
“Pasti kalian tak akan percaya apa yang aku katakan barusan”
“Nindy dia sudah tenang disana. Apa kau yakin jika itu Laura?”
Rya mengambil alih Aulia dan menggendongnya
“Dari awalnya aku sangat yakin jika dia sahabatku Laura, wajah, tubuh, suara bahkan tatapannya aku sangat mengenalinya itu sama persis, bahkan sebelum di bandara aku sempat melihatnya di sebuah café yang katanya dialah pemiliknya dan mereka memiliki cake yang rasanya sangat persis dengan yang di buatnya” air matanya kembali menetes
“Lalu bagaimana?” Rya ikut duduk di sampingnya setelah memberikan Aulia pada baby sister
“Aku sangat berharap jika itu benar dia hingga akhirnya dia menunjukkan paspor yang bertuliskan nama Lyra Jakson disana” tangis nya semakin mengeras mengingat kejadian itu
“Apa ada orang yang sangat mirip hingga seperti itu? Kita semua bahkan ada saat pemakaman itu” ucap Surya yang menyakinkan jika Nindy salah orang
“Tenanglah, mungkin benar dia Lyra bukan sahabat kita”
“Nindy kamu harus merelakan nya jangan seperti ini kasihan Laura di sana” ucap Gery
“Benar kalian pasti tidak akan mempercayaiku” Nindy pergi kembali ke kamarnya dengan kesal
Rya yang mau mengikutinya di larang oleh Gery
“Biarkan dia sendiri dulu”
“Aku jadi penasaran seperti apa orang yang bernama Lyra itu” Rya menyilangkan kedua tangannya dan kembali duduk
***
“Bagaimana kepalamu apa masih terasa sakit sayang?” Davin menghampiri istrinya yang baru saja membuka matanya
“Ya sudah lebih baik”
“Syukurlah”
“Kapan kita akan berangkat?”
“Apa kau tidak sabar ingin honeymoon lagi sayang?”
Seketika pipi Lyra menjadi merah
“Aku hanya ingin menikmati udara di sejuk disana”
“Banarkan, bukankah kau hanya ingin berduaan denganku?” sergap Davin yang kini berada di atasnya
“Tii.. tidak..” Davin segera mencium bibir istrinya dengan mesra yang lama kelamaan berubah menjadi ciuman yang bergairah
“Kenapa bibirmu menjadi sangat nikmat dan menggoda huh” selangnya saat melepaskan untuk mengambil nafas. Ketika Davin ingin melakukannya kembali terdengar suara perut berbunyi yang membuatnya sedikit kesal.
“Aku lapar” ucap Lyra penuh syukur bisa lepas dari suaminya yang seperti singa yang ingin menerkam kelinci
“Baiklah ayo kita pesan makan” Davin bangkit dari tempat tidurnya
“Ayo” jawab Lyra dengan gembira
“Akhir-akhir ini makan mu sangat banyak sayang, apa kau tidak takut gendut?”
“Tidak, aku bisa diet” jawabnya
“Jangan lakukan itu, aku lebih suka melihatmu yang berisi seperti sekarang” ucapnya dengan memeluk istrinya dari belakang
“Apa kau mau bilang aku ini sekarang gendut mas?” memutar balik tubuhnya menghadap suami dengan tatapan tajam
“Tidak, hanya sedikit lebih berisi apalagi dua gunung kembar milikmu” bisiknya membuat pipi Lyra memerah
“Dasar mesum” Lyra melepaskan pelukannya dari Davin dan berjalan keluar
“Aku tidak mesum itu benar bukan”
“Cepatlah aku sudah sangat lapar” teriaknya
“Ya aku pikir sekarang lebih kencang” batinnya malu terus berjalan
Davin berjalan di belakangnya dengan tersenyum
***
“Mas, coba deh lihat pemandangannya bagus banget kan” tunjuknya pada pepohonan hijau yang rimbun sepanjang perjalanan
“Iya cantik sepertimu” senyumnya
“Kau menyamakan aku dengan pohon?” toleh kepalanya memutar badan
“Bukankah kalian sama-sama makhluk hidup ciptaan Tuhan?” jawabnya menggoda
“Kau mau mencoba memancingku huh?” dilipatnya kedua tangan didada nya dengan mata yang menatap tajam
“Aku tidak sedang memancing sayang, aku sedang duduk di mobil bersamamu disini”
“Yayaya tidak hanya bersamaku tapi bersama Billy dan sopir kita” jawabnya dengan nada kesal menghadap kedepan
“Sayang kalau kamu cemberut cantikmu akan semakin bertambah lho, jadi tambah cinta deh” cubit pipi Lyra langsung memerah menahan senyum
“Lihat pipimu sampai memerah seperti tomat” tambahnya dengan tertawa
“Mas berhentilah menggodaku” tangannya bergerak mencubit pinggang suaminya kencang
“Aaauuuww… ampun.. sakit sayang”
“Makanya berhentilah menggoda dan duduk diam” melepaskan
“Baikklaah..”
“Ya ampun apa mereka merasa saling jatuh cinta lagi” batin Billy yang sedari tadi hanya diam mendengar
Karena terlalu banyak makan membuatnya mengngantuk akhirnya Lyra tidur sepanjang perjalanan di senderkannya kepala pada bahu Davin.
Setibanya di villa Davin segera membawa Lyra masuk ke dalam tanpa membangunkannya
.
“Hmmm…” pelan-pelan membuka mata
“Kenapa aku memeluknya erat sekali” batin Lyra memandang Davin yang tidur di hadapannya
“Apa dia setampan ini?” batinnya lagi
“Mau berapa lama lagi kau akan menatapku sayang” ucap Davin membuka matanya perlahan
“Jangan di lepas” menarik tangannya untuk memeluk lagi
“Sudah siang waktunya bangun”
“Aku tidak mau lebih nyaman disini karena udaranya dingin” mengeratkan pelukkannya
“Ini bukan dingin tapi sejuk mas”
“Sudahlah ayo bangun dan nikmati pemandangannya yang indah di luar sana” ucapnya membangunkan tubuhnya
“Jika kau tidak mau bangun aku akan jalan-jalan sendiri mas”
“Baiklah, aku akan bangun”
***
“Nindy, kau mau kemana?” ucap Surya yang baru muncul dari dapur
“Kenapa Kak Surya ada disini? Jangan bilang kalau Kak Surya nggak pulang semalam”
“Ya begitulah, tentu saja dengan restu dari kakak kesayanganmu. Jika tidak mana mungkin aku disini”
“Lalu dimana mereka?”
“Mereka sudah pulang semalam, ayo sarapan aku sudah membuatkannya untukmu”
“Aku tidak lapar, aku harus segera pergi” berjalan melangkah pergi
“Tunggu, kau mau kemana sepagi ini? Ayo sarapan sedikit aja”
“Lepas kak” mencoba melepaskan tangannya yang tertahan
“Tidak akan sebelum kamu memakan serapanmu karena sejak semalam kau belum makan dan katakan kemana kau akan pergi” titahnya
“Baiklah aku akan makan” melangkahkan kakinya ke dapur
“Jadi kau mau pergi kemana?” tanya Surya lagi yang tangannya menyerahkan sepiring nasi goreng seafood favoritenya
“Aku akan ke tempat Laura” ucapnya menyendokkan makanan ke mulutnya
“Baiklah, aku akan mengantarmu”
“Tidak perlu aku bisa sendiri”
“Aku akan menelfon Gery” mengambil hapenya
“Berhentilah mengacamku” kesalnya tangannya yang mencegah tangan Surya untuk bergerak
“Kau akan mengantarku” kesalnya
***
“Udara yang sejuk ini sangat menyenangkan bukan mas?” tanya Lyra yang sedang duduk di pinggir kolam dengan ruangan yang terbuka
“Aku tidak menyukainya ini sangat dingin, aku lebih suka berada di atas ranjang bersamamu”
“Jangan memulainya mas”
“Memulai apa?”
“Sudahlah, menyebalkan berbicara denganmu” kesalnya menyilangkan kedua tangannya
“Meskipun aku menyebalkan aku ini suamimu lho sayang”
“Benar kau suamiku, aku jadi ingin tau kenapa dulu aku ingin menikah bersamamu ya?”
“Tentu saja karena aku tampan, kau mencintaiku dan kau yang mengajakku menikah” senyumnya
“Hah benarkah aku yang mengajakmu menikah bukan sebaliknya?” katanya tak percaya
“Tentu, kau yang selalu mengejar cintaku” ucapnya tanpa berdosa
“Dasar pembohong mana mungkin aku melakukannya” gerutunya
“Tuan dan nyonya terlihat sangat bahagia sekarang meski terlihat seperti anak-anak yang suka berkelahi” batin Billy di balik pintu kaca yang sedang melihat majikannya berdebat
“Sudahlah mas aku capek berdebat denganmu” kesalnya
“Katakan kan kalau kau kalah”
“Tidak akan, mas aku ingin makan jagung bakar yang super pedas” tolehnya pada Davin
“Hah, baiklah aku akan meminta Billy untuk membelinya”
“Billy…” teriak Davin
“Iya tuan” langsung menghampirinya
“Tolong belikan jagung bakar pedas istriku yang cantik ini ingin memakannya”
“Baik Tuan” langsung melangkahkan kakinya
“Tidak, aku tidak ingin Billy yang membelinya tapi harus kamu yang membelinya mas” titahnya
“Hah, apa kau sedang mengidam sayang?” kagetnya
“Tidak” singkatnya
“Lalu kenapa harus aku yang membelinya, biarlah Billy yang membelinya sayang di luar sangat dingin” Billy pun jadi bingung harus melakukan apa
“Apa aku harus hamil dulu baru kamu akan membelikannya untukku mas?”
“Yaa.. huh.. baiklah aku akan membelikannya untukmu” bangun dari duduknya melangkah pergi, senyum Lyra terlihat mengembang
“Terimakasih. Jangan lupa extra pedas”
“Jadi bagaimana Tuan?” tanya Billy
“Biar aku yang membelinya tetaplah disini menjaganya” kesalnya lalu pergi
“Baik Tuan”
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode