
Malam itu juga mereka pun pergi mencari Rizal dari ke tempat kerja hingga ke rumahnya.
“Ini bener rumahnya? Kayaknya kosong nggak ada orang tuh?” tanya Gery bingung melihat rumah yang sepi
“Bener kok kak ini alamatnya sama persis yang dikasih Rey” menunjukkan layar hapenya yang menyala
“Tapi kok sepi nggak ada orang gini ya?” Rya juga merasa heran
“Udah sejam nih kita nungguin disini pergi yukk mungkin dia lagi pergi kemana gitu, mending kita ke café Rey siapa tau juga dia lagi disana” ajak Nindy
“Bener, dia kan juga suka nongkrong disana” imbuh Rya
***
“Hey, kalian datang kemari?” sapa Rey yang melihat ketiga temannya memasuki cafenya
“Iya kami kemari, apa Rizal ada disini?” tanya Nindy
“Dia belum kesini sejak beberapa hari yang lalu, ada apa kalian mencarinya? Kenapa juga kau meminta alamat rumahnya?” Rey penasaran
“Mencurigakan. Ini semakin membuatku yakin dia pelakunya tentu saja dia tetap bersembunyi makanya dia tidak kemari” jawab Nindy berjalan duduk
“Mencurigakan? Pelaku? apa maksudmu nind?” tanya Rey lagi
“Apa lagi kalau bukan pelaku penculik Laura” jawab enteng Rya
“Menculik Laura? Untuk apa?” semakin merasa bingung
“Tentu saja untuk memaksa Laura menikah dengannya” Nindy menghela nafas
“Apa sih maksud kalian berdua aku nggak ngerti? Ger lu bisa nggak ngejelasin apa maksud ucapan mereka berdua?” meminta penjelasan masih dengan bingung
“Katanya sih akhir-akhir ini Rizal terus mengejar Laura untuk mengajaknya menikah dengannya, lalu tadi pagi Nindy meminta Laura untuk pergi sendirian mengambil kue tapi sampai saat ini dia belum kembali dan mereka mengira mungkin saja Rizal yang menculiknya. Itu yang ada di pikiran mereka” jelasnya dengan anggukan dari kedua wanita di sebelahnya
“Oh astaga, ini tidak mungkin. Dia tidak akan mungkin melakukan hal semcam itu”
“Jangan membelanya karena dia temanmu lebih lama dari kami Rey” kata Rya
“Aku tidak membelanya, aku cukup mengenalnya”
“Hey kalian sedang disini?” seketika suara itu membuat semua orang menoleh ke arahnya
“Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan pakaianku” ucapnya lagi dan memeriksa tubuhnya
“Panjang umur! Kau sembunyikan dimana Laura hah?” ucap Nindy langsung dengan amarahnya hingga menarik baju Rizal
“Apa maksudmu menyembunyikan?” berbalik bertanya berusaha melepaskan tangan Nindy namun tak bisa
“Kau tidak mau mengaku huh?” tangan yang sudah mengepal siap untuk melayang apapun yang di depannya
“Tenanglah nind, kita bicarakan baik-baik tidak enak dilihat semua orang disini. Jangan membuat keributan” Gery mencoba menenangkan adiknya. Nindy pun melepas baju yang di cengkramnya dengan keras seperti melempar tikus.
“Duduklah” pinta Gery
“Zal apa kau yang menyembunyikan Laura?” tanya Rey memulai percakapan
“Apa maksudmu menyembunyikannya? Aku saja tidak bertemu dengannya hari ini” tanya balik
“Mana ada maling ngaku” komen Nindy tanpa melihat orangnya
“Untuk apa aku menyembunyikannya?” kata Rizal lagi
“Untuk bisa kamu nikahi secara paksa” kini Nindy menatapnya dengan tajam membuat semua orang kembali beralih menatapnya
“Memang aku mengajaknya menikah, tapi aku juga tidak mau memaksanya menikah denganmu tanpa dia mencintaiku. Aku tidak sejahat itu”
“Bulsit” sambar Rya
“Sayanng” ucap Gery menahannya agar tidak emosi
“Sudah jangan berdebat lagi, jadi intinya Laura menghilang dan bukan rizal ynag menculiknya. Kita harus segera mencarinya sebelum terjadi sesuatu dengannya”
***
Esoknya
“Selamat pagi sayang” ucap laki-laki itu yang kini sudah berdiri tepat berada di ruang tidur yang semalam digunakannya
“Bagaimana tidurmu? Aku harap tidurmu sungguh nyenyak, aku sudah mendesign kamar ini untukmu dan sebentar lagi aku juga akan membuatkannya untuk anak kita nanti” berjalan mendekati dengan senyumnya yang menjijikan bagi Laura.
Laura hanya menatapnya dalam diam tanpa bergerak dari duduknya di atas ranjang. Tatapan yang diberikan tidak lain adalah tatapan membenci dan bahkan ingin membakarnya hidup-hidup
“Oh ya sebentar lagi sarapanmu akan datang kemari jadi kau tak perlu turun sayang dan maaf aku tak bisa menemanimu karena aku harus segera pergi ke kantor pagi ini”
“Lepaskan aku dion, aku mau pulang” ucapnya dengan isaknya membuat langkah kaki laki-laki itu tiba-tiba berhenti dan menolehnya
“TIDAK” jawabnya singkat dan wajah tanpa ekspresi
“Aku mohon lepaskan aku, biarkan aku pergi” tangisnya memulai
“Berhentilah menangis, itu akan sia-sia dan membuatmu lelah aku tidak mau itu terjadi padamu” pergi meninggalkanmu
Laura tetap menangis di kamarnya tak bisa berbuat apa-apa untuk bisa keluar dari sana
Tokk.. tokk.. suara pintu kamar yang di ketuk seseorang lalu terbuka
“Selamat pagi nyonya, ini sarapan anda” seorang pelayan masuk ke dalam sebuah kamar yang semlam menjadi tempat tidurnya. Laura hanya diam melirik sekilas pelayan itu.
“Apa anda langsung mau memakannya?” tanya lagi berjalan mendekati. Membuatnya menghentikan isak tangisnya menatap tajam pelayan itu
PPrrraaaaannnkkkkk…. Semua benda yang ada di tangan pelayan itu terjatuh dan pecah karena tangan Laura yang menyamparnya hingga piring dan gelas pun pecah membuat pelayan itu ketakutan.
“Maaf nyonya saya akan segera membersikan dan menggantinya” ucap pelayan itu ketakutan dan gemetar membersikan pecahan piring yang berserakan. Setelah selesai pelayan itu segera kembali dengan membawa sarapan yang baru.
“Permisi nyonya saya membawakan sarapan yang baru, saya akan menaruhnya disini jika anda belum ingin memakannya” ucap pelayan meletakkan nampan yang berisi sarapan itu di atas meja dekatnya duduk
Laura menatap pelayan itu dengan tajam karena takut akhirnya pelayan itu segera meninggalkannya sendirian.
***
“LYRA…” teriak Davin dari tidurnya dengan muka yang pucat
“Tuan ada apa?”
“Kenapa anda berteriak?” tanya Billy pada bosnya yang kaget mendengarnya berteriak sangat keras yang membuatnya hilang fokus pada pekerjaannya.
“Maafkan aku tuan” batinnya tak tega melihat bosnya tertidur dalam meja kerjanya
“Ahh ya aku bermimpi tentang istriku” jawabnya dengan memijat sedikit kepalanya. Billy sangat kasihan pada bosnya ia terpaksa membuat bosnya sibuk agar tidak terlalu memikirkan istrinya yang hilang belum ketemu sampai sekarang sejak mereka pergi ke puncak.
“Apa belum ada kabar sedikit pun tentang istriku?” ucapnya tak bersemangat
“Maaf tuan kami belum mendapatkannya” Davin hanya pasrah mendengarnya
“Tuan sebaiknya anda beristirahat di kamar anda, dan anda bisa melanjutkan pekerjaan ini besuk” saran Billy
“Baiklah” pergi beranjak dari meja kerjanya
“Aku berjanji tuan akan segera menemukan nyonya Lyra” ucapnya dalam hati
Sesampainya di kamar Davin tidak segera tertidur. Dirinya terus terpikirkan tentang Lyra istrinya
“Apa kabarmu sayang?”
“Apa kau baik-baik saja, aku harap seperti itu”
“Segeralah pulang sungguh merindukanmu”
Ucap Davin dengan menapat langit-lagit kamarnya, memeluk foto Lyra di ambilnya tanpa sepengetahuan pemiliknya saat membuatkannya cake yang kini menjadi andalan di café mereka. Mengulang kembali ingatan bersamanya hingga dirinya tertidur.
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode