LAURA

LAURA
Episode 16



Cukup panjang perjalanan yang di tempuh untuk sampai ke sebuah danau yang indah dengan penuh hiasan tanaman bunga-bunga bermekaran di sekeliling danau.


Dion :”Ra kita sudah sampai nih” ucapnya masih diparkiran


Laura :”Ini dimana sih kak? Kok jauh banget mau nyulik aku ya” jawabnya


Dion :”Nggak lah ra ngapain nyulik kamu, kan udah ada bi Wati di rumah”


Laura :”Jadi maksud kak Dion aku pantes di culik terus di jadiin pembantu gitu”kesalnya


Dion :”Nggak gitu ra, siapa juga sih yang mau nyulik kamu rugi tauk, kamu nih ngambekan terus sensitive banget sih, ayok jalan” jawabnya sambil menggandeng tangan Laura agar berjalan mengikutinya


Laura :”Kak Dion sih nyebelin cari gara-gara mulu, kenapa bisa rugi nyulik aku yang ada untung tau karena pasti ak bakal di jual ke orang asing” cemberut nya sambil menurut mengikuti jalan Dion dari belakang


Dion :”Gimana nggak rugi makan kamu aja banyak gitu haha, cerewet lagi, nih kita udah sampe” tawanya meledek


Laura :”Dasar nyebelin, Ya ampun kak bagus banget tempatnya, aku nggak tau kalau ada yang seperti ini” kagumnya dengan melihat danau dan matanya mulai mengelilingi seluruh tempat disekitarnya karena sejak di perjalanan Laura hanya jalan menunduk saja


Dion :”Iya dong ra, bagus kan dulu aku sering banget kesini tapi udah nggak pernah”


Laura :”Kenapa?” celetuknya


Dion :”Ya karena aku udah nggak di Semarang lagi ra” sambil mengacak rambut Laura gemas


Laura :”Duh kak kok rambut aku di acak-acak sih, nih terima balasnya” sebalnya dengan mencubit pinggang Dion


Dion :”Aduuh ra kok nyubit sih sakit tauk”


Laura :”Biarain biar tau rasa, sambarangan ngacak rambut orang”


Dion :”Iya-iya nggak lagi” sambil tangannya hampir mengarah ke kepala Laura kemudian menangkapnya


Laura :”Eeiitttzz mau ngapain nih, mau di cubit lagi hah?”


Dion :”Nggak ra, tapi tangan ku gatal pengen ngacak rambutmu” tawanya


Laura :”Awasnya kak” tatapnya dengan melotot ke arah Dion malah di tertawakannya


Dion :”Kamu lucu banget sih, haus nggak aku beliin minum ya”


Laura :”Emangnya aku kucing, mau dong haus nih”


Dion :”Iya anak kucing haha, ya udah tunggu sini aku beli minum dulu jangan kemana-mana”


Laura :”Iya kak” kemudian Dion pergi meninggalkannya


Laura :”Sejuk banget udaranya disini” batinnya sambil berjalan-jalan di sekitar


Dion :”Ini ra minumnya” kata Dion yang memberikan salah satu minuman kaleng dari tangannya


Laura :”Iya makasih”


Dion :”Ra…”


Laura :”Hmmm..” sambil menoleh ke arah Dion namun dia menatap ke arah depan


“Ya ampun ternyata Kak Dion ganteng kalau dari dekat” batinnya sambil melamun


Dion :”Aku mau tanya sesuatu” sambil menoleh ke arah Laura melambaikan tangannya didepan muka membuat Laura kaget memanggilnya


Laura :”Eh apa kak tadi tanya apa??”


Dion :”Nggak papa nggak jadi, kamu sih malah ngelamun” sahutnya


Laura :”Ya sorry, buruan cerita ada apa aku dengerin nih” duduk mengarahkan badannya pada Dion


Dion :”Kenapa ngelamun, terpesona ya sama ketampanan aku?” ledeknya


Laura :”Ih enak aja, pede banget jadi orang” sebalnya sambil memalingkan tubuhnya


Dion :”Udah deh ngaku aja nggak pp kok akui saja kalau aku ini tampan” tawanya


Laura :”Udah ahh Kak, capek nih” sahutnya sambil duduk


Dion :”Yahh gitu aja nyerah, capek ya” ledeknya yang mulai duduk di samping Laura


Laura :’Nih kena kan, rasain nih” kagetnya Laura segera memegang lengan Dion dan berusaha mencubit agar tidak kabur lagi


Dion :”Aww.. ampun ra sakit dong kamu cubit terus dari tadi.. nih lihat merah semua kan” merengek kesakitan


Laura :”Salah sendiri nyebelin sini lihat” segera Laura mengusap lembut dan meniup lengan Dion yang tadi memerah karena dia cubit hingga mereka saling bertatap muka dengan muka memerah seperti tomat


Dion :”Udah ra udah sembuh, kita cari makan yuk udah sore” katanya dengan anggukan Laura. Segera Dion melajukan mobilnya untuk mencari tempat makan


*Setelah makan*


Laura :”Duh kenyang, makasih kak buat makannya”


Dion :”Iya, yuk kita jalan udah malam”


Laura :”Oke” segera mereka memasuki mobil


Dion :”Kalau kamu ngantuk tidur aja nanti aku bangunin”


Laura :”Iya kak” Laura langsung memejamkan matanya mengantuk dalam perjalanan


Dion :”Kamu cantik ra, aku suka” batinnya dalam hati sesekali membelai rambutnya lembut dengan senyum kecilnya


Sesampainya di tempat tujuan Dion tidak membangunkan Laura justru ia ikut tertidur karena lelah menyetir sejak pagi. Jam menunjukkan pukul 11.07 WIB Laura terbangun.


Laura :”Kak bangun kak kita dimana ini? Kita kena begal ya kak bangun dong kak” teriak Laura ketakutan melihat sekelilingnya bukan rumah namun banyak pepohon yang mengelilingi dengan menggunjang tubuh Dion pun terbangun.


Dion :”Kenapa ra?” Bangunnya karena merasa tubuhnya terguncang mendengar suara Laura yang panic


Laura :”Kak kita dimana? Kita di begal ya kok bisa di hutan gini” cemasnya


Dion :”Tenang ra, kita nggak di begal kok” terangnya


Laura :”Terus ini dimana, bukannya kita mau pulang ke rumah” paniknya tak henti


Dion :”Iya kita pulang tapi aku mau ngajak kamu kesini dulu aku tau ini dimana, ayo keluar”


Laura :”Kakak yakin tau tempat ini, ini gelap banget kak”


Dion :”Iya tenang aja, ada aku disini ada bulan juga jadi penerang, ayo jalan” Dion menggandeng tangan Laura agar dia berjalan mengikutinya


Laura :”Kak kita mau kemana sih aku takut ini serem banget” takutnya hingga menggenggam tangan Dion kecang


Dion :”Kejutan, ini dia tempatnya kita sudah sampai” sahut Dion yang memperlihatkan tempat itu di sebuah bukit yang tak banyak orang datang


Laura :”Astaga kak ini indah banget pemandangannya, bintang-bintang juga cantik sekali bersama menemani bulan”


Dion :”Iya, cantik kan”


Laura :”Iya sungguh cantik luar biasa ciptaanNya” Laura sungguh kagum melihat pemandangan malam itu


Dion :”Ra pakai ini, udaranya semakin dingin” kata Dion yang memberikan dan memakaikan sweaternya pada Laura ia tersipu malu


Laura :”Iya maksih kak"


Dion :”Ra aku mau ngomong sesuatu sama kamu” berjalan dan berdiri didepan Laura membelakanginya


Laura :”Mau ngomong apa kak?” Sahutnya


Dion :”Ra sebenernya aku…” Dion terdiam sejenak ada rasa sedikit gelisah yang saat ini ingin mengutarakan isi hatinya


Laura :”Kenapa?” tanyanya “Duh kepalaku kok sakit ya” batinnya dengan memegang kepalanya tak lama Laura jatuh pingsang


Dion :”Ra nggak tau sejak kapan perasaan ini muncul dan nggak tau kenapa perasaan ini juga bisa muncul, kamu masih ingetkan bagaimana awal kita ketemu kita selalu berantem ra, tapi aku nggak peduli bagaimana cara kita di pertemukan dan aku berharap kamu punya perasaan yang sama ke aku, Ra aku suka sama kamu,kamu mau nggak jadi pacar aku? Jelasnya dengan berbalik badan di akhir ucapnya.


Terimakasih readers sudah menunggu dan membaca novel ini. Jangan lupa like, coment dan favorite kalian untuk support novel ini. Thank you tunggu next episode