LAURA

LAURA
Episode 81



Mereka pun segera berjalan menerobos masuk gerbang yang berdiri dengan kokohnya. Menghajar setiap penjaga yang menghalangi jalan mereka untuk masuk. Pukulan demi pukulan terus melayang satu sama lain. Kini mereka bisa memasuki pintu utama pavilion, semakin banyak penjaga yang menghalang mereka untuk masuk.


“Bukk… bukk.. buukk” suara pukulan yang terus terdengar


Seketika ruangan itu hancur sepenuhnya, semua benda pecah dan berserakan dimana-mana


***


“Hallo? Ada apa? Aku sedang sibuk” tanya Hendra pada seseorang yang menelfonnya tak lain adalah anak buahnya yang berada di pavilion Dion


“Maaf bos sudah mengganggu waktunya, tapi ini sengat penting”


“Katakan! Jika tidak penting kau akan menerima konsekwensinya!”


“Itu… bos anu” terbata-bata


“Katakan dengan jelas!” tegasnya


“Pavilion sedang diserang” jawabnya langsung dengan ketakutan


“Diserang? Apa maksudmu? Siapa yang melakukannya” Hendra benar-benar terkejut


“Tiba-tiba segrombolan orang datang menyerang penjaga gerbang depan dan berusaha masuk ke dalam pavilion, jumlah mereka sangat banyak kami kalah jumlah bos. Kamu perlu bantuan secepatnya”


“Siapa mereka? Apa mereka perampok?”


“Kami tidak mengenalnya bos, tapi pakaian mereka seperti agen elit bukan preman / perampok” jelasnya


“Hmmm, siapa mereka? Apa mereka musuh bisnis tuan?” batin Hendra berkecambuk


“Baiklah, tahan mereka sampai aku dan tuan datang”


“Baik bos” hendak mematikan tapi tertahan karena masih mendengar bosnya berbicara


“Satu hal lagi! Lindungi dan amankan Nyonya Laura jangan sampai terluka sedikit pun”


“Baik bos” mematikan


Setelah mematikan telfonnya Hendra langsung pergi untuk mencari tuannya. Sedangkan tuannya sedang berada ada di dalam ruangan dengan client dan sudah berpesan untuk diganggu oleh siapapun sebelum meetingnya selesai karena ini client pentingnya.


“Tokk.. tokk.. tokk” Hendra memberanikan diri untuk menghampirinya. Tanpa basa-basi lagi setelah mengetuk pintunya Hendra langsung masuk begitu saja. Mata Dion langsung menatapnya tajam penuh aura kemarahan karena mengganggu waktunya.


“Permisi tuan, maaf saya mengganggu ada hal penting yang harus saya katakan dan ini urget tuan!” kata Hendra yang berjalan menghampiri tuannya


“Tidak apa-apa masuklah” jawab client tuannya ramah


“Ada apa?” tegas Dion


“Maaf tuan, ada kabar buruk kata penjaga pavilion ada sekelompok orang tak dikenal datang menyerang mereka dan mereka tampak seperti agen elit tuan” ucap Hendra berbisik agar client tuannya tak mendengar


“APA?” seketika kabar itu membuatnya kaget


“Kita harus segera kembali” ajak asistennya Dion langsung mengerti


“Maaf tuan pembicaraan bisnis kita harus berhenti sejenak karena ada hal penting yang sedang terjadi dan saya harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikan” katanya pada client yang duduk dihadapannya


“Tidak apa-apa tuan kita bisa melanjutkannya lain waktu” balasnya ramah


“Terimakasih tuan atas pengertian anda”


“Sama-sama tuan, kalau begitu saya permisi dulu” pamitnya


“Silahkan tuan”


Setelah clientnya pergi Dion dan Hendra segera beranjak pergi meninggalkan kantornya


“Hend kau sudah tau apa yang harus kau lakukan bukan?” titahnya


“Tentu tuan, mereka sedang dalam perjalanan beberapa menit yang lalu dan akan sampe ke pavilion sebelum kita datang”


“Bagus” pujinya dengan terus berjalan menuju mobilnya


“Tuan, mungkinkah yang menyerang pavilion musuh bisnis anda?” tanya Hendra penasaran


“Bukan, apa kau sudah meminta mereka untuk mengamankan Laura?”


“Sudah tuan” mendengar jawaban tuannya kini dirinya tau mereka bukan bisnis tuannya namun orang yang akan membawa wanita yang selamaa ini disembunyikan oleh tuannya


“Aku tidak akan membiarkan siapapun membawanya termasuk kakek tua itu” batin Dion yang mengira anak buah kakek Lorenz lah yang datang menyerangnya.


“Percepatn jalnnya!” titahnya yang keluar


“Baik tuan”


***


“Suster ada suara apa diluar kenapa ribut sekali?” tanya Laura yang sejak tadi mendengar suara kegaduhan dari luar kamarnya


“Saya akan melihatnya sebentar nyonya”


“Apa tidak apa-apa saya tinggal?” tanyanya saat hendak memeriksa keadaan diluar


“Tidak apa-apa, pergilah” Susterpun berjalan keluar hampir membuka pintu dirinya kembali berbalik


“Aauuuwww.. ” keluhnya saat terjatuh di kamar mandi. Suster pun langsung datang berlari menghampirinya


“Nyonya.. apa anda baik-baik saja?”


“Suster… perutku sakit sekali” memegang perutnya. Suster berusaha membantunya untuk bangkit membawanya kembali ke ranjang


“Nyonya.. tenangkan diri anda. Kalian harus baik-baik saja”


“Tolooongg… toollooonggg…” teriak suster meminta bantuan namun tidak ada yang datang menghampirinya entah pergi kemana para penjaga yang selalu berdiri di depan pintu selama 24jam itu.


“Mari nyonya saya bantu ke tempat tidur” dengan susah payah mereka kembali ke tempat tidur


“Saya akan memeriksanya”


“Auuww… sakit suster..”


“Aku tidak mau kehilangan bayiku” tangisnya melihat ada darah yang keluar dari sela-sela kakinya


***


“Minggir.. sialan kalian” ucap Nindy yang sedang menghajar orang-orang dihadapannya


“Kalian akan mati jika menghalangiku” ucap Rya yang sudah geram pada mereka


“Ini tidak aka nada habisnya, mereka juga terus bertambah” ucap Nindy pada Rya yang berada di balik punggungnya


“Kau benar, kita harus segera mencari Laura” jawabnya


Mereka semua sibuk dengan pukulan masing-masing termasuk para lelaki yang bersama mereka dan orang-orang yang dibawa khusus ikut bersamanya


“Hey tuan Davin!” panggil Nindy.


“Ada apa?” jawabnya meski tidak menoleh karena sibuk memukul orang-orang dihadapannya


“Cepat pergi cari Laura biar kita yang mengurus mereka”


“Ya, Nindy benar tidak ada waktu lagi aku punya firasat buruk padanya” imbuh Rya


“Baiklah. Aku percayakan pada kalian” katanya Davin pun berusaha pergi dari sana menuju lantai atas untuk mencari Laura


“Huh, aku benci ucapanku barusan” kesal Rya


“Aku juga benci mendengarnya, semoga dia bik-baik saja” Nindy menenangkannya


“Brukkk” seseorang terjatuh karena pukulan Gery


“Kau tidak apa-apa sayang?” tanya Gery pada Istrinya


“Tentu saja, terimakasih sayang” jawabnya masih bisa berpelukan dalam situasi seperti ini


“Kenapa kalian malah bermesaraan?” kesal Nindy yang melihatnya


“Iri! Bilang bos” tawa ledeknya


Gery dan Rya pun bekerja sama untuk memukul orang-orang bahkan terlihat seperti tarian yang mematikan karena tendangan istrinya yang terlalu kuat dan heals yang terpasang dikakinya.


Sementara Davin berjaln menyusuri tangga terlihat beberapa penjaga yang sedang berdiri di sebuah ruangan.


“Laura pasti ada disana” batin Davin


Segera Davin berlari menghampiri dan menghajar mereka dengan pukulan-pukulan mautnya


“Minggir kalian” perintahnya dengan pukulan yang mendarat di wajah mereka


“Anda tidak akan bisa kemana-kemana tuan” jawab penjaga itu


“Tak seorang pun yang bisa menghalangiku” kesalnya


Satu persatu pukulan terus mendarat pada orang-orang yang telah menghalanginya untuk masuk. Davin membuat mereka langsung tersungkur dan pingsan begitu saja di lantai hingga tak tersisa.


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode