LAURA

LAURA
Episode 64



“Pergilah ke kamar papah sayang”


Laura pergi menuju sebuah kamar. Membuka sebuah pintu secara perlahan terlihatlah di balik pintu seorang laki-laki yang sudah berumur duduk di sebuah kursi menatap kosong ke arah jendela dan tak menggubris siapa yang datang. Laura berjalan perlahan menghampirinya.


“Papah” memanggil pelan. Dia menoleh dengan tatapan yang sangat menyedihkan rasa bersalah selalu menyelimutinya. Laura segera menghampirinya dan berjongkok padanya menggenggam erat tangannya.


lLaki-laki itu masih saja terdiam melihatnya namun matanya mulai mengkristal. Suaranya kini mulai terdengar.


“Laura…” menangis


“Iya pah ini Laura” memeluknya


“Maafkan papah sayang. Papah selalu kasar padamu, selalu menyalahkanmu dan tidak pernah peduli padamu. Maafkan papah sayang” menangis


“Papah tak perlu mengatakannya Laura selalu memaafkan papah tanpa memintanya”


“Terimakasih sayang. Papah akan segera menyusulmu dengan tenang” mengeratkan pelukannya


“Apa maksud papah?” melepaskan pelukannya


“Papah pasti akan segera menyusulmu ke surga sayang, tapi papah tidak yakin akan masuk surge bersamamu” sedih


“Papah tidak akan kemana-kemana. Papah akan terus di sini bersama Laura mamah dan yang lainnya. Jangan katakan itu lagi. Laura masih hidup pah”


“Laura masih hidup?” Laura menganggu


“Syukurlah putriku masih hidup. Mari kita mulai hidup yang baru bersama” ajaknya


“Iya pah” mengangguk. Berpelukan kembali


“Apa papah belum menyadarinya jika Lyra yang meninggal. Apa papah akan menyalahkanku kembali jika mengetahuinya. Aku sungguh takut” batinnya


Suasana kini semakin membaik dalam keluarga Lorenz.


***


“Sayang apa kau tidak mau tinggal disini lebih lama?” tanya papah


“Maaf pah Laura tidak bisa tinggal disini lebih lama lagi, Laura masih ingin melakukan apa yang Laura mau”


“Baiklah papah tidak bisa memaksamu. Tapi kamu harus janji sering-seringlah telfon papah atau datang kemari”


“Pasti pah” senyumnya


“Ingat kalian harus menjaga adik kesayanganku ini dengan benar. Jangan sampai hilang lagi ya” kak Feby berbicara pada Nindy dan Rya


“Pasti dong kak, kita tidak akan membiarkannya lagi” jawab Rya Nindy hanya mengangguk


“Baguslah kalau gitu. Kalian hati-hatilah di jalan” saling berpelukan bergantian


“Jagalah dirimu baik-baik sayang” kata kakek


“Ingat jangan terlambat untuk makan dan makan-makanan yang sehat dan bergizi ya” kata mamah


“Ingatkan pesan papah”


“Iya aku akan mengingat semuanya, kalau begitu kami pamit dulu”


Tiga gadis itu memasuki mobilnya dan segera pergi dari rumah besar


“Akhirnya satu persatu masalah terselaesaikan” ucap rya merenggangkan badannya dalam mobil


“Sekarang kamu bisa fokus pada dirimu dan calon anakmu ra” Rya kembali bersuara


“Tidak, ini semua belum selesai. Aku masih harus mencari orang yang selama ini merawat Lyra”


“Kau mau menemui orang tua angkatnya yang ada di Berlin?” tanya Nindy yang fokus mendengarkan sejak tadi


“Iya aku akan pergi kesana tapi tidak sekarang. Aku juga masih bingung apa aku harus menjadi Lyra atau Laura” berfikir


“Bukankah lebih baik jadi dirimu sendiri” menyakinkan


“Entahlah itu masih aku pikirkan dan ayah dari anakku” menatap luar jendela


***


Beberapa bulan pun berlalu


“Uhhh… perutku semakin membesar” mendudukan tubuhnya di sofa


“Aku jadi ingin yang manis-manis” pikirnya


“Sedang mikirin apa?” Nindy ikut duduk di sebelahnya


“Kayaknya aku pengen makan yang manis-manis. Tapi apa ya?” sambil berfikir


“Gula?” candanya


“Yaahh.. Gula manis….” Terus berfikir


“Sungguh kau akan makan gula ra?”


“Tidak.. tidak.. bukan makan gula… tapi… DONAT GULA PUTIH” teriaknya di ujung kata


“Hah, jangan minta yang aneh-aneh dong, mana ada donat gula disini kalau kau mau minta yang aneh-aneh minta pada pria itu” kesalnya mengutak-atik hapenya


“Apa kau tidak mau mencarikannya untukku untuk calon keponakanmu ini?” rengeknya dengan menunjukkan wajah sedihnya


“Huh sial, kau selalu mengancamku dengannya” mengumpat


“Kita ketempat Rey?” mengutarakan tiba-tiba seperti baru saja menemukan ide


“Kenapa jadi ketempat Rey?” bingung menatap


“Apa kau lupa di tempat Rey ada donat gula yang enak” katanya lagi


“Ahh ya.. kau benar” baru mengingat


“Tapi apa kau yakin mau kesana? Pasti Rey akan kaget melihat masih hidup apalagi dengan perut besarmu”


“Apa Rey juga tau kalau aku mati?” seperti kecewa tidak bisa pergi


“Tentu saja semua orang tau, termasuk…” menghentikan ucapnnya tiba-tiba


“Termasuk apa?” penasaran


“SEKARANG!” bersemangat


“Baiklah, aku akan ganti baju sebentar” beranjak dengan malas-malasan


“Aku akan mengajak Rya dan Aulia juga” senyum semangat. Mengotak-atik hapenya untuk menghubungi


“Ayo kita berangkat” Berjalan menuju pintu


“Nind…” memanggil berjalan di belakang


“Ya.. ada apa? Firasatku tidak enak” menoleh


“Boleh aku yang.. menyetir..” pintanya


“TIDAK” membalikkan badannya akan membuka pintu mobil menoleh ke arah Laura lagi. Terlihat Laura dengan memasang wajahnya yang ingin menangis karena tidak mendapat keinginannya seperti anak kecil


“Huh, baiklah kau boleh membawanya” Laura langsung bersemangat kembali


“Perhatikan jalanmu” omelnya


“Baik nona” tersenyum


“Ayo kita berangkat menjemput si kecil dan ibunya” kata Laura yang langsung menyalakan mobil dan menjalankannya dengan semangat


Menjemput Rya dan Aulia


“Hallo aunty Nindy, aunty Rara” sapa gadis kecil Aulia


“Hallo sayang” sapa mereka berdua


“Dukkk” suara pintu mobil di tutup


“Lho kok yang nyetir dia” tanya Rya yang baru saja masuk


“Yhaa… mau gimana lagi. Orang kayak anak kecil minta permen” jawab Nindy yang duduk di depan. Laura justru hanya tersenyum


“Sudahlah jangan merusak moodku, ayo kita berangkat kita makan donat gula” senangnya


“Ayoo aku mau makan donat” Aulia menjawab dengan semangat


Rya dan Nindy hanya menggeleng


“Kalian masuklah dulu, aku akan memarkirkan mobilnya” pinta Laura


“Baiklah, segera masuk dan jangan kemana-mana” kata Rya


“OK”


Nindy, Rya dan Aulia masuk kedalam lebih dulu


“Sepertinya ada yang memperhatikanku? Siapa?” batinnya. Menoleh kanan kiri tidak ada orang


“Sepertinya hanya perasaanku” masuk ke cafe


***


“Hay Rey” sapa Nindy


“Hallo uncle Rey” sapa Aulia


“Hay cantik” menoleh


“Tumben sore-sore datang kemari? Ada apa?”


“Apa harus ada apa-apa untuk datang kemari?’ kata Rya berjalan menuju salah satu tempat duduk


“Bukan begitu maksudku. Kalian sudah lama tidak kemari bahkan sejak saat itu” mengingat Laura


“Ya kau benar, bahkan kami kemari juga karenanya” kata Nindy seperti tau apa yang di pikirkan Rey


“Dia sedang mengidam” imbuhnya


Rey menatap ke arah Rya berfikir dirinya yang hamil


“Astaga Rey bukan aku yang hamil tapi wanita yang berdiri di belakangmu” kata Rya mengela nafas.


Rey memutar tubuhnya untuk melihat siapa orang yang dimaksudnya. Rey memutar tubuhnya menatap tubuh yang berdiri di belakangnya dari bawah hingga sampai ke atas dan dengan mata yang melotot seperti ingin keluar itu


“Kenapa tatapanmu seperti melihat hantu huh?” Laura kesal dengan tatapan Rey seperti itu


“Laura? Sungguh ini kau?” sambil mencubit pipinya


“Lepaskan itu sakit” menepis tangan Rey


“Ini bukan mimpi” kata Rey yang masih tidak percaya menoleh kesana kemari memastikan


“Dia pasti senang membuat keributan” gumam Nindy.


“Apa kau mau membiarkan tetap berdiri seperti ini terus?” kesal Laura


“Ahh ya.. duduklah” memepersilahkan duduk


“Katakan apa yang terjadi aku sungguh tidak mengerti” tanyanya berharap mendapat jawaban dari mereka


“Aku tidak akan mengatakannya sebelum kau memberiku donat gula putihmu yang enak itu” ancamnya malah membuat Rey semakin bingung


“Segera berikan apa yang di mau wanita hamil Rey jika kau tidak mau dia mengacak-acak cafemu dan menangis” kata Nindy


Rey langsung melihat perut Laura yang membuncit dan baru menyadarinya


“Kau hamil?” kagetnya


“Hentikan pertanyaanmu itu, aku sudah lapar Rey” merengek seperti tidak ingin ditanya dan ingin menangis


“Lihatlah dia sudah memulainya” gumam Rya pada Nindy dengan senyum kecutnya


“Baiklah, aku akan menyiapkannya. Tapi kau harus menjelaskan semuanya nanti” beranjak pergi


“Dan aku tidak mau orang lain yang membuatnya selain dirimu Rey” teriaknya membuat orang-orang sekitar yang mendengarnya menoleh ke arahnya


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode