
BANDARA
“Nindy…” panggil Rifky segerlah Nindy berlari ke arahnya
“Terimakasih sudah membawakan koperku”
“Sama-sama, segeralah pergi jika kau tidak ingin ketinggalan pesawatmu” menyerahkan koper
“Baiklah, sekali lagi terimakasih sudah membantuku disinii” mereka berpelukan untuk terakhir kalinya
“Bye” ucap mereka saling berbalasan. Nindy melambaikan tangannya dan berjalan menjauh pergi dengan Rifky yang masih terus tersenyum melihat punggung temannya hingga pergi tak terlihat lagi.
“Sepertinya aku ingin ke toilet, masih ada waktu” ucapnya yang melihat ke arah jam di tangannya
Ceklekk.. suara pintu yang di bukanya baru beberapa langkah masuk “Braakk” hape yang berada di tangan Nindy terjatuh matanya mengarah ke depan melihat orang yang berada di depannya dengan mata yang membulat.
“Apa anda tidak apa-apa nona?” tanya wanita yang dibuatnya kaget itu mengambilkan hape Nindy yang terjatuh dan memberikannya.
Air matanya mengalir begitu saja tanpa permisi membasahi pipinya. Masih menangis tanpa berbicara sekata pun Nindy memeluk orang yang sedang berdiri dihadapannya.
“Kenapa anda malah menangis nona?” tanyanya bingung dengan sikap Nindy yang sangat aneh baginya
“Ra, aku sangat merindukanmu” kata yang akhirnya keluar dari mulutnya
“Maaf nona, apa kita saling mengenal?” semakin bingung
“Apa kau tidak mengingatku? Aku Nindy sahabatmu?” melepaskan pelukannya dan menghentikan tangisannya
“Sahabat? Maaf aku tidak mengingatnya” jawabnya lagi dengan raut muka yang masih tidak mengerti apa yang terjadi
“Laura apa kau benar-benar ingin melupakanku dan kita semua?” tanya lagi. Mengusap air mata yang ada di pipinya
“Melupakan kalian? Laura? Sepertinya anda salah orang nona. aku bukan Laura” jawabnya
“Salah orang? Mana mungkin aku salah orang aku sangat mengenalmu sahabatku Laura dan itu kamu ra yang sekarang berada di habadapanku” kedua tangan yang memegang lengan wanita itu
“Saya Lyra bukan Laura seperti yang anda kira” jawabnya
“Omong kosong apa yang kau ucapkan hah” ucapnya mulai kesal
“Saya mengatakan yang sesungguhnya saya Lyra dan saya tidak mengenal anda”
“Hentikan sandiwaramu ra, apa masih belum cukup sandiwara kematianmu kemarin hah? Siapa yang menyuruhmu berbuat seperti ini? Siapa yang memaksamu hah?”
“Asal kamu tau kita semua menunggumu bangun dari komamu yang hampir setahun akibat kecelakaanmu saat balapan motor, mengkhawatirkanmu tapi apa yang kamu perbuat hingga sekarang hah”
Nindy mulai marah dengan nada kesalnya terus bertambah karena Laura tak mengenalinya
“CUKUP! untuk apa saya bersandiwara dengan anda orang yang tidak saya kenal” teriak Lyra yang juga kesal
“Sudah saya katakan saya Lyra bukan Laura sahabat anda nona, jika anda masih tidak percaya silahkan anda baca ini”
Lyra menyerahkan paspor yang ada di tangannya
Nindy membacanya tak percaya apa yang dia katakan benar disana tertulis nama Lyra Jakson bukan Laura sahabatnya dengan tempat dan tanggal lahir yang juga berbeda, disan. Matanya kembali mengarah pada Lyra tak percaya dia hanya diam. Lyra kemudian mengambil paspornya kembali.
“JIka anda masih belum percaya terserah. Saya tidak peduli. Maaf saya harus pergi. PERMISI” Lyra pergi meninggalkan Nindy begitu saja. Baru beberapa langkah keluar kakinya terhenti kepalanya terasa sangat pusing dan sakit.
“Kenapa kepalaku sakit seperti ini” batinnya dengan tangan memegang kepalanya. Davin yang melihatnya langsung berlari menghampirinya
“Sayang ada apa?” memegangi tubuh istrinya yang hampir terjatuh
“Aku tidak apa-apa, hanya kepalaku tiba-tiba sedikit sakit”
“Ayo kita ke rumah sakit”
“TIdak, aku tidak apa-apa. Tapi bisakah kita tidak kesana dan pergi ke puncak saja? Aku ingin kesana”
Lyra mengangguk menuruti perkataan suaminya
***
Nindy jatuh terduduk di lantai toilet tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Perasaannya bercampur aduk yang awalnya senang dikira dia bisa bertemu sahabatnya kembali tapi justru dihadapkan pada orang lain yang sangat mirip pada sahabatnya. Harapannya kini sudah hancur.
“Mata itu milih sahabatku”
“Apa mungkin benar dia bukan sahabatku. Tuhan kenapa kau melakukan semua ini siapa dia sebenarnya kenapa dia sangat mirip dengan sahabatku” teriak dibatinnya. Air matanya kembali mengalir hingga membuat matanya sedikit membengkak.
***
“Sayang lihat Nindy sudah datang” tunjuk Gery pada adik sepupu kesayangannya yang berjalan menuju arahnya meski wajah sedikit tertunduk dan tertutup masker tapi masih bisa mengenalinya. Rya mengalihkan pandangannya pada wanita itu yang terus berjalan dan hampir melewatinya.
“Hey mau kemana kau?” ucap Rya menarik tangannya membuat pemiliknya berhenti berjalan dan menoleh tak sadar ada orang yang menunggunya
“Ada apa denganmu?” Rya melihat matanya yang sembab dan bengkak dan memaksa membuka masker yang menutupi wajahnya
“Nindy apa yang membuatmu menangis?” imbuh Gery khawatir melihat wajah adiknya seperti itu
“Bisakah kita langsung pulang? Aku sangat lelah” terdengar suara yang sangat pelan dan tak bertenaga itu
“Baiklah ayo kita langsung pulang, sayang bawakan koper Nindy” mengambil koper dan memberikannya pada Gery dan berjalan menggandeng tubuh Nindy yang tak bertenaga
Mereka mengerti ini bukan saatnya untuk mengintrogasi apa yang sebenarnya terjadi pada Nindy. Mereka percaya jika waktunya sudah tiba Nindy pasti akan menceritakan pada mereka apa yang terjadi. Sepanjang perjalanan Nindy hanya melihat ke jendela mobil yang ada di sampingnya dengan tatapan kosongnya. Ingatan itu terus saja berputar di kepalanya.
***
“Jika kau belum siap untuk bercerita tidak apa-apa kami akan menunggu sampai kau siap, beristirahatlah” Rya menutup pintu kamarnya dan pergi
“Sayang aku khawatir dengan Nindy” duduk mengampiri suaminya setelah mengantar Nindy ke kamarnya untuk istirahat
“Aku juga, tapi kita juga tidak bisa memaksanya”
Tokk… tokk.. tok.. suara pintu yang terdengar di ketuk
“Biar aku yang membukanya” Gery berjalan menuju pintu
“Kalian sudah pulang?” terlihat Surya disana
“Masuklah”
“Kenapa muka kalian kusut seperti itu? Ada apa ? dimana Nindy?” ucapnya setelah masuk melihat Rya dan mendudukkan tubuhnya di sofa
“Kak Surya… Nindy ada di kamar”
“Ada apa ini, apa dia baik-baik saja?”
“Tidak, dia terlihat sangat buruk. Semenjak dari bandara hingga pulang Nindy hanya diam dan mukanya sangat sedih bahkan matanya membengkak karena banyak menangis”
“Apa yang terjadi padanya?”
“Tidak ada yang tau, dia belum mau menceritakannya” sela Gery
“Kita masih menunggunya untuk bercerita”
Semua orang bingung dalam satu ruangan memikirkan apa yang sebenarnya membuat Nindy begiti sedih setelah pulang dari pekerjaannya di Bali satu bulan lalu.
“Aku bertemu Laura di bandara” suara Nindy tiba-tiba terdengar.
Semua mata mengarah padanya yang sedang menuruni tangga sambil menggendong Aulia yang baru saja bangun dari tidurnya. Mereka tak percaya apa yang dikatakannya membulatkan matanya memandang.
“Pasti kalian tak akan percaya apa yang aku katakan barusan”
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode