rya dan Aulia yang duduk dalam mobilnya
“Ya, kami tidak apa-apa” jawab Rya
“Hampir saja kita celaka gara-gara mobil itu, dia harus di kasih pelajaran. Kalian tunggu disini” kesalnya keluar dari mobil
“Nindy tidak usah” teriak Rya namun Nindy sudah terlanjur pergi
“Sayang kamu tunggu disini dan jangan keluar ya” ucapnya pada gadis kecilnya
“Baik mamah” jawab gadis cantiknya
“Hey, turun!” teriak Nindy sambil mengetuk kaca mobil di depannya yang tak terlihat siapa pemilik di dalamnya
“Nindy sudah, ayo kita pergi. Tidak ada yang terluka” ajak Rya
“Hey, keluar kau dasar pengecut” teriaknya lagi. Terbukalah pintu mobil dan keluarlah sang pemilik
“Ada apa?” tanya orang itu
“Ada apa kau bilang hah? Apa matamu buta kalau kau baru saja hampir membuat mobilku menabrak pembatas jalan karena ulahmu yang tak bisa membawa mobil itu menyetir dengan ugal-ugalan hah. Kau membahayakan banyak nyawa disini” makinya
“Baiklah sorry” jawabnya cuek lalu membuka pintu mobilnya dan ingin pergi, belum sempat masuk Nindy mendorong pintunya hingga tertutup kembali dengan kencang
“Mau kemana kau? hah”
“Pergi, dan aku sudah minta maaf padamu” singkatnya
“Maaf katamu? Itu tidak cukup” tatapnya dengan tajam
“Lalu apa yang kau mau? Ganti rugi? Tidak ada yang rusak atau bahkan lecet setitik pun nona. Aku tidak mau” balasnya dengan tatapan tajam. Lalu pergi
“Hey, aku belum selesai bicara” di ketuknya kaca mobil namun orang itu tidak menggubrisnya dan pergi begitu saja
“Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab” teriaknya dengan kesal
“Sudahlah Nind tidak ada yang terluka, ayo kita kembali”
“Liat saja nanti kalau sampai aku melihatnya lagi akan ku hajar dia” kesalnya
“Ayo pergi”
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode