LAURA

LAURA
Episode 66



“Apa aku tidak salah dengar? Atau aku sedang bermimpi” kata Laura dengan wajah kesalnya


“Tidak ra aku sungguh ingin menikah denganmu aku mencintaimu” Laura dia


“Ra, aku serius denganmu jawablah” masih bertanya


“Maaf aku tidak tertarik dengan suami orang, sekarang silahkan keluar pintunya ada di sana” menunjuk kea rah pintu


“Aku sudah bercerai ra sudah cukup lama”


“Aku tidak peduli” ketusnya


“Bukankah dulu kau juga suka denganku?”


“Itu dulu sebelum aku tau orang itu sudah beristri dan itu sekedar suka karena kagum tidak lebih”


“Tapi ra….”


“Keluar!” usirnya


“Ra…”


“KELUAR AKU BILANG” teriaknya dengan emosinya yang memuncak


“Baiklah aku akan keluar tapi aku tidak akan menyerah dan terus mencoba untuk membuatmu kembali menyukaiku bahkan mencintaiku” terangnya sebelum benar-benar keluar dari rumah Laura


“Astaga kenapa ada manusia seperti dia” batinnya kesal


“Ini benar-benar merusak moodku, huh maafkan mommy sayang” katanya sambil mengelus perutnya yang besar


Beberapa saat kemudian


“Ra kok keliatan kesal begitu ada apa?” baru saja datang melihat Laura masih duduk di ruang tamu dengan muka kesal


“Siapa yang baru saja datang? Rey?” melihat bungkusan di atas donat yang di kira Rey yang mengantarnya


“Bukan” tanpa menatapnya


“Lalu siapa? Bukankah ini donat Rey yang kau mau kemarin?”


“Rizal yang mengantarnya”


“Rizal? Lalu kenapa emosi begitu?” bingung dengan yang terjadi


“Bagaimana aku tidak emosi dan kesal tiba-tiba saja dia bilang sudah bercerai dan melamarku, ingin merawat anakku” kesalnya lagi


“Hah gila ya tuh orang” ikut emosi


“Dan dia tidak akan menyerah sebelum mendapatkannya, emang di kira aku barang apa”


“Kayaknya tuh orang harus di kasih pelajaran deh” kesalnya mengepalkan tangan ingin meninju


“Siapa yang mau kau kasih pelajaran?” tanya Rya yang baru saja datang dan langsung duduk dan nimbrung


“Rizal” jawab Nindy


“Rizal temen Rey?” tak percaya menatap kedua sahabatnya bergantian


“Iya siapa lagi” jawab Laura


“Memangnya dia berbuat apa sampai kau mau menghajarnya begitu?”


“Karena dia melamar Laura padahal dia sudah menolak tetap tidak menyerah, dia sudah bercerai” jelas Nindy


“Benar begitu ra? tentu saja aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan duda” Laura hanya mengangguk


“Kau harus menikah dengan perjaka ra” kata Rya lagi


“Emang kau tau ciri-ciri perjaka bagaimana?” tanya Nindy Laura menatap Rya


“Tidak” menjawab dengan menggeleng sekita mereka mentertawakannya


“Haha bagaimana bisa kau menyuruh Laura menikah dengan perjaka sedangkan kau sendiri tidak tau bagimana cara membedakannya” tertawa keras


“Setidaknya dia belum menikah” cemberutnya


Suasana mulai kembali tenang


“Kemana Aulia apa kau tidak membawanya kemari?” tanya Laura yang sejak tadi tidak dilihatnya


“Yaa.. aku tidak mengajaknya karena dia sudah mulai sekolah hari ini”


“Cepat sekali dia besar” kata Nindy mulai memainkan hapenya


“Yah kau pastika tidak akan rela jika anakmu tumbuh besar secepat itu, apalagi kita sendiri yang merawatnya pasti rasanya lebih cepat”


“Sayang kau jangan cepat besarya” kata Laura dengan berkata pada perutnya seolah-olah mengerti


“Kapan kau akan cek kandunganmu lagi?” tanya Rya


“Besuk jadwalku”


“Baiklah aku juga akan ikut mengantarmu aku ingin melihatnya


“Oke”


***


“Hey ayo cepat turun kalian, mau jam berapa kita berangkat huh” omel rya yang sudah cukup menunggu lama mereka berdandan


“Iya-iya ini sudah selesai kok” jawab Laura menuruni tangga


“Jangan suka mengomel” kata Nindy ikutan


“Huh, kalian yang keterlaluan sudah berapa lama aku menunggu tapi kalian malah dengan santai-santai saja seperti tidak masalah”


“Sudahlah mamah muda ayo kita berangkat jangan marah-marah nanti keriputnya nambah lho” rayu Laura dengan langsung menggandeng lengan tangannya dengan senyum manisnya


“Biar saja tinggal oprasi beres” jawabnya asal


“Ayo kita berangkat” seru Nindy langsung menjalankan mobilnya


“Siapa nama dokter kandunganmu ra?” tanya Rya


“Hmm.. dokter Vian”


“Dia laki-laki?” tanya Nindy yang menolehnya sebantar lalu fokus ke depan lagi untuk menyetir


“Bukankah kau selalu mengantarnya?” tanya Rya heran


“Tapi dia tidak pernah mau ikut ke dalam” jawab Laura


“Seharusnya kau ikut ke dalam Nind, ini juga bisa jadi pelajaran buatmu nanti jika kau sudah hamil nanti”


“Mana mungkin aku hamil sedangkan pacar saja tidak punya”


“Tidak perlu menasihatiku ra kau sendiri juga jomblo” ledeknya tak mau kalah


“Tapi aku pernah pacaran beberapa kali sedangkan kamu tidak pernah sekalipun” jawabnya yang tak mau kalah


“Apa pentingnya pacaran jika tidak berjodoh bukankah membuang waktu dan hanya menyakiti hati saja”


“Tapi kita juga tidak bisa hanya pasrah menunggu kita juga perlu memilih mana yang terbaik untuk diri kita sendiri”


“Sudah jangan teruskan lagi kepalaku pusing mendengarnya” kata Rya yang sejak tadi diam mendengar kedua sahabatnya berdebat


“Lebih baik nanti kau ikut masuk Nindy”


“Huh baiklah”


***


“Nyonya Laura” panggil seorang suster


“Iya suster” jawab Laura


“Silahkan masuk nyonya sekarang giliran anda” katanya dengan ramah


“Baik suster” berjalan masuk


“Ayo kau juga harus ikut masuk” kata Rya sambil menarik tangan Nindy agar juga ikut dengannya


“Silahkan duduk nyonya” kata dokter yang masih sibuk dengan buku yang ada di atas meja


“Terimakasih dokter”


Nindy duduk di sebelah Laura sedangkan Rya berdiri di belakangnya


“Hari ini tidak sendirian ya?” mulai mengangkat kepalanya untuk melihat


“KAMU?” teriak Nindy setelah melihat wajah dokter itu dan membuatnya sahabatnya kaget


“Kamu kenal Nind?” tanya Laura menoleh menghadapnya lalu ke dokter dan kembali menatap sahabatnya. Dokter pun ikut menatapnya


“Dia nih orang yang pernah mau nyelekain aku, kamu ingat kan Ry waktu itu ada mobil yang ugal-ugalan” jelasnya dengan kesal


“Ahh.. itu” menggaruk sambil mengingat


“Pantaskah seorang dokter mengendarai mobil seperti itu yang hampir mencelakai orang lain” memalingkan muka dari dokter


“Oh yang waktu itu saya minta maaf itu tidak sengaja, sepertinya saya juga sudah meminta maaf” kata dokter


“Sudahlah nind jangan bertengkar kapan ini akan selesai kita kesini untuk periksa kandungan bukan cari masalah. Maafkan teman saya dokter” Laura mencoba menengahi


“Tidak masalah nyonya. Apa anda membawa bukunya?”


“Ah iya, ini dok bukunya. Tapi sepertinya saya belum pernah melihat dokter?” menyerah sebuah buku untuk kontrol


“Perkenalkan saya Vian dokter SPOG, baru beberapa minggu tugas di rumah sakit ini”


“Pantas saja baru lihat dokter sekarang”


“Apa anda memiliki keluhan? Hasil cek terakhir nggak ada masalah serius ya, umur kehamilan sudah 18 minggu. Umur segini sudah bisa USG jenis kelamin lho”


“Kadang masih sedikit mual dan dehidrasi dok”


“Kalau begitu mari timbang berat badan dan setelah itu USG biar tau jenis kelaminnya bagaimana?”


“Iya dok mari” menjawab dengan semangat. Nindy dan Rya mengikutinya dari belakang


“Ayo kita mulai usgnya. Di angkat dulu bajunya. permisi” kata dokter sambil memegang alatnya


“Eh, mau ngapain kamu?” dorong Nindy pada dokter agar menjauh hampir jatuh. Rya dan Laura pun kaget


“Astaga apa-apan ini?” untuk belum jatuh


“Dokter nggak papa?” tanya Laura


“Kenapa dokternya di pukul sih nind?” tanya Rya


“Berani sekali kamu mau membuka bajunya hah?” menatap tajam


“Kan memang harus di buka” kata dokter agak kesal


“Prosesnya memang begitu nind, kamu nggak tau ya?” dengan senyum yang di paksakan


“Adduh nind malu-maluin deh” kata Rya menutup mukanya


“Aku tau tapi tidak rela jika dia yang melakukannya, ini kemana sih dokter perempuannya yang biasanya?” jawab Nindy masih menatap dokter


“Beliau sedang ada di ruang bersalin jadi saya yang jaga poli” geramnya ingin memukul tapi masih di tahannya


“Anda bisa keluar nona jika masih mau menganggu”


“Nggak aku akan tetap disini menjaganya dari dokter mesum sepertimu”


“Hadduh.. kenapa menjadi dokter mesum sih lebih baik keluar saja”


“Sudah-sudah ayo cepat selesaikan kasihan masih ada yang mengantri di luar” kata Rya berusaha melerai


“Kita mulai ya nyonya..” sambil memberikan gel pada perut Laura


“Nah itu si kecil kelihatan, itu tangannya dan kakinya” jelas dokter semua melihatnya senang


“Selamat ya nyonya anak anda laki-laki”


“Wah laki-laki, dia akan menjadi jagoanku” senang Laura


“Oke, ini hasil usgnya ya bisa di simpan nyonya” memberikan


“Terimakasih dokter”


“Oh ya dokter bisa memanggil saya Laura saja dan ini sahabat saya Nindy dan Rya. sepertinya lebih nyaman seperti itu” memperkenalkan


“Hallo dok” Sapa Rya


“Ahh baiklah kalau begitu nyo.. maksudku Laura” tersenyum pada semuanya sedangkan Nindy hanya mengacuhkannya tak peduli


“Kalau begitu kami permisi dokter” pamit Laura


“Mari dok” imbuh Rya Nindy sudah berjalan keluar mendahului


“Iya silahkan semoga sehat terus dengan bayinya”


“Kenapa dia menyebalkan sekali” batin dokter Fian memikirkan Nindy


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode