LAURA

LAURA
Episode 23



Dion :”Morning sayang… cupp” kecup Dion pada kening Laura yang masih tertidur


Dion :”Diihh nggak mau bangun nih… cup cup cup cup cup..” kecup Dion pada seluruh muka Laura yang membuatnya terganggu dari tidurnya


Laura :”Ih apa sih nih” sambil tangannya menyibak apa yang mengganggunya dengan mata masih terpejam dan mengubah posisinya membelakangi Dion


Dion :”Bener-bener nih anak harus di kasih pelajaran… cup” Dion mengkecup bibir Laura dan sedikit ******* sehingga membuat mata Laura terbuka lebar merasa ada yang menyentuh bibirnya dan reflek mendorong Dion yang hampir terjungkal dari ranjang


Laura :”Hah ngapain kamu disini??? Apa yang kamu lakukan?” kagetnya hingga terduduk


Dion :”Apa mau lagi ? sini yang..” ucap Dion yang memajukan badannya


Laura :”Hah apaan nggak ada stop di situ” dengan duduk mundur


Dion :”Cium pacar aja nggak boleh huh”


Laura :”Huh bukan gitu ngapain sih kamu pagi-pagi udah disini pakai cium-cium segala bangunin biasa kan juga bisa yang..” ucapnya


Dion :’Nggak bisa, di cium semua muka aja nggak bangun malah benerin selimut”


Laura :”Hah apa kamu bilang??”


Dion :”Nggak papa buruan cuci muka aku tunggu di bawah 5 menit harus turun, kita jogging bareng” mulai beranjak pergi


Laura :”Whattt??? Kok tiba-tiba sih yang” rengeknya


Dion :”Nggak ada protes cepetan sana, apa mau di mandiin hah” tawanya meledek


Laura :”NGGAK!” katanya yang melempar bantal ke arah Diob tapi tidak sampai karena Dion lebih dulu lari kabur


Dengan cepat Laura masuk ke kamar mandinya mencuci muka dan mengosok giginya dan segera mengganti bajunya dengan celana training dan baju tangtop yang ditutup dengan jaket.


Laura :”Ayokk”


Dion :”Mau jogging di sekitar rumah atau simpang lima aja?”


Laura :”Simpang lima” jawabnya singkat dengan berjalan keluar yang diikuti Dion dari belakang


Dion :”Lhaa nih anak ngambek” batinnya


Dion :”Silahkan masuk tuan putri” Dion membukakan pintu mobilnya


Laura :”Terimakasih” singkatnya


*Simpang Lima*


Dion :”Udah Siap buat balapan lari??” tanyanya


Laura :”Siapa takut” senyumnya sinis


Dion :”Oke kita lari hitungan ketiga… satu, dua, ti…” belum selesai menghitung Laura lebih dulu berlari


Dion :”Dasar curang awas kamu kalau ketangkep” batinnya Dion pun mengejar Laura. Mereka berlari bersama saling kejar. Di tengah larinya Laura terjatuh tersandung sebuah batu kecil yang membuat kakinya terluka dan berdarah


Laura :”Awww… sakit” teriak Laura yang terjatuh hingga kakinya terkilir. Jaketnya terkisis karena terseret hingga lengan tangan kirinya berdarah Semua orang di sekitar datang mengepung dirinya


Dion :”Sayang kamu nggak papa?” Dion panik menghampiri


Laura :”Ya papa lah orang sakit gara-gara jatuh gini” rengeknya


Dion :”Bisa jalan nggak? Aku gendong ya” Laura mencoba berdiri namun hampir terjatuh kembali dengan sigap Dion memegangnya


Laura :”Nggak bisa” jawabnya lemah. Dion pun segera menggendong untuk duduk di kursi tepi lapangan


Dion :”Kamu tunggu sebentar ya disini”


Laura :”Kamu mau kemana?” tanyanya yang nggak mau di tinggalkan


Dion :”Aku mau beli obat buat luka kamu kalau nggak cepet di obatin nanti infeksi


Laura :”Tapi jangan lama-lama ya” pintanya


Dion :”Nggak akan” Dion pun segera pergi


Dion :”Ini kamu minum dulu dan buka jaketmu” menyerahkan air mineral dan meminumnya.


Laura :”Untuk apa?”


Dion :”Liat tanganmu sampai berdarah, aku mau kasih obat dan harus lepas jaketmu yang sobek” Laura pun membuka jaketnya. Dengan telaten Dion membersihkan luka Laura dan segera mengobati dan memberinya perban pada tangannya yang sedikit berdarah


Dion :”Pakai ini” memberikan jaketnya


Laura :”Kenapa aku kan ada jaket sendiri” sahutnya


Dion :”Jaketmu sudah robek”


Laura :”Tapi kan masih bisa di pakai hanya bagian tangan yang robek”


Dion :”Tidak, itu akan susah di pakai pakai saja ini aku nggak mau semua mata lelaki tertuju padamu dan aku akan mengganti jaget mu nanti buang saja”


Laura :”Dasar” kesal Laura dan benar saja semua laki-laki melihat ke arahnya dan menjadi risih kembali menatap Dion


Dion :"Kita ke dokter ya periksa kakimu"


Laura :"Nggak mau"


Dion :"Nggak mau aja"


Dion :"Kalau ada yang sakit serius gimana?"


Laura :"Jangan dong"


Dion :"Ngeyel sih"


Laura :"Yangg.."


Dion :”Ada apa? Kenapa senyum-senyum gitu?” mrnatap Laura gemas


Laura :”Nggak kok, a.. aaku…”


Dion :”Kenapa? Masih sakit tahan lah sebentar obatnya akan bekerja”


Laura :”Bukan itu, tapi aku lapar” katanya pelan


Dion :”Astaga.. kau pasti capek ayok kita cari makan aku gendong” Dion pun menggendong dari belakang


Laura :”Kita makan bubur ayam saja di situ”


Dion :”Kamu yakin makan di pinggir jalan?”


Laura :”Emangnya kenapa? Enak kok aku pernah makan disitu”


Dion :”Kamu sering makan disitu di pinggir jalan terkena polusi udara”


Laura :”Tidak apa ini masih pagi tidak banyak yang lewat ayolah kita makan disana, bersih kok tempatnya, cobalah kau pasti ketagihan”


Dion :”Baiklah” Dion berjalan ke arah tukang bubur ayam itu


Laura :”Pak bubur ayamnya dua dan teh panas nya dua”


“Siap non tunggu sebentar” kata tukang bubur itu dan segera membuatkan pesanannya


“Ini bubur ayamnya silahkan di makan”


Laura :”Terimakasih pak” senyum Laura


Laura :”Ayo makan, jangan lupa kasih sambel yang banyak dan sedikit kecap manis mau aku ambilkan??”


Laura :”Ayo di makan jangan diliatin aja? Enak kok”


Dion :”Kamu yakin makan sambel sebanyak itu, nggak sakit perut nanti?” yang merasa ngeri melihat sambal di mangkuk pacarnya


Laura :”Nggak kok, cukup enak lagi.. nih coba aku suapin?” menyodorkan sendok kemulut Dion tapi menggeleng tidak mau karena Dion tidak terlalu suka pedas namun memaksanya untuk membuka mulut


Dion :”Hah… gilaa pedes banget… minum” Dion merasa mulutnya terbakar


Laura :”Nih minum dulu tehnya” memberikan segelas teh yang masih panas dan menambah sensasi baru hingga Laura tersenyum ingin tertawa


Dion :”Ini tambah pedes yang” protesnya


Laura :”Nggak, itu Cuma sebentar kok ya udah makan bubur kamu ayo buka mulut” akhirnya Laura menyuapi Dion buburnya hingga hampir habis untuk menghilangkan pedasnya


Laura :”Gimana? Enak kan buburnya nggak kalah sama makanan di restaurant” ucapnya


Dion :”Iya enak, udah sini giliran kamu makan kamu malah nyuapin aku terus nggak jadi makan”


Laura :”Nggak papa dong, ini aku makan sendiri kamu habiskan milikmu yang tinggal sedikit”


Dion :”Kamu suka ya makanan pinggir jalan kayak gini” tanyanya di sela mereka makan


Laura :”Iya suka, kamu nggak pernah makan kayak gini?”


Dion :”Kenapa?” jawabnya dan menggeleng


Laura :”Enak tau, kita juga bisa akrab sama yang jual, pembeli lain bisa ngobrol sama siapa aja ngeliat hal-hal lucu, harganya murah dan pasti membantu orang-orang kecil yang mencari nafkah untuk keluarganya” jelasnya sambil tersenyum mengingat kejadian tadi


Dion :”Hal lucu apa?” Dion mulai mengerti maksudnya memang berbeda ketika makan di sebuah restaurant justru suasana akrab disini lebih mudah terjalin


Laura :”Ya kayak kamu tadi” tawanya


Dion :”Seneng ya ngeliat pacarnya tersiksa”


Laura :”Nggak gitu dong, pulang yuk udah siang” ajaknya


Dion :”Iya aku bayar dulu”


Laura :”Udah kan, ayo pulang” Laura beranjak berdiri dan hampir jatuh Dion pun menangkapnya


Dion :”Kamu nggak papa sayang??”


Laura :”Iya, tapi kaki ku masih sakit sepertinya susah buat jalan”


Dion :”Ya udah aku gendong sini” Dion berjongkok didepan Laura


Laura :”Tapi aku malu yang di sini banyak orang”


Dion :”Udah nggak papa, ayok buruan” Laura pun mengiayakan dan di gendong oleh Dion dari belakang


*Rumah Laura*


Laura :”Udah yang sini aja”


Dion :”Kamu yakin nggak mau ke kamar sekalian, gimana nanti naiknya?”


Laura :”Nggak papa, nanti aku minta tolong Bi Imah buat bantu jalan”


Dion :”Nggak, aku antar sampai kamar” Dion pun berjalan kea rah kamar Laura di lantai 2


Laura :”Dasar keras kepala”


Dion :”Biarin”


Laura :”Udah turunin aku, kamu pasti capek dari tadi gendong aku”


Dion :”Nggak kok, aku seneng”


Laura :”Kok bisa seneng, kenapa?”


Dion :”Kan bisa berduaan sama kamu” tawanya


Laura :”Dasar, kamu kalau haus ambil aja di dapur sendiri sana”


Dion :”Iya, aku langsung pulang aja udah siang mau mandi juga udah bau keringat”


Laura :”Mandi disini aja”


Dion :”Kamu yakin nyuruh aku mandi disini?”


Laura :”Kenapa emang??”


Dion :”Mandi bareng dong kita” tawanya


Laura :”Dasar mesum, pergi sana” tangannya memukul Dion untuk pergi


Dion :”Mesum apanya coba kan mandi di kamar mandi masing-masing nggak mungkin kan jadi satu berarti kamu dong yang mikir aneh aneh” ejeknya


Laura :”TERSERAH”


Dion :”Ya udah aku pulang ya, kalau kakimu merasa sakit segera kabari aku ya.. cup” Dion mengkecup kening Laura sebelum pergi


Laura :”Iya hati-hati”


Dion pun segera pulang dan datanglah kedua sahabatnya


“Awww..” terdengar suara dari kamar Laura segera mereka berlari


Rya :”Suara apa itu?”


Nindy :”Nggak tau tuh, kayaknya dari kamar Laura yukk buruan ke atas” dilihatnya Laura sudah terjatuh di lantai


Rya :”Ya ampun ra kok bisa gini sih kaki mu kenapa tanganmu?” mereka membantunya untuk kembali duduk ke ujung ranjang.


Laura :”Gue tadi jatuh jadi gini”


Nindy :”Kayak anak kecil aja lu pakek jatuh segala”


Laura :”Namanya orang jatuh tuh nggak kenal usia ya” protesnya


Rya :”Kok loe bisa jatuh kayak gini sih?”


Laura :”Tadi gue jatuh pas jogging”


Rya :”Tumben loe jogging, nggak ngajak kita lagi”


Laura :”Gue aja di ajakin sama pacar gue”


Nindy :”Hmmm pantes”


Laura :”Bantuin gue dong ke kamar mandi mau mandi nih udah lengket semua badan gue nggak enak”


Nindy :”Ya udah ayok ati-ati”


Rya :”Mau di mandiin sekalian nggak?” ledeknya


Laura :”Ogah entar loe naksir lagi sama badan gue” tawanya


Rya :”Enak aja badan gue nggak kalah seksi ya sama punya loe”


Nindy :”Apasih kalian gitu aja ribut, kalau loe udah selesai teriak aja panggil kita”


Laura :”Siap boss”


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode