LAURA

LAURA
Episode 63



Laura pingsan


“Dok bagaimana keadaan Laura?” tanya Nindy panik setelah melihat dokter keluar


“Teman kalian baik-baik saja, hanya sedikit syok, dia sudah sadarkan diri”


“Benarkah dokter?”


“Ya kalian boleh menemuinya” dokter mengangguk. Mereka segera masuk ruangan


“Apa yang terjadi padamu hingga berteriak seperti itu?” Nindy menghampirinya


“Aku tidak apa-apa jangan terlalu khawatir” ucapnya senyum


“Tapi kau berteriak seperti orang yang sangat kesakitan sekali” imbuh Rya


“Maaf kalian jadi khawatir”


“Apakah calon keponakanku baik-baik saja?”


“Tentu, dia anak yang kuat” jawabnya senyum dengan meraba perutnya yang terlihat masih rata


“Bisakah kalian mengantarku ke rumah besar?”


“Untuk apa?” tanya Nindy dengan nada yang sedikit tidak mengenakan


“Ada hal yang inginku pastikan”


“Baiklah kami akan mengantarmu sekarang istirahatlah, kami akan menjagamu jangan terlalu banyak pikiran” bujuk Rya


***


Sepanjang perjalanan ketiga gadis ini tak pernah diam, membicarakan hal-hal yang bahkan tidak penting hingga yang terpenting.


“Ada satu hal yang harus kalian ingat, jangan beritahu pada mereka jika aku sedang hamil” pinta Laura


“Tentu saja tanpa kau minta pun kita tidak akan mengatakannya” ucap Rya sembari memasukan makanan ke mulutnya


“Apa kalian tidak bisa menghentikan ngemil kalian di dalam mobil huh” kesal Nindy melihatnya


“Apa kau takut mobilmu kotor nona?” ledek Laura


“Tentu saja aku tidak mau ada remahan setitik pun di dalam mobilku” jawabnya


“Jangan khawatir kau bisa meminta yang baru nanti” tawarnya


“Yaa.. kau bisa meminta apapun pada kakekmu nanti setelah kau membuatnya syok ra” tawa Rya


“Sudah jangan bercanda lagi kita sudah sampai ayo turun. Apa kau siap ra?” ajak Nindy


“Tentu” jawabnya dengan cepat


“Ingat jangan terlalu banyak pikiran pikirkan calon anakmu”


“Tenanglah aunty aku akan menjaganya” senyumnya manis


“Astaga sebentar lagi keponakanku akan bertambah” keluhnya


“Makanya kau bikin sendiri” ledek Rya


“Tidak ini belum waktunya” kesal


“Sudah ayo turun” Laura keluar


Rumah besar yang terlihat sunyi, Laura pun mengetuk pintu hingga seorang wanita paruh baya membukakan pintunya


“Cari siapa?” ucap wanita itu saat membuka pintu dan terkejut melihat orang di depannya


“No.. non.. Laura?” reflek dengan kaget tak percaya


“Iya Bi ini aku” jawabnya dengan senyum


“Non Laura masih hidup?” tanyanya lagi


“Iya bi aku masih hidup”


“Apa bibi akan membiarkan kita tetap berdiri disini?” kesal terus berdiri


“Ahh maaf nona silahkan masuk” mempersilahkan masuk


“Apa kakek dan mamah ada di rumah?”


“Iya non, mereka ada di rumah. Saya akan panggilkan” segera pamit meninggalkan


“Tuan besar, nyonya” menghampiri


“Ada apa bi? Kenapa wajahmu terlihat seperti itu?” tanya mamah Lina


“Anu.. nyonya.. itu… di depan..” terbata-bata


“Siapa yang datang bi?” tanya kakek


“Itu tuan besar, ada non La.. Laura di ruang tamu”


“Apa yang bibi katakan, jangan mengatakan yang tidak-tidak pada Laura di sudah tenang disana” marah kesal


“Ahh benar dugaanku pasti kalian tidak akan percaya dengan ucapan bibi” muncul tiba-tiba


“LAURA… Putriku” teriak mamah Lina dan kakek terkejut melihat Laura


“Apa benar ini kamu sayang?” tanya mamah dengan air mata yang sudah terkunpul


“Tentu mah, ini aku” berjalan menghampiri dan segera memeluk


“Aku rindu mamah”


“Mamah juga sangat merindukanmu sayang” balasnya dengan suara yang serak, air mata mulai menetes


“Jangan menangis mah”


“Ini air mata bahagia sayang” mengeratkan pelukan


“Apa kau tidak merindukan kakekmu yang sudah tua ini sayang?”


“Tentu saja aku juga merindukan kakek” melepas pelukan dan kembali memeluk kakeknya


“Bagaimana kabarmu? Apa yang terjadi?”


“Aku baik-baik saja” senyumnya


***


“Ada apa ini kenapa berisik sekali di luar” mengoceh menuruni tangga


“Kak Feby” ucap Rya dan Nindy


“Ohh kalian datang kemari, apa kabar? Apa kalian yang membuat keributan?” ucapnya menghampiri


“Baik kak, bukan kami tapi adik kesayangan kak Feby” jawab Nindy


“Adikku? Siapa?” bingung


“Siapa lagi kalau bukan Laura kak” timpal Rya


“Laura?” masih bingung


“Lihatlah” menunjuk orang yang sedang berpelukan. Seketika mata Feby melotot ingin keluar


“Laura… sungguh itu kau?” teriaknya dengan senyum mengembang dan berlari menghampirinya.


“Kak feby” tolehnya melepas pelukan


“Apa yang terjadi padamu ra?” berpelukan


“Aku kangen kak Feby. Aku akan menjelaskan pada kalian semua”


Semua duduk dalam satu ruangan


“Jadi selama ini aku tinggal bersama orang baik dia merawatku hingga saat ini. Tapi dia memiliki semua fotoku dan terus memanggilku Lyra. Awalnya aku percaya karena aku tak ingat apapun setelah bangun tapi saat aku mengingat semuanya aku menjadi bingung siapa perempuan yang mirip denganku itu? Kenapa namanya berbeda denganku padahal wajah kita sangat mirip sekali. Aku terus bertanya pada diriku tapi tak mendapat jawaban apapun jadi aku akan menanyakan itu pada kalian” melihat mamah dan kakeknya bergantian


“Apa yang ingin kau katakan sayang?” tanya mamah Lina


“Apa aku punya adik? Adik perempuan yang mirip denganku?” semua langsung terdiam


“Mah? Apa aku punya adik perempuan?” tanyanya lagi dan masih diam


“Yaa kamu memiliki adik kembar sayang” kakek membuka suara


“Adik kembar? Bagaimana bisa? Kenapa aku tidak mengingatnya?”


“Itu karena kalian mengalami kecelakaan saat usia kalian 5 tahun”


“Saat itu, kita dalam perjalanan untuk berlibur karena setiap hari kau manangis meminta kami untuk mengajakmu pergi jalan-jalan dan kami pun menuruti permintaanmu. Kita pergi berempat Papah, mamah, Laura dan Lyra” mamah menceritakan dan mengingat saat kejadian


“Jadi namanya benar Lyra?” Laura menyahut


“Iya, namanya Citra Putri Lyra Lorenz nama Lyra terukir dalam sebuah gelang yang kalian kenakan saat kecil begitu juga nama Laura sayang. Saat dalam perjalanan ke puncak mobil yang kita kendarai hampir saja menabrak truk yang melintas hendak seperti mau menabrak mobil kita jadi papahmu mencoba untuk menghindarinya dan akhirnya malah menabrak pohon besar. Sejak saat itu Laura mengalami amnesia dan Lyra menghilang entah kemana” menangis


“Dan sejak saat itu pula mamah dan papah menyalahkan dan melampiaskan padamu atas hilangnya Lyra. Maafkan mamah sayang” menangis. Laura memeluknya


“Tapi bagaimana dengan Lyra sekarang? Aku tak bisa bertemu dengannya lagi sampai akhir’ mulai menangis


“Mamah juga tak menyangka akan bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya dengan cara seperti itu”


“Apa kakek tidak pernah mencarinya huh, bukankah anak buah kakek sangat banyak kenapa tidak bisa menemukannya harusnya mudah bukan karena kita memiliki wajah yang sama” tiba-tiba marah


“Kakek sudah berusaha sayang tapi tidak pernah membawa hasilnya” lesunya


“Dimana papah bukankah dia sangat menyanyangi Lyra hingga aku yang disalahkan kenapa dia tidak mencarinya kenapa mamah tidak mencarinya juga saat itu” histeris


“Tenanglah sayang. Maafkan papahmu” menenangkan


“Dimana papah mah?” tersedu-sedu


“Papah ada di kamar sayang semenjak saat itu selalu mengurung dirinya di kamar menyalahkan dirinya. Papah sangat merasa bersalah padamu dan Lyra. Papah benar-benar merasa kehilangan kalian berdua. Apa kau mau menemuinya?” Laura mengangguk


“Pergilah ke kamar papah sayang, temui papahmu”


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode