LAURA

LAURA
Episode 59



“Hoooaaammm... badanku rasanya mau remuk” batin Lyra yang baru saja terbangun dari tidurnya


“Apa dia sekuat itu setiap saat melakukannya tapi lembut” menatap suaminya dengan senyum manis yang masih tertidur lelap mengingat kegiatan yang baru saja mereka lakukan beberapa jam sebelum tertidur


“Kkkrruukkkk… kkkrrruukkk” terdengar bunyi perutnya


“Adduhh, kenapa perutku sudah berbunyi, cacing diperutku sudah pada protes” kesalnya. Pelan-pelan beranjak dari ranjang dan pergi ke dapur


“Kenapa tidak ada makanan sedikitpun disini” kesalnya membuka semua lemari di dapur terlihat kosong semua


“Sepertinya aku harus pergi keluar sendirian dan juga untuk mencari makan malam nanti. aku tidak tega membangunkannya yang terlihat lelah seperti itu”


Lyra pun kembali ke kamar mengambil sweater tebalnya kemudian pergi keluar untuk mencari makanan. Tapi tiba-tiba hujan sangat deras turun begitu saja.


“Hah, kenapa harus hujan sih, bagaimana bisa aku kembali ke vila” kesalnya berteduh pada vila yang nampak kosong


“Apa vila ini kosong kenapa tampak sepi sekali?” tatapnya yang mengarah mengelilingi sudut vila itu


Kkkkrrriiiieeettt.. terdengar suara pintu yang terbuka membuatnya kaget dan keluar lah seseorang dari dalam.


“Astaga, hampir saja jantungku copot”


“Anda siapa? kenapa ada disini?” tanya lelaki separuh baya itu


“Permisi pak, bolehkah saya menumpang berteduh disini saya tidak membawa payung dan tiba-tiba hujan turun begitu saja saat di jalan” ucapnya meminta ijin dengan sopan


“Ohh, lebih baik masuk saja di luar dingin” ajak laki laki itu


“Tidak apa-apa pak saya disini saja” menolak halus


“Tidak usah takut di dalam ada istri saya, bu…. Buuu… kemari..” teriaknya memanggil istrinya


“Ada pak? Kok teriak-teriak sih” jawab sang istri yang menghampirinya dan Lyra


“Eh siapa ini?” timpalnya setelah melihat Lyra


“Dia ingin numpang berteduh karena kehujanan tapi tidak mau masuk bu, Oh iya siapa namamu nak?” tanya suaminya


“Nama saya Lyra dan saya ingin menumpang berteduh disini sebantar”


“Ya udah, kalau begitu ayo masuk di luar dingin” ajak sang istri Lyra mengikut


“Oh ya bu tolong buatkan teh hangat dan ambilkan handuk”


“Iya pak, tunggu sebentar ya nak”


“Tidak perlu repot-repot pak bu”


“Sudah tidak apa-apa” ucap sang istri lalu masuk ke dalam


“Kamu darimana nak? Sepertinya bukan daerah sini”


“Iya pak saya sedang berlibur disini”


“Panggil saja saya Mang Ujang dan ini istri saya Bi Asih”


“Ini handuk dan tehnya” ucap ibu itu yang baru saja datang


“Iya Mang Ujang Bi Asih terimakasih” dengan senyum manis


“Kalau begitu saya tinggal sebentar ya masih ada pekerjaan di gudang” pamit Mang Ujang


“Silahkan Mang”


“Kok sepertinya saya tidak asing ya sama kamu nak kayak pernah lihat gitu. Apa kamu pernah kesini?” tanya Bi Asih


“Belum Bi ini yang pertama kalinya saya datang ke puncak” jawabnya


“Benarkah kamu belum pernah ke sini?”


“Iya”


“Mungkin hanya perasaan saya kali ya” jawabnya dengan bercanda


Kkkrrruuukkk… kkkkrrruuuukkkk terdengar lagi bunyi perut Lyra


“Hadduuhh kenapa cacing ini harus bersuara sih” gerutunya dalam hati sambil memegang perutnya dan tersenyum terpaksa mengarah pada Bi Asih


“Nak Lyra mau belum makan? Saya buatkan makanan dulu ya”


“Tidak perlu Bi saya tidak terlalu lapar kok” jawabnya


“Nggak lapar gimana orang bunyinya aja kencang gitu, udah gapapa tunggu disini sebentar saya ke dapur dulu”


“Sekali lagi terimakasih Bi”


Bi Asih pun pergi ke dapur Lyra menunggu di ruang tamu sendirian. Karena bosan akhirnya memutuskan untuk menghampiri BI Asih namun tidak tau harus kemana jadi Lyra justru hampir mengelilingi vila itu.


“Kenapa rasanya tempat ini tidak asing ya, kayak pernah kesini. Apa mungkin aku pernah kesini sebelum…” belum selesai mengatakannya tiba-tiba kepala Lyra terasa sangat sakit seperti ada sesuatu yang mengganggunya…


“Aaaaaa…. Aapa itu? Siapa mereka?” terlihat dalam ingatannya ada tiga laki-laki dan dua perempuan duduk tertawa bersamanya. Lyra tak tau siapa mereka.


Karena tak tahan dengan rasa sakit yang dirasakannya dalam kepala Lyra terdorong hingga jatuh dan kepalanya terbentur kursi yang ada disana hingga pingsan.


Bi Asih yang mendengar suara orang yang sedang berteriak pun segera menghampiri sumber suara. Dilihatnya Lyra yang tergeletak di sana dan tak bergerak


“Nakk… nak Lyra bangun…” ucapnya yang menepuk lembut pipinya halus namun Lyra tak menjawab


“Ada apa ini bu? Kenapa dengan dia?” tanya mang ujang yang baru saja datang yang juga mendengar suara Lyra yang berteriak kencang


“Tidak tau pak, pas di samperin udah seperti ini”


“Ya sudah bawa ke kamar saja bu, sekalian ambilin kotak obat buat kepalanya luka”


“Iya pak” Bi Asih langsung berlari mengambil kotak obat


Bi Asih mengobati kepala Lyra yang sedikit berdarah karena benturan yang keras tadi.


“Pak cepet panggil Dokter Ussy takutnya luka parah”


“Iya bu, saya samperin ke rumahnya dulu”


“Iya pak hati-hati”


“Iya bu”


***


“Hoooaaaammm… sayang…” di rabanya sisi ranjang tapi tidak ada orang pun yang menjawab Davin langsung bangun terduduk menatap kosong sebelahnya


“Sayaangg… kamu dimana?” panggilnya tapi di kamar tidak ada orang selain dirinya


“Mungkin dia di bawah”


“Saaayyaanggg…. Kamu dimana? Teriak Davin menuruni tangga


“Selamat malam tuan” ucap Billy menghampiri


“Billy? Kapan kau datang?”


“Tadi siang tuan. Tadi saat saya melihat Tuan dan Nyonya masuk ke kamar”


“Dimana istriku?”


“Sejak tadi saya belum melihatnya tuan



“Cepat bantu aku mencarinya”


“Baik tuan” jawab Billy langsung bergerak


Davin pun juga mencarinya namun tidak menemukannya


“Tuan..” panggil Billy dengan menghampirinya


“Ada apa? Apa kau menemukannya?”


“Tidak tuan, tapi saya menemukan ini di dapur” menyerahkan selembar kertas kecil


Kertas itu bertuliskan “Mas aku pergi sebentar mencari sesuatu untuk makan malam, Lyra”


“Sudah berapa lama dia pergi, ini sudah malam kenapa belum kembali” gerutu Davin khawatir


“Apa mungkin Nyonya Lyra tersesat?” ucap Billy


“Mungkin, cepat cari dia sampai ketemu dan suruh orang melakukannya”


“Baik tuan”


Billy segera pergi menyuruh beberapa orangnya untuk mencari malam itu juga namun tidak menemukan hasilnya hingga tengah malam


“Bagaimana? Dimana istriku?” tanya Davin yang melihat Billy datang menghampirinya


“Maaf tuan kita belum bisa menemukannya karena hari sudah malam dan gelap, dan kita akan melanjutkannya besuk pagi” jawabnya sedikit berhato-hati karena amarah bosnya gampang memuncak


“DASAR BODOH! Mencari satu wanita orang saja kalian tidak becus” marahnya hingga memecahkan vas bunga di sebelahnya berdiri


“Maaf tuan”


“Billy aku tidak mau kau harus menemukan istriku secepatnya aku tidak mau kejadian yang lalu terulang lagi padanya apalagi hingga ingatannya hilang seperti itu” kesal Davin


“Baik tuan”


Billy melanjutkan pencarian sedangkan Davin sangat gelisah dan khawatir menunggu Lyra takut terjadi sesuatu padanya. Davin tidak mau kehilangan Lyra untuk yang kedua kalinya


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode