
“Tuan, nyonya sudah sadarkan diri, silahkan anda bisa menemuinya sekarang” seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang periksanya.
“Terimakasih dokter” terlihat raut mukanya yang sangat gembira. Dion segera pergi menemui Laura
“Bagaimana perasaanmu? Apa yang kau rasakan? Apa tanganmu masih terasa sakit” tanyanya beruntun pada perempuan yang di khawatirkannya sejak tadi. Melihat tangan Laura yang diperban dengan rapi
“Aku tidak apa-apa” jawabnya dingin
“Jangan lakukan hal bodoh lagi atau aku akan membawamu pergi dari negara ini dengan paksa” ancamnya
“Apa kau mengancamku huh?” menatap tajam
“Yaa.. aku sedang mengencammu” jawabnya serius
“Kenapa dengan wajahmu? Apa yang kau pikirkan?” memperhatikan wajah Laura
“Katakanlah apa kau mau makan sesuatu? Atau mengidam apa?”
“Aku ingin suamiku” beralasan
“Tidak, aku akan memberikan apapun selain itu”
“Tapi bukan aku yang menginginkan tapi anak ini” membuat alasan
“Maaf aku tidak bisa memberikannya” tak menghiraukan
“Aku ingin pulang” ucapnya lagi melihat Dion yang ingin pergi
“Tidak Laura, aku sudah mengatakannya ratusan kali apa kau tidak bisa memahaminya” berbicara dengan nada yang meninggi
“Aku tidak suka dengan bau rumah sakit ini membuatku pusing” ucapnya
“Ahh, kau ingin pulang dari rumah sakit? baiklah aku akan bertanya pada dokter kapan kau di perbolehkan pulang” ucapnya membalikkan tubuh kembali pada Laura
“Maaf aku sudah membentakmu” mengusap kepalanya
***
“Ayo kita bisa pulang hari ini” Ajaknya
Dion dan Laura berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit
“Bukankah itu Laura? Orang disebelahnya siapa? Apa itu suaminya?” memperhatikan dengan serius
“Dokter vian!” Panggil seorang suster
“Ada apa sust?”
“Ada pasien yang mau melahirkan dok dan keadaannya gawat” katanya lagi
“Baiklah, ayo kita segera memeriksanya” ucap Vian sebelum lari meninggalkan tempat berdirinya Vian menyempatkan untuk menoleh lagi tetap tak jelas melihat wajahnya
“Aku seperti mendengar nama dokter Vian? Apa aku salah dengar” batin Laura setelah menoleh ke belakang namun taka da orang lain selain suster-suster yang sedang berjalan
***
“Hallo nona muda…” sapa Rifky yang sudah melihat kedatangan Nindy dari jauh
“Hay rifk, apa kau sudah lama menunggu disini?” saling berpelukan melepas rindunya
“Tidak, aku juga baru sampai” jawabnya melepas pelukan
“Syukurlah, Oh ya kenalkan ini Rya sahabat sekaligusku kakak iparku. Dan ini Rifky teman sekaligus rekan kerja saat aku di Bali kemarin” memperkenalkan wanita yang sejak tadi disampingnya
“Hallo, gue Rifky”
“Rya” mereka saling berjabat tangan dan saling memberikan senyum terbaiknya
“Cantik seperti namanya” puji rifky pada Rya
“Terimakasih” membalasnya
“Ingat dia sudah bersuami dan punya anak satu” ucap Nindy membisikkannya
“Kau tau sendirikan tipeku seperti apa” jawabnya dengan gaya kemayu
“Ayo, aku sudah siapkan hotel untuk kalian beristirahat. Kalian pasti capek”
“Tentu”
“Nind, apa temanmu ini suka sesama “….” huh?” Bisik Rya saat laki-laki yang berlagak kemayu tadi berjalan di depan mereka supaya tidak mendengarnya. Nindy malah tersenyum dan menggerakan bahunya membuatnya penasaran.
Mereka pun pergi ke Hotel yang sudah disiapkan Rifky untuk menginap sementara waktu
“Ini tempat kalian untuk beristirahat” Rifky membukakan pintu selayaknya pelayan hotel. Mereka berdua pun mengkelilingi ruangan yang cukup besar itu.
“Nind, bisa kau ceritakan apa tujuan kalian datang kemari?” tanya sambil duduk pada sebuah sofa
“Aku mau kau membantuku mencari seseorang” jawabnya yang ikut duduk di sampingnya
“Siapa?” tanya lagi
“Davin Kyo Gunawan” Jawab Rya. Mata Rifky terbelalak
“Apa kalian yakin ingin menemuinya?” malah bertanya lagi memandang satu persatu wanita di hadapannya dan mereka mengangguk sempurna
“Memangnya ada apa?” tanya Rya penasaran
“Ada urusan apa kalian mencarinya? Sepenting apa?”
“Soal itu kami belum bisa menceritakannya, intinya kami berharap banyak padamu untuk membantu kami menemuinya” pinta Nindy
“Aku tidak yakin bisa membantu kalian untuk menemui orang nomor satu di pulau ini. Dia sangat sibuk mungkin kalian tidak akan bisa menemuinya tanpa membuat janji berbulan-bulan sebelumnya”
“Jangan mematahkan semangat kami, tapi aku yakin dia ada di café itu” ucap Nindy dengan percaya diri
“Kenapa kau yakin sekali jika Rifky saja tidak yakin dia yang orang asli dari sini mengetahui segalanya”
“Tidak segalanya, tapi aku akan berusaha membantu kalian, mengantar kemana kalian ingin pergi” senyumnya
***
CAFÉ LOUISE
“Apa ini cafenya?” tanya Rya yang matanya berkeliling melihatnya
“Ya disini tempat aku melihat Laura dan dia” jawab Nindy
“Ayo masuk” ajak Rifky
“Selamat siang nona, tuan ada yang bisa saya bantu? Mau pesan apa?” tanya seorang pelayan yang menghampiri mereka
“Saya ingin bertemu dengan pimpinan anda nona” jawab Nindy
“Maaf ada keperluan apa ya kalian mencarinya? Apa kalian mempunyai keluhan soal pelayanan café atau sejenisnya?” pelayan itu heran tak biasanya ada orang yang mencari bosnya
“Tidak nona, kami ada urusan pribadi” jelas Rya membuka suara
“Tunggu sebentar saya akan memanggilnya. Permisi” pelayan itu pun berlalu
“Selamat siang tuan dan nona, Perkenalkan saya Meira manager café ini, ada yang bisa saya bantu?” ucap seorang wanita cantik berpakaian formal dan sopan menghampiri mereka
“Ahh ya nona, ada yang ingin kami tanyakan pada anda”
“Soal apa ya? Apa anda memiliki keluhan tentang café kami? Kami akan memberikan kompensasi pada kalian” bersikap sopan
“Bukan, bisakah kita membicarakan di tempat lain? Sepertinya tidak baik banyak orang yang mendengarnya” pinta Nindy
“Baiklah, mari ke ruangan saya nona” mereka menyetujui mengikutinya
“Aku akan tunggu disini” ucap Rifky sebelum mereka meninggalkannya
“Silahkan duduk nona” ucapnya mempersilahkan mereka duduk setelah sampainya pada sebuah ruang kerja
“Jadi apa yang bisa saya bantu nona?” bertanya tanpa basa basi
“Kami ingin bertemu dengan tuan Davin Kyo Gunawan” jawab Nindy tanpa berbelit-belit
“Maaf nona, jika saya boleh tau ada keperluan apa kalian mencari Tuan Davin? Siapa kalian? Apa kalian sudah membuat janji?” kaget mengapa mereka mencari tuannya disini tanpa membuat janji dan seharusnya mereka menghubungi Billy / perusahaan
“Maaf nona, kami tidak sempat membuat janji dan kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi” ucap Rya serius
“Benar, tolong pertemukan kami dengan tuan Davin secepatnya” imbuh Nindy
“Maaf nona saya tidak bisa melakukannya, jadwal beliau sangat padat jadi kalian tidak akan bisa membuat janji dengannya. Beliau juga tidak bisa bertemu dengan sembarang orang” jawab Meira menolak halus
“Apa kau mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada Laura huh?” tanya Nindy dengan mulai emosinya
“Tenanglah, ayo duduk” Rya mencoba menenangkannya
“Laura? Siapa? Apa hubungannya dengan tuan?” bertanya
“Maksudnya Lyra istri tuan Davin, bukankah dia menghilang? Kami memiliki informasi untuknya” ucap Rya
“Nyonya Lyra? Kalian menemukannya? Dimana beliau sekarang apa dia baik-baik saja” kaget campur bahagia
“Maaf nona, kami hanya akan memberitahunya pada tuan Davin”
“Begitu rupanya kenapa kalian berusaha memakasa untuk menemuinya, tapi maaf saya tidak bisa mempertemukan kalian. Tapi saya akan memberikan alamat rumah tuan Davin semoga mala mini beliau pulang ke rumah” menulis di secarik kertas dan memberikannya
“Apa dia jarang pulang?” tanya Nindy
“Ya, tuan lebih memilih menginap di hotel dibandingkan tidur di rumah semenjak nyonya. Lyra menghilang. Tapi saya juga akan menghubungi asisten pribadinya jika kalian mencarinya”
“Baiklah nona Meira terimakasih atas bantuannya”
“Sama-sama nona, senang membantu kalian semoga ini kabar yang baik untuk tuan”
“Sayangnya tidak” batin Nindy
“Kami permisi” mereka saling berjabat tangan
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode