LAURA

LAURA
Episode 77



Setelah menutup pintu dokter Vian berjalan mengarah pada pasiennya yang sedang terbaring di atas ranjangnya dengan suster Fanny di mengikutinya dari belakang. Matanya terbelalak begitu saja seperti ingin keluar dari tempatnya setelah melihat siapa pasien yang sedang menunggunya membuatnya segera berlari ke arahnya.


“Laura?” memeriksa kondisinya


“Hey.. bangunlah” ucapnya begitu akrab


Karena merasa ada yang memanggilnya Laura pun membuka matanya perlahan


“Dok..ter Viii…an” jawabnya dengan lemah


“Ya.. ini aku.. buka matamu kau harus tetap terjaga, aku akan memeriksamu sebentar. Bertahanlah” Laura hanya menjawabnya dengan mengangguk lemah.


Wajah Laura sungguh terlihat sangat pucat, wajah, tangan bahkan hingga tubuhnya sudah memerah hampir seluruhnya.


“Apa ini panas dan gatal Laura?” masih mengangguk


Tiba-tiba nafas Laura tersengal begitu saja, rasanya sulit untuk bernafas hingga membuat Laura harus membuka mulutnya untuk bernafas.


“Dokter gawat pasien mulai sulit bernafas’ ucap suster yang sejak tadi ikut memeriksa


“Cepat ambil nebulizer di mobil dan beritahu suaminya untuk segera membawanya ke rumah sakit” kata dokter Vian yang mulai panik


“Baik dokter” jawab suster kemudian langsung bertindak dan berjalan keluar


“Permisi tuan” menghampiri Dion yang menunggu diluar


“Ada apa suster? Apa yang terjadi apa dia baik-baik saja?” panik


“Istri anda masih di tangani oleh dokter Vian tuan, tapi kita harus segera membawanya ke rumah sakit karena keadaaanya memburuk nyonya membutuhkan perawatan medis secepatnya”


Dion segera menatap pada asistennya Hendri dan seolah mengerti maksudanya. Hendri langsung memerintahkan beberapa anak buahnya untuk pergi menyiapkan suatu ruangan. Dion pun masuk ke dalam kamar bersama Hendri di belakangnya.


“Tuan.. maaf sebaiknya anda jangan masuk dulu…” kata suster mencegahnya namun tidak digubris olehnya


“Tuan kita harus segera membawanya ke rumah sakit” kata dokter Vian yang begitu melihat Dion masuk ke dalam


“Tidak perlu” jawabnya singkat lalu mengangkat tubuh Laura dan membawanya pergi begitu saja membuat dokter Vian heran dan bingung padanya


“Dokter mari ikut saya, anda bisa menolong dan merawat nyonya tanpa perlu membawanya lagi ke rumah sakit” kata Hendri yang mengajaknya keluar. Tanpa banyak bicara lagi mereka segera menyusul Dion


Mereka pun tiba pada salah satu sudut rumah yang di dalam ruangan terdapat banyak alat rumah sakit seperti di UGD rumah sakit, semuanya terlihat lengkap dan tertata rapi. Laura sudah terbaring pada ranjang yang tampak seperti ranjang rumah sakit.


“Kenapa ruangann ini lengkap dengan peralatan medis?” tanya Dokter dalam hatinya


“Silahkan anda melanjutkan tugas anda dokter” ucap Hendri


“Baiklah saya mengerti, maaf tuan anda bisa menunggunya di luar kami akan melakukan yang terbaik demi keselamatannya” kata Dokter


“Ingat dokter, anda harus menyelamatkannya jika sampai terjadi kesalahan sekecil apapun anda akan menerima akibatnya” ancamnya lalu keluar


Kini ruangan yang tampak seperti UGD itu hanya di huni oleh tiga orang. Untuk membantu pernafsannya kini sudah terpasang ventilator pada tubuh Laura. Dokter Vian langsung melaksanakan tugasnya sebagai dokter terutama dokter kandungan bersama suster. Setelah mendapat penanganan yang tepat keadaan Laura semakin membaik.


“Pasien sudah lebih baik dok, nafasnya sudah kembali teratur” ucap suster


“Syukurlah, keadaanmu sudah mulai membaik, dan bayimu juga baik-baik saja dia sungguh hebat dan kuat seperti ibunya”


“Apa yang kau makan tadi kenapa bisa seperti ini? Ini sungguh bahaya. Apa kau memakan makanan yang terlarang untuk alergimu ra?”


“Ti.. dak dok.. aku ha..nya ma..kan.. ro.. ti selai kacang dan susu ibu hamil biasanya” menjawab dengan terbata-bata


“Hmmm.. apa kau alergi dengan selai kacang / kacang?”


“Tidak dok, aku sangat menyukainya tapi aku baru saja memakannya kembali selama hamilku”


“Begitu rupanya.. sepertinya bayimu yang alergi mungkin ini temurun dari ayahnya tapi syukurlah kalian baik-baik saja. Tapi kita harus tetap menjalani tes lebih lanjut untuk memastikannya” Laura mengangguk


“Kalau begitu tunggu sebentar akan ku panggilkan suamimu” kata dokter Vian mulai beranjak


“Dok.. ter..” panggil Laura saat dokter akan keluar membuka alat bantu untuk bernafasnya


“Ya.. Laura.. ada apa?” berbalik menghadap ke Laura


“Tentu, katakan apa yang bisa aku bantu?”


“Ja.. ngan.. pa..nggil dia” pintanya


“Siapa? Suamimu? Kenapa?” Laura mengangguk


“Dia bukan suamiku dok.. ter. Tolong bantu aku untuk keluar dari sini. aku terpaksa dan terkurung disini”


“Tapi dia bilang kau istrinya?” dokter Vian menjadi bingung


“Bu… kan, dia hanya mantan pacarku yang sudah mengurungku dok..”


“Apa kau diculik olehnya? Sudah berapa lama kamu disini?”


“Entahlah mungkin hampir 2 bulan”


“Baiklah.. tapi bagaimana caranya aku bisa membantumu keluar dari sini sedangkan dia tidak mengijinkanku untuk membawamu ke rumah sakit tadi”


“Dokter masih ingatkan pada kedua sahabatku Nindy dan Rya?” masih berbicara dengan terbata-bata


“Tentu aku akan menghubungi mereka”


“Katakan pada mereka kalau aku ada pada Dion dan ini semua adalah perbuatannya maka mereka akan langsung tau apa yang harus mereka lakukan” katanya


“Baiklah, aku akan segera menghubungi mereka setelah ini”


“Terimaakasih dokter, ada satu lagi”


“Apa itu?” menatap serius


“Bersikaplah seperti tidak mengenalku agar dia tidak curiga”


“Pasti, baiklah lebih baik aku segera keluar dan mencari temanmu dan agar mereka tidak curiga. Aku akan meminta suster Fanny menemani mu disini sampai sahabatmu datang kemari untuk menjemputmu”


“Ya dokter sekali lagi terimakasih” memberikan senyuman ramah


“Suster, tolong jaga dia dan jangan sampai mereka curiga padamu. Saya akan meminta padanya untuk membiarkanmu menjaganya disini. Jika ada apa-apa segera hubungi saya” katanya pada suster


“Baik dok” jawab suster telah mengerti karena sejak tadi ikut memperhatikan apa yang mereka berdua bicarakan


Di luar pintu


“Kenapa dokternya lama sekali, semoga tidak terjadi hal buruk padanya” gerutu Dion menunggu sambil terus mondar mandir sejak tadi di depan pintu


Dokter Vian pun keluar bersama suster dibelakangnya


“Dokter bagaimana keadaan istri saya?” tanya Dion langsung menghampirinya setelah melihatnya keluar


“Dia sungguh-sungguh terobsesi dengan Laura, apa dia sudah gila?” batin Vian


“Istri anda baik-baik saja tuan begitu juga dengan bayinya


“Syukurlah”


“Tapi tuan kita harus segera menjalani tes lebih lanjut untuk mengetahui penyebab alerginya baru saja


“Alergi?” wajah terheran-heran


“Ya tuan, nyonya alergi pada makanan”


“Tapi dia hanya makan makanan favoritenya selama ini”


“Ini bisa saja karena calon bayinya tuan yang mengalami alergi sehingga ibunya bisa terkena imbasnya, saya akan membuatkan jadwalnya jadi saya meminta ijin untuk suster Fanny tetap disini untuk manjaga dan memantau keadaaan nyonya sebelum menjalani tes lebih lanjut”


“Biaklah lakukan yang terbaik”


“Terimakasih tuan, silahkan anda masuk untuk menjenguknya. Saya permisi” Vian pun pergi dan Dion langsung masuk untuk melihat keadaan Laura di dalam


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode