
*Café Rey*
Bram :”Jadi selama ini Candra suka sama cewek galak?” ucapnya membuka percakapan
Arga :”Nggak tau gue”
Rey :”Iya, dia suka sama Laura udah lama”
Bram :”Loe tau Rey?” tanyannya
Rey :”Taulah orang curhatnya sama gue”
Dion :”Sejak kapan dia suka?” yang baru datang langsung duduk nimbrung
Rey :’Udah agak lama sih, mungkin awal-awal loe kesini dia suka tapi Laura nggak respon sama sekali sama dia, malah Laura bilang sama gue kalau di ilfil sama Candra” tawanya menjelaskan
Arga :”Lha kok bisa gitu?”
Rizal :”Lhaa loe nggak tau dia kalau udah ngomong sekali nggak bisa berhenti kayak kereta nggak ada stasiun” timpalnya
Bram :”Pantes cewek galak nggak suka”
Dion :”Cewek galak?” tanyanya bingung
Bram :”Ya cewek loe emang siapa lagi yang lebih galak” semua tertawa
Rey :”Dia kan pernah di galakin sama cewek loe habis-habisan jadi ciut tuh” tawanya mengejek di ikuti semua
Bram :”Sialan loe Rey”
Rey :”Bercanda bro, siapa nih yang mau tidur disini ngejagain nih dua manusia soalnya gue harus balik nggak bisa nginep”
Rizal :”Gue juga nggak bisa nih”
Arga :”Yaa.. terpaksa kita bram nginep” liriknya pada Bram
Bram :”Kalau bukan kita siapa lagi loe mau ninggalin mereka berduaan di café hah?”
Arga :”Ya nggak lah, ntar jadi bertiga dong” ejeknya
Dion :”Gilaa kalian gue masih tau diri ya”
Rey :”Ya udah gue tinggal duluan kalau mau apa-apa tinggal bikin sendiri jangan lupa di list” ucapnya dengan tertawa meninggalkan
Dion :”Ogah”
Rizal :”Gue cabut duluan bro..”
“Oke broo” jawab Dion, Bram, Arga kompak. Mereka bertiga pun begadang dengan main game di café
Dion :”Hoooaaamm gue tidur duluan ahh ngantuk nih” ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di sofa depan kamar Laura tertidur. Dion memindahkannya yang tadinya tidur disofa kemudian dipindahkannya di ranjang kamar yang ada.
Arga :”Nggak tidur di kamar?”
Dion :”Kamar?”
Bram :”Kamar yang itu, bukan kamar pacar loe” tunjuknya pada kamar yang berbeda dari kamar Laura
Dion :”Nggak gue disini aja kamarnya buat kalian berdua”
Arga :”Semua tidur di kamar, ntar loe kabur lagi diem-diem masuk kamar pacar loe”
Bram :”Bisa heboh lagi nih café gara-gara kalian” timpalnya
Dion :”Nggak akan kok” kilahnya
Kemudian Arga dan Bram menyeret Dion masuk ke dalam kamar untuk tidur bersama. Esok harinya Dion terbangun lebih dulu dari teman-temannya langsung menyiapkan sarapan untuk Laura dan teman-temannya. Diketuknya pintu kamar Laura namun taka da sahutan dari dalam Dion pun membuka pintu dan masuk kedalam. Benar saja Laura baru terbangun ketika Dion masuk ke dalam kamar dan meletakkan sarapan disisi mejanya.
Dion :”Selamat pagi sayang” ucapnya mengecup kening Laura yang baru saja mendudukkan tubuhnya
Laura :”Pagi sayang” ucapnya masih terasa mengantuk dan berusaha menyatukan seluruh nyawanya untuk bisa terbangun
Dion :”Masih ngantuk? Tidurlah lagi”
Laura :”Nggak kok” di jawabnya dengan menggelengkan kepala
Dion :”Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu sayang, makanlah” mengambilnya dari meja di sampingnya
Laura :”Kenapa harus dibawa kesini, aku bisa turun nanti aku juga belum cuci muka yang”
Dion :”Tidak apa masih cantik kok” senyumnya
Laura :”Ih nyebelin”
Dion :”Minumlah susu nya mumpung masih hangat”
Laura :”Hmm” di ambilnya segelas susu di hadapannya segera diminumnya hingga hampir habis
Dion :”Apa kau sungguh selapar itu sayang? Makanlah sandwich ini juga” senyumnya
Laura :”Tidak, aku sudah kenyang meminum susu itu” ucapnya menolak sandwich itu
Dion :”Kamu harus makan ini biar badanmu tidak terlalu kurus seperti ini” kata Dion sambil menyuapkan ke dalam mulut Laura dan di gigitnya”
Laura :”Hmmm… jadi bagimu aku kurus padahal ini bentuk tubuhku yang ideal” ucapnya sambil mengunyah makanan dimulutnya
Dion :”Ya ini terlalu kurus buatku tidak enak untuk dipeluk” ledeknya dan tertawa
Laura :”Dasar mesum, apa yang kau pikirkan hah” kesalnya memukul lengan Dion
Dion :”Siapa yang mesum, tentu saja memegang tangan mu bergandeng tangan saat berjalan bersamamu memang apalagi hah” tawanya semakin keras membuat Laura bertambah kesal
Dion :”Ngapain kalian berdiri disitru, mau ngintip orang pacaran, awas pengen ntar mesum berdua lagi?”
Arga :”Amit-amit deh, lanjutin deh sono sampe di grebek pak RT” jawabnya
Bram :”Awas berduaan mulu yang ketiga setan tauk”
Dion :”Sirik aja lu”
Mereka pun pergi ke bawah meninggalkan Laura dan Dion berdua di kamar. Karena Rey dan pegawainya sudah datang mereka berdua pun segera menuyusulnya.
Rey :”Bahagianya ngeliat pasangan yang baru keluar kamar berdua” ledeknya yang diikuti teman-temannya
Laura :”Resek loe Rey”
Rey :”Gimana enakan badannya?”
Dion :”Gimana nggak enak coba bangun tidur langsung minum susu coklatt sama makan sandwich bikinan gue” tawanya
Laura :”Ih itukan kamu yang maksa” cemberutnya malu-malu semua menatapnya
Dion :”Tapi kan kamu suka yang”
Laura :”Nggak tuh” jawabnya sok cuek” padahal hatinya senang karena begitu perhatian padanya dan selalu bisa membuatnya nyaman
Rey :”Tagihan kirim kemana nih” ucapnya sambil cengengesan
Dion :”Kirim ke gue aja” sahutnya tanpa memperpanjangnya
Arga :”Gue cabut dulu bro, mau pulang” sahutnya beranjak pergi dari tempat duduknya yang kemudian diikuti oleh Bram.
Bram :”Gue juga pulang deh”
Dion :”Oke hati-hati makasih udah nemenin” ucapnya sebelum mereka pergi jauh dan merekapun melambaikan tangannya tanda menerimanya
Laura :”Eh Nindy sama Rya kemana kok nggak keliatan?”
Dion :”Mereka pulang semalem yang” jelasnya
Laura :”Hah pulang? Kok nggak bilang-bilang sama aku” herannya
Dion :”Gimana mau pulang kan tidur mu pules banget yang mana tega mereka bangunin kamu gitu” ucapnya
Laura :”Ya tapi kan bisa ninggalin pesan apa kek ini nggak ada sama sekali lho” uringnya sambil mengutak atik hape yang ada di tangannya kenapa taka da satu pesan pun dari mereka
Dion :”Ya mungkin semalem kecapean kali yang kan mereka pulang naik motor sendiri mau di anterin nggak mau, di suruh bawa mobilku nggak mau juga”
Laura :”Mampus gue” ucapnya sungguh pelan sangat samar di terdengar di telinga Dion
Laura baru menyadari kalau dirinya belum memberitahu pada Dion kalau dirinya sekarang senang mengendarai motor kemanapun dan pasti setelah ini aka nada introgasi darinya dan benar dugaannya.
Dion :”Kamu ngomong apa yang? Oh iya sejak kapan kamu naik motor yang kok aku nggak pernah tau?” tanyanya Dion yang mengingat bahwa semalam kekasihnya itu datang menghampirinya menggunakan motor
Laura :”Hmmm anu yang.. i iitu motor udah lama kok, baru-baru ini aja di pakek tapi nggak sering kok” ucapnya sambil terbata-bata karena gugup. “Tapi kenapa gue harus gugup ya” batinnya
Dion :”Ohh, kirain sekarang kamu suka gitu naik motor, jangan sering di pakek ya aku nggak suka”
Laura :”Lho kenapa? Itu kan motor aku sendiri” jawabnya
Dion :”Iya aku tau itu motor kamu, Cuma aku nggak mau kamu kenapa-kenapa saat naik motor kan kamu tau sendiri disini banyak anak geng motor jalanan yang suka gangguin pengendara lain”
Laura :”Aku bisa kok jaga diri”
Dion ;”Kalau mereka kroyok kamu gimana yang mereka kan nggak sedikit cowok semua lagi”
Laura :”Ya terserah lah”
Dion :”Ini buat kebaikan kamu yang”
Sebenarnya Laura sangat tidak suka pada orang yang suka melarangnya untuk melakukan hal yang di sukainya termasuk orang-orang yang di sayanginya tanpa kecuali
Laura :”Oke, aku pulang ya udah siang nih ntar ada jam kuliah” ucapnya berdiri dari tempat duduknya
Dion :”Aku antar pakek mobil ya”
Laura :”Nggak aku bisa pulang sendiri aku bawa motor”
Dion :”Nanti motor kamu aku suruh orang buat bawain ya”
Laura :”Nggak mau, maaf aku huru-buru salam buat Rey aku pulang duluan” Laura pun segera lari meninggalkan café
Dion :”Yanggg…” teriaknya memanggil tapi Laura tak menggubrisnya
Rey :”Loe apain tuh anak?” Rey menghampiri
Dion :”Nggak mau di anterin pakek mobil malah mau naik motor jadi ngambek”
Rey :”Mobil loe jelek kali makannya dia nggak mau”
Dion :”Enak aja lu, itu mobil mahal bro”
Rey :”Inget bro cewek nggak suka di atur apalagi dipaksa”
Dion :”Masa bodo, gue cabut mau balik capek gue, tagihan kirim ke rumah aja”
Rey :”Siap, hati-hati di jalan”
Dion :”Siipp” ucapnya sambil mengacungkan jempolnya
Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode