
Dion :”Morning sayang… cupp” kecup Dion pada kening Laura yang masih tertidur
Dion :”Diihh nggak mau bangun nih… cup cup cup cup cup..” kecup Dion pada seluruh muka Laura yang membuatnya terganggu dari tidurnya
Laura :”Ih apa sih nih” sambil tangannya menyibak apa yang mengganggunya dengan mata masih terpejam dan mengubah posisinya membelakangi Dion
Dion :”Bener-bener nih anak harus di kasih pelajaran… cup” Dion mengkecup bibir Laura dan sedikit ******* sehingga membuat mata Laura terbuka lebar merasa ada yang menyentuh bibirnya dan reflek mendorong Dion yang hampir terjungkal dari ranjang
Laura :”Hah ngapain kamu disini??? Apa yang kamu lakukan?” kagetnya hingga terduduk
Dion :”Apa mau lagi ? sini yang..” ucap Dion yang memajukan badannya
Laura :”Hah apaan nggak ada stop di situ” dengan duduk mundur
Dion :”Cium pacar aja nggak boleh huh”
Laura :”Huh bukan gitu ngapain sih kamu pagi-pagi udah disini pakai cium-cium segala bangunin biasa kan juga bisa yang..” ucapnya
Dion :’Nggak bisa, di cium semua muka aja nggak bangun malah benerin selimut”
Laura :”Hah apa kamu bilang??”
Dion :”Nggak papa buruan cuci muka aku tunggu di bawah 5 menit harus turun, kita jogging bareng” mulai beranjak pergi
Laura :”Whattt??? Kok tiba-tiba sih yang” rengeknya
Dion :”Nggak ada protes cepetan sana, apa mau di mandiin hah” tawanya meledek
Laura :”NGGAK!” katanya yang melempar bantal ke arah Diob tapi tidak sampai karena Dion lebih dulu lari kabur
Dengan cepat Laura masuk ke kamar mandinya mencuci muka dan mengosok giginya dan segera mengganti bajunya dengan celana training dan baju tangtop yang ditutup dengan jaket.
Laura :”Ayokk”
Dion :”Mau jogging di sekitar rumah atau simpang lima aja?”
Laura :”Simpang lima” jawabnya singkat dengan berjalan keluar yang diikuti Dion dari belakang
Dion :”Lhaa nih anak ngambek” batinnya
Dion :”Silahkan masuk tuan putri” Dion membukakan pintu mobilnya
Laura :”Terimakasih” singkatnya
*Simpang Lima*
Dion :”Udah Siap buat balapan lari??” tanyanya
Laura :”Siapa takut” senyumnya sinis
Dion :”Oke kita lari hitungan ketiga… satu, dua, ti…” belum selesai menghitung Laura lebih dulu berlari
Dion :”Dasar curang awas kamu kalau ketangkep” batinnya Dion pun mengejar Laura. Mereka berlari bersama saling kejar. Di tengah larinya Laura terjatuh tersandung sebuah batu kecil yang membuat kakinya terluka dan berdarah
Laura :”Awww… sakit” teriak Laura yang terjatuh hingga kakinya terkilir. Jaketnya terkisis karena terseret hingga lengan tangan kirinya berdarah Semua orang di sekitar datang mengepung dirinya
Dion :”Sayang kamu nggak papa?” Dion panik menghampiri
Laura :”Ya papa lah orang sakit gara-gara jatuh gini” rengeknya
Dion :”Bisa jalan nggak? Aku gendong ya” Laura mencoba berdiri namun hampir terjatuh kembali dengan sigap Dion memegangnya
Laura :”Nggak bisa” jawabnya lemah. Dion pun segera menggendong untuk duduk di kursi tepi lapangan
Dion :”Kamu tunggu sebentar ya disini”
Laura :”Kamu mau kemana?” tanyanya yang nggak mau di tinggalkan
Dion :”Aku mau beli obat buat luka kamu kalau nggak cepet di obatin nanti infeksi
Laura :”Tapi jangan lama-lama ya” pintanya
Dion :”Nggak akan” Dion pun segera pergi
Dion :”Ini kamu minum dulu dan buka jaketmu” menyerahkan air mineral dan meminumnya.
Laura :”Untuk apa?”
Dion :”Liat tanganmu sampai berdarah, aku mau kasih obat dan harus lepas jaketmu yang sobek” Laura pun membuka jaketnya. Dengan telaten Dion membersihkan luka Laura dan segera mengobati dan memberinya perban pada tangannya yang sedikit berdarah
Dion :”Pakai ini” memberikan jaketnya
Laura :”Kenapa aku kan ada jaket sendiri” sahutnya
Dion :”Jaketmu sudah robek”
Laura :”Tapi kan masih bisa di pakai hanya bagian tangan yang robek”
Dion :”Tidak, itu akan susah di pakai pakai saja ini aku nggak mau semua mata lelaki tertuju padamu dan aku akan mengganti jaget mu nanti buang saja”
Laura :”Dasar” kesal Laura dan benar saja semua laki-laki melihat ke arahnya dan menjadi risih kembali menatap Dion
Dion :"Kita ke dokter ya periksa kakimu"
Laura :"Nggak mau"
Dion :"Nggak mau aja"
Dion :"Kalau ada yang sakit serius gimana?"
Laura :"Jangan dong"
Dion :"Ngeyel sih"
Laura :"Yangg.."
Dion :”Ada apa? Kenapa senyum-senyum gitu?” mrnatap Laura gemas
Laura :”Nggak kok, a.. aaku…”
Dion :”Kenapa? Masih sakit tahan lah sebentar obatnya akan bekerja”
Laura :”Bukan itu, tapi aku lapar” katanya pelan
Dion :”Astaga.. kau pasti capek ayok kita cari makan aku gendong” Dion pun menggendong dari belakang
Laura :”Kita makan bubur ayam saja di situ”
Dion :”Kamu yakin makan di pinggir jalan?”
Laura :”Emangnya kenapa? Enak kok aku pernah makan disitu”
Dion :”Kamu sering makan disitu di pinggir jalan terkena polusi udara”
Laura :”Tidak apa ini masih pagi tidak banyak yang lewat ayolah kita makan disana, bersih kok tempatnya, cobalah kau pasti ketagihan”
Dion :”Baiklah” Dion berjalan ke arah tukang bubur ayam itu
Laura :”Pak bubur ayamnya dua dan teh panas nya dua”
“Siap non tunggu sebentar” kata tukang bubur itu dan segera membuatkan pesanannya
“Ini bubur ayamnya silahkan di makan”
Laura :”Terimakasih pak” senyum Laura
Laura :”Ayo makan, jangan lupa kasih sambel yang banyak dan sedikit kecap manis mau aku ambilkan??”
Laura :”Ayo di makan jangan diliatin aja? Enak kok”
Dion :”Kamu yakin makan sambel sebanyak itu, nggak sakit perut nanti?” yang merasa ngeri melihat sambal di mangkuk pacarnya
Laura :”Nggak kok, cukup enak lagi.. nih coba aku suapin?” menyodorkan sendok kemulut Dion tapi menggeleng tidak mau karena Dion tidak terlalu suka pedas namun memaksanya untuk membuka mulut
Dion :”Hah… gilaa pedes banget… minum” Dion merasa mulutnya terbakar
Laura :”Nih minum dulu tehnya” memberikan segelas teh yang masih panas dan menambah sensasi baru hingga Laura tersenyum ingin tertawa
Dion :”Ini tambah pedes yang” protesnya
Laura :”Nggak, itu Cuma sebentar kok ya udah makan bubur kamu ayo buka mulut” akhirnya Laura menyuapi Dion buburnya hingga hampir habis untuk menghilangkan pedasnya
Laura :”Gimana? Enak kan buburnya nggak kalah sama makanan di restaurant” ucapnya
Dion :”Iya enak, udah sini giliran kamu makan kamu malah nyuapin aku terus nggak jadi makan”
Laura :”Nggak papa dong, ini aku makan sendiri kamu habiskan milikmu yang tinggal sedikit”
Dion :”Kamu suka ya makanan pinggir jalan kayak gini” tanyanya di sela mereka makan
Laura :”Iya suka, kamu nggak pernah makan kayak gini?”
Dion :”Kenapa?” jawabnya dan menggeleng
Laura :”Enak tau, kita juga bisa akrab sama yang jual, pembeli lain bisa ngobrol sama siapa aja ngeliat hal-hal lucu, harganya murah dan pasti membantu orang-orang kecil yang mencari nafkah untuk keluarganya” jelasnya sambil tersenyum mengingat kejadian tadi
Dion :”Hal lucu apa?” Dion mulai mengerti maksudnya memang berbeda ketika makan di sebuah restaurant justru suasana akrab disini lebih mudah terjalin
Laura :”Ya kayak kamu tadi” tawanya
Dion :”Seneng ya ngeliat pacarnya tersiksa”
Laura :”Nggak gitu dong, pulang yuk udah siang” ajaknya
Dion :”Iya aku bayar dulu”
Laura :”Udah kan, ayo pulang” Laura beranjak berdiri dan hampir jatuh Dion pun menangkapnya
Dion :”Kamu nggak papa sayang??”
Laura :”Iya, tapi kaki ku masih sakit sepertinya susah buat jalan”
Dion :”Ya udah aku gendong sini” Dion berjongkok didepan Laura
Laura :”Tapi aku malu yang di sini banyak orang”
Dion :”Udah nggak papa, ayok buruan” Laura pun mengiayakan dan di gendong oleh Dion dari belakang
*Rumah Laura*
Laura :”Udah yang sini aja”
Dion :”Kamu yakin nggak mau ke kamar sekalian, gimana nanti naiknya?”
Laura :”Nggak papa, nanti aku minta tolong Bi Imah buat bantu jalan”
Dion :”Nggak, aku antar sampai kamar” Dion pun berjalan kea rah kamar Laura di lantai 2
Laura :”Dasar keras kepala”
Dion :”Biarin”
Laura :”Udah turunin aku, kamu pasti capek dari tadi gendong aku”
Dion :”Nggak kok, aku seneng”
Laura :”Kok bisa seneng, kenapa?”
Dion :”Kan bisa berduaan sama kamu” tawanya
Laura :”Dasar, kamu kalau haus ambil aja di dapur sendiri sana”
Dion :”Iya, aku langsung pulang aja udah siang mau mandi juga udah bau keringat”
Laura :”Mandi disini aja”
Dion :”Kamu yakin nyuruh aku mandi disini?”
Laura :”Kenapa emang??”
Dion :”Mandi bareng dong kita” tawanya
Laura :”Dasar mesum, pergi sana” tangannya memukul Dion untuk pergi
Dion :”Mesum apanya coba kan mandi di kamar mandi masing-masing nggak mungkin kan jadi satu berarti kamu dong yang mikir aneh aneh” ejeknya
Laura :”TERSERAH”
Dion :”Ya udah aku pulang ya, kalau kakimu merasa sakit segera kabari aku ya.. cup” Dion mengkecup kening Laura sebelum pergi
Laura :”Iya hati-hati”
Dion pun segera pulang dan datanglah kedua sahabatnya
“Awww..” terdengar suara dari kamar Laura segera mereka berlari
Rya :”Suara apa itu?”
Nindy :”Nggak tau tuh, kayaknya dari kamar Laura yukk buruan ke atas” dilihatnya Laura sudah terjatuh di lantai
Rya :”Ya ampun ra kok bisa gini sih kaki mu kenapa tanganmu?” mereka membantunya untuk kembali duduk ke ujung ranjang.
Laura :”Gue tadi jatuh jadi gini”
Nindy :”Kayak anak kecil aja lu pakek jatuh segala”
Laura :”Namanya orang jatuh tuh nggak kenal usia ya” protesnya
Rya :”Kok loe bisa jatuh kayak gini sih?”
Laura :”Tadi gue jatuh pas jogging”
Rya :”Tumben loe jogging, nggak ngajak kita lagi”
Laura :”Gue aja di ajakin sama pacar gue”
Nindy :”Hmmm pantes”
Laura :”Bantuin gue dong ke kamar mandi mau mandi nih udah lengket semua badan gue nggak enak”
Nindy :”Ya udah ayok ati-ati”
Rya :”Mau di mandiin sekalian nggak?” ledeknya
Laura :”Ogah entar loe naksir lagi sama badan gue” tawanya
Rya :”Enak aja badan gue nggak kalah seksi ya sama punya loe”
Nindy :”Apasih kalian gitu aja ribut, kalau loe udah selesai teriak aja panggil kita”
Laura :”Siap boss”
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode