
Keesokan harinya setelah semua orang menyelesaikan sarapannya kini mereka kembali ke sebuah ruangan keluarga untuk berdiiskusi kembali bagaimana dengan rencana selanjutnya.
“Jadi keputusan apa yang kau ambil vin?” tanya Nindy yang duduk tepat dihadapan lawan bicaranya ini dengan muka tanpa ekspresi yang tidak dapat dibaca
“Kau akan ikut kami mencarinya ke Jawa atau kau masih ingin disini?” imbuhnya tak sabaran mendengar jawaban dari pemilik rumah ini
“Aku…” jawabnya menggantung menatap satu persatu orang dihadapannya
“Aku akan ikut mencarinya” jawabnya dengan cepat dan ekspresi yang sama datarnya
“Hah sungguh? Kau akan membantu kami?” tanya Rya dengan gembira menyakinkan kata-kata yang baru saja terdengar ditelinganya
“Yaa.. aku akan menyuruh orangku mencarinya di tempat kalian, bagaimana pun aku juga bertanggung jawab karena dia menggandung anakku” jelasnya
Semua tersenyum senang mendengar ucapannya.
“Kita akan kembali ke tempatmu sekarang juga, Biily sudah menyiapkan semuanya”
“Baiklah, aku akan segera kembali ke hotel untuk mengambil barang-barangku” ucap Nindy beranjak dari duduknya
“Tidak perlu, biarkan mereka yang mengambilnya. Kau tinggal katakan dimana hotel kalian” menunjuk beberapa pengawalnya yang kini berdiri disampingnya
“Kau menyuruh pengawal laki-laki untuk ke kamar kami?” protes Rya
“Mereka yang akan mengambil” tunjukknya lagi kini dua orang pengawal yang mereka lihat tadi sudah bergeser sehingga terlihatlah dua pengawal perempuan yang terlihat sangat terlatih dan hebat
“Baiklah, aku setuju”
***
Kini mereka semua sudah berada di rumah Laura
“Masuklah vin dan beristirahat disini, ini rumah Laura. Sementara waktu kau bisa tinggal disini” Nindy membuka pintu dan mempersilahkan
“Aku akan meminta bibi menyiapkan kamar untukmu”
“Terimakasih, tidak perlu repot Billy sedang mencarikan hotel untukku” jawabnya cepat
“Aku akan ke atas sebentar” meninggalkannya untuk pergi ke kamar rya pun mengikuti dari belakang
“Hey nind, apa yang kau katakan tidak serius bukan?” tanya Rya setelah sampai di kamar tujuannya
“Yang mana?” Nindy merebahkan tubuhnya
“Memintanya tinggal disini, Lalu kau akan tinggal dimana?” ikut duduk disebelahnya
“Tentu saja serius bagaimana pun juga dia adalah ayah dari anak yang dikandung sahabat kita dan ini sudah waktunya untukku pergi dari sini”
“Kau akan pergi kemana hah?” menatapnya tajam
“Tentu saja membeli rumah disekitar sini, memang mau dimana lagi?”
“Aku pikir kau akan pergi jauh dari sini”
“Jangan berfikir terlalu jauh, mana mungkin aku melakukannya. Ini sudah waktunya aku punya rumah sendiri dan hidup mandiri”
“Yaa.. memang sudah waktunya. Kau juga harus cepat menemukan jodohmu” ledeknya dengan tawa
“Aku belum sempat memikirkannya” jawab Nindy dengan memandang ke langit kamarnya
Disisi lain Davin sedang berjalan mengelilingi melihat isi rumah yang baru saja dimasukinya melihat banyak foto yang terpasang di dinding dan meja. Melihat satu persatu foto seorang wanita yang tampak cantik dengan rambut panjang yang terurai bebas. Davin terhenti pada satu foto yang cukup besar menempel pada sebuah dinding yang mengarah ke kolam renang, dipandanginya foto itu tampak seorang wanita yang berdiri disebuah pantai dengan dress berwarna putih di atas lutut serta kacamata gelap yang berada di atas kepalanya menampakkan senyum yang manis dan cantik mempesona. Wajah dan senyumnya membuat Davin kembali ke masa lalunya.
“Sayang, kenapa sih kamu siang-siang gini ngajak ke pantai kan panas rame lagi” kata Davin pada kekasihnya sedang duduk berjemur disebelahnya
.
“Sayang… namanya juga berjemur pasti cari yang panas dong nggak mungkin kan aku berjemur di kutub selatan” jawabnya dengan masih fokus pada tubuhnya untuk berjemur
“Setidaknya jangan terlalu panas seperti ini dan jangan lama-lama pekerjaanku masih banyak” protesnya lagi
“Huh, sayang jika kamu terus protes lebih baik pergilah biarkan aku berjemur dengan tenang” ucap kesal kini memandang mengarah pada Davin
“Tidak akan sayang, dress putihmu itu terlalu seksi aku tidak mau orang lain melihat dan menggodamu seenaknya” saling menatap dan karena perdebatan sepele
“Terserah” kata singkatnya lalu kembali ke posisinya untuk berjemur dengan kacamata gelapnya
“Sayang, aku mau pergi mencari minum sebentar, apa kau mau sesuatu atau ikut denganku?”
“Tidak, aku akan menunggumu disini dan tolong bawakan minuman dinginnya sayang”
“Baiklah, jangan kemana-mana” Davin pun pergi meninggalkannya
“Kemana dia pergi?” melihat sekeliling terhenti pada seorang wanita
“Lyra… sedang apa kau disana?” gerutunya mengarah pada wanita yang sedang berdiri di dekat pantai. Ketika hendak menghampirinya tiba-tiba.
“Sayang kau mau kemana?” tanya seseorang di balik tubuhnya
“Lyra? Bukankah…” kaget. Sesekali Davin melihat ke arah pantai dan bergantian menatap kekasihnya yang baru saja datang
“Bukankah apa?” tanyanya lagi yang belum mendapat jawaban apapun
“Bukankah tadi kau berdiri disana sayang?” tanya Davin bingung sambil jarinya menunjuk ke arah pantai. Mata Lyra pun menuju satu arah dengan jarinya namun tak terlihat apapun selain banyak anak-anak yang sedang bermain pasir disana
“Aku dari toilet sayang, arahnya kesana bukan ke pantai” menjelaskan
“Tadi aku melihatmu ada disana dekat pantai”
“Mana mungkin aku disana sayang, sudah aku bilang dari toilet dan arahnya kesana. Mungkin kamu salah melihat orang yang hanya sekilas mirip dari jauh”
“Yahh.. mungkin saja”
“Hey” tepuk tangan Nindy tepat dipundak Davin
“ASTAGA” ucap Davin kaget memegang dadanya.
“Ngapain kamu disini sambil ngelamun gitu?” Nindy yang baru saja datang membuyarkan lamunannya
“Apa kau teringat istrimu atau Laura?” senyum menjahil
“Istriku, aku hanya teringat Lyra yang sering mengajakku ke pantai”
“Sepertinya aku melihat Laura saat itu” berfikir kembali
“Benarkah? Oh ya vin kamarmu sudah siap dan aku harus pergi ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dirumah ada Rya dan sebentar lagi kakak juga akan datang kemari dia juga suami Rya”
“Baiklah, kau bisa pergi” Nindy pun pergi meninggalkannya
***.
Malam hari yang sudah larut jam hampir menunjukkan jam 12 malam Nindy baru dalam perjalanan pulangnya
“Lhoo.. ada apa dengan mobilku” mobilnya tiba-tiba harus berhenti di sebuah jalanan yang sepi dan cahaya lampu jalan yang minim
“Huh sial.. bannya kempes bagaimana bisa banyak paku disini?” melihat beberapa paku yang menempel pada ban depannya
“Ini pasti sengaja ada yang melakukannya. Aku harus cepat menelfon seseorang”
Ketika Nindy hendak menelfon tiba-tiba ada mobil datang dengan lampu yang sangat menyorot ke arahnya sehingga Nindy tak bisa melihatnya siapa yang datang.
“Apa mereka sudah datang para kelompok begal yang mengira sudah mendapat mangsanya? Semoga aku masih mendapat keberuntungan malam ini melawan para begal” gerutunya
Mobil itu pun berhenti tepat dihadapanya pintu depan mulai terbuka Nindy siap mengambil posisinya tampak seorang laki-laki turun dari sana menghampirinya.
“Cewek galak? Ngapain malem-malem dipinggir jalan sendirian?” tanya orang itu.
“Hah” seketika Nindy kaget melihat siapa orang itu yang kini tampak jelas berdiri didepannya
“Kamu? Dokter Vian?”
“Iya ini aku, kau mengingat namaku?” senyum manis
“Tapi kenapa tanganmu seperti mau meninju orang?” tanyanya lagi
“Ti.. tidak” Nindy pun menurunkan tangannya dan menjadi salah tingkah sendiri
“Kenapa kamu berdiri dipinggir jalan seperti ini?” Dokter vian pun gemas melihat tingkahnya
“Ban ku bocor banyak pakunya dan aku pikir tadi kamu begal” jawabnya dengan menunduk dan jari yang menunjuk pada ban yang penuh dengan paku
“Mana mungkin begal setampan aku dan sendirian” mengatakan percaya diri
“Sok tampan” ledeknya
“Ayo ikut denganku aku akan mengatarmu sampai rumah” Nindy hanya diam menatap dengan ragu
“Kau tidak mau? Ya sudah kau bisa menunggu para begal itu datang kesini dan aku pastikan mereka bersenjata dan jumlahnya tidak sedikit” ucap Vian lalu pergi jalan hendak masuk ke dalam mobilnya
“Tu.. tunggu aku ikut” setelah mengambil tasnya Nindy langsung ikut masuk dalam mobil Vian
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode