
“Hay Kak Gery Kak Surya apa kabar?” sapa Laura yang melihat mereka datang menghampiri justru membuat mereka bingung ada apa dengan orang ini.
“Hay.. kami baik-baik saja. Bagaimana keadaanmu apa sudah mendingan?”
“Makanlah” Rya memberikan beberapa pilihan makanan untuknya
“Ya aku sudah lebih baik. Ayo kita makan bersama” ajaknya. Mereka berdua pun duduk
“Mah Lia mau omllet” kata gadis kecil itu pada mamahnya
“Iya sayang mamah buatkan sebentar ya. Oh ya sayang ini aunty Laura sahabat mamah”
“Sahabat seperti aunty Nind? Hallo aunty namaku Aulia anak mamah Rya dan Papah Gery” Rya mengangguk. Ucapnya dengan gemas
“Hallo sayang kau sangat menggemaskan sekali, berapa umurmu?” sapanya penuh dengan senyum
“3 tahun aunty” sambil menunjukkan jarinya
“LAURA?” ucap Gery dan Surya bersamaan kaget
"Apa maksudmu sayang?" Gery bingung
“Iya kak ini aku Laura” senyum jahil
“Bagaimana mungkin?” tanya Gery kembali
Akhirnya mereka berdua mendapat penjelasannya setelah selesai makan.
“Nindy apa kau punya ice cream di kulkasmu?” tanya Laura
“Apa kau belum kenyang?” Laura menggeleng
“Huh sepertinya ibu hamil memang punya selera makan yang tinggi kalian berdua memang sama. Tunggu aku akan mengambilnya untukmu” beranjak darii duduknya
“Tunggu, apa maksudmu dengan ibu hamil?” semua menatap Laura
“Apa kau tidak tau jika dirimu hamil ra?”
Lyra menggelenglam kepala menatap bingung. Semua jadi khawatir padanya karena kata dokter Laura tidak boleh terlalu banyak pikiran
“Ra, apa kau baik-baik saja?” tanya Rya
“Aku akan ke kamar biarkan aku sendiri” melangkah pergi
“Sungguh ini menjadi semakin rumit, bagaimana bisa dia tidak tau bahwa dirinya hamil dan kenapa dia harus melakukannya dengan pria itu” gelisah
“Tenanglah sayang” Gery menghampirinya duduk bersebelahan
“Bagaimana bisa tenang, masalah terus datang mengampiri sahabatku” mengeluh
“Laura pasti benar-benar syokk. Berapa kali dia melakukannya hingga itu terjadi” celoteh Nindy
“Apa ini waktunya memikirkan berapa kali harus melakukannya untuk itu terjadi. Satu kali pun bisa terjadi jika Tuhan menghendakinya” omel Rya
“Maaf aku harus pergi ada pekerjaan yang harus aku lakukan. Jika ada sesuatu kalian bisa menghubungiku” pamit Surya
“Baiklah terimakasih sudah datang” kata Gery
“Aku pergi dulu” pamitnya pada Nindy tapi tidak digubrisnya
***
“Bagaimana mungkin aku bisa hamil anaknya?” mengacak rambut
“Jadi aku mengandung anaknya padahal kita tidak menikah bahkan tidak saling mengenal. huh betapa bodohnya aku” putus asa
“Kenapa kau hadir disini padahal aku tidak menginginkanmu tapi aku juga tidak tega jika harus menghilangkanmu” berbicara pada perutnya dengan tangan berada di atasnya
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Betapa bodohnya aku… aaaggghhh” geramnya pada diri sendiri
Tokk tokkk tokk… suara pintu di ketuk
“Ra apa aku boleh masuk?’ tanya Nindy di balik pintu
“Masuklah”
“Jangan terlalu banyak pikiran, kasihan calon bayimu” duduk di ranjang sampingnya
“Nind.. bukankah aku seperti wanita murahan yang hamil di luar nikah” ucapnya dengan menangis dan memeluk sahabatnya
“Tenanglah, ini semua bukan salahmu atau salah orang itu. Kalian sama-sama tidak tau bukan” menenangkan
“Apa yang harus aku lakukan pada bayi ini Nind”
“Apa kau tidak menginginkannya atau mau mengugurkannya?”
“Aku tidak tau” menggeleng
“Cobalah untuk tenang dan pikirkan yang terbaik untuk kalian berdua. Aku akan mendukungmu”
“Terimakasih”
***
Beberapa harip pun berlalu
“Jam berapa mereka akan datang?” tanya Nindy yang duduk di sebuah sofa di atas balkon
“Mereka?”
“Ya, Rya dan anaknya Aulia. Aku kesepian tanpa mereka” lesunya
“Apa aku saja tidak cukup?” lirik Nindy
“Kau terlalu jujur. Aku tidak tau kapan mereka akan datang kesini”
“Tunggu, bukankah kau belum menjelaskan padaku kenapa kau bisa ada di rumahku dan menempatinya nona Nindy?” tatapnya tajam
“Ahh kau benar aku belum mengatakannya apa kau akan menarik uang sewa padaku?”
“Ya tentu bayarlah dengan uang yang banyak” candanya
“Menyebalkan”
“Jadi?” menatapnya
“Ya aku menempatinya karena masih belum bisa menerima kepergianmu pada waktu itu. Aku merasa kau masih hidup tapi saat aku menceritakannya pada mereka tidak ada yang percaya padaku bahkan aku sempat memimpikanmu beberapa waktu”
“Terdengar sangat romantis” godanya
“Lalu kapan kita akan pergi ke rumah sakit?”
“Besuk aku bisa mengantarmu”
“Baiklah kita pergi besuk pagi”
***
Nindy, Rya dan Laura pun pergi ke rumah sakit
“Ry apa tidak apa jika kau meninggalkan Aulia begitu saja?” tanya Laura
“Jangan khawatir, dia bersama kakek dan neneknya dan juga papahnya setelah pulang kerja”
“Kita sudah sampai, ayo turun” ajak Nindy
“Aku jadi ingat masa-masa indah dulu saat kita bertiga berjalan bersama seperti ini di kampus” ucap Laura tawanya
“Yaahh itu sangat menyenangkan terlebih mata semua orang akan menatap ke arah kita”
“Bukankah kita sedang mengulangnya sekarang” tawa mereka
‘Itu ada satpam, ayo kita tanya padanya” tunjuk Nindy pada seseorang laki-laki yang berbadan cukup tegap dengan pakaian serba hitamnya yang sedang berjalan
“Permisi pak, kami mau bertanya dimana ruang kepala keamanan? Kami ingin menemuinya ada hal penting yang ingin kami tanyakan” ucap Rya
“Kebetulan itu saya sendiri, ada hal yang membuat kalian mencari saya?” jawab satpam itu yang di ketahui namanya Budi terlihat dari name tag di seragamnya
“Bagus sekali pak, kami mau minta tolong pada bapak untuk memperlihatkan rekaman cctv disini”
“Maaf saya tidak bisa memperlihatkannya pada sembarang orang”
“Tolong pak ini sangat penting, ini berkaitan dengan kejadian pada tgl xx tepat dimana teman saya koma namun sempat hilang dan kembali dalam keadaaan tidak bernyawa sedangkan sekarang dia sudah kembali dengan utuh tanpa kekurangan, jadi kami ingin menyelidiknya siapa orangnya yang membawanya pergi” jelasnya Nindy
“Apa teman kalian yang hilang adalah dia?” menunjuk Laura
“Ya dia teman kami yang hilang, bapak mengetahuimya?”
“Ya, saya masih sedikit ingat saat para perawat membawanya masuk dari luar, kalau begitu mari ikut saya” mereka berjalan menuju ruang keamanan
“Ada apa pak?” tanya Laura yang sejak tadi melihat satpam itu seperti orang kebingungan menatap layar komputer disana
“Ada yang aneh” jawabnya
“Aneh kenapa pak?” timpal Rya
“Pak stop” pinta Laura tiba-tiba
“Tolong diperbesar disini”
“Apa kau melihat sesuatu?” tanya Nindy yang ikut melihat layar itu sejak tadi
“Ini Davin” tunjuknya pada gambar seorang lelaki yang tidak terlalu jelas gambarnya sedang menggendong seseorang yang tak terlihat wajahnya
“Apa kau yakin itu dia?” tanya Rya masih ragu karena gambar yang kurang jelas
“Ya aku yakin” jawabnya dengan pasti
“Jadi benar dia yang membawamu pergi begitu saja?” Laura hanya mengangguk
“Baiklah kurasa semua sudah jelas. Ayo kita pulang” ajak Nindy
“Terimkasih pak sudah membantu dan mengijinkan memperlihatkan rekaman cctv ini” ucap Rya
“Sama-sama nona”
“Kalau gitu kami permisi pak”
Mereka bertiga pun pergi. Sejak keluar dari rumah sakit tadi Laura hanya terdiam saja menatap ke luar jendela.
“AAaaa…. Kepaallaaa.. kuuuu…” teriak Laura tiba-tiba membuat sahabatnya kaget
Nindy langsung menepikan mobilnya.
“Ra ada apa ? kenapa dengan kepalamu?” tanya Rya dan Nindy bergantian
“Kepalaku sakiit” masih memegang kepalanya
“Sebaiknya kita kembali ke rumah sakit” ajak Rya Nindy mengangguk
“Biarkan aku duduk di belakang bersamanya” Rya pun segera berpindah tempat duduk di samping Laura
“Tenanglah…” ucap Rya menenangkan
Laura pingsan
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode